Mentari Tanpa Sinar

Mentari Tanpa Sinar
cerai


__ADS_3

Pagi ini Bram berjalan masuk ke lobi kantor, sudah sepekan lebih dia meninggal kan kantor nya berdiam diri di Jakarta.


"Pagi pak"


"Pagi"


"Pagi pak"


Sapaan kecil dari banyak karyawan nya,Bram yang memang terkenal ramah menjawab semua nya dengan senyuman manis membuat kaum hawa terkesima.


"Pagi pak" sapa Aris membuat Bram sedikit kaget


"Udah lama nggak kelihatan,kemana aja?" tanya Aris lagi


"Di Jakarta ada beberapa proyek yang harus di selesaikan" jawab Bram Santai


"Anak-anak ngajak kumpul?" tanya Bram


"Nggak ada loe nggak rame Bram,nggak ada yang bayarin" jawab Aris terkekeh kecil


"Kelihatan nya kucel banget,nggak di urusin Nita loe?"


"Udah pisah"


"Pisah???" tanya Bram terkejut


"Hmmm.....Nita berbeda jauh dari mantan istri gue Mentari,Nita egois dia nggak pernah ngertiin gue" jawab Aris pelan


"Terus?"


"Gue mau nyari Mentari lagi,ibu juga sudah menerima nya, pasti Mentari senang mendapatkan kabar kalau Ibu juga ingin dia kembali,gue sama Nita cuma nikah siri" jelas Aris membuat Bra terdiam kaku,apa mungkin jika Aris datang dan meminta Mentari balik,akan Mentari terima kembali jika ia bagaimana nasib nya pikir Bram


"Bro...!!!" panggil Aris membuat Bram terkaget

__ADS_1


"Masuk duku Ris,banyak pekerjaan yang harus di selesaikan" pamit Bram cepat dan di anggukki Aris


***


Beberapa berkas yang di bawa Mentari menuju pengadilan agama, semalam dia sudah memutuskan untuk memilih mengurus perceraian nya terlebih dahulu agar dia tak merasa bersalah jika berdekatan dengan Bram.


Setelah mengisi beberapa berkas perkara Mentari segera memasukan nya.


Mungkin ini semua akhir dari penderita nya,Aris banyak memberikan luka bukan cinta bagi nya.


***


"Bi mana Mentari?" tanya Bram yang pulang lebih awal,dia menghubungi Mentari tapi tak di jawab perempuan itu meninggal kan ponsel nya di atas meja makan,Mentari lupa membawa nya.


"Keluar pak"


"Dari kapan?" tanya Bram lagi


"Pagi tadi"


"Tertinggal di meja makan pak" jawab Bi Sur


Bram terlihat khawatir,dia takut jika Mentari malah bertemu Aris.


Mentari masuk kedalam rumah dengan wajah lelah.


"Kak Bram,kenapa ada di sini?" tanya nya heran karena ini masih siang Bram sudah di rumah


"Kamu dari mana saja sayang?" tanya Bram memegang lengan Mentari dan melihat kiri-kanan


"Kenapa khawatir begitu?"


"Kakak takut kamu kenapa-napa"

__ADS_1


"Kak Aku bukan anak kecil lagi, belasan tahun aku tinggal di kota ini bahkan pulang sendiri hingga larut malam pun pernah aku lalui" jelas Mentari


"Bukan begitu Mal,kakak tidak ingin terjadi sesuatu pada mu, kondisi nya saat ini berbeda,pak Harja sedang mengintai mu belum lagi dari-"


"Dari apa?" potong Mentari


"Sudah lah,jangan pergi tanpa sepengetahuan kakak lagi,jujur kakak cemas" aku Bram sambil menarik Mentari ke dalam pelukan nya


Mentari terdiam sejenak kenapa Bram sedikit berbeda hari ini, tidak biasanya dia khawatir sebegini nya,apa sudah terjadi sesuatu pikir Mentari curiga.


"Sudah makan?" tanya Mentari dan di jawab gelengan oleh Bram


"Tadi sebelum pergi aku sempat masak dulu,ayo aku temani kakak makan" ajak Mentari sambil menggenggam tangan Bram ke arah meja makan


"Tadi aku lupa membawa ponsel kak"


"Lain kali jangan begitu sayang,aku tidak fokus bekerja jika tidak mendengar kabar baik dari kamu"


"Kenapa kakak jadi bucin begini?" tanya Mentari sedikit tertawa kecil


"Ini semua karena kamu,kakak takut jika suatu hari kamu malah meninggalkan kakak lagi"jawab Bram jujur


"Tidak.....aku tidak akan meninggalkan kakak lagi, tadi aku sudah memasukkan gugatan perceraian ku kak"


Bram terdiam mendengar penjelasan Mentari,itu berarti Mentari benar-benar sudah siap untuk membuka hati nya pada Bram


"Bukan nya kakak ingin kita selalu berjuang bersama,jadi aku sudah memutuskan untuk mengurus semua berkas nya segera"


"Kamu bercanda?" tanya Bram tidak percaya


"Tidak.... karena buru-buru aku melupakan membawa ponsel ku"


Bram mendekat pada Mentari lalu memeluk nya.

__ADS_1


"Terimakasih sayang, kamu sudah mau berjuang untuk itu" bisik Bram


Mentari hanya tersenyum kecil melihat tingkah bucin Bram padanya,belum pernah dia mendapatkan perlakuan sebegitu manisa nya dari Aris selama ini, mungkin memang Bram lelaki terbaik pilihan Tuhan untuk nya.


__ADS_2