
Hari-hari berikut nya aku melanjutkan usaha ku dalam menghindari Karina. Pernah, ketika baru pulang kerja bersama Mark. sebelum sampai did epan rumah Mark, aku melihat sosok Karina sedang berdiri di depan pintu pagar nya sambil melirik ke samping kanan (rumah Mark).
Aku menduga kalau ia mungkin saja sedang menunggu kepulangan ku. Karena itu lah, tiba-giba saja aku minta Mark menghentikan mobil nya. Dan sebelum Karina sempat menyadari kalau mobil Mark sudah begitu dekat di hadapan nya, aku turun dari mobil Mark.
Kepada Mark ku katakan saja bahwa ada tugas kantor yang lupa ku bawa ke rumah untuk ku periksa. Setelah itu. Aku pun menggunakan inner power ku dan melesat cepat melewati Karina. Menaiki pintu pagar tanpa meninggalkan jejak suara, melompat ke balkon kamar Mark di lantai 2, dan akhirnya masuk melalui jendela kamar Mark yang sering nya terbuka.
Semua itu ku lakukan dengan hati yang berdebur kencang. Meskipun begitu, sesampai nya di kamar, aku ingin meringis dan memukul diri ku sendiri. Setiap gerak-gerik ku ini tampak seperti seseorang yang takut bertemu dan ditagih oleh rentenir saja.
Dan hal ini terjadi tak hanya sekali. Karena itulah di suatu kesempatan Mark pernah menahan lengan ku sehingga aku tak cepat keluar dari mobil nya, saat ku lihat Karina kembali berdiri menunggu di kejauhan.
"Tunggu sebentar Bang!" Tahan Mark tiba-tiba.
Aku merasa gugup. Kembali ku lirik ke depan. Dan syukurlah Karina sedang duduk berjongkok dengan kepala menelungkup saat ini. Jadi ia paati belum menyadari kepulangan kami.
Aku mengembalikan pandangan ke lelaki di samping ku.
"Kenapa Mark? Ceoat lah! Aku mau.."
"Ya. Ya. Ya. Aku tebak! Apa Abang mau mengambil file laporan yang tertinggal di kantor? Atau membeli makanan untik makan malam kita nanti? Atau membeli cemilan untuk Abang makan sendiri di kamar, bila kelaparan tengah malam? Come on, Bnag! Jangan menghindari lagi deh! Saya kira Abang gak akan sepengecut ini menghadapi seorang wanita!" Sindir Mark begitu pedas.
Seketika, sebelah kaki ku yang sudah hampir keluar dari pintu mobil pun segera ku bawa masuk kembali. Ku picingkan mata ku ke arah Mark atas ucapan mengesalkan nya tadi.
"Apa maksud ucapan mu itu, Mark? Pengecut? Kau bilang aku pengecut?!" Pekik ku dengan suara tertahan.
Sekuat tenaga ku tahan emosi yang mulai memuncak di dada ini. Aku paling tak suka dengan kata pengecut. Itu adalah kata-kata terakhir yang ku dengar dari mulut almarhum Opung ku saat aku pernah kabur dari rumah ku dulu. Semasa aku masih hidup sebagai Erlan di dunia ini. (Silahkan baca tentang latar belakang keluarga Erlan di novel "Aku Bukan Rumput Liar")
"Ya. Pengecut, Bang. Julukan apa lagi yang tepat untuk memggambarkan Abang yang selalu berusaha menghindari seorang wanita? Saya tahu, akhir-akhir ini Abang sedang menghindari Karina. Benar bukan, Bang?" Tuding Mark begitu tepat.
Aku menghindari bersitatap langsung dengan sepasang mata Mark. Sepasang mata yang begitu mengingatkan ku pada kedua mata Laila.
"Aku.. aku gak tahu apa maksud mu. Sudah ya. Sebelum kemaghriban nanti, Mark. Aku harus segera membeli.."
"Terlambat, Bang! Karina sudah berada tak jauh di depan kita," Mark memotong ucapan ku.
__ADS_1
Aku pun seketika menoleh ke depan mobil. Dan, benar saja. Karina memang sedang berjalan menuju mobil Mark.
Ia tampak tergesa-gesa di setiap langkah yang diambil nya. Meski begitu, ketergesaan itu tak merusak penampilan nya yang senantiasa chic, menurut ku.
Lihat saja saat ini. Karina tampak seperti Dewi Durga dalam wujud Dewi Aphrodite. Dimana ia dihiasi oleh amarah sekaligus juga keindahan rupa dalam penampilan nya saat ini.
Rambut ikal panjang yang seperti mahkota panjang dan terjurai indah di kepala Karina..
