
Sejak pertemuan dengan Karina dan Rinaya di taman, hubungan kami kembali mencair seperti sebelum nya.
Kadang kala Karina menggoda ku tentang panggilan "Yang" yang tak sengaja ku ucapkan itu. Dan sering nya ku acuhkan godaan nya itu.
Aku juga tak berani berbincang lama-lama dengan Karina. Sehingga lebih sering, bila Karina datang ke rumah di akhir pekan, maka aku akan meninggalkan nya berdua dengan Mark.
Tindakan ku ini mungkin bisa dikatakan sebagai melarikan diri. Terserah lah. Yang jelas, aku belum ingin membuka hati ku untuk wanita lain saat ini. Rasa-rasanya bila memikirkan tentang wanita lain, aku seperti sudah berkhianat saja kepada Laila ku.
Oh ya, sepulang dari taman waktu itu, aku juga tak mendapati Nila di rumah. Menurut Amir, Nila memutuskan untuk langsung pulang ke rumah nya begitu kami berseteru.
"Beri Nila waktu untuk menenangkan dirinya, Kak. Aku sudah menyampaikan bukti-bukti tentang identitas mubkepada nya. Jadi kau tenang lah, Kak! Hanya masalah waktu sebelum Nila bisa mengakui mu sebagai Papa nya," ujar Amir menghibur ku.
"Hh.. bukan soal pengakuan yang ingin ku dapatkan dari Nila, Mir. Aku hanya ingin dia menerima kehadiran ku saja. Sebagai siapa pun itu. Tapi tidak dalan hal romansa, tentu nya," imbuh ku terburu-buru saat mengatakan kalimat yang terakhir.
Amir memberi ku senyum iba.
"Nah.. tentang itu, Mark sudah menceritakan kepada ku tentang perasaan Nila pada mu, Kak. Ini memang cukup rumit juga sih ya," imbuh Amir kembali.
"Begitu lah, Mir.."
Percakapan terkait Nila akhirnya hanya berhenti sampai di situ saja. Tapi beberapa malam berikut nya, aku sungguh mendapat kejutan dari putri ku itu.
Pada suatu malam, Nila tiba-tiba saja menelepon ku.
"Halo.. ?" Aku menyapa terlebih dulu panggilan yang masuk ke ponsel ku.
Saat itu aku sedang duduk bersantai di ruang TV bertiga dengan Mark dan juga Amir.
Saat ku lihat Nila lah yang menelpon, aku langsung berdiri untuk menjauh sebentar agar bisa mendengar suara nya lebih jelas.
"Ya, Nila? Ada apa?" Tanya ku langsung dengan nada ramah.
"Mm.. Minggu depan, ada yang mau ketemu sama kamu. Jadi, luangin waktu ya!" Pinta Nila tiba-tiba.
"Huh? Siapa yang mau bertemu dengan ku?" Tanya ku bingung.
"Yang jelas sih bukan aku ya!" Jawab nya ketus.
"...oke.. aku tahu.." jawab ku dengan nada santai. Padahal sungguh, aku sedikit merasa sedih dengan setiap kesengitan yang ku tangkap dalam nada suara Nila saat ia bercakap-cakap dengan ku.
"Pokok nya, minggu depan jam sepuluh pagi, aku jemput kamu untuk temuin orang itu. Jangan ngaret! Dan jangan anggap ini acara nge date!" Rutuk nya lagi memperingatkan.
__ADS_1
"Uhuk!" Aku tersedak angin saat mendengar peringatan Nila itu.
"Ngerti gak?!" Tegur Nila saat tak segera menerima jawaban ku.
"Iya. Ngerti, Nil.."
Kembali hening. Tapi aku merasa nyaman-nyaman saja dengan keheningan ini. Seiyanya dalam keheningan sambungan telepon ini aku tahu, kalau kami masih terhubung. Padahal kan, sering nya Nila langsung memutus sambungan telepon usai ia menyampaikan apa yang ingin dikatakan nya kepada ku.
"Sudah ya. Bye!" Pamit Nila cukup sopan di telinga ku.
Klik. Dan sambungan telepon pun akhirnya terputus.
Lama ku pandangi layar ponsel ku, meski sambungan telepon di antara aku dan Nila telah lama terputus. Dalam hati aku sudah sibuk menduga tentang siapa yang dikatakan Nila ingin menemui ku.
Ku ingat-ingat lagi seseorang yang sekiranya ku kenal di masa lalu dan mungkin saja mencari ku.
"Tapi.. bukan kah Nila belum mempercayai identitas ku sebagai Erlan? Atau.. apa mungkin dia mulai mempercayai nya?" Aku asik bergumam sendirian.
