
"Maaf ya, Rin.. soal tadi.." ucap ku begitu kami tiba di rumah sakit.
Ku dengar Karina menghembuskan napas dalam sekali. Baru kemudian ia menjawab pernyataan maaf ku tadi.
"Ya sudah lah. Gak usah dibahas lagi. Itu hal yang wajar kok. Seharusnya juga tadi aku maksa untuk bawa motor nya sendiri.." ucap Karina dengan suara lebih tenang.
Tetapi beberapa saat kemudian, ia kembali mengomeli ku.
"Dan kamu juga, Lan! Kalau memang gak yakin bisa bawa, jangan bilang bisa dong! Aku kan ngira nya kamu bisa bawa motor! gimana sih!" Lanjut Katina mengomel.
Dan aku pun kembali menjadi seperti anak kecil yang sedang dimarahi oleh guru nya.
Karina menguliahi ku soal tanggung jawab dan penting nya berhati-hati dalam berkendara hingga kami akhirnya jua tiba di dalam rumah sakit.
Begitu sampai di lobi, Karina tiba-tiba saja terdiam. Dan aku juga melihat raut kekhawatiran kembali terpasang di wajah nya yang cantik.
Melihat perubahan ekspresi pada wjaah Karina, dengan spontan nya ku tepuk pelan pundak Karina beberapa kali.
"Tenang lah, Rin. Rinaya pasti akan segera sembuh," ucap ku menghibur.
Mendengar ucapan ku, Karina langsung menoleh ke arah ku sebentar.
Ia menghadiahinku senyuman tipis lalu mengembalikan perhatian nyanlagi ke depan.
"Makasih ya, Lan.." ucap nya pelan, hampir saja tak ku dengar.
Aku tak bisa menahan diri untuk tersenyum. Meski pun aku tak mengerti untuk apa pula aku tersenyum. Kami lalu melanjutkan perjalanan kami menuju ruang inap Rinaya yang berada di lantai 3.
Sebelum menaiki lift yang akan mengantarkan kami ke lantai tempat kamar inap Rinaya berada, dua orang perawat terlihat terburu-buru mendorong sebuah bankar. Di mana pada bankar tersebut terdapat seorang lelaki yang berlumuran darah dan tak sadarkan diri.
"Permisi! Maaf! Mohon menepi!" Teriak salah seorang perawat tersebut.
Aku meraih bahu Karina agar ikut menepi bersama ku. Dan aku dibuat terkejut saat tiba-tiba saja Karina memeluk tubuh ku erat.
Langkah ku pun ikut terhenti mengikuti langkah Karina yang juga sempat terhenti sejak ia memelukku tadi.
"... Kamu kenapa, Rin?" Tanya ku kebingungan.
"Se.. sebentar aja, Lan.. sebentar aja.. aku mau ngumpet dulu.." ungkap Karina lewat bisikan pelan yang hanya aku saja yang bisa mendengar nya.
__ADS_1
'ngumpet? Ngumpet dari apa? Apa ada seseorang yang ia takuti di dekat sini?' aku bertanya dalam hati.
Sembari menepuk pelan pundak Karina berulang kali, ku layangkan pandangan ku ke sekitar kami.
Saat ini ada banyak orang di sekitar kami. Tapi setelah pemantauan kilat ku, aku tak mendapati adanya orang mencurigakan yang melihat ke arah kami.
Di saat aku masih kebingungan dengan apa yang sedang dihindari oleh Karina, tiba-tiba saja wanita itu melepas pelukan nya.
Karina lalu celinguk ke sekitar kami, kemudian menghembuskan napas lega.
"Ayo! Kita ke kamar Rinaya. Sekarang sudah aman!" Ujar Karina dengan wajah lega.
Kemudian Karina mendahului ku berjalan di depan. Dan aku pun buru-buru mengikuti langkahnya dari belakang.
Merasa penasaran, akhirnya ketika kami sudah berada di dalam lift, aku pun menanyakan pada Karina tentang apa yang membuat nya mengumpet dalam pelukan ku beberapa saat tadi.
