Mentari Tanpa Sinar

Mentari Tanpa Sinar
Pembantu


__ADS_3

"Mbak,kata ibu masuknya lewat pintu belakang aja!" cegah Laila setengah berbisik saat melihat Mentari ingin masuk kedalam rumah.


Mentari sedikit tercengang ternyata teman-teman Suami nya cukup kaya karena ada empat mobil terparkir di halaman rumah mertua nya.


Siapa gerangan para tamu itu? Kenapa Laila melarang dia masuk melewati pintu depan? apakah sangat istimewa pikir Mentari.


Mentari terpaksa menuruti ucapan Laila untuk masuk lewat pintu belakang. Satu kantong belanja dari Alfam*rt pesanan sang mertua Mentari letakan di atas meja dapur yang terbuat dari kayu.


Peluh mengalir di wajah Mentari , karena kelelahan berjalan kaki dari Alfamart di gang depan.


Baru saja ingin menjatuhkan tubuhnya di sebuah kursi kayu, tiba-tiba saja ibu mertua nya berteriak.


"Tari buat minum nya cepat,jangan malah duduk-duduk,kamu nggak lihat tuh di depan banyak teman-teman Aris!"


"Memang tamunya belum dibuatkan minum?" tanya Mentari


Kenapa harus menungguku pulang? Bukankah di rumah ada Inayah dan Laila? Namun, pertanyaan itu hanya bisa Mentari ungkapkan dalam hati.


“Ya belum, lah. Itu kan tamu suami kamu mbak. Mereka itu teman-teman Aris waktu SMA dulu. Masak aku yang bikinin. Males deh" sahut Laila ketus


Astaga! Apa salahnya jika dia membantu membuatkan minum? Bukankah Mas Aris juga adik kandungnya?


Tanpa menunggu lama, Mentari segera membuat beberapa gelas sirup yang dia beli dari Alfam*rt tadi.


Dengan hati-hati Mentari membawa nya kedepan terdengar Mereka sedang tertawa terbahak-bahak.


Mentari melirik sekilas teman-teman suaminya itu, penampilan mereka bersih-bersih dan pakaian yang mereka pakai bisa di bilang branded.


Perlahan Mentari meletakkan satu per satu gelas di atas meja. Mereka seperti tidak menghiraukan kedatangan Mentari bahkan Aris juga juga tidak menyapa istri nya ini. Apalagi memperkenalkan Mentari pada teman-temannya.Lelaki yang berprofesi ojek online itu tetap asik bersenda gurau dengan teman-teman wanitanya, seakan Mentari tidak ada di dekatnya.


Mentari sekilas memperhatikan dirinya sendiri, mungkin suaminya ini malu memperkenalkan diri yang berpenampilan lusuh mengenakan baju seragam kerja yang di tutupi jaket lusuh, jaket kado ulang tahun dari ibu panti nya dulu.


"Mbak, ada lemon tea nggak"


Sontak Mentari terkejut, seorang wanita cantik dengan rambut panjang bergelombang bertanya sedikit ketus padanya"


"Ada " sahut mama Aris tapi Mentari terdiam karena tidak ada lemon di rumah mereka

__ADS_1


Ibu Aris memberikan kode pada mentari untuk mencari lemon tea sesuai permintaan Nita.


"A-ada. Sebentar saya ambilkan,"sahut Mentari


"Buruan! Haus nih!" lanjut wanita itu dengan nada sedikit membentak. Alis matanya naik dengan tatapan tajam ke arah Mentari


Astagfirullahaladzim ...!


Mentari melirik pada Aris Ia memberi kode dengan dagunya agar Mentari segera melakukan perintah perempuan itu.


Kenapa Mas Aris diam saja? Apa mereka pikir aku ini pembantu di sini? Batin Mentari meronta.


Mentari segera keluar untuk mencari serbuk minuman lemon tea untung nya ada di jual di warung dekat rumah mereka, ntah rasanya enak atau tidak yang jelas itu Lemon Tea sesuai permintaan perempuan tadi.


Segera Mentari melangkah ke dalam mengambil satu gelas kosong dan botol air es dari lemari pendingin, lalu kembali membawanya ke meja tamu.


