Meretas Rasa

Meretas Rasa
Tiba di Rumah Mark


__ADS_3

Keesokan sore nya, Lala akhirnya benar-benar pulang. Aku agak memaksa nya untuk menumpang dengan mobil Mark. Karena sore itu pun aku juga berpamitan kepada Nila untuk pergi mengikut Mark keluar kota.


Aku akan mulai bekerja di kantor Mark di kota yang lain.


Nila masih memasang wajah sedih manakala kami bertiga pergi pada akhirnya. Aku tahu, mungkin kepergian kami segera setelah Laila meninggal, akan membuat Nila kesulitan untuk beradaptasi dengan kesepian yang akan dihadapi nya di rumah itu nanti.


Tapi setidak nya, masih ada Bik Tum dan juga Pak Kus yang akan menemani dan menjaga Nila di rumah itu. Jadi aku tak terlalu merasa khawatir.


Aku bahkan sengaja mengajak bincang Pak Kus berdua saja di belakang rumah. Kepada nya, aku menitipkan Nila untuk dijaga. Syukurlah, Pak Kus mau menyanggupi permintaan ku itu.


Sebelum kami benar-benar pergi, ku dengar teriakan Nila yang berdiri di teras rumah. Ia meneriakkan kalimat berikut.


"Ingat lah! Tiga minggu lagi, kalian harus pulang ya! Kita akan merayakan ulang tahun kita bersama, Mark! Kamu sudah janji kepada ku!" Teriak Nila.


"Ya. Ya. Ya. Nanti ingatkan saja aku di hari sebelum nya ya, Nil!" Balas Mark berteriak.


"Tidak! Aku tak mau hanya mengingatkan mu sehari sebelum nya! Aku pasti akan sering-sering mengingatkan mu, Kak! Setiap hari mungkin?" Ucap Nila seraya terkekeh pelan.


"Hahaha! Dasar bocah! Kita ini sudah umur 25 tahun, Nil. Kamu sibuk sekali menantikan perayaan ultah kita seperti anak TK menantikan ulang tahun nya!" Ledek Mark.


"Hey!" Nila memelototi Mark dari kejauhan.


"Ya sudah! Nil, kita pulang dulu ya! Baik-baik lah jaga kesehatan mu, ok. Jangan sampai adik ku yang gemuk ini mengurus saat aku kembali ke sini lagi nanti!" Pesan Mark mengingatkan Nila.


"Ya! Pergilah sana! Kamu memang sungguh menyebalkan sekali, Mark!" Gerutu Nila yang sebal karena dibilang gemuk.


Brak.


Mark menutup pintu mobil nya dengan kencang. Dan aku pun kemudian kembali berpamitan pada Nila dari jok di samping Mark. Sementara Lala duduk manis di jok belakang kami.


"Kami pergi ya, Nil! Jaga dirimu baik-baik!" Teriakku lantang.


Mobil yang membawa kami pun kemudian mulai melaju. Namun sebelum kami bergerak menjauh, aku sempat menangkap pemandangan Nila mengusap sebelah pipi dengan tangan nya.


Kurasa, Nila baru saja menangis di teras sana.

__ADS_1


***


Setelah melewati perjalanan sekitar satu jam lebih, kami akhirnya tiba juga di kota tempat Mark dan juga Lala tinggal. Terlebih dulu Mark mengantarkan Lala pulang ke apartemen nya. Baru kemudian Mark mengajak ku pulang ke rumah nya.


Ya. Ternyata Mark tinggal di sebuah rumah lama yang ia beli sekitar dua tahun silam. Yang paling membuat ku terkejut adalah saat aku menyadari kalau ternyata rumah Mark bersisian dengan rumah orang tua Karina.


Ya. Aku masih mengingat betul bentuk rumah orang tua Karina. Karena itulah tujuan pertama kami, saat kami baru pulang dari Nevarest.


Aku mengantarkan sendiri Karina dan juga putri nya, Rinaya ke rumah ini.


"Abang kenapa? Rumah ku yang ini, Bang!" Tegur Mark yang menatap ku heran.


Aku memang sempat tercenung selama beberapa saat sambil memandang lekat ke rumah di samping rumah Mark.


"Rumah itu.." ucap ku menggantung.


"Itu rumah tetangga ku, Bang. Orang nya baik-baik sih. Tapi Mark dengar, ibu nya lagi sakit gitu. Ah! Masuk saja dulu yuk, Bang! Kita ngadem dulu di dalam!" Ajak Mark sambil mendorong pintu pagar nya hingga menutup kembali.