"Kenapa, Pa? Kok mgelamun sambil berdiri di jalan?" Tanya Mark menegur ku.
Aku mengerutkan kening. Sedikit janggal rasanya menerima panggilan 'Papa' dari Mark. Yah.. walaupun memang benar juga sih dia itu putra ku.
Mark tampak cengengesan dan menggaruk kepala nya.
"Hehe..keceplosan Bang. Kadang-kadnag ekspresi Abang terlalu kelihatan mikir serius banget. Udah kayak Bapak-bapak yang mikirin buat bayar SPP sekolah anak nya aja!" Tukas Mark dengan asal.
"Dih. Kamu ini ada-ada saja!" Aku menggelengkan kepala ku sebelum akhirnya kembali pergi ke ruang TV.
Hari Rabu nya, Amir berpamitan kepada kami. Ia harus kembali melatih para tentara muda di seberang pulau.
Aku dan Mark mengantarkan nya sampai bandara. Dan kami sempat berpelukan lama.
"Bila ada apa-apa, kabari saja aku ya, Kak! Kakak sehat-sehat ya!" Pesan Amir kepada ku.
Ku balas senyuman Amir dengan senyuman terbaik ku.
"Kau juga, Mir. Berhati-hati lah saat mengajar nanti. Jaga baik kesehatan mu itu. Padahal menurut ku profesi mengajar lumayan bikin stres juga lho Mir. Kenapa juga kau masih ingin kembali ke camp pelatihan?" Ucap ku berkomentar.
"Stres bagaimana sih, Kak? Mengajar itu kegiatan yang menyenangkan. Bukankah rasa nya puas bila kita bisa turut berperan dalam mencetak generasi terbaik yang baru untuk negeri kita sendiri?" Jawab Amir berfilosofis.
Aku memberinya tatapan penuh arti. Tahu benar kalau alasan nya menghabiskan masa tua nya di kamp pelatihan adalah karena di tempat itu ia memiliki aktifitas rutin yang dapat menyibukkan diri nya sepanjang hari.
__ADS_1
Dibanding bila harus melalui hari-hari sepi sendirian di rumah tanpa ada kegiatan yang berarti? Jelas ini lebih membuat stres bukan?
Rasa kesepian adalah penyakit yang menyerang jiwa seseorang secara perlahan. Begitulah yang ku yakini.
Hari-hari ku terus berlanjut. Hingga akhirnya Minggu week end pun tiba jua.
Nila benar-benar datang menjemput ku tepat pukul sepuluh. Dan ternyata, Mark mengikut pula dalam mobil yang dikendarai oleh Nila.
"Kau ikut juga, Mark?" Tanya ku heran.
"Tentu saja, Pa! Mark jelas tak akan melewatkan hari ini dengan begitu saja. Mark ingin lihat bagaimana reaksi princess kita nanti, Pa, usai pertemuan hari ini selesai? Hahaha! Pasti akan sangat menyenangkan untuk mengabadikan nya dalam kamera!" Seloroh Mark sambil tertawa lepas.
"Kakak! Jangan kelewatan tega gitu dong?!" Kecam Nila begitu kesal nya.
Sementara aku yang mendengarkan ucapan kedua anak ku itu masih juga kebingungan tak mengerti.
"Memang nya, kita mau ketemu siapa sih?" Tanya ku lagi entah pada Mark ataupun Nila.
Mark seketika berhenti tertawa. Kali ini, ia melayangkan cengiran jahil nya kepada ku.
"Nah.. soal itu, kita akan lihat nanti ya Pa!" Ucap nya misterius.
Setelah satu jam perjalanan, kami akhirnya tiba di sebuah rumah satu lantai namun memiliki halaman yang cukup luas.
Rumah ini tampak sederhana namun asri dengan berbagai hiasan tanaman dan juga pohon Mangga.
"Assalamu'alaikum!" Sapa kami bertiga pada lenghuni rumah.
Tak lama kemudian, terdengar suara sahutan dari dalam sana.
"Wa'alaikum salam warohmatullah.. ah.. kalian sudah datang. Ayo masuk! Mama sudah tak sabar ingin bertemu dengan mu, Bang!" Ucap seorang lelaki yang cukup ku kenal baik itu.
"Ini rumah mu, Bib?" Tanya ku terkejut saat melihat lelaki di hadapan ku itu.
"Iya, Bang. Ayo masuk!" Ajak nya kemudian.
Begitu memasuki rumah tersebut. Jantung ku berpacu sedikit lebih cepat. Aku mulai bisa menebak, identitas orang yang akan ku jumpai sesaat lagi.
Dia adalah..
***
__ADS_1