
Kebingungan ku tentang gelar Papa yang disebutkan di depan nama Kiyano itu terus berlanjut, hingga aku mengikuti Nila dan Mark ke ruang inap mama mereka.
Saat hendak masuk ke dalam ruangan Laila, Mark menghentikan ku di depan pintu.
"Mm.. makasih ya, Bang. Udah temani kami sampai sejauh ini. Tapi maaf, saya mau tanya. Apa Abang kenal Mama saya?" Tanya Mark kepada ku.
"Aku.."
Aku kebingungan untuk menjawab pertanyaan Mark itu. Bagaimana cara nya untuk menjelaskan sesuatu yang aku sendiri belum bisa memastikan kebenaran nya?
Aku ingin melihat wajah Mama mereka lagi dalam jarak dekat. Aku ingin memastikan apakah benar dia adalah Laila ku. Untuk itulah aku harus melihat Mama mereka kembali. Karena aku ingat benar kalau Laila ku memiliki tanda lahir di belakang daun telinga nya.
Bingung untuk menjawab, aku dikejutkan dengan panggilan seseorang kepada ku.
"Aro? Apa yang kamu lakukan di sini? Ah.. ya. Aku lupa. Sebaik nya aku memanggil mu dengan nama asli mu kan ya, Erlan?" Sapa suara yang terdengar familiar di telinga ku.
Seketika aku menoleh dan mendapati Karina berjalan menghampiri ku.
Ku lihat tak ada Rinaya bersama nya.
"Ratu..Mm.. Karina.. kau di sini juga?" Tanya ku balik.
"Ya. Aku menjenguk Mami ku, Lan. Ternyata lama tak bertemu, Papi sudah meninggal setahun yang lalu. Mulai saat itu. mami jadi sering dirawat di rumah sakit karena penyakit hipertensi nya," jawab Karina dengan lesu.
"Oh.. Rinaya.. di mana?" Tanya ku berbasa-basi.
"Rinaya sedang tidur di kamar inap Mami. Tadi Mami sempat terkejut dengan kepulangan ku. Dan, yah.. kau bisa bayangkan sendiri kan betapa senang nya Mami ku. Sampai-sampai tensi nya mendadak tinggi. Tapi aku cukup bahagia karena akhirnya aku kembali berkumpul bersama keluarga ku lagi," ucap Karina dengan senyuman lebar nya.
"Oh.."
"Bagaimana dengan mu? Oh, apa ini keluarga mu, Lan? Dia adik mu kah? Tapi, tak terlalu mirip juga sih.." komentar Karina.
__ADS_1
Pandangan ku kembali pada Mark yang saat ini menatap Karina dengan pandangan tak berkedip.
Hmm.. aku tahu benar apa yang ada di pikiran pemuda itu. Seperti nya, pesona kecantikan Karina telah menyihir Mark hingga ia terlena sedemikian rupa.
"Dia.. nama nya Mark," jawab ku singkat.
Aku tak tahu harus memperkenal kan Mark sebagai apa. Karena nya aku hanya menyebutkan nama nya saja.
Kemudian kulihat Mark salah tingkah saat menyapa balik Karina. Dan Karina tampak abai atas sikap salah tingkah nya.
Lalu terdengar suara Nila memanggil Mark. Sehingga Mark pun pamit untuk masuk kembali ke kamar inap Mama nya. Meninggalkan aku dan Karina di depan pintu berdua.
"Ada apa, Lan? Ku lihat kau seperti tak bahagia? Apa kau belum bertemu dengan keluarga mu?" Tanya Karina perhatian.
Pandangan ku pun beralih ke arah pintu yang tadi ditutup oleh Mark. Sementara hati ku begitu berharap untuk bisa masuk ke dalam mengikuti langkah nya.
"Apa kau tahu, ini tahun berapa, Karina?" Tanya ku dengan pandangan tak fokus.
"Heh. Heh. Heh..!"
Aku tak bisa mengendalikan diri untuk tidak melangkah mundur hingga punggung ku beradu dengan dinding di belakang ku. Selanjut nya, tubuh ku merosot hingga aku terduduk di atas lantai, masih dengan kekehan yang tak bisa ku kendalikan.
