Meretas Rasa

Meretas Rasa
Pneumonia


__ADS_3

"Oh! Baru ingat! Seperti nya Mama pernah ngomong tentang. Mie goreng spesial deh. Jangan-jangan maksud nya mie spesial ini ya?" Gumam Mark ragu-ragu.


"Apa yang Mama mu ucapkan, Mark?" Tanya ku penasaran.


"Waktu itu Nila pernah bawa pulang mie ayam ke rumah buat kita makan bareng-bareng. Waktu itu masih ada Papa Kiyano juga sih.." ujar Mark bercerita.


Seketika mood ku langsung memburuk begitu mendengar nama Kiyano disebut. Namun, ucapan Mark berikut nya membuat hati ku jadi jungkir balik.


"Tapi terus Mama komentar, kalau mie goreng buatan Papa Erlan jauh lebih enak!"


Deg. Deg.


Mendengar ucapan Laila yang dikutip oleh Mark tadi, aku pun merasakan rasa nyes di hati untuk ke sekian kali nya.


"La..laila bilang begitu.??" Tanya ku dengan pandangan melamun.


"Iya. Bang. Mark baru ingat, kalau Mama pernah bilang begitu."


Sesaat, suasana di ruang TV itu pun kembali diisi dengan keheningan.


Dan kali ini aku tak memecahkan keheningan yang begitu pekat ini karena benak ku dipenuhi oleh kilasan kenangan ku lain nya tentang Laila.


Merasa tak lagi mampu untuk menahan gempuran rasa di dalam dada, akhirnya aku bergegas pamit kepada Mark.


"..Mark! Pa.."


Tenggorokan ku seketika tercekat. Aku hampir saja menyebut diri ku sendiri dengan panggilan "papa" di hadapan Mark.. detik berikut nya, aku sudah mebgoreksi ucapan ku kembali.


"Aku masuk ke kamar duluan ya!" Ucap ku bergegas meninggalkan rhang TV tersebut.


Tepat sebelum langkah ku benar-benar keluar dari ruang TV, aku pun teringat pada satu hal yang akan kulakukan besok nanti.


"Dan, untuk dua hari ke depan, benar gak apa-apa kalau aku gak pergi kerja dulu nih?" Tanya ku memastikan.


"Iya, Bang. Gsk apa-apa. Pergi aja bantuin Karina. Yah.. siapa tahu dengan begini aku kan jadi punya poin plus di mata nya," seloroh Mark mengajak bercanda.


Aku memberinya senyuman tipis. Sulit bagi ku saat ini untuk menangkap humor dalam ucapan Mark tadi. Karena benak ku masih berkabung dalam kenangan ku atas Laila.


Setelah mengangguk sekali lagi, aku pun langsung menaruh piring bekas makan ku di wastafel, lalu masuk ke kamar ku untuk beristirahat.


Ku harap aku bisa menemui Laila ku di alam mimpi. Jikalau pun aku tak bisa bertemu dengan nya di sana, maka aku berharap agar Tuhan berbaik hati untuk memupuskan rasa rindu yang ku tujukan untuk Laila saat ini.

__ADS_1


Karena kerinduan yang tak tersalurkan terhadap seseorang, hanya akan membuat penikmat nya merasakan sesak yang tak berkesudahan.


***


Keesokan pagi nya, Mark berangkat bekerja seorang diri. Sementara itu aku membereskan rumah terlebih dulu, sebelum aku mengunjungi rumah tetangga ku. Rumah orang tua nya Karina.


Begitu masuk melewati pagar yang tak terkunci, ku pencet bel rumah sebanyak dua kali.


Lalu pintu pun terbuka. Dan tampak lah Karina dalam gaun rumahan nya, daster motif bunga yang panjang nya mencapai betis.


Aku sempat terperangah selama beberapa saat. Jika kami masih berada di Nevarest saat ini. Dan Karina juga sedang memakai gaun kebangsawanan para emak seperti sekarang ini, tentulah semua orang di Nevarest akan geger.


Bagaimana tidak? Seorang ratu dari kerajaan Goluth terlihat memakai daster lengan pendek dengan motif bunga-bunga? Tidak kah itu akan membuatnya terlihat seperti rakyat biasa?


"Ehemm!! Sorry. Aku belum sempat ganti baju. Tadi buru-buru jadi gak sempat mandi dan ganti baju. Lagipula hari ini aku ambil cuti sehari," ucap Karina terlihat sedikit malu.


"Cuti?" Tanya ku heran.


"Iya. Soalnya Rinaya mendadak demam tinggi. Jadi aku buru-buru hgajak dia berobat tadi pagi," ungkap Karina menjelaskan.


"Oh.. pantas.. tadi pagi jam setengah tujuh aku sempat ke sini. Tapi kata Penjaga kebun yang bukain pintu, kamu gak ada." Jawab ku simpul.


"Kamu tadi pagi ke sini, Lan?" Tanya Karina terheran-heran.


Tadinya aku berniat untuk mengawal Karina sejak keberangkatan nya menuju sekolah tempat ia mengajar. Siapa yang tahu kalau aku bisa menangkap keberadaan penguntit nya Karina lebih cepat?


"Oh! Iya ya. aku lupa.. maaf ya, Lan.. aku lupa ngabarin ke kamu kalau aku cuti dulu hari ini. Jadi, hari ini kamu gak kerja dong berarti?" Tanya Karina memastikan.


Dan aku pun menggelengkan kepala ku.


"Ya ampun! Maaf ya, Lan! Maaf banget!"


"Gak apa-apa. Santai aja!" Jawab ku menenangkan Karina.


Tak beberapa lama kemudian..


"Eh! Aku kelupaan lagi. Maaf Lan. Masuk, ayo masuk ke dalam! Keasikan ngobrol, aku malah nganggurin kamu di depan pintu! Hehehe.." kekeh Karina dengan pandangan menahan malu.


Aku pun kemudian mengikuti langkah Karina ke dalam rumah nya.


Rumah orang tua Karina ternyata jauh lebih luas dibanding rumah Mark. Mungkin ini dikarenakan ruangan di lantai satu hampir sepenuh nya dijadikan sebagai ruang tamu. Jadi, sepenglihatan ku rumah nya jadi terlihat lebih luas.

__ADS_1


Setelah duduk, Karina menawari ku minuman.


"Mau minum apa, Lan? Teh, kopi, atau jus?" Tanya Karina menawarkan keramahan.


"Apa aja, Rin. Gak usah repot-repot,"


"Ah gak, repot kok! Sebentar, aku buatin dulu minuman nya ya!" Ujar Karina lalu beranjak bangun dan menghilang ke area dalam rumah.


Tak berselang lama, Karina kembali muncul. Begitu ia sudah kembali duduk, aku pun menanyakan tentang kondisi Rinaya pada ibu kandung nya tersebut.


"Jadi, Rinaya sudah berobat, Rin?"


"Sudah. Untung langsung ditangani sama dokter. Kalau enggak..".wajah Karina kemudian ku nilai sedikit memucat.


"Memang nya Rinaya sakit apa, Rin? Tanya ku lagi.


"Pneumonia, Lan.."


"?!! Pneumonia?!" Aku terkejut bukan main.


Setahuku pneumonia adalah sejenis demam yang harus diwaspadai oleh setiap orang dari semua kalangan umur.


Telat penanganan sedikit saja, maka nyawa lah yang menjadi taruhan nya.


Pneumonia, atau yang biasa dikenal juga dengan istilah radang oaru-paru merupakan sejenis infeksi yang menimbulkan peradangan di salah satu atau kedