Meretas Rasa

Meretas Rasa
SOS


__ADS_3

"Hh.. tenang, Bang.. saya udah langsung move on kok Bang. Dengan apa yang kalian rencanakan itu, oke. Saya salah. Dengan status pacar pura-pura yang direncanakan sama Karina itu, saya akhirnya bisa dengan legowo menerima kenyataan kalau saya gak akan bisa bersanding dengan wanita hebat seperti Karina!" Ujar Mark dengan ekspresi bersungguh-sungguh.


Aku ternganga menatap nya. Sungguh tak mengerti sama sekali dengan ucapan nya itu. Beruntung Mark kemudian menjelaskan maksud ucapan nya tadi.


"Saya jelas gak akan bisa kuat menghadapi wanita penuh siasat seperti Karina, Bang. Bisa-bisa nanti saya mati karena salah satu siasat nya lagi!" Bisik Mark dengan ekspresi takut yang dibuat-buat.


Aku terkekeh lepas. Diikuti kemudian oleh Mark.


"Hh.. tapi semisal kalian benar jadi pacar sungguhan pun itu juga berita yang bagus, Bang!" Imbuh Mark tiba-tiba.


"Hey!" Aku kembali menepuk lengan nya cukup kencang.


"Aduh! Ya ampun, Bang! Dikasih restu kok malah marah sih!" Dumel Mark yang kembali mengusap-usap lengan nya yang sakit.


"Nila.."


Aku menggantung ucapan ku. Dan syukurlah, Mark langsung menyambut keraguan ku dengan penjelasan panjang nya.


"Jangan khawatirkan Nila, Bang. Nila akan baik-baik saja," sahut Mark kemudian.


"Dia sekarang mungkin sudah pulang lagi ke rumah Mama. Semalam, setelah abang marahin dia, dia langsung ngadu ke saya, Bang. Tapi pas saya tahu apa yang sudah dia katakan ke Abang, saya juga ikutan ngomelin dia. Untung ada Labib. Kalau enggak, Nila mestilah sedih sendiri," lanjut Mark lagi.


"Labib mengantarkan Nila pulang?" Tanya ku memastikan.


"Iya. bang. Jadi tenang lah. Nila pasti akan baik-baik saja.. saya kenal baik Nila. Dia mungkin perlu waktu beberapa minggu saja sebelum lupa sama perasaan nya ke Abang. Jadi saran saya, sebaik nya Abang jangan bertemu dia dulu deh ya," ujar Mark kemudian.


"Oke.. hmm.."


Selama beberapa saat, kami berdua menikmati keheningan pagi dengan hati yang damai. Sampai kemudian di kejauhan terdengar suara adzan subuh berkumandang. Memecah keheningan pagi yang sepi ini.


***


Beberapa pekan berlalu sudah.


Mengikuti saran Mark, aku akhirnya benar-benar tak menghubungi atau menemui Nila sama sekali. Hubungan ku dengan Karina pun seperti biasanya.


Aku langsung memberi tahu wanita itu perihal Mark yang mengetahui siasat bulus nya terkait pacar pura-pura itu. Dan komentar Karina hanya lah,

__ADS_1


'Oh! Rupa nya dia cukup cerdas juga ternyata! Bagus lah! Kita jadi tak perlu berpura-pura lagi bukan?' ujar nya dengan santai.


Perlahan, komunikasi di antara Mark dan juga Karina kembali berjalan dengan baik. Kedua nya tak lagi canggung saat bertemu secara tak sengaja di depan rumah. Biasanya ketika kami sama-sama baru pulang dari bekerja.


Suatu waktu, Mark juga pernah memberi tahu kepada ku. Kalau hubungan Labib dan Nila memasuki tahap baru.


Seperti nya sejak dibuat patah hati oleh aksi pura-pura ku dan juga Karina di perayaan ultah mereka yang ke 25, Nila mulai sering curhat kepada Labib tentang banyak hal.


Labib, dengan kesabaran nya yang sudah teruji perlahan bisa mendekati Nila lebih dekat lagi dari sebelum mya.


Dalam hati aku mensyukuri hal ini. Karena jika dengan Labib, aku yakin kehidupan Nila akan berjalan menuju akhir yang bahagia.


***


Suatu hari, aku masih berada di kantor dan memeriksa beberapa file laporan bawahan ku yang ku nilai sedikit bermasalah.


Di saat aku sedang serius membaca file tersebut. Tiba-tiba saja ponsel ku berdering.