"Percaya kah kamu, Rin? Bila ku katakan padamu. Kalau aku pulang ke dunia ini sangat amat terlambat sekali.. 2047.. Ya Tuhan.. !" Ucap ku sarat dengan kepedihan hati.
"Maksud mu terlambat gimana, Lan?" Tanya Karina lagi.
"Heh. Heh. Heh. Tubuh asli ku mati dalam kecelakaan mobil pada tahun 2022, Rin. 2022. Itu berarti sudah lebih dari dua puluh tahun yang lalu aku meninggal! Dan ku duga, pemuda tadi itu adalah anak ku, Rin..! Anak ku!" Rutuk ku dengan kepala yang ku sembunyikan di antara kedua lutut ku.
"Apa?! Bagaimana bisa, Lan? Keluarga ku masih sama sejak terakhir kali kami bertemu. Maksud ku, selisih waktu sejak aku diculik Frans ke Goluth itu sama dengan masa hilang nya aku dari bumi. Yang ku sesalkan hanyalah aku tak sempat melihat Papi sebelum dia tiada," ujar Karina mencurahkan isi hati nya.
"Nah. Kalau begitu kau cukup beruntung, Rin! Berbeda dengan ku! Saat ini wanita yang paling ku cintai sedang dalam kondisi kritis di dalam sana. Ia sudah menua, meninggalkan ku yang tak bisa menyertai nya untuk selama nya. Padahal aku berharap bisa hidup menua bersama nya, Rin.." aku kembali bersuara. Meski hanya berupa lirihan semata.
__ADS_1
"Lalu, apa keluarga mu sudah tahu kalau kau adalah Erlan? Maksud ku, kau sudah memberi tahu mereka kan?" Tanya Karina lagi.
"Heh. Heh. Heh! Bagaimana cara nya aku memberi tahu mereka, Rin? Apa menurut mu mereka akan mempercayai ucapan ku?!" Aku bertanya balik dengan nada sarkastis.
"Apa salah nya mencoba?" Usul Karina lagi.
"Ya aku mengatakan nya kepada mereka, tapi nanti mereka malah menganggap ku sebagai orang gila. Bagaimana? Lagipula, hal yang paling penting saat ini adalah kondisi Laila ku yang sedang kritis. Ya Tuhan! Cobaan macam apa ini yang Kau beri?"
Aku masih duduk deprok di atas lantai. Dengan posisi kepala yang masih ku tundukkan di antara kedua lutut ku.
Ingin rasanya aku marah kepada takdir. Tapi lalu apa? Apa yang bisa terjadi setelah nya? Laila ku tetap saja telah meninggalkan ku dalam tubuh muda ini. Sementara ia sewaktu-waktu bisa saja...
Aku tersentak tiba-tiba.
'Bodoh sekali aku! Apa yang ku lakukan di sini? Laila sedang membutuhkan ku saat ini. Terlepas dari perbedaan usia di antara kami, cinta ku kepada nya masih lah sama. Tak lekang karena perbedaan fisik yang kentara nyata. Yang harua ku lakukan saat ini adalah menemani Laila ku selalu. Sepanjang waktu!' aku bertekad dalam hati.
"Lan? Apa kau baik-baik saja?" Tanya Karina kepada ku.
Agaknya ia tampak khawatir saat melihat perubahan mendadak pada sikap ku ini. Ku angkat pandangan ku ke wajah cantik nya.
Tak ada desir apapun yang melintas di hati ku saat menatap nya. Benak ku saat ini dipenuhi oleh nama Laila.. Laila..dan Laila saja.
"Aku harus berada di sisi Laila.. Maaf, Rin. Aku harus masuk ke dalam sana. Laila sedang menunggu ku!" Ucap ku pamit kepada Karina.
"O..ke.. sampaikan salam ku pada Laila mu, ya. Jangan patah semangat. Sampaikan saja kebenaran itu pada keluarga mu, Lan. Urusan mereka mempercayai nya atau tidak, itu tak akan bisa merubah kebenaran yang ada," Karina menasihati ku.
Aku memberi nya anggukan singkat. Sebelum akhirnya ku majukan langkah ku ke dalam ruangan di hadapan ku itu.
Kamar di mana Laila ku sedang menunggu ku saat ini.
***
__ADS_1