Meretas Rasa

Meretas Rasa
40. Motor Penuh Kenangan


__ADS_3

Hari itu aku kembali bekerja. Dan rumor tentang sikap ku yang sesuka hati tak masuk kerja, ku dengar secara tak sengaja saat aku sedang pergi ke toilet.


Aku tak memusingkan hal itu. Fokus ku hanya memberikan kontribusi terbaik bagi perusahaan yang kini diasuh oleh putra ku.


Memang orang tak mengetahui tentang hubungan kami yang sebenar nya. Namun itu tak lantas menyurutkan semangat ku untuk membantu Mark dalam memajukan perusahaan nya ini.


Setelah seharian bekerja, aku dan Mark pun pulang bersama. Aku menangkap pandangan penuh arti saat beberapa pegawai di kantor kami melihat ku masuk dan duduk di kursi penumpang mobil Alphard yang dikendarai oleh Mark.


Pandangan mereka yang menghina ku itu tak membuat ku merasa pusing. Hanya saja, setelah ku pikirkan lagi, kasihan juga bila Mark harus terseret dalam rumor yang tak berdasar itu.


"Mark, apa kamu tahu tentang motor gede milik ku, dulu?" Tanya ku tiba-tiba di perjalanan mobil.


"Huh? Motor Abang? Maksud nya yang mana, Bang?" Tanya Mark tak paham.


Menyadari kalau Mark belum mempercayai identitas ku sebagai Papa nya, aku pun mengoreksi pertanyaan ku kembali.


"Maksud ku, motor gede punya Papa Erlan mu, Mark," aku menjelaskan lebih lanjut.


"Huh? Soal itu, saya gak tahu, Bang. Seingat saya, di rumah kami gak pernah ada motor deh. Mama dan Papa selalu berkendara menggunakan mobil," jawab Mark menjelaskan.


"Huh? tak ada..?"


Aku pun terdiam bingung. Memikirkan, di mana sebenarnya motor gede ku dulu.


"Oh! Saya baru ingat! Seperti nya saya pernah dengar Mama nanyain ke Tante Nunik tentang motor," seru Mark tiba-tiba.


"Nanya gimana?"


"Nanya gini, Bang. 'Motor nya masih bagus kan?' begitu, Bang.. tapi saya juga gak tahu pasti, apa itu motor yang Abang maksud atau bukan," tukas Mark lebih lanjut.


Aku menghela napas dalam. Sedikit kecewa karena aku tak bisa menemukan keberadaan motor yang ku beli dengan hasil keringat ku sendiri.


Ya. Motor itu juga menyimpan banyak kenangan ku bersama Laila. Saat pertama kali nya aku membonceng nya pulang, juga mengajak nya kencan ke berbagai tempat.

__ADS_1


Walaupun ada juga beberapa kali pengalaman mogok, tapi itu semua adalah kenangan ku bersama Laila yang berharga. Aku sungguh ingin bisa menggunakan motor itu kembali. (baca cerita cinta Laila-Erlan di novel Aku Bukan Rumput Liar).


Sayang sekali, keberadaan nya kini tak jelas ada di mana. Mungkin saja motor ku itu sudah jadi barang rongsokan tua. Karena ada jeda dua puluh lima tahun lama nya sejak terakhir kali aku melihat motor ku itu.


"Sebentar deh, Bang! Apa jangan-jangan.." ujar Mark menggantungkan kalimat nya.


Aku kembali menoleh ke arah Mark. Ingin mendengarkan kelanjutan kalimat nya tadi.


"Jangan-jangan, motor gede yang Abang tanyain itu adalah motor gede yang sekarang lagi dijemput sama Labib?" Mark menyampaikan dugaan nya.


"...labib? Kok bisa ada di dia?" Tanya ku bingung.


