
Meninggalkan rumah Karina dengan pikirna yang dilanda bingung, jejak langkah ku terhenti oleh panggilan Nila yang sudah menunggu ku di depan pintu rumah Mark.
"Erlan.. aku mau ngomong sama kamu!" Ujar Nila tetiba.
"Hhhmm.."
Belum apa-apa, aku sudah merasa letih menghadapi perbincangan yang akan ku hadapi dengan Nila sesaat lagi.
"Baik lah. Kita bicara di teras sini saja," jawab ku mengiyakan permintaan Nila.
Aku memilih untuk duduk di salah satu kursi yang ada di teras depan rumah. Sementara tak lama kemudian Nila ikutan duduk di kursi samping kursi ku.
Selama lima menit pertama kami lalui dalam keheningan yang terasa canggung. Aku membiarkan Nila mengumpulkan keberanian nya sendiri untuk menyampaikan apa yang ada di hati nya kepada ku.
Dengan sabar, aku pun menunggu dalam diam. Sementara pandangan ku sibuk melihat ke halaman rumah yang terlihat rindang dengan beragam bunga hias yang Mark letakkan di pekarangan.
"Apa hubungan mu dengan Karina masih dalam tahap uji coba atau bagaimana?" Tanya Nila tetiba.
Pandangan ku terangkat seketika.
'Karina benar. nila memang benar-benar menanyakan soal keseriusan hubungan kami. Jadi, apa aku juga harus mengikuti saran Karina? Mengatakan kepada Nila bahwa aku dan Karina sudah siap untuk menikah? Hhmm.. ku rasa itu terlalu over. Tapi..' pikiran ku begitu sibuk dengan berbagai pilihan atas sikap yang sebaik nya ku putuskan.
"Memang nya kenapa? Kami sudah sangat dekat. Apa jawaban ini cukup untuk mu, Nil?" Tanya ku balik kemudian.
"Aku.." Nila tersendat dalam berkata-kata.
"Kenapa.. bukan aku? Ku pikir tadi nya kamu akan lama untuk bisa move on dari Mama ku. Ku pikir tadinya kamu sungguh benar-benar mencintai Mama ku. Tapi seperti nya, janji cinta yang sering kau agung-agungkan di hadapan ku dulu itu hanyalah sekedar ucapan belaka," sindir Nila dengan begitu kejam nya.
Diingatkan tentang mama nya, aka Laila, mata ku pun tak kuasa untuk memerah.
"Diam kau! Kau tak mengerti sekali bagaimana perasaan ku sesungguh nya terhadap Laila! Jangan menilai murah apa yang sudah ku pertahankan hingga lintas dunia. Kau tak tahu bagaimana rasa nya direnggut secara paksa dari kehidupan dan cinta mu dan juga keluarga mu sendiri, bukan?!" Hardik ku dengan keras di depan Nila langsung.
Nila sepertinya tak siap untuk menerima bentakan dari ku. Sehingga kemudian mata nya pun seketika membasah dan lagi merah.
Aku yang merasakan amarah itu masih menguasai hingga ke ubun-ubun pun langsung saja memutuskan untuk pergi meninggalkan Nila. Dengan inner power yang dimiliki oleh tubuh Aro ini, aku pun langsung melesat cepat keluar pekarangan Mark.
Pergi meninggalkan Nila dan juga semua jejak kehidupan ku yang tersisa di belakang!
Blast!
__ADS_1
Aku terus berlari. Membelah jalanan tanpa sekalipun berhenti untuk mengagumi keindahan pemandangan.
Ku pacu lari ku sekencang yang ku bisa tanpa ada waktu meski sedetik pun untuk memberi nya jeda.
Ku lewati kehiruk-pikukan kota, hingga langkah ku membawa ku menaiki sebuah bukit pepohonan yang berada di pinggiran kota tempat ku berada.
Begitu aku sudah berada di antara gelap nya pepohonan di bukit tersebut, ku daki salah satu pohon tertinggi di sana, hanya untuk merasakan perasaan terjatuh dari puncak nya, karena pohon tersebut tak mampu untuk menopang beban tubuh ku yang berat.
Pohon itu sejenis pohon cemara, memang. Jadi tak ada dahan yang kuat, meski pohon nya tumbuh rimbun sekali pun.
Bagh. Bugh.
Ku daki pepohonan di sana berkali,-kali. Hanya untuk terjatuh lagi dan lagi. Aku tak memperdulikan rasa sakit akibat luka lecet dnn juga patah tulang ringan yang kurasakan. Karena justru rasa sakit ini lah yang ku harapkan bisa meredakan sesak yang menghimpit dada ku saat ini.
Aku terlalu marah saat ini. Tapi amarah ku ini bukan ku tujukan kepada Nila. Ucapan pedas yang diucapkan oleh putri ku itu hanya seperti tombol pemicu bagi serangkaian bom yang sebenar nya sudah bersarang begitu besar nya dalam hati ku.
Bom yang siap untuk meledak sewaktu-waktu. Dan itu siap untuk menghancurkan diri ku sendiri, semenjak Laila meninggalkan dunia ini. Ataupun juga sejak aku diseret paksa untuk meninggalkan takdir ku di dunia ini bertahun-tahun yang lalu.
