
"Jadi, begitulah ceritanya, Mir.." aku selesai menceritakan kepada Amir kisah hidup ku sejak aku terbangun dalam tubuh Aro.
Saat ini aku, Amir dan juga Mark sedang duduk bertiga di ruang TV. Dan Amir tak melepaskan mata elang nya dari profil ku sedari aku mulai bercerita tadi.
Tak lama kemudian, Amir mulai mencecar ku dengan beberapa pertanyaan.
"Kapan aku dan Arline menikah? Tanggal berapa?"
"Ayo lah, Mir! Kau sangat menyebalkan karena menanyai ku soal tanggal. Kau tahu pasti kalau aku kesulitan mengingat tanggal pernikahan mu. Jangan kan tanggal pernikahan mu. Tanggal lahir ku dan juga Arline sendiri pun aku tak ingat!" Jawab ku asal.
Amir tak mengomentari jawaban asal ku. Ia lanjut menanyai ku dengan pertanyaan berikut nya.
"Ada berapa total kue cake yang ada saat pernikahan ku dan Laila berlangsung?" Tanya Amir kembali.
"Hey! Itu jelas pertanyaan menjebak. Atau kau sudah lupa ya. Di pernikahan mu saat itu kan jelas-jelas tak ada kue cake. Itu permintaan mu sendiri kepada Arline bukan. Katamu waktu itu.. mm.. cukup sediakan potongan cake saja. Jangan cake utih berbentuk pengantin. Itu terlalu konyol menurut mu!" Jawab ku spontan.
Kerutan di dahi Amir berkurang banyak usai mendengar jawaban ku itu. Itu adalah pertanda bagus. Ku harap Amir segera mempercayai cerita ku soal transmigrasi jiwa ini.
Tapi nyatanya, sang jenderal malah kembali merenteti ku dengan beberapa pertanyaan lagi. Yang kesemuanya itu ku jawab sesuai dengan sepengetahuan ku sebagai Erlan dulu.
Selesai melontarkan banyak pertanyaan, Amir tiba-tiba saja bangkit berdiri lalu menghampiri tempat ku duduk saat ini.
Tak lama kemudian ia menarik ku ke dalam sebuah pelukan. Dan ia pun berkata,
"Sulit untuk mempercayai ini. kak. Tapi, kau memang benar-benar Kak Erlan yang ku kenal! Selamat datang kembali, Kak! Maaf karena sempat tidak mengenali mu tadi," ucap Amir membuat ku terharu.
Aku pun menyahut, "it's okay, Mir. Wajar kalau kau tak mengenali ku tadi. Aku sendiri pun awalnya tak mempercayai diriku sendiri," jawab ku sambil terkekeh.
Di dekat kami, Mark menatap ku dengan keterkejutan yang begitu nyata di wajah tampan nya.
__ADS_1
Ku berikan Mark senyum kemenangan ku. Dan ia lalu bertanya kepada Paman Amir nya itu.
"Jj..jadi Paman.. dia ini benar adalah..???!" Mark tak mampu menuntaskan kalimat nya. Ia masih memandang ku dengan pandangan takjub tak percaya.
"Ya, Mark. Aku bersaksi. Bahwa lelaki di hadapan kita ini adalah Papa mu yang tubuh nya sudah lama mati. Entah bagaimana, yang jelas ini adalah suatu mukjizat karena ia berhasil kembali ke sisi kita lagi. Meski ia hadir dalam tubuh yang.. mm.. jauh lebih muda dari yang seharusnya," jawab Amir sambil memberiku pandangan iri.
Aku tersenyum lebar.
"Jangan menatap ku dengan pandangan iri seperti itu, Mir. Tak ada yang perlu kau irikan dari nasib ku ini. Karena setidaknya, kau bisa hidup lebih lama bersama dengan orang-orang yang kau cintai. Kau juga bisa menemani Arline hingga akhir hayat nya bukan? Tak seperti aku yang.."
Tenggorokan ku tercekat. Kali ini giliran aku yang tak kuasa menuntaskan kalimat ku lagi.
Ku tundukkan pandangan ku ke lantai. Mencoba menenangkan pikiran ku lagi yang sempat menjelajah ke kenangan terakhir ku bersama Laila yang renta.
Sampai sebuah tepukan di pundak menyadarkan ku kembali.
"Sudah lah Kak. Lagipula. Aku juga sedang tak bersama Arline saat kejadian kecelakaan itu terjadi. Kecelakaan yang merenggut nyawa nya di tempat," ujar Amir dengan pandangan sedih.
"Ehemm! Jadi.. ini benar-benar mukjizat begitu? Maksud saya, Abang benar-benar Papa Erlan yang sudah lama mati sejak saya masih di kandungan Mama?" Tanya Mark masih sulit untuk mempercayai kenyataan yang ada.
Kasihan melihat Mark yang kesulitan seperti itu, aku pun beranjak bangun dan berdiri tepat di depan nya. Ku tepuk pundak Mark sekali, sebelum akhirnya aku kembali berkata.
"Mau bagaimana pun juga, kamu akan selalu menjadi putra ku Mark. Dan ibu mu adalah wanita yang paling ku cintai dalam hidup ku yang singkat ini," ucap ku dengan keteguhan yang pasti.
Mark menatap ku tak berkedip. Dan selama itu pula aku memberinya senyuman terbaik ku. Perlahan, Mark berdiri dan memeluk ku.
Tak ada kata-kata yang ia ucapkan selama ia memeluk ku. Dan aku membiarkan nya melakukan itu hingga kemudian ku dengar suara Mark berbisik pelan di dekat telinga ku.
"Saya.. masih bingung harus bersikap bagaimana dengan semua kabar ini, Bang.. maaf.. Papa? Haruskah sekarang saya memanggil Abang dengan panggilan Papa? Rasa nya cukup aneh..?" Ujar Amrk kemudian setelah ia melepas pelukan diam nya.
__ADS_1
Amir terkekeh di dekat BBM kami. Dan aku hanya memberinya senyuman saja.
"Nah. Kau masih boleh memanggil ku dengan panggilan Abang, Mark. Rasa nya memang akan aneh kalau kau memanggil ku Papa. Apalagi dengan wajah muda ku saat ini.." ucap ku sambil menunjuk ke wajah ku sendiri.
Mark ikut terkekeh pelan.
"Benar. Memang akan jadi aneh sekali ya, Bang.. " sahut Mark sambil tersenyum lebar ke arah ku.
Setelah itu, Mark memberiku pelukan lagi. Kali ini, ia berkata dengan nada pasti.
"Kalau begitu, sekali ini saja biarkan Mark mengatakan. Selamat kembali, Pa! Mark senang Papa bisa kembali hadir untuk menemui kami di dunia ini!" Ucap Mark, lagi-lagi membuat ku terharu.
Tak lama, aku merasakan kembali tepukan Amir di punggung ku. Dan tahulah aku saat itu, bahwa akhirnya kepulangan ku sudah diterima dengan terbuka oleh keluarga ku di dunia ini.
***
Keesokan pagi nya, aku sengaja mengambil cuti sehari untuk menemani Amir di rumah. Mark memberi ku ijin. Ia bahkan berkelakar.
"Seharusnya, Abang bebas cuti semaunya Abang bukan? Abang gak perlu minta ijin lagi lah ke saya. Kan bagaimana pun juga perusahaan ini adalah milik Abang!" Kelakar Mark sebelum pergi berangkat kerja.
Aku tak membalas kelakar Mark itu. Hampir sesiangan itu aku sibuk bertukar cerita dengan Amir tentang semua orang di keluarga ku yang kini telah tiada.
Tentang almarhum Papa Gilberth dan juga Mama Ilmaya yang telah wafat bertahun-tahun yang lalu. Juga tentang kehidupan Amir bersama Karina sendiri yang tetap bahagia meski mereka tak dikaruniai oleh seorang anak pun.
Semua cerita itu terus ku dengar dari mulut Amir. Kadang kami bercengkrama di ruang TV, atau juga di teras seperti sore ini.
Amir sedang menceritakan tentang pengalaman nya melatih para tentara muda semenjak kepergian Arline, saat mata ku tak sengaja menangkap sosok Karina yang lagi-lagi berboncengan dengan lelaki yang kemarin ku lihat bersama nya. Saat itu, pagar rumah Mark memang terbuka sedikit, jadi aku bisa melihat kilasan Karina sesaat tadi.
Seketika itu pula, perhatian ku teralihkan dari Amir kepada dua sosok yang kini telah menghilang dari pandangan ku.
__ADS_1
Meski begitu, indera super ku menangkap percakapan keduanya yang ku tebak masih berada di depan pintu pagar rumah Karina. Percakapan yang sedikit banyak nya telah mengobarkan api cemburu di benak ku saat itu jua.
***