"Ya gak tahu juga sih. Tali ini kan baru kemungkinan ya, Bang. Soal nya motor gede nya Labib itu tuh asli nya punya Papa nya. Cuma sejak Papa nya meninggal beberapa tahun lalu, motor itu sering dipakai sama dia. Sampai akhirnya dia harus pindah ke Singapore ngurusin penelitian dan juga Tante Nunik yang berobat di sana," ujar Mark panjang kali lebar.


"Oh.."


Aku merasa kecewa, jika benar motor ku diberikan kepada suami nya Nunik. Ku pikir Laila akan menyimpan nya dengan baik di garasi. Karena ia tahu, betapa berharga nya motor itu bagi ku.


'Kecuali jika..'


Aku menduga, kalau alasan Laila memberikan motor ku ke suami nya Nunik adalah karena Kiyano tak menyukai keberadaan motor itu.


Karena jika aku menjadi dirinya pun ,aku ingin istri ku membuang semua barang peninggalan mendiang suami nya. Cemburu. Itulah alasan nya.


"Hh.." kembali ku hela napas dalam-dalam.


"Bang? Bang Erlan?" Aku disadarkan oleh tepukan di bahu ku.


Ku tolehkan kembali wajah ku ke arah Mark.


"Ya, Mark?"


"Kenapa Abang tiba-tiba nanyain soal motor?" Abang memang nya mau beli motor?" Tanya Mark tiba-tiba.

__ADS_1


Dan aku mengangguk, mengiyakan tebakan nya.


'Mungkin seharusnya aku membeli yang baru saja,' pikir ku dalam hati.


"Iya, Mark. Nanti lah tapi. Kalau aku sudah gajian," jawab ku sekena nya.


Suasana dalam mobil kembali hening. Setelah beberapa lama, Mark kembali bicara.


"Abang mau pinjam uang ku untuk beli motor? Takut nya uang gajian Abang nanti kurang buat beli motor yang bagus?" Tawar Mark tanpa menatap ke arah ku.


Ku tatap Mark lekat-lekat. Merasa bingung sekaligus juga bersyukur pada niat baik nya itu. Tanpa bisa ku tahan, aku pun berkomentar.


"Kamu masih belum porcaya kalau aku adalah Papa mu. Tapi kenapa kamu bisa begitu percaya untuk meminjami ku uang, Mark? Kamu sungguh membuat ku bingung," ungkap ku dengan jujur.


Mark terdiam sesaat. Lalu mengedikkan bahu.


"Gak tahu juga, Bang. Mungkin karena saya merasa Abang bisa dipercaya? Yang jelas, tawaran saat tadi masih berlaku ya, Bang. Tenang, saya gak minta bunga kok!" Seloroh Mark mengurai canda.


Aku terkekeh bersama nya. Hingga akhirnya kami tiba di depan pagar rumah Mark.


Kali ini, aku lah yang bergegas turun untuk membukakan pintu.


Setelah mobil Mark masuk, baru juga aku hendak menutup kembali pintu pagar nya, saat aku melihat penampakan motor gede ku yang melaju ke arah ku.


Ya. Aku sungguh-sungguh melihat moge ku itu melaju ke arah ku. Tidak melaju sendiri, tentu saja. Tapi ia dikendarai oleh seorang pria yang identitas nya tertutupi oleh helm putih.


Motor gede ku itu lalu membunyikan klaksin sekali sebelum akhirnya ikut masuk ke dalam garaai di samping mobil Mark. Sementara pengendara nya lalu turun dengan menenteng sebungkus plastik besar.


Begitu helm dibuka. Tahu lah aku siapa pengendara yang sudah membawa motor gede ku itu. Ya. Dia adalah Labib.


"Sore, Bang! Saya bawa sate nih. Kita makan di dalam yuk!" Sapa Labib dengan ramah.


Pemuda itu lalu beranjak masuk duluan ke dalam. Meninggalkan ku yang terpukau sesaat pada penampakan motor gede yang baru saja dikendarai oleh Labib tadi.

__ADS_1


"Ini memang benar motor ku.." gumam ku senang tak terkatakan.


***


__ADS_2