"Aaaaaaaaaaaaaargghhh!!!" Aku menjerit begitu kencang. Demi meluapkan semua amarah yang bercokol di hati.
Tubuh ku sudah lecet si sana-sini. Dengan darah yang mengucur sedikit di sana dan di sini.
Usai melepaskan jeritan amarah yang seperti bom di hati ku itu, aku oun menangis sepayah-payah nya. Aku terisak sejadi-jadi nya. Hingga keheningan malam di atas perbukitan yang sepi orang itu pun menjadi terusik dengan suara isakan ku yang sumbang ini.
"Laila.. hiks! Laila....!!"
Dan aku pun akhirnya mengiba-iba di bukit yang tak bertuan itu..!
***
Aku baru pulang kembali ke rumah Mark lama setelah hari berganti baru. Mungkin sekitar pukul tiga dini hari?
Tadi nya aku tak ingin pulang ke rumah Mark lagi. Tapi, bagaimana pun juga hidup ku kini terikat pada janji ku untuk menjaga Mark dan juga Nila.
Janji yang telah ku ikrarkan dengan bersungguh-sungguh di hadapan jasad Laila yang telah terbujur kaku.
...
Begitu tiba di depan rumah Mark, aku terkejut saat mendapati Mark uang tertidur pada salah satu kursi di teras sana.
__ADS_1
Selama beberapa saat ku amati wajah Mark lekat-lekat. Wajah yang memiliki copy an wajah Laila begitu banyak nya. Entah itu alis nya, bibir nya, dan yang paling jelas terlihat adalah dua lesung Pipit pada kedua pipi nya yang tirus.
"Hh.." aku menghela napas dalam-dalam.
Saat ini aku sungguh menyesal karena telah meluapkan emosi ku di hadapan Nila.
Entah bagaimana kondisi nya saat ini. Aku sudah bertekad untuk meminta maaf kepada nya segera setelah hari menjadi lebih terang nanti nya.
"Bang Erlan?! Ah.. syukurlah Abang pulang juga akhirnya.. ! Mmmm.. jam berapa sekarang,.. o ya ampun! Jam setengah empat! Abang beneran baru pulang atau Abang sengaja biarin aku ketiduran di sini sampai pagi nih, Bang?!" Tuding Mark terlihat mengamuk.
Aneh nya aku malah terkekeh melihat tingkah Mark yang berusaha mencairkan suasana canggung di antara kami. Aku tahu benar ia berpura-pura marah saat ini. Karena terkadang, setelah marah-marah, kau selalu memiliki alasan untuk meminta maaf dan memperbaiki hubungan lagi, bukan?
Aku langsung mengambil posisi kursi kosong di sebelah Mark. Sementara ekor mata ku melihat nya hendak bangkit berdiri, aku pun buru-buru menahan nya pergi.
"Bisa kita bicara dulu sebentar, Mark? Ku mohon? Aku membutuhkan seseorang untuk bicara saat ini.." aku mengiba kepada putra ku sendiri.
Mark seperti nya melihat ku. Atau ku kira seperti itu. Aku tak benar-benar memandang nya sih. Karena pandangan ku kini tak fokus ke tanaman hias yang ada di pekarangan rumah ini. Sementara pikiran ku nyalang ke mana-mana.
Mark kemudian duduk kembali di kursi nya tadi.
"Abang mau ngomongin apa? Soal.. Karina yang rencanain untuk jadi pacar pura-pira nya Abang kah?" Tebak Mark to the point.
Aku terkejut. Kepala ku pun langsung melesat begitu cepat dan menatap Mark lekat-lekat.
'Bagaimana Mark bisa tahu?!' tanya ku tak percaya.
"Tentu saja saya bisa tahu, Bang. Karena akting kalian tampak jelas sekali di mata saya. Kalau Nila sih, jangan ditanya. Dia memang memiliki IQ yang lebih rendah dari saya, Bang. Hehehe,, maaf!" Ucapan Mark seketika terhenti saat ia melihat ku memelototi nya.
Bisa-bisa nya dia mengatai saudari nya bodoh. Jika saja aku tak mengingat aku sedang berada di tubuh siapa saat ini, tentu lah sudah ku jitak kepala putra ku itu.
"Ehem! Maksud saya, saya memang sungguh patah hati beneran, Bang. Saya tebak, usulan pacar pura-pura itu datang nya dari Karina bukan? Karena sepenilaian saya, Abang tak mungkin terpikirkan tentang ide gila seperti itu," seloroh Mark dengan santai nya.
"Bagaimana kau bisa tahu?" Tanya ku kemudian.
"Tahu apa, Bang? Tahu.. tempe? Tahu.. bulat? Aw! Santai aja sih , Bang! Jangan asal main pukul segala.." imbuh Mark yang kini sedang mengusap-usap lengan nya yang tadi ku tepuk dengan cukup kencang.
"Serius lah Mark!" Aku menegur nya.
"Oke. Oke. Sorry, Bang! saya serius deh nih!"
__ADS_1
***