Meretas Rasa

Meretas Rasa
37. Dijenguk Karina


__ADS_3

Keesokan pagi nya, aku bangun dengan kondisi tubuh yang masih lemas.


"Apa sebaik nya aku libur dulu, Bang? Bang Erlan saya antar ke rumah sakit ya?" Mark menawarkan bantuan saat melihat wajah ku yang masih pucat.


Aku menggeleng lemah.


"Gak apa-apa, Mark. Berangkat kerja saja, sana. Nanti siang juga kondisi ku membaik," ujar ku menenangkan putra ku itu.


"Tapi.. oh ya! Sebentar ! Aku hampir saja lupa!"


Mark kemudian kembali ke lantai atas menuju kamar nya. Dan tak berselang lama, ia sudah kembali dengan membawa sebuah paper bag cokelat.


Paper bag itu lalu disodorkan nya kepada ku.


"Ini Bang. Ponsel buat Bang Erlan. Anggap saja itu bonus awal untuk gajian Abang bulan ini. Saya bayar di muka!" Tutur Mark dengan santai nya.


Ku pandangi paper bag itu selama beberapa detik. Aku memikirkan, kalau ponsel itu mungkin hanya akan ku gunakan untuk urusan bisnis saja.


"Baiklah. Terima kasih ya, Mark. Sudah. Berangkat saja sana!" Usir ku lagi dengan halus.


"Kalau begitu, saya berangkat ya, Bang!" Pamit Mark sebelum berlalu keluar rumah.


Akan tetapi, di saat ku duga Mark baru membuka pintu pagar, pendengaran super ku menangkap suara Karina menyapa nya.


Tadi nya aku hendak mengabaikan percakapan mereka dan melanjutkan kembali waktu istirahat ku di ruang TV. Namun, begitu ku dengar nama ku disebut oleh Karina, mau tak mau aku pun jadi memasang kuping ku lebar-lebar untuk menyimak perbincangan mereka.


"Pagi Mark! Mau berangkat kerja?" Sapa Karina.


"Ka..Karina.. iya.. mau berangkat nih. Kamu juga?" Tanya balik Mark.


"Aduh! sial!" Terdengar suara Mark mengaduh.


"Kamu kenapa?" Tanya Karina khawatir.


"Gak..gak apa-apa kok, Rin. Cuma kepleset dikit.hee.." kekehan Mark terdengar kikuk.


Bisa ku bayangkan kalau sikap putra ku itu pasti saat ini sangat canggung kala berhadapan dengan Karina. Wanita itu memang penjelmaan sempurna dari Dewi Aphrodite.


"Oh.. mm.. Erlan nya udah berangkat?" Tanya Karina tiba-tiba.


"Enggak. Bang Erlan sakit. Oh ya! Dia janji mau bantu kamu ya selama dua hari ini. Kemarin gimana? Penguntit nya ketangkap gak? Bang Erlan gak cerita apa-apa. Dan saya juga pulang nya kemalaman jadi gak sempat mengobrol.." tukas Mark terdengar penasaran.

__ADS_1


"Erlan sakit?? Sakit apa? Kemarin Rinaya dibawa ke rumah sakit karena Pneumonia. Jadinya kita gak jadi bahas soal penguntit itu deh.." jawab Karina dengan lesu.


"Ooh.. Kaki Bang Erlan bengkak gitu. Katanya sih terkilir.." jawab Mark singkat.


"Ooh.. jangan-jangan.." suara Karina terdengar sangat pelan di telinga ku. Sehingga aku bahkan tak bisa mendengar kelanjutan ucapan nya.


"Jangan-jangan apa, Rin?" Tanya Mark kemudian.


"Oh.. enggak! Gak apa-apa! Mm.. aku boleh nengok Erlan nya gak?" Tanya Karina kemudian.


Deg. Deg.


Tiba-tiba jantung ku kembali berdentum cepat.


'Ehh?? Kenapa lagi dengan jantung ku? Apa jangan-jangan ada makhluk halus lagi ya di sini..?' gumam ku sambil melayangkan pandangan ke sekitar.


Perasaan tak nyaman tiba-tiba saja bercokol di benak ku. Dan perasaan tak nyaman itu semakin terasa saat ku dengar langkah Karina sudah berada di depan pintu.


