Mentari Tanpa Sinar

Mentari Tanpa Sinar
perempuan spesial


__ADS_3

"Menurut mama ada baiknya semua nya kita tunggu keputusan Bram pa,kita memaksa kan kehendak tapi Bram yang menjalani nya" ujar bu Azizah lembut


"Tapi ma jika tidak segera di laksanakan bisa saja pak Harja memutuskan perjodohan ini,kita juga yang rugi ma,pak Harja cukup berpengaruh dalam dunia bisnis di Jakarta"


"Pa,bisa jadi Tuhan berkehendak lain,kita memaksa kan Bram untuk menikahi Jenny sekarang apa tidak akan berdampak buruk untuk kedepannya! jika Bram meninggal kan Jenny apa kita tidak akan malu!" jelas Bu Azizah lagi


"Bram itu anak baik ma,papa tau dia"


"Betul pa,mama juga tau Bram karena mama yang melahirkan nya tapi menurut mama biar Bram yang memutuskan dia mau menikah saat ini atau tidak,kita hanyalah mengarah kan tidak berhak memutuskan karena bukan kita yang hidup bersama Jenny"


"Jika Bram menolak?"


"Mungkin dia punya pilihan lain pa,tak ada salah nya kita telusuri dulu calon nya"


"Tidak bisa begitu ma-"


"Dari pada anak kita tidak bahagia pa,apa apa Tega?" potong Bu Azizah cepat


"Kita punya segalanya,memang uang menjadi standar prioritas kebahagiaan tapi jangan karena uang juga anak kita tertekan pa,mama tidak ingin itu terjadi,Bram berhak bahagia kita hanya punya dia saat ini pa,jika dia pergi meninggalkan kita,kita bisa apa!! menikah dengan Jenny bukan mencari kaya tapi hanya mencari relasi bisnis papa yang berjuang tetap anak kita Bram nanti nya" jelas Bu Azizah panjang lebar membuat pak Dhika terdiam,memang benar saat ini kehidupan ekonomi keluarga mereka sudah cukup mapan dan bisa di bilang kaya raya tak menikah dengan anak pak Harja pun tak masalah sebenarnya hanya menambah relasi bukan pundi-pundi rupiah.


"Papa pikir kan lagi ucapan mama jika kita sakit siapa yang akan mengurusi kita kalau bukan Bram,papa tau sendiri kan kita sudah tua,anak kita hanya Bram"

__ADS_1


"Tapi bukan nya mama menginginkan cucu segera?"


"Itu soal gampang pa, menikah dengan siapa pun juga nanti nya Bram akan memberi kan kita cucu bukan!! jadi biarkan Bram yang menentukan pilihan nya.


Bu Azizah mendapatkan kabar kalau Bram saat ini tengah dekat dengan seorang perempuan bahkan Bram membeli kan satu unit rumah untuk perempuan tersebut tanpa sepengetahuan mereka,jika semua laporan itu benar sudah pasti perempuan itu sangat spesial menurut Bram pikir bu Azizah.


****


"Sudah pulang?" ujar Mentari saat melihat Bram masuk ke dalam apartemen,tadi nya Bram pergi bertemu pengacara nya


"Hmmmm"


"Aku ingin makan sayang"


"Memang nya keluar belum makan?"


"Aku tidak bisa makan tanpa kamu"


"Gombal!!!"


"Serius sayang,makan siang nya tidak enak, tidak seperti masakan kamu"

__ADS_1


"Mandi dulu nanti aku siap kan makan malam nya" ujar Mentari


Bram menarik tubuh kekasih nya ini lalu merangkul nya mesra membuat Mentari gugup saat bola mata mereka saling pandang


"Cup..." satu kecupan mesra di layangkan oleh Bram di bibir mungil Mentari membuat perempuan cantik ini semakin salah tingkah


"Kak-"


"Stttt....." Bram meletakkan telunjuk nya di bibir Mentari


"Aku ingin terus begini sayang,kau benar-benar membuat ku menggila,kapan masa Iddah mu berakhir"


"Belum juga di mulai kamu sudah meminta akhirnya,tanya kan saja pada pengacara mu"jawab Mentari


Bram tersenyum kecil dia lupa kalau saat ini pengacara nya baru mengurus perceraian Mentari dan masih ada beberapa bulan lagi untuk masa Iddah nya.


"Berdekatan dengan mu hanya bisa begini membuat tubuh ku panas dingin sayang,kenapa lama sekali berakhir nya"


Mentari menggigit kecil hidung Bram yang berada tepat di wajah nya,jika terus berduaan dia juga bisa hilang kendali,tak bisa Mentari pungkiri kalau pesona Bram sangat luar biasa, mungkin di luar sana banyak perempuan yang mengagumi kekasih nya ini, betapa beruntungnya Mentari bisa mendapatkan cinta dari seorang lelaki seperti Bram.


"Sudah sana,aku harus menyiapkan makanan untuk kakak" ucap Mentari melepaskan diri dari pelukan Bram.

__ADS_1


__ADS_2