Merasa bingung, karena tak biasanya ada yang menelpon ku pada jam seperti ini (sekitar jam dua siang), aku pun langsung melihat layar ponsel ku. Di sana tertampil nama Karina sebagai pemanggil.


"Karina? Mau apa dia telepon jam segini?" Gumam ku bermonolog.


"Halo.. ada a.."


"Lan! Tolong aku! Motor ku tiba-tiba aja mati di jalan sepi. Gak ada orang sama sekali yang bisa aku minta tolong. Sementara ada satu orang penguntit yang dari tadi ngikutin aku. Aku sekarang lagi jalan kaki. Mau pergi ke jalan besar, tapi kayak nya masih jauh sih.. gimana nih, Lan? Aku takut..!" Ujar Karina memotong ucapan ku.


"?! Oke. Sekarang kamu ada di mana, Rin?" Tanya ku sigap.


Karina lalu menyebutkan sebuah alamat. Untuk lebih jelas nya. Aku juga meminta Karina untuk membagi lokasi keberadaan nya terkini.


"Ya sudah. Aku ke sana sekarang ya, Rin. Kamu tetap tenang dulu. Dan usahakan untuk cari seseorang yang bisa kamu minta bantuan, sementara aku belum datang ya!" Aku memberikan titah.


"Iya. Tapi cepat ya, Lan. Itu orang nya jalan nya makin cepat lagi. Kayak nya aku mau lari aja deh.."


Belum selesai aku membalas ucapan Karina, saat panggilan telepon tiba-tiba saja dipotong secara sepihak oleh Karina.


Tut.. Tut.. Tut..

__ADS_1


Tanpa menunda waktu lagi, aku langsung melesat keluar dari ruang kerja ku.


Aku hanya membawa gawai ku saja bersama ku. Sambil mengikuti arah lokasi yang ditunjukkan oleh google map di layar nya.


Sekitar lima belas menit kemudian, aku tiba di tempat lokasi yang dikirimkan oleh Karina. Letak nya ada di jalan persawahan yang sepi.


Siang-siang seperti ini aku tak mendapati orang di mana pun di area persawahan tersebut. Aku pun menjadi cemas.


Puluhan meter sebelum nya aku mendapati motor bebek Karina yang kata nya mogok. Sementara aku tak mendapati si empu nya motor di mana pun.


Aku segera saja menekan tombol dial di layar ponsel ku. Nomor kontak yang ku panggil adalah milik Karina.


'Tuut.. Tuut.. Tuut.. maaf. Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif. Silahkan hubungi beberapa saat lagi. Sorry, the number you're dialing is not active. Please try again later..'


"Gak aktif? Kok bisa? Apa ponsel nya low bat ya? Hmm.. ku rasa aku akan menyisiri daerah sekitar sini terlebih dulu.." gumam ku bermonolog.


Aku pun berjalan cepat di jalan persawahan yang sepi itu. Sembari berjalan, sesekali aku memanggil nama Karina.


"Karina! Karina! Di mana kamu?"


Selema beberapa menit pertama pencarian di ku di sana, Aku tak menerima sahutan dari Karina.


Baru sekitar lima menit setelah pencarian ku di jalan persawahan itu lah akhirnya aku menemukan titik terang.


Ku temukan sepasang sepatu heel yang pernah ku lihat dipakai oleh Karina tergeletak di persawahan. Antara satu sendal ke sendal lain nya berjarak beberapa meter jauh nya.


Aku juga menemukan jejak seperti bekas seseorang yang terperosok ke sawah. Dan dilihat dari jejak kaki yang tercetak di lumpur pinggiran sawah, bisa ku tebak kalau itu adalah jejak kaki perempuan.


Benak ku langsung berpacu dan menduga kalau jejak itu adalah milik Karina.


Merasa kian khawatir pada apa yang bisa saja terjadi pada wanita itu, aku pun melesat cepat ke arah jalan tempat jejak kaki lumpur tersebut pergi.


Sambil mencari, tak henti-henti nya aku memanggil nama Karina berkali-kali.


Dan akhirnya, aku mendengar juga suara pekikan Karina. Asal nya dari area pertengahan sawah. Yang, setelah ku lihat, memang ada sebuah gubuk kecil di pertengahan sawah tersebut. Suara Karina ku duga berasal dari gubuk tersebut.


Tanpa membuang waktu lagi. Aku pun langsung melesat ke gubuk itu.

__ADS_1


***


__ADS_2