Dan aku dibuat terperangah dengan apa yang terjadi setelah nya.
Saat berada di dalam lift, ada beberapa orang lain bersama kami. Usai bertanya kepada Karina tentang kejadian saat ia memeluk ku tadi, Karina tiba-tiba mendekatkan mulut nya ke telingaku. Dan ia pun memberikan jawaban kepada ku.
"Tadi itu, hantu dari orang yang kecelakaan tadi muncul tepat di depan muka ku, Lan. Kan ngeri banget! Mana sebelah mata nya hampir mau copot lagi!" Bisik Karina begitu jelas terdengar.
Seketika aku pun langsung merinding usai Karina selesai berbisik. Entah kenapa, mendengar bisikan Karina di dekat telinga ku rasanya lebih membuat bulu kuduk ku meremang dibanding mengetahui isi bisikan nya barusan.
Dan ini terjadi tepat sejak Karina mendekatkan wajahnya dan berbisik kepada ku sesaat tadi.
Deg. Deg.
Ba dump. Ba dump.
Ada sesuatu yang menggelitiki perut ku. Entah apa. Dan gelenyar aneh itu terus menyebar dan membuat seluruh tubuh ku merasa tak nyaman.
Ku lirik Karina yang kini terlihat santai menatap pintu lift yang tertutup.
Ting.
Pintu lift terbuka, dan Karina pun melangkah keluar bersama beberapa orang lain nya. Sementara Aku masih terdiam menatap nya bingung.
Karina lalu menoleh ke arah ku.
__ADS_1
"Lan? Kok malah bengong sih? Ayo keluar! Kamar Rinaya ada di lantai ini!" Ajak Karina menegur ku.
Dan seolah baru saja tersadar dari hipnotis, aku pun langsung bergegas keluar dari dalam lift, sebelum pintu lift kembali menutup.
Nama Rinaya lah yang kemudian menyadarkan ku pada kondisi trans yang sempat ku alami sesaat tadi.
'Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa aku merasakan hal aneh saat Karina berbisik dekat ke telinga ku tadi? Apa jangan-jangan..'
Sebuah dugaa pun melintas cepat di pikiran ku. Dan seketika mata ku membulat lebar.
Ku perlebar langkah kaki ku demi bisa mengejar Karina yang sudah jauh ada di depan. Begitu jarak kami hanya bersisa satu langkah saja, ku tarik tangan Karina untuk menahan nya di tempat.
"Rin!" Ku panggil Karina dengan nada mendesak.
"Huh? Ada apa, Lan?" Tanya Karina kebingungan.
Ia menatap ku bingung. Dan aku menatap nya penuh harap. Dugaan yang tadi sempat terlintas di benak ku pun kini kembali mengangkasa di benak ku. Sehingga aku langsung saja menyuarakan nya kepada Karina, demi bisa menuntaskan rasa penasaran ku ini.
"Apa menurut mu.." ku tahan ucapan ku saat ada seorang dokter melewati kami.
Kemudian ku dekati Karina kembali. Dan..
Deg. Deg.
Ba dump. Ba dump.
Debur jantung itu muncul kembali tanpa diundang.
Seketika bulu roma ku meremang, dan saat aku sudah tak tahan dengan gelenyar rasa hangat yang menyebar ke seluruh tubuh ku, aku pun bergegas menuntaskan pertanyaan ku ke telinga Karina.
"Apa menurut mu.. sekarang ada hantu di dekat kita??" Tanya ku dengan mata yang membulat lebar.
Karina terdiam. Aku pun ikut terdiam.
"Huh??" Ku lihat Karina mengerjapkan bulu mata nya yang lentik. Itu tampak indah untuk dilihat.
Deg. deg.
Ba dump. Ba dump.
__ADS_1
'Ahh! Sial! Apa benar-benar ada hantu di dekat kami saat ini? Kenapa jantung ku berdebar kencang sekali?!!' benak ku kalut dengan hal yang tak ku mengerti sama sekali, saat ini.
***