Meretas Rasa

Meretas Rasa
Penilaian Nunik


__ADS_3

"Nunik..?" Aku menyapa seorang wanita berjilbab maroon lebar yang saat ini duduk di atas sebuah kursi roda di ruang TV.


Aku sungguh dibuat terkejut. Karena hampir tak ada yang berubah dari Nunik. Entah itu postur badan nya yang mungil, serta wajah nya yang sedikit kerutan. Bila aku disuruh menerka, maka aku mungkin akan mengira usianya bukan sekitar lima puluh tahun. Melainkan baru akhir tiga puluhan saja.


Wajah Nunik yamg ku ingat fulu selalu dihiasi senyuman pun jingga kini masih dihiasi dengan senyuman yang sama persis. Senyuman teduh yang dinamakan Laila sebagai senyuman malaikat subuh.


Tanpa sadar aku tersenyum kala memori ku kembali mengulas masa lalu. Saat aku mendengar banyak istilah unik yang dibuat oleh Cinta ku itu dulu sekali.


Ku fokuskan kembali pandangan ku ke Nunik. Dan ku lihat ia pun sedang balik mengamati ku.


Nila, Mark dan juga Labib yang menemani kami di ruang TV seperti nya bingung karena aku dan Nunik bahkan tak bertukar kata dalam waktu yang cukup lama.


"Ehem! Jadi, Tante.. dia ini mengaku sebagai Erlan. Mendiang Papa kandung Nila dan juga Mark," prakata Nila yang sungguh blak-blakan.


Aku meringis malu atas ucapan Nila itu. Sedikit sedih juga sih karena sepertinya Nila ingin buru-buru membuktikan 'kebohongan' ku yang sudah menjamur terlalu lama.


"Hh..." Aku menghela napas dalam-dalam. Merasa sedikit letih, meski yang ku lakukan sejak tadi hanya lah diam saja.


Pada akhirnya aku mengajak bincang Nunik dengan nada santai. Seolah-olah kami masih sering bertemu dan bertukar kata. Seperti dulu.


"Kau tahu, Nun? Aku heran. Laila ku terlihat sama seperti usia seharusnya saat aku bertemu dengan nya kembali beberapa pekan lalu. Tapi, ku lihat kau tak jauh berbeda. Apa Lail tak pernah merecoki mu soal tips awet muda?" Tanya ku santai mengajak nya bergurau.


Nunik terdiam beberapa lama lagi. Sebelum akhirnya ia mengatakan sesuatu kepada Labib, putra nya.


"Bib, tolong ambil kan buku album yang ada di atas nakas di kamar Mama ya, Nak?" Pinta Nunik dengan suara santun.


Kesantunan yang dulu sering ku minta ia untuk mengajarkan nya kepada Laila ku. Dengan nada canda tentu nya.


Labib langsung menuruti permintaan Mama nya. Ia pergi ke ruangan di dalam rumah. Tak berselang lama, Labib pun kembali.


"Yang ini kah. Ma?" Labib menyodorkan album dengan cover ungu ke pangkuan Nunik.


"Iya. Makasih ya, Nak.."


Kemudian, Nunik menyodorkan album tersebut kepada ku.


"Ini adalah album ku bersama Lail. Kau mungkin ingin melihat nya?" Tawar Nunik kepada ku.


Tanpa ragu, aku menerima album itu lalu membuka nya secara perlahan.


Di lembar pertama, terdapat foto yang ku kira adalah saat Nunik dan juga Laila masih remaja belasan tahun. Nunik mengenakan kerudung bergo warna putih. Sementara Laila ku menguncir belakang rambut nya. Keduanya tersenyum ke arah kamera. Dengan Laila yang menyengir begitu lebar nya.

__ADS_1


Tanpa sadar aku ikut tersenyum lebar.


"Aku pernah melihat foto ini di ponsel Laila ku dulu. Kata nya, kalian main ke mall hanya untuk memiliki foto box ini bukan? Empat foto terhitung gagal, karena entah mata Lail yang terpejam atau juga kamu yang terpejam. Hanya satu foto ini saja yang dinilai bagus," aku mengomentari foto pertama di album yang sedang ku pegang itu.


Kemudian aku melihat foto di lembar ke dua. Kali ini adalah saat Laila ku kira baru saja lulus SMA. Tampak jelas dari coretan pada baju putih abu-abu yang Lail kenakan. Laila ku masih tersenyum lebar di foto itu. Begitu cantik!


Perlahan aku membalik halaman album. Foto-foto berikut nya adalah saat keduanya berjalan-jalan entah ke mana.


Lembar demi lembar terus ku balik. Dan aku sungguh merasa bahagia karena bisa melihat transformasi Laila ku mulai sejak remaja hingga dewasa.


Sampai kemudian aku sampai pada foto pernikahan ku dengan Laila. Netra ku tertahan lama saat mengamati foto tersebut.


