
"Dan.. maaf. Anda siapa ya?" Tanya lelaki yang dipanggil "Paman Idham" oleh Rinaya, sesaat tadi.
Aku pun lalu mengulurkan tangan kanan ku dan memperkenalkan diri.
"Perkenalkan, saya Aro!" Ucap ku sambil tersenyum tipis.
Idham lalu menyambut uluran tangan ku dan gantian memperkenalkan dirinya.
"Idham. Kakak angkat Karina!" Ucap nya dengan jawaban lugas.
"..."
'Kenapa aku merasa tak suka dengan lelaki ini ya? Apa karena dia sedikit terlalu kencang saat menyalami tangan ku, hingga membuat ku merasa sakit?' gumam ku dalam hati.
"Ka..kak Idham?!"
Pandangan ku dan Idham seketika tertuju pada Karina yang baru saja terbangun.
Rambut nya yang bergelombang tampak berantakan saat ini. Tanpa sadar aku pun tersenyum. Apalagi wanita itu tak bergegas membenahi rambut nya yang berantakan itu. Namun, apa yang terjadi kemudian, membuat senyuman di wajah ku menghilang seketika.
Tiba-tiba saja Idham berjalan hingga ia berada di samping Karina. Kemudian ia mengusap rambut Karina beberapa kali, demi merapihkan rambutnya yang berantakan itu.
Aku mengernyit tak suka. Entah karena apa. Aku jadi bingung sendiri. Karena hari ini ada banyak kejadian yang tak ku mengerti sebab nya kenapa.
Ku lihat Karina sedikit menghindari sentuhan tangan Idham. Dan itu membuat perasaan ku menjadi lebih baik.
"Kakak sudah pulang? Bukan nya masih satu mingguan lagi di Pearl?" Tanya Karina menyapa Idham.
"Aku mendengar kalau Rinaya sakit. Jadi aku mengambil penerbangan tercepat untuk pulang," jawab Idham dengan sikap santai.
"Memang nya urusan di sana sudah selesai?" Tanya Karina terheran-heran.
"Belum. Nanti sore aku balik lagi ke sana. Kamu sudah makan, Rin?" Tanya Idham tiba-tiba.
"Belum.. oh, iya Kak. Kenalkan ini teman ku, Erlan!" Ujar Karina tiba-tiba saat melihat ku.
"Huh? Erlan? Bukan Aro?" Tanya Idham entah kepada ku atau Karina.
Karina mengernyit bingung. Ia tak tahu kalau aku tadi telah memperkenalkan diri ku sebagai Aro kepada Idham. Akhirnya, aku pun buru-buru menjelaskan.
"Aro itu nama ku untuk kolega bisnis dan sejenisnya. Sementara Erlan itu panggilan akrab ku dari orang-orang terdekat," jawab ku lancar.
"Oh.. kalian tadi sudah berkenalan toh!" Ujar Karina yang baru menyadari situasi.
"Mama.. Rinai lapar.."
Ucapan pelan yang keluar dari mulut Rinaya seketika membuyarkan percakapan kami bertiga.
__ADS_1
Seketika itu pula perhatian kami pun terfokus pada wajah pucat gadis kecil ku itu.
"Rinaya! Kamu sudah bangun, Sayang??!" Seru Karina yang baru menyadari kalau Rinaya telah sadar.
Dici um nya pipi dan kening Rinaya beberapa kali. Baru kemudian ia menanyakan kondisi putri nya itu, seperti yang tadi sempat ku tanyakan juga pada gadis kecil ku itu.
Rinaya lalu memberikan jawaban yang serupa. Hanya saja kini ia menambahkan.
"Nai mau makan, Ma.. Nai lapar.." ucap Rinaya dengan suara pelan.
"Iya, Sayang! Sebentar Mama panggilkan dokter dulu ya. Nanti mama ambilkan makanan untuk Nai. Nai tunggu sebentar, oke?"
Kepada Idham, Karina lalu berkata, "Kak, aku panggil dokter dulu ya? Titip Rinai sebentar," Ujar Karina.
Sementara kepada ku, wanita itu berkata, "Lan, aku tinggal dulu ya!"
Aku mengangguk sebagai jawaban ku atas ucapan Karina tadi.
Setelah itu, Karina pun berlalu pergi. Tinggal lah aku, Idham dan juga Rinaya dalam ruangan itu.
Tak lama kemudian, Karina kembali bersama dokter dan juga seorang perawat.
Dokter itu pun memeriksa kondisi gadis kecil ku. Aku ikut mendengar kan penjelasan sang dokter, dengan harap-harap cemas di dekat bankar Rinaya.
"Syukurlah, Dik Rinaya sudah melewati masa kritis nya. Sekarang ia hanya perlu fokus untuk pemulihan saja. Adik, nanti makan yang lahap ya, Sayang?" Ucap dokter wanita tersebut menyapa Rinaya.
"Iya, Dokter. Rinaya sudah lapar.." jawab gadis kecil ku begitu lucu.
"Wahh.. bagus itu. Tunggu sebentar ya. Sebentar lagi akan ada yang membawakan bubur untuk Dik Rinaya. Nanti dimakan sampai habis ya?" Pesan sa g dokter kembali untuk Rinaya.
"Iya, Bu Dokter.."
"Bagus. Sama obat nya juga. Diminum ya, Sayang?" Pesan sang dokter kembali.
Kali ini, Rinaya tak segera menjawab. Setelah jeda beberapa detik lama nya. barulah Rinaya menjawab.
"Obat nya pahit gak, Bu Dokter?" Tanya Rinaya takut-takut.
"Ada yang manis. Ada yang pahit. Namanya juga obat. Tapi yang perlu Dik Rinaya ingat, semua obat itu baik! Jadi diminum sampai habis ya obat nya juga? Dik Rinaya mau sembuh kan? Mau main lagi kan sama teman-teman?" Tanya sang Dokter.
"...mmm.. iya, Bu Dokter. Nai mau main lagi sama Mbak Kunti.." jawab Rinaya dengan wajah polos nya.
Seketika, suasana dalam kamar tiba-tiba menjadi hening.
Aku melirik sekilas ke wajah Bu dokter yang tampak terkejut dan bingung dengan ucapan gadis kecil ku itu.
Mau tak mau aku jadi tersenyum. Dan aku menangkap pandangan mata Karina yang juga tersenyum kikuk. Jadilah akhirnya kami bertukar senyum dalam diam.
__ADS_1
"Kalau begitu. Terima kasih, Bu dokter!" Ucap Idham tiba-tiba memutus kontak mata ku dengan mata Karina.
"Ya, sama-sama Pak.. tolong dijaga anak nya ya, Pak!" Ucap Bu Dokter sambil memberikan Idham senyuman ramah.
Agak nya ia mengira kalau Idham adalah ayah dari Rinaya. Namun Karina buru-buru mengoreksi anggapan Bu Dokter tersebut.
"Dia ini Paman nya Rinaya, Dok!" Koreksi Karina.
"Oh! Maaf.. berarti Bapak ini ya, daddy nya? Kalau begitu, saya permisi dulu semua. Dada Dik Rinaya!" Pamit Sang dokter terburu-buru.
Kali ini Karina tak sempat mengoreksi anggapan salah sang dokter terhadap identitas asli ku. Tapi aku tak berkeberatan. Justru aku merasa sedikit senang karena dianggap sebagai ayah dari Rinaya.
Seulas senyuman pun tanpa sadar ku sunggingkan di wajah ku.
"Mm.. maaaf ya, Lan. Dokter nya salah ngira kamu sebagai.." Karina tiba-tiba meminta maaf kepada ku.
"Iya. Gak apa-apa, Rin. Santai saja.." ucap ku bersungguh-sungguh.
Tak lama kemudian seorang perawat membawa masuk makanan untuk Rinaya beserta obat yang harus diminum nya.
Karina pun bergegas hendak menyuapi putrinya itu. Namun..
"Nai mau disuapin sama Paman.." ucap Nai dengan nada potes.
Seketika Idham pun mendekati Rinaya dan berkata, "gak apa-apa, Rin. Biar aku yang.."
Ucapan Idham terpotong oleh ucapan Rinaya berikut nya.
"Bukan Paman Idham.. tapi Paman baik..!" Protes Rinaya berlanjut.
Seketika, suasana dalam kamar inap itu pun menjadi canggung.
Dengan kikuk, aku pun mendekati Rinaya. Lalu mengambil alih piring berisi makanan untuk nya.
"Maaf ya, Lan. Aku ngerepotin kamu.." ucap Karina merasa malu.
"Gak apa-apa. Dulu juga aku sudah biasa menyuapi nya kan di sana?" Sahut ku spontan.
Di sana yang ku maksud adalah saat kami masih berada di Nevarest.
Agak nya ucapan ku itu membuat Idham menjadi bingung. Sehingga pemuda itu pun tiba-tiba ikut dalam obrolan ku dan Karina.
"Di sana? Maksud nya di mana, Rin? Jangan bilang.. dia juga termasuk komplotan yang dulu sudah menculik mu?!" Tuding Idham dengan pandangan menusuk.
Seketika, suasana dalam ruang inap itu pun berubah menjadi tegang.
***
__ADS_1