Buru-buru, aku pun memejamkan kedua mata ku.


'Tunggu dulu! Kenapa aku berpura-pura tidur? Apa sebab nya aku menghindari Karina?' sambil terpejam, aku mengernyitkan dahi. Merasa heran dengan tingkah ku sendiri.


Aneh nya, aku tak segera membuka kedua mata ku lagi. Dan aku tetap terpejam, bahkan saat Karina sudah berada di samping ku.


Deg. deg.


Ba dump. Ba dump.


Aku mencoba menetralkan debur jantung ku yang berdentum semakin kencang. Aku berharap Karina tak merasa curiga dengan alur napas ku yang keluar masuk begitu cepat.


'Ah sial! Ada apa sih sebenarnya dengan ku?!' rutuk ku pada diri sendiri.


Tak lama kemudian, ku rasakan sebuah sentuhan pada kening ku. Sentuhan yang berasal dari tangan yang lembut dan juga.. harum.


'hmm.. wangi nya enak sekali. Seperti bunga. Mmm'


Tanpa sadar aku tersenyum dan mengangkat hidung ku untuk menci um aroma wangi itu agar lebih dekat lagi. Namun ternyata sikap ku itu membuat tidur pura-pura ku terbongkar seketika.


"Erlan? Kamu sudah bangun?" Tanya Karina seraya menarik tangan nya menjauh.


'Ah.. sayang sekali. Padahal aku masih ingin mencium wangi nya..ehh?? Tunggu dulu! Kenapa aku jadi berpikir mesum seperti ini sih?! Benar-benar! Aku seperti ya masih sangat sakit sekarang ini!' lagi-lagi aku merutuki diri sendiri.

__ADS_1


"Lan??" Karina kembali memanggil nama ku.


Mau tak mau, aku pun membuka kedua mata ku. Dan akhirnya, aku bisa melihat keberadaan Karina yang sudah berdiri di dekat kaki ku. Ia terlihat cantik dalam seragam mengajar nya. Kemeja biru tua, di padu padankan dengan rok sepanjang di bawah lutut.


Rambut Karina yang panjang bergelombang diikat kebelakang sementara beberapa anak rambut nya terlihat ikal dan memperindah bentuk wajah nya yang sudah sempurna.


"Lan? Kamu kata Mark, lagi sakit?" Tanya Karina lagi.


Karina lalu menjulurkan tangan nya ke kening ku lagi. Dan aku merasa senang karena akhirnya bisa menghirup aroma wangi tangan nya lagi.


'Ah.. biarlah. Sementara ini aku jadi gila. Wangi tangan nya benar-benar menenangkan pikiran ku!' aku menyerah pada keinginan ku sendiri.


"Masih sedikit demam sih.. mm.. kamu sudha minum obat?" Tanya Karina.


Aku mengangguk dan menatap nya lurus.


"Kaki mu terus sudah diobati?" Tanya Karina kembali.


Kali ini aku menggeleng terlebih dulu, lalu teringat kalau aku sudah mencoba mengobatinya dengan teknik aliran chi yang dipelajari oleh Aro. Jadilah kemudian aku mengangguk juga.


"Jadi kaki kamu sudah diobati belum sih? Jawab dong yang jelas!" Dumel Karina.


"Sudah," jawab ku singkat.


"Oh ya? Mana coba ku lihat!"


Tiba-tiba saja Karina menjulurkan tangan nya menuju selimut tipis yang menutupi bagian kaki ku. Aku yang merasa malu pun buru-buru mengambil posisi duduk untuk mencegah tangan Karina untuk menyingkap selimut itu.


Ku pegang pergelangan tangan wanita itu dan berseru, "jangan!"


Karina pun langsung menoleh.


Saat ini posisi Karina sedang dalam posisi agak membungkuk. Posisi nya itu membuat ku bisa melihat wajah nya dengan sangat dekat. Apalagi aku juga agak membungkuk kan badan ku ke depan. Mungkin jarak di antara kedua wajah kami hanya tinggal sejengkal saja.


Keadaan tiba-tiba menjadi hening. Dan juga canggung.


Deg. Deg. Deg.


Ba dump. Ba dump.


Dan sial nya, jantung ku kembali berdentum tak menentu saat itu jua!

__ADS_1


***


__ADS_2