Wajah cantik yang menyimpan struktur kebangsawanan dalam setiap lekukan rahang dan juga dahi nya..
Mata lebar bak buah badam yang dihiasi oleh bulu mata lentik lagi panjang..
Hidung mancung yang tampak tinggi namun tak terlihat angkuh di pertengahan wajah nya yang putih..
Bibir nya yang terlihat penuh dan semerah darah..
Serta seragam dinas mengajar yang ia kenakan saat ini, memeluk tubuh nya tak cukup ketat, namun tetap memberikan nuansa sen sual dan juga classy, penuh martabat..
Melihat Karina, aku pun jadi terlupa dengan tujuan ku untuk menghindari wanita itu. Alhasil, begitu Karina sudah tiba di samping pintu tempat ku duduk, aku baru sadar kalau aku telah terlambat untuk berlari lagi.
"Hadapi saja, Bang! Toh Abang gak punya hutang triliyunan kan ke Karina? Kalau memang punya, bayar saja dengan tubuh dan hidup Abang! Hahaha,"
Pletak!
Aku tak menahan diri untuk menjitak kepala Mark cukup kencang.
"Aduh! Ya ampun Bang! Sakit benar ini kepala saya!" Keluh Mark aambil mengusap kepala nya yang berhasil ku beri pelajaran sesaat tadi.
Belum sempat aku membalas perkataan pemuda itu, tiba-tiba saja ku tangkap suara seseorang mengetuk-ketuk kaca mobil di samping ku.
Tok. Tok. Tok.
Pandangan ku kembali menoleh ke samping. Dna aku disuguhi dengan pemandangan yang menurut ku paling ngeri.
__ADS_1
Karina mendekatkan wajah nya ke kaca pintu mobil di samping ku. Hampir menempel malah, kelihatan nya.
Kedua mata nya melotot marah. Dan ia mengacungkan satu telunjuk nya kepada ku, lalu memberi isyarat agar aku keluar dari mobil saat itu juga.
'Sial! Bagaimana ini? Apa yang harus ku lakukan? Seperti nya Karina benar-benar marah!' aku menggalau dalam hati.
Sementara aku kembali mendengar suara Mark yang tergelak lepas di depan kemudi. Merasa sebal karena pemuda itu malah menertawakan nasib ku yang akan merana beberapa saat lagi, aku pun kembali memberi pelajaran kepada Mark. Ku sikut saja perut nya dengan pukulan kecil.
Meski kecil, tapi itu cukup untuk membuat Mark berhenti menertawakan ku lagi.
"Ampun, Bang! Ampun!" Ujar Mark meminta maaf kepada ku.
"Awas kau ya, Mark. Aku akan membuat perhitungan dengan mu di rumah nanti!" Ancam ku kemudian sebelum akhir nya ku buka pintu mobil dan keluar dengan perasaan yang sudah porak poranda karena rasa gentar terhadap wanita yang sudah menunggu ku dengan gunung amarah di wajah nya.
Brak.
Pintu mobil ku tutup dengan bantingan yang tak terlalu kencang. Setelah nya, mobil Mark meninggalkan ku dan Karina di pinggir jalan.
Merasa gugup, malu, dan takut yang campur aduk jadi satu, aku pun perlahan mengangkat wajah ku dan menatap Karina.
"Mm.. Hay, Rin.. apa kabar? Seperti nya, sebentar lagi mau maghrib ya?" Ucap ku dengan nada canggung.
Karina tak membalas sapaan ku. Ia masih menatap ku dengan tatapan yang cukup intens. Sehingga aku bahkan merasa seperti seorang siswa yang tertangkap basah telah melakukan kesalahan, dan kini menunggu hukuman dari guru di depan ku ini.
Ah. Benar. Bukan kah Karina memang adalah seorang guru? Dan, bila dilihat dari seragam yang ia kenakan saat ini, seperti nya ia pun baru pulang dari mengajar.
Tiba-tiba saja tangan Karina terangkat hingga menutupi area dada nya. Aku pun memandang nya aneh.
"Ngapain kamu lihatin dada ku lama-lama?! Dasar mesum!" Tuding Karina mengejutkan ku.
"Hah?!!" Aku kebingungan. Tak mengerti sama sekali dengan maksud ucapan nya itu.
"Kamu kenapa tadi lihatin dada ku lama-lama?! Jangan-jangan kamu juga ketularan mesum, ya, sama orang gila kemarin?!" Tudingan Karina pun diulangi nya kembali.
__ADS_1
'Orang gila yang dimaksud nya bukan si bang sat yang hampir mele cehkan nya tempo lalu, kan?!' gumam ku dengan emosi yang mulai naik.
***