
"Besok kita harus ke Jakarta Bram,papa akan kenal kan kamu pada pak Harja" ucap papa Bram
"Untuk masalah bisnis pa?" tanya Bram
"Bukan! pertunangan mu dan Jenny anak perempuan nya akan di langsung kan"
"Pa, bagaimana mungkin aku bisa bertunangan secepat ini"
"Kenapa tidak Bram,toh kamu tidak punya pasangan bukan,mama juga sudah menyetujui nya"
"Ma" panggil Bram ingin meminta pertolongan
"Bram,mama sudah menginginkan cucu, tidak ada salah nya kamu menikah segera nak, usia mu sudah matang tak ada lagi yang kamu tunggu kan"sahut Sang mama
Bram terdiam sejenak,apa mungkin dia bisa menghilangkan Mentari dari pikiran nya,tapi Mentari sudah jadi milik orang lain,Aris sahabat nya.
****
"Mau kemana Neng?" tanya salah seorang bapak tua yang mengemudikan bajaj nya di depan Mentari
"Terminal pak" jawab Mentari
Ya... pilihan Mentari saat ini adalah Jakarta,dia harus kembali ke Jakarta ke rumah di mana orang tua nya melahirkan dirinya dulu.
__ADS_1
Mentari ingin merebut kembali harta keluarga nya yang di rampas oleh paman dan bibinya.
***
Persiapan lamaran sudah berjalan matang,ya pertemuan pertama ini sekaligus pengikat untuk Brama dan Jenny
Semua sudah di persiapkan dengan matang oleh keluarga Harja.
Bram hanya diam saja mengikuti alur cerita yang sudah di buat oleh orang tua nya bertahan pun dengan pendiriannya toh tak ada lagi Mentari, mungkin mereka memang tidak jodoh pikir Bram
Jenny tersenyum bahagia saat menyambut kedatangan calon suami nya itu,Bram terlihat tampan dan berwibawa, memang Jenny tak menolak karena dia tau siapa Bram keluarga kaya raya dan terpandang apalagi memang Bram sangat tampan tak ada nilai minus dari pria ini.
Pertukaran cincin pun terjadi,meski dengan raut wajah dingin Bram tetap menyematkan cincin berlian di jari manis Jenny.
Setelah pertunangan selesai Bram pamit keluar duluan karena ada urusan penting.
"Bram!!" panggil papa nya
"Biar saja pa, mungkin memang urusan Bram sangat penting" ucap bu Azizah
"Maaf ya nak Jenny,Bram memang banyak teman nya , mungkin saat ini sedang urgent" jelas Bu Azizah
Jenny mencoba memasang wajah pura-pura menerima di hadapan calon mertua nya ini.
__ADS_1
"Nak Jenny ini baik ma, papa tidak salah pilih, sudah pintar,baik dan kaya raya" puji papa Bram
"Pak Mahardika terlalu memuji,anak saya masih banyak perlu belajar pak" jawab Pak Harja
"Tapi saya salut pada pak Harja bisa mendidik anak nya hingga sukses keduanya dan berkarir"
"Andai saja anak saya masih hidup usia nya tidak jauh dari kamu nak Jenny " ucap Bu Azizah
"Ma...ini bukan waktu nya bersedih"
****
"Maaf bu rumah ini bukan di huni oleh pak Harja lagi, beliau sudah menjual rumah ini beberapa tahun yang lalu bu" ucap Satpam penjaga gerbang
"Pak Harja nya pindah ke mana pak?"
"Saya kurang tau bu, beliau tidak mengatakan apapun saat pindah"
Lagi-lagi kekecewaan yang di dapatkan Mentari kemana dia harus mencari paman nya? untuk kantor dia benar-benar lupa di mana kantor papa nya dulu karena papa dan mama nya hanya beberapa kali membawa nya itu pun di antar jemput oleh sopir.
Dalam tangisan dia berjalan terus menelusuri jalan berharap ada yang membantunya tapi nihil orang di Jakarta tak ada yang mengenali nya, untuk saat ini mencari kost-kostan terdekat lah yang harus dia lakukan beruntung tabungan dan uang pesangon masih ada.
"Hufs......"rasa lelah menghinggapi Mentari,dia harus beristirahat di rumah kost yang hanya beralaskan kasur satu batang, Alhamdulillah nya pemilik kost ini baik pada nya,Mentari di berikan nasi dan lauk meskipun seadanya.
__ADS_1
Rasa capek dan kantuk menjadi satu membuat Mentari merebahkan tubuhnya lalu tertidur lelap.