"Aku ingat, saat pengambilan foto ini, sebenarnya Lail sudah merengek ingin makan. Padahal saat itu baru jam sepuluh pagi! Hahahha.. perut nya memang selalu saja kelaparan. Karena itulah aku sering membawa cemilan setiap kali aku pulang kerja, dulu," monolog ku mengomentari foto pernikahan kami.


Foto berikut nya adalah saat acara syukuran empat bulan kehamilan Laila. Di foto itu, aku mengenakan koko berwarna pink. Senada dengan gamis pink yang juga dikenakan oleh Laila.


Aku merasa sedikit sebal saat itu pada Laila ku. Karena ia sengaja benar memesan baju koko warna pink untuk ku pakai di acara selamatan saat itu.


Aku merengut kecil.


"Iishkk.. kalau mengingat acara ini, aku ingin sekali mencubit pipi Lail lagi. Tega benar dia memaksa ku memakai koko itu. Hah!"


Jantung ku tiba-tiba dihantam oleh palu berduri. Dalam foto itu, hanya ada Laila ku seorang. Kandungan nya tampak sudah sangat besar. Ia sedang duduk berbaring di atas kasur putih, yang ku duga adalah rumah sakit.


Foto ini sepertinya diambil dari posisi samping. Sehingga hanya menampakkan profil Laila ku dari samping. Ia mengenakan kerudung pink pucat. Membuat wajah nya yang pucat jadi terlihat kian pucat.


Yang membuat hati ku nyeri saat melihat foto ini adalah karena ini adalah foto pertama Laila yang tak tersenyum, yang ku lihat di album ini.


Pandangan nya terlihat kosong. Tampak jelas penderitaan di setiap raut mata dan juga garis bibir wajah nya. Laila ku sedang sangat berduka dalam foto itu. Dan aku bisa menebak, apa kiranya penyebab kesedihan Laila ku di foto yang ku lihat saat ini.


Kemungkinan foto ini diambil saat Laila ku dirawat di rumah sakit. Tak lama setelah hari kecelakaan yang merenggut nyawa ku terjadi.


Ku sapukan jemari ku di wajah Laila dalam foto yang sedang ku lihat ini. Aku bisa ikut merasakan kepedihan yang dirasakan oleh Laila saat itu.


"Ini.. diambil saat kecelakaan itu terjadi, bukan?" Tanya ku terbata-bata.


Aku tak mengangkat pandangan saat menanyakan hal tadi kepada Nunik. Mata ku seolah terkunci pada wajah menderita nya Laila di foto itu.


Tak lama kemudian, ku dengar suara Nunik menjawab.


"Ya. Lail harus bed rest selama sisa waktu kehamilan nya. Sekitar dua bulan lebih lama nya. Nafsu makan nya merosot tajam. Jadi Lail hampir kehilangan bayi kembar nya, Mark dan juga Nila saat itu. Duka yang diakibatkan oleh kecelakaan itu sungguh terlalu berat baginya," tutur Nunik bercerita.

__ADS_1


Tes..


Tes..


Tanpa bisa ku cegah, aku menangis begitu saja.


Netra ku masih terpaku menatap foto Laila yang sedang dirundung duka lara kala itu. Sementara jemari ku pun tak ingin berhenti mengusap wajah nya yang abadi di lembaran yang ku pegang kini.


Suasana di ruang TV pun menjadi hening seketika.


Aku tak tahu apa rupa ekspresi Mark, Nila dan juga Labib yang sedari tadi menjadi pendengar bagi perbincangan ku dengan Nunik.


Kemudian, ku paksa tangan ku untuk membuka lembaran berikut nya. Kali ini adalah foto saat Laila telah melahirkan bayi kembar kami.


Foto tersebut diambil saat mereka sudah berada di rumah. Dengan Laila yang memangku si kembar pada masing-masing tangan nya.


Laila sudah tersenyum lagi di foto itu. Meskipun, aku masih bisa melihat dengan jelas jejak kesedihan di wajah nya yang manis.


"Kalian terlihat kecil sekali, Mark, Nila. Hmm.. hampir tak ada beda nya," gumam ku dengan suara pelan.


Selanjutnya aku kembali membalik halaman album. Dan aku melihat foto Laila bersama kedua anak kami. Di mana saat itu ku kira Mark dan Nila mungkin berumur satu atau dua tahun.


Selanjutnya ada banyak foto-foto Laila lainnya yang ku lihat di album itu. Hingga aku sampai di sebuah halaman yang menampilkan foto pernikahan Laila dan juga Kiyano.


Melihat foto itu, seketika hati ku kembali didera oleh rasa cemburu. Dengan emosi, buku album itu pun ku tutup begitu saja.


Brak.


...


Selama beberapa saat emosi cemburu itu masih membakar hati ini. Dan selama itu berlangsung, aku tak memandang ke siapa pun di ruangan itu.


Tak lama kemudian, ku dengar Nunik berkata,


"Kau memang benar-benar Erlan yang ku kenal dulu.."


Jeda sejenak.


"Nila, Mark, ketahui lah! Dia memang Erlan, Papa kalian!" Ujar Nunik dengan suara lantang dan jelas di ruangan TV itu.


***

__ADS_1


__ADS_2