"Lama banget sih. Ambil air esnya di Bogor, ya?" ketus wanita tadi disertai tawa beberapa teman-temannya. Mereka memandang Mentari dengan tatapan meremehkan.


Air mata Mentari membendung di pelupuk mata. Teganya Suaminya bersikap cuek saat dirinya di bentak oleh orang asing.


"Cieee, cinta lama belum kelar nih ceritanya, tembak aja Ris,belum telat kok." celetuk Joe


Riuh tawa memenuhi ruangan. Wanita yang bernama Nita itu tampak salah tingkah dan malu-malu. Wajah cantiknya merah merona.


Aris pun tampak senyum-senyum. Terlihat rasa bangga dari wajahnya. Tanpa menghiraukan perasaan Mentari, dia juga curi-curi pandang pada si Nita itu.


Sekuat tenaga Mentari menahan agar air mata nya tak tumpah. Sesak di dada nya semakin terasa dihimpit batu besar, hingga rasanya sangat sulit untuk bernapas.


"Ya Tuhan. Kenapa Mas Aris enggan memperkenalkan aku pada teman-temannya? Apa karena penampilanku?" batin Mentari menjerit


Nita meminum Lemon Tea yang di buatkan oleh Mentari tapi baru tegukan pertama dia sudah menyemburkan air nya di tubuh Mentari.


"Huk.....huk.....Lemon tea apa ini,masam!!!" ketus Nita


"Kamu tidak apa-apa Nit?" tanya Aris


Mentari menghela nafas panjang saat melihat Aris malah mengusap punggung perempuan itu bukan malah memarahinya karena sudah tidak sopan pada Mentari

__ADS_1


"Ris itu lemon tea apa? aku tidak biasa meminum nya"


"Mentari apa yang kamu buat untuk Nita?" kesal sang Mertua


Mentari menggeleng kan kepala nya pelan lalu lari ke dapur.


"Permisi aku mau ke toilet di mana Ris?" tanya Brama


"Belakang Bram,masih seperti dulu" jawab Aris yang masih fokus pada Nita


"Apa yang kamu berikan pada Nita,Racun!!! " bentak sang mertua


"Lemon tea bu"


"Kalau lemon tea tidak mungkin dia sambil batuk begitu,kamu jangan macam-macam Tari mereka orang kaya dan berpendidikan semua bukan seperti kamu anak panti" marah Ibu Aris tapi terdengar oleh Bram


"Kak Brama. Mau ke toilet ya? Yuk, aku antar!” Tiba-tiba inayah datang menghampiri laki-laki yang ternyata bernama Brama itu. Inayah sepertinya memang berusaha untuk mencari perhatian Brama


"Oh, ya. Makasih, Dek Ina,"sahutnya ramah. Bibirnya melengkung menciptakan sebuah senyuman.


Inayah tampak sangat bahagia mendapat respons dari Brama. Mereka pun melangkah ke belakang menuju kamar mandi.


"Ngapain kamu ikut-ikutan lihatin Brama? Mentang-mentang ada laki-laki tampan dan kaya. Dasar perempuan gatal kamu! menyesal Aris sudah menikahi kamu"lanjut sang mertua marah


"Sana cepat minta maaf pada Nita!" bentak Ibu Aris seraya berkacak pinggang di hadapan Mentari


Apa? Kembali ke ruang tamu? Apa aku sanggup?


"Kenapa Malah bengong. Cepat sana minta maaf"teriak Ibu dengan mata melotot ke arah Mentari.


Dengan membuang napas kasar untuk menguatkan hati, Mentari melangkahkan kaki nya ke arah kamar nya bukan ke arah ruang tamu membuat Ibu Aris bertambah marah.


"Dasar pembantu nggak becus! Tenggorokan ku jadi serak begini" rengek Nita


"Ina tolong ambilkan air hangat untuk kak Nita" perintah Aris dan di anggukki Inayah patuh.


Bram keluar dari toilet dan celingak-celinguk mencari sosok perempuan yang di panggil Tari tadi,Bram merasa ada kesamaan dengan Mala kecil nya.

__ADS_1


__ADS_2