
Laila memberikan senyuman terindah nya kepada ku. Dua lesung kembar milik nya membentuk cekungan indah yang menarik mata dan jiwa hati ku.
Ku kenali rasa cinta yang sama seperti yang dulu selalu Laila tunjukkan kepada ku di setiap kami melempar pandang. Atau di setiap kami berbagi tawa. Atau di setiap kami merasakan lara.
Duka nya adalah duka ku. Fan sepi nya menjadi sepi ku. Bahagia nya adalah harapan ku. Dan aku menangkap semua gejolak rasa yang tercampur aduk menjadi satu pada manik mata yang kini memandang ku itu.
"Er..lan.." bisik nya terdengar merdu karena bumbu cinta yang ia baluri di setiap huruf nama ku yang diucapkan nya.
Dalam kondisi payah dan menjaring lelah, Laila ku kembali menyebut nama ku lagi untuk yang terakhir kali sebelum akhirnya kelelahan itu membawa jiwa nya pergi.
Secara perlahan bunyi mesin pendeteksi detak jantung yang terletak di dekat Laila menunjukkan suara beep. Beep. Beep. Yang kian melambat.
Dan aku tahu. Aku tahu, meski tak ada yang memberi tahu ku bahwa perpisahan dengan Laila ku itu akan terjadi tak lama lagi.
Beep. Beep. Beep.
"La.. please.. stay with me.. please.. stay with me forever.. give me some more time to make you happy, Yang.." lirih ku dengan wajah yang tertunduk.
Aku tak lagi kuasa untuk menatap wajah Laila ku kini. Karena aku sempat mendapati kehampaan pada pandangan mata nya.
"Stay with me, La.. please.. some more time..hiks.."
Aku sesenggukan menangis. Dan aku terus menangis seperti anak kecil yang kehilangan mainan kesayangan nya.
Aku tak sadar saat tiba-tiba saja sekumpulan orang masuk ke dalam ruangan dan mengajak ku minggir dari sisi Laila.
Aku tak sadar ketika orang-orang yang ternyata para dokter dan perawat itu sedang mengusahakan sesuatu untuk menolong Laila ku.
Aku ditarik oleh sebuah tangan untuk pergi dari ruangan itu. Hingga akhirnya aku kembali menunggu di depan ruangan tempat Laila berada.
Sepanjang waktu itu aku terus menangis dan menangis saja. Sampai saat seseorang menampar keras pipi kanan ku.
Plak!
"Nila! Apa yang kau lakukan?!" Ku dengar Mark bertanya genting pada sang adik.
__ADS_1
"Dia, Kak! Sedari awal Mama masuk ke rumah sakit, dia lah yang sudah menyebabkan tensi Mama menjadi tinggi!" Tuding Nila terdengar sangat sengit.
Aku terdiam dan maiah menangis dalam diam, saat kedua bersaudara itu sibuk membincangkan ku di depan ku sendiri.
"Jangan begitu, Nil. Jangan salahkan orang lain. Mungkin memang sudah waktu nya Mama untuk...menyusul Papa.." ucap Mark dengan nada sedih.
Saat ku dengar Mark mengatakan itu, aku langsung mengangkat wajah ku dan menatap nya garang.
'Enggak! Laila gak bisa menyusul ku pergi! Aku sudah kembali. Jadi dia seharus nya bertahan untuk tetap bersama ku!'
Itu adalah kalimat yang ingin sekali ku katakan kepada Mark atas ucapan lancang nya tadi.
Sayang nya, aku masih terlalu gagu untuk kembali bicara. Aku hanya memandang Mark dengan tatapan garang ku saja.
Sayang nya Mark lagi-lagi salah mengartikan tatapan ku. Ia lalu berkata.
"Maaf ya, Bang. Nila lagi terguncang jadi dia asal ngomong dan nuduh Abang yang enggak-enggak," ucap Mark dengan raut wajah menyesal.
"Kak! Ngapain Kakak minta maaf ke dia! Memang karena dia kondisi Mama tiba-tiba jadi down! Tadi di dalam juga Mama langsung down pas Mama ngelihat dia! Kayak nya dia dan Mama ada hubungan spesial. Dan Mama shok banget pas lihat dia di sini!" Tuding Nila berapi-api.