Aku pun mengikuti langkah Mark memasuki rumah nya.


"Kamu tinggal sendirian di sini, Mark?" Tanya ku heran.


"Iya, Bang. Gimana? Rumah ku lumayan cozy kan?" Tanya Mark menunggu penilaian ku atas rumah nya ini.


Aku berjalan sebentar sambil melihat ke sekitar.


"Bagus. Tapi, apa rumah ini gak terlalu besar buat mu, Mark? Tadi nya ku pikir kamu tinggal di apartemen gitu," ungkap ku dengan jujur.


"Hahaha! Iya juga sih, Bang. Tapi gak tahu kenapa aku suka banget sama rumah ini, Bang. Mirip kayak rumah Mama di kota X.. Jadi ada perasaan kalau aku berasa tinggal di rumah Mama gitu," jawab Mark sambil tersenyum tipis.


Dan ku nilai betul ucapan Mark tadi. Rumah ini memang memiliki banyak kemiripan dengan rumah ku di kota X. Mulai dari letak pintu dan tata ruang yang hampir serupa. Bahkan ku sadari beberapa furniture nya pun mirip seperti yang ada di rumah.


Ku pandangi Mark dengan tatapan intens. Dna Mark menyadari kalau aku sedang memperhatikan nya. Ia pun menjadi jengah. Dan akhirnya berkomentar.


"Aku memang lumayan melankolis, Bang. Bisa dibilang begitu.." Mark mengaku jujur.

__ADS_1


Setelah itu, Mark mengantarkan ku ke sebuah kamar di lantai satu. Kamar nya cukup luas.


"Abang sementara tinggal di sini aja dulu gak apa-apa kan Bang? Kalau semisal Abang nanti mau cari tempat tinggal sendiri juga gak apa-apa. Atau kalau mau tetap tinggal di sini bareng saya juga itu lebih bagus lagi!" Ujar Mark.


"Gimana? Cukup oke kan, Bang?" Tanya Mark harap-harap cemas.


"Yah.. bagus lah. Terima kasih ya, Mark. Sudah mau membiarkan ku menumpang di rumah mu.." ucap ku dengan tulus.


Aku sungguh tak tahu, ke mana aku akan pergi jika saja Mark tak menawarkan ku untuk tinggal di rumah nya ini.


Sementara aku jelas tak mungkin akan tinggal selama nya di rumah ku dan juga Laila di kota X. Karena kini rumah itu sudah ditempati oleh Nila.


Meski aku adalah papa Nila, namun di mata orang-orang yang melihat ku, mereka tak akan menganggap ku seperti itu. Justru keberadaan ku di rumah itu hanya akan memberikan dampak negatif pada reputasi Nila. Dan aku tak ingin bila hal itu sampai terjadi.


"Sama-sama, Bang! Saya juga makasih banget malah, karena Abang sudah mau ikut saya bekerja di perusahaan saya. Saya yakin, dengan semua kecerdasan Abang itu, perusahaan saya akan semakin maju!" Imbuh Mark memuji ku.


"Ah! Jangan berlebihan memuji ku, Mark. Bagaimana pun juga aku masih harus banyak belajar," ucap ku merendah.


"Ya sudah. Kalau gitu, Mark tinggal dulu ya, Bang. Nanti kita order delivery food aja ya. Abang mau makan apa?" Tanya Mark sambil membuka aplikasi di gawai nya.


"Apa aja oke!" Jawab ku santai.


"Nah. Soto Lamongan kayak nya oke ya, Bang?" Tanya Mark lagi.


Dan aku memberinya acungan jempol. Sebagai tanda persetujuan ku atas pilihan makan malam kami nanti.


Setelah itu Mark pamit untuk membersihkan diri. Kamar nya berada di lantai atas.


Ia sempat menawari ku untuk tinggal di kamar kosong lain yang ada di lantai atas. Hanya saja aku menolak nya.


Rasa nya tak enak juga kan bila dua orang pria single tinggal serumah di lantai yang sama? Yah, walaupun aku dan Mark sudah membentuk jalinan bro ship. Tapi tetap saja kan, di mata ornag lain, kami ini hanya dua pria single dengan penampilan yang cukup menarik mata.


Aku tak mau keberadaan ku di rumah ini, malah akan membawa persepsi buruk bagi reputasi putra ku itu. Dan aku masih mengingat janji ku juga kepada Laila. Bahwa sepeninggal nya, aku akan menjaga kedua anak kami dengan sebaik mungkin.


Ya Mark. Dan juga Nila.

__ADS_1


***


__ADS_2