
"Sayang, sudah pilih cincin nya?" tanya Bram yang baru datang langsung mencium pipi Mentari
"Sudah kak,tapi pilihan mama nggak papa ya"
"Selama kamu suka,nggak ada masalah sayang"
"Kenapa pulang malam kak?" tanya Mentari yang melirik jam sudah angka delapan, biasa Bram akan datang sore ketempat nya
"Ada sedikit pekerjaan lalu di ajak anak-anak nongkrong" jawab Bram santai
"Sudah makan?"
"Hmmm,aku hanya mampir sebentar sayang, melihat mu kalau tidak bertemu sehari rasanya ada yang hilang"
"Gombal " cebik Mentari membuat Bram gemas ingin mencium terus calon istri nya ini
"Udah Kak,geli"
Cup
Cup
__ADS_1
Cup
"Kak,nggak enak kalau bibi lihat,kita belum sah,nanti di kira ngapa-ngapain lagi" ingat Mentari
"Biarin aja yang, bentar lagi juga nikah kok, palingan bibi senyam-senyum sendiri,dia juga pernah muda nggak langsung tua gitu" sahut Bram cuek
"Ada yang mau di tambah lagi sayang untuk persiapan nya?"
"Udah cukup kak,besok kak Arga kirim souvernir nya dari Jakarta, Minggu depan dia dan Kak Veni akan datang, mungkin mereka akan menginap di sini"
"Tidak masalah, rumah ini cukup besar sayang,jika Arga ingin membawa sahabat nya siapa itu?" tanya Bram
"Iya si Arkan itu,ajak aja sekalian biar bisa lihat kita menikah"
"Alah bilang aja mau pamer"
"Memang nya kamu nggak mau dia tau kalau kamu akan menikah dengan kakak?" tanya Bram
"Kenapa harus tau juga kak,udah ah nggak usah bahas itu"
"Kamu juga suka yang sama dia?"
__ADS_1
"Kan jadi pembahasan nya kemana-mana,kalau udah capek pulang aja kak,besok harus kerja" begitu lah cara Mentari menghindari keributan dengan Bram,dia lebih banyak mengalah dan Bram juga lebih pengertian menurut Mentari, untuk kerikil kecil, kecemburuan di rasa Mentari masih wajar lah, apalagi mereka belum menikah pasti ada rasa curiga.
Memang Mentari akui Bram lebih posesif pada nya,Bram tak sekalipun mengizinkan Mentari pergi tanpa dirinya,bahkan ke salon pun Bram rela menemani nya,pergi bersama mama nya saja sebenarnya tidak boleh tapi karena mama nya memaksa Bram tak bisa berkutik lagi tapi semua itu di nikmati oleh Mentari,dia sudah bosan hidup mandiri, apapun bisa dia lakukan saat bersama Aris jadi bersama Bram cukup membuat Mentari bahagia.
****
"Gue penasaran sama calon nya Bram,Ris?" ujar Joe
"Kenapa?"
"Biasanya Bram paling nggak mau terlalu dekat sama perempuan, ingat nggak dulu banyak yang ngejar dia justru dia tolak,tapi kenapa sekarang justru semakin bucin ya,Bram rela meninggalkan kantor berminggu-minggu untuk menemani perempuan nya di Jakarta"terang Joe
"Nama nya juga cinta Jo,elo aja yang belum ngerasain nya "Jawab Aris santai, mungkin jika kini dia tau di mana Mentari akan dia susul karena Aris sudah menyadari tidak ada yang lebih baik dari Mentari
"Benar juga sih Ris,cuma penasaran doang,cewek kaya seperti apa yang bisa menaklukkan hati Bram,dulu perasaan Bram nggak pernah lihat perempuan dari kekayaan nya"
"Mungkin bonus Joe, secara Bram kan juga kaya" celetuk Danu
"Iya ya beda sama loe yang cuma perempuan nya yang kaya" sindir Joe membuat Danu terkekeh kecil
"Jadi nggak sabar dapat undangan Bram" ucap Joe pelan
__ADS_1