Tapi.. lalu.. aku harus pergi ke mana? Cinta ku di dunia ini hanya lah Laila. Jika aku harus menjauh dari detak kehidupan ku, bukan kah itu sama arti nya aku harus merelakan hidup yang ku pinjam dalam tubuh baru ku ini?
Di dekat ku, perbincangan Mark dan Nila terus berlanjut. Sementara itu aku sibuk dengan pikiran ku sendiri.
Entah berapa lama kami menunggu di depan ruangan Laila, aku tak menghitung waktu nya.
Yang ku tahu adalah saat para dokter dan perawat akhirnya kembali membuka pintu untuk keluar. Seorang dokter muda bertahan di depan pintu untuk menjelaskan kondisi Laila saat ini.
Aku tak mendengar rincian penjelasan dari dokter tersebut. Satu-satu nya yang ku sadari adalah saat dokter itu menyatakan kalau kondisi Laila telah kembali aman.
'Syukurlah!' hati ku lega dalam kebahagiaan yang singkat.
Kebahagiaan ku langsung mengempis saat ku dengar penjelasan selanjut nya dari sang dokter.
"Tapi, tolong jaga kestabilan emosi pasien ya, Nona dan Tuan. Jangan sampai Nyonya Laila mengalami shok lagi. Turuti saja apa yang diinginkan nya kalau bisa. Dan sering-sering lah mengajak nya berbincang. Biasanya kebersamaan dengan orang-orang yang dicintai itu mampu meningkatkan persentasi kesembuhan seorang pasien," ujar dokter tersebut.
__ADS_1
"Baik, Dok! Terima kasih! Jadi sekarang Mama saya sedang tidur?" Tanya Mark kemudian.
"Ya. Kami baru saja memberinya obat penenang. Biarkan ia beristirahat terlebih dahulu. Jangan buat kerumunan saat mengunjungi nya. Khawatir itu akan membuat pasien menjadi stres nanti nya. Kalau begitu, saya permisi!" Ucap sang dokter yang kemudian pamit pergi.
Selesai sang dokter bicara, tadi nya aku hendak kembali masuk ke dalam ruangan demi bisa melihat Laila ku kembali. Namun sebuah kecaman menahan langkah ku di depan pintu.
"Berhenti! Jangan temui Mama ku lagi!" Kecam Nila melarang ku masuk.
"Nila! Jangan kasar begitu! Bang, maaf ya, Bang. Adek saya masih syok, seperti nya," ujar Mark dengan raut tak enak hati.
"Tak apa-apa.. aku.. bisa mengerti perasaan nya," jawab ku dengan suara sedikit serak.
"Baguslah! Kak, biar aku yang jaga Mama dulu. Kakak pulang lah. Nanti tolong pulang dan ambil baju ganti ku ya, Kak. Aku akan menginapi Mama semalam ini," ujar Nila kepada Mark.
Gadis itu benar-benar mengacuhkan keberadaan ku kini.
Aku tak marah kepada Nila. Hanya saja aku sedih karena aku tak bisa mendekati Laila ku lagi.
'Apa sebaiknya ku katakan kepada mereka tentang identitas ku?' tanya ku berpikir di dalam hati.
"Bang? Bang?!"
Aku tersadar dari lamunan singkat ku sesaat tadi.
Rupa-rupa nya kini di depan pintu hanya tinggal aku dan Mark saja. Nila sudah masuk ke dalam ruang inap Laila.
"Bisa kita bicara sebentar?" Pinta Mark tiba-tiba kepada ku.
Aku mengangguk mengiyakan permintaan nya itu. Kami lalu duduk bersampingan di bangku panjang yang ada tak jauh dari ruang inap Laila berada.
Belum sempat Mark bicara, aku langsung saja mengatakan apa yang ingin ku sampaikan kepada nya sedari tadi.
"Mark, aku adalah Erlan. Papa kandung mu!" Ucap ku dengan pandangan teguh.
***
__ADS_1