
Aku berhasil membuktikan kepada Karina bahwa aku memang cukup mahir membawakan mobil nya menuju rumah sakit. Sepanjang perjalanan menuju kamar inap Rinaya, aku terus mengingatkan Karina tentang kemampuan ku itu.
"Sudah lah, Lan. Iya. Iya. Aku tahu kamu memang pintar bawa mobil! Kenapa sih bahas soal itu terus?" Keluh Karina yang mulai kesal karena aku terus berkata, 'aku bisa kan bawa mobil?' Kepada nya.
Entah lah. Aku sendiri tak tahu, kenapa aku senang membuat wanita itu menjadi kesal. Mungkin karena aku senang melihat perubahan ekspresi di wajah nya yang biasanya cuek dan datar itu kah?
Saat kami masih berada di Nevarest, dan Karina menjadi ratu, dia memang memiliki pembawaan yang acuh. Sepintas orang luar menganggap nya sedikit angkuh.
Tapi aku tahu, Karina hanya bersikap seperti itu karena ia berusaha menjaga diri nya dsn kuga putri nya dari usaha orang-orang tamak yang ingin mendekati nya karena status yang disandang nya dulu.
Namun sejak kepindahan kami kembali ke bumi. Secara perlahan aku melihat ada perubahan dalam diri Karina. Ia terlihat lebih ceria dan sering tersenyum, apalagi saat ia sedang berbincang dengan Rinaya, putri nya.
"Yah.. hanya agar kau tak lagi meragukan kemampuan ku saja, Ratu!" Seloroh ku menjawab keluhan Karina tadi.
Kami lalu pulang dari rumah sakit, sekitar setengah jam setelah kami sampai di sana.
"Rinaya mau makan cake ya. paman.. beli sekarang, boleh?" Tanya Rinaya dengan sikap yang begitu manis.
"Boleh.. tapi kita beli yang kecil dulu ya, Nai. Karena Rinai kan baru sembuh banget.." bujuk ku pada gadis kecil itu.
Rinaya mengangguk. Mengiyakan bujukan ku.
Akhirnya di perjalanan pulang, kami pun mampir membeli cake strawberry untuk Rinaya.
Sesampai nya di rumah, waktu sudah menjelang maghrib. Aku terburu-buru membuka pintu pagar rumah Karina. Karena Karina sedang memangku Rinaya yang pulas tertidur.
Selesai memasukkan mobil ke dalam garasi, aku membantu Karina membopong Rinaya dari dalam mobil. Saat itu pintu pagar rumah nya masih terbuka lebar.
Jadi aku cukup terkejut saat tiba-tiba saja aku mendengar suara seseorang memanggil nama ku.
"Erlan?! Kamu ngapain di sini? Siapa anak itu?"
Aku langsung menoleh ke arah pintu pagar rumah Karina. Dan tampaklah Nila di dekat pintu pagar rumah Karina. Putri ku itu menatap ku dengan pandangan yang sulit untuk ku baca.
"Syuutt.. nanti ya, Nil.."
Aku berbisik kencang. Namun karena bisikan itu, Rinaya yang ku gendong malah jadi terbangun.
__ADS_1
"Paman.. jangan pulang.. Rinaya mau main sama Paman.." gumam Rinaya yang ternyata belum pulih kesadaran nya.
"Suuut... Iya, Nai. Paman masih ada di sini.. sudah, tidur lagi ya?" Bisik ku pelan ke dekat telinga nya.
Kemudian aku memberi isyarat kepada Nila untuk menunggu ku di rumah Mark. Sementara aku mengantarkan Rinaya ke kamar nya.
Setelah Rinaya kembali pulas di atas kasur nya, aku pun menutup pintu kamar nya.
"Makasih ya, Lan. Untuk bantuan nya hari ini. Maaf sudah banyak merepotkan kamu," ujar Karina dengan wajah malu.
"Ya. Santai saja Rin. Jika perlu bantuan lagi, bilang saja ya. Atau bel saja aku. Apalagi kalau kamu kembali bertemu dengan penguntit itu. Langsung bel aku saja lagi ya, Rin?" Aku menawarkan bantuan.
"Iya. Oh ya, ngomong-ngomong yang tadi itu siapa?" Tanya Karina tiba-tiba.
"Huh? Oh! Maksud kamu Nila? Dia itu anak ku, Rin. Salah satu dari dua anak kembar ku dan juga Laila," jawab ku.
"Ooh.. hmm.. tapi tadi dia memanggil nama mu langsung. Apa itu berarti dia juga enggak percaya kalau kamu itu Papa nya?" Tanya Karina lagi.
Kami berdua berjalan beriringan menuju pintu keluar rumah.
"...Sabar ya, Lan."
Hening.
Setelah beberapa lama berlalu, tiba-tiba saja aku menceritakan kepada Karina tentang kerisauan ku perihal Nila.
"Dan kamu tahu gak, Rin? Putri ku tadi pernah bilang suka ke aku!" Imbuh ku kemudian.
"Hah?! maksud kamu.. suka.. suka yang itu? Yang benar, Lan?"
Aku mengangguk.
"Ya. Dan sampai sekarang pun sepertinya perasaan nya masih sama,"
Aku menghela napas dalam.
"Hmm.. aku punya ide, Lan? Kamu mau aku bantu gak biar Nila menyerah soal perasaan nya ke kamu itu?" Tanya Karina tetiba.
__ADS_1
"Ide apa?"
Karina memberi ku senyuman jahil. Dan entah kenapa, aku merasa tak nyaman saat melihat senyuman nya itu.
'Apa dia akan menyarankan sebuah ide yang gila?' gumam ku tanpa suara.
"Nah.. nanti malam saja deh ya. Kamu bilang. Nanti malam bakal ada acara makan kan di rumah Mark?" Tanya Karina.
"Iya. Terus?"
"Terus.. nanti malam aku mau datang boleh gak? Boleh deh ya.. mungkin habis maghrib aja deh nanti. Mumpung Rinaya masih pulas tidur kan.." lanjut Karina lagi.
"Huh? Kamu mau apa, Rin?" Tanya ku bingung.
"Yah.. lihat nanti aja deh. Pokok nya nanti kamu bukain pintu nya ya pas aku datang. Awas kalau enggak! Aku mau bantuin kamu lho nih, Lan. Anggap saja ini cara ku membalas semua pertolongan mu selama ini," imbuh Karina.
"Jangan sungkan, Rin. Sudah sepatutnya kita saling menolong," elak ku atas ucapan nya tadi.
"Yah. Inti nya, nanti aku mau datang ke rumah kamu, eh, rumah Mark ya! Sudah. Sekarang lebih baik kamu pulang dulu sana! Sudah maghrib tuh!" Usir Karina sambil mendorong ku keluar pintu.
'Hh.. niat nya untuk membalas budi kok dengan cara ngusir seperti ini sih?' gumam ku dalam hati.
Tak lama kemudian, ku dengar suara Karina kembali dari arah pintu tempat nya masih setia berdiri.
"Tolong tutup pagar nya sekalian ya, Lan!" Teriak Karina sambil tersenyum lebar kepada ku..
"Iya!"
Dan aku pun kembali pulang ke rumah Mark. Dengan disambut oleh Nila yang menunggu ku di ruang TV.
"Lan, kamu kok dekat banget sama perempuan tadi? Dia siapa? Terus yang tadi itu anak nya ya? Kata Mark dia janda?" Tanya Nila dengan pertanyaan beruntun.
"Nil.. maaf sebelum nya karena tadi gak bisa ikut jemput kamu. Tapi sekarang, mending kamu bersih-bersih dulu ya. Aku juga mau shalat dulu. Udah maghrib soal nya," ucap ku terburu-buru, sebelum akhirnya berlalu pergi meninggalkan Nila.
Jelas sekali aku menyadari, bahwa Nila seperti nya sedang merasakan cemburu saat ini.
***
__ADS_1