
Aku mencoba mengabaikan rasa kesal yang mulai muncul karena tudingan mesum dari Karina. Kepada nya, aku langsung saja bertanya.
"Sebenar nya, ada apa kamu menahan ku di sini, Rin? Cepat lah! Sebentar lagi mau maghrib. Sebaik nya kita segera pulang saja," ucap ku mencoba kembali 'melarikan diri' dari wanita di hadapan ku itu.
Karina menaikkan sebelah alis nya. Dengan kedua tangan yang bersedekap di depan dada. Ditatap intens seperti itu, sesuatu dalam diri ku mulai merasa tak nyaman.
Terlebih lagi sekilas ku lihat, bentuk area depan tubuh nya jadi lebih menggelembung.
"Uhuk!" Ku alihkan pandangan ku ke arah yang lain.
Deg. Deg.
Ba dump. Ba dump.
'Ah! Sial sekali! Seperti nya jantung ini sudah spontan bereaksi tiap kali aku berhadapan dengan Karina seperti ini. Woy jantung! Ingat Laila, woy! Ingat Laila!!' aku mengingatkan diri ku sendiri dalam hati.
Teringat nama Laila, debur jantung ku perlahan menjadi lebih tenang. Rasa sakit karena kehilangan Laila ku hampir sebulan yang lalu, menbuat ku sedikit bisa mengatur ritme jantung ku kembali hingga mendekati normal.
Tapi aku dibuat terkejut saat tiba-tiba saja Karina melangkah maju. Dan dengan sigap, wanita itu menarik leher ku hingga kepala ku pun mau tak mau jadi maju ke depan.
Tahu-tahu hidung mancung ku menubruk hidung Karina yang mancung pula. Dan aku pun bisa melihat kedua irish mata nya yang ternyata tak hanya cokelat biasa. Melainkan cokelat yang begitu..dalam. begitu.. hangat..
'Ah..'
Deg. Deg. Deg.
Ba dump. Ba dump.
Wajah ku kini ditangkup erat oleh tangan halus milik Karina. Sementara kami terus saling bersitatap selama beberapa waktu lama nya.
Di saat aku sudah hampir menyerah pada has rat ku untuk mencicipi bibir ranum di hadapan ku itu, tahu-tahu Karina malah mendorong ku menjauh. Aku merasa seperti dibuang begitu saja.
Dan yang paling tak ku sukai adalah, kenyataan bahwa aku merasa sedikit kecewa karena Karina tak membiarkan ku menikmati bibir ranum nya itu.
Aku pun merasa kesal. Kedua tangan ku seketika terkepal. Meski di saat yang bersamaan aku pun yakin bila wajah ku pasti sudah merah seutuh nya.
'Sial! Sial! Sial! Apa sebenar nya yang diinginkan oleh wanita ini?! Tega sekali dia membuat ku berharap.. eh, maksud ku, tega sekali dia mempermainkan ku seperti ini?!' rutuk ku dalam hati.
__ADS_1
Di saat aku sedang mengkesal sendiri dalam batin ku, aku tak sengaja melihat seutas senyum terhias di wajah Karina yang rupawan itu.
Mata ku mengerjap kebingungan.
'Apa itu? Kenapa dia tersenyum seperti itu? Memang nya, ada sesuatu yang lucu di wajah ku ya?' gumam ku tanpa suara.
Tanpa sadar, ku angkat tangan ku untuk meraba wajah ku sendiri. Aku khawatir, bila mungkin benar ada sesuatu yang menempel di wajah ku sehingga membuat Karina memberi ku senyuman seperti mengejek tadi.
"Buahahahahaa!! Ya ampun, Lan! Gak nyangka. Kalau kamu punya kesadaran diri yang tinggi juga ya! Hihihi.." kekeh Karina dengan begitu lepas nya.
Aku sigap menghentikan aktivitas tangan ku, dan langsung beredekap saja. Mencoba mengikuti gaya Karina yang ku akui cukup cool beberapa waktu yang lalu. Dan tak lagi terlihat cool sejak ia dengan tega nya menertawakan ku.
"Ehem! Cepat bicara lah! Apa sebenar nya yang ingin kau katakan? Aku mau pulang. Badan ku sudah gatal nih!" Aku menegur Karina. Tapi tegurna ku itu malah dijawab nya dengan jawaban yang cerdas.
"Ya. Ya. Ya. Sabar lah sedikit, Mr. sibuk! Atau.. harus kah aku memanggil mu dengan Tuan Gatal sekarang ini? Hihihi.." Karina masih saja terkekeh.
Aku menghela napas dalam.
"Hh.. Rin.." tegur ku singkat.
Giliran aku yang menaikkan sebelah alis ku.
"Mastiin apa memang nya?" Tanya ku mengejar.
"Aku cuma mau mastiin, apa aku benar suka sama kamu atau enggak!" Ungkap Karina dengan pandangan jujur yang begitu.. santai sekaligus juga.. teguh.
Aku terperangah selama beberapa saat.
'A..apa tadi kata nya? Dia suka pada ku, kata nya tadi?!' batin ku terlejut.
Di saat aku masih menatap tak percaya pada Karina, wanita itu malah melanjutkan ucapan absurd nya lagi.
"Ya. Akhir-akhir ini sikap mu sungguh menjengkelkan sekali, tahu, Lan! Seperti nya, sejak kejadian di pematang sawah itu, kau selalu berusaha menghindar dari ku!"
Buru-buru ku sanggah ucapan Karina itu.
"Aku enggak.."
__ADS_1
"Jangan berbohong lagi, Lan! Aku capek mendengar sanggahan yang tak berdasar sama sekali. Kita ini kan sama-sama sudah dewasa. Dan kita juga sudah melalui banyak hal yang gak dialami oleh orang biasa lain nya.."
'Maksud nya mungkin pengalaman pergi ke dunia yang lain selain bumi..?' batin ku berkomentar.
"Jadi seharus nya kita bisa lebih dewasa juga dalam menyikapi apa yang terjadi di antara kita sekarang ini, Lan. Jujur saja lah. Aku seperti nya memang menyukai mu. Dan kau pun seperti nya juga menyukai ku.. atau.. apa kesimpulan ku ini salah?"
Karina memberi ku pandangan bertanya. Dan aku masih saja terpaku usai mendengar ucapan nya sesaat tadi.
"Kau..menyukai ku?!" Tanya ku terbata-bata.
"Ya. Sudah ku pastikan tadi, Lan. Jantung ku berdegup lebih cepat saat wajah kita berdekatan. Itu adalah sesuatu yang gak ku rasakan saat bersama dengan lelaki lain," sahut Karina dengan tatapan yang teguh.
Mendengar ucapan Karina barusan, aku merasa gusar.
'Apa maksud nya itu? Apa dia sering berdekatan dengan lelaki lain, begitu? Jadi dia bisa tahu kalau jantung nya berdegup tak menentu hanya saat ia sedang bersama ku saja?!' aku mengkesal sendiri dalam hati.
"Hey! Malah melamun lagi! Kamu dengar gak sih aku ngomong, Lan?!" Pegangan tangan Karina di lengan kanan ku membuat ku tersadar kalau aku sempat mampir ke lala land sesaat tadi.
Aku pun berdehem untuk mengusir sedikit rasa malu yang sempat menyergap karena ketahuan melamun sesaat tadi.
"Ehem! Oke. Aku mendengar mu curhat, Rin," ucap ku berusaha terdengar santai.
Padahal sungguh, jantung ku pun saat ini kembali berdebar terlalu kencang. Ini terjadi sejak Karina mengatakan kalau dia menyukai ku.
Yah.. bolehkah aku merasa sedikit.. senang mendengar nya?
"Yee.. malah senyum-senyum sendiri! Lagian, siapa yang curhat sih? Aku tuh bukan curhat ya, Lan. Aku tuh mau ngajak kamu ngobrolin aja soal apa yang terjadi di antara kita sekarang ini! Yang serius dong ah!"
Melihat wajah Karina yang mulai kesal, aku tak bisa menahan diri untuk melebarkan senyuman ku lagi.
'Lucu sekali sih Karina kalau sednag kesal begitu. Dia sedikit mengingatkan ku pada La..i..la.!'
Tiba-tiba saja benak ku kembali mengingatkan ku pada nama cinta pertama ku itu. Dan seketika, senyuman yang tadi sempat menjejak di wajah ku pun seketika lenyap.
'Apa yang ku pikirkan?! Tak seharus nya aku berdiri santai di sini, berbincang dari hati ke hati bersama wanita ini, dan melupakan rasa cinta ku kepada Laila..! Tidak! Aku tak bileh membiarkan perasaan asing ini membuat kua lupa pada Laila!' benak ku tiba-tiba mengumandangkan tekad nya.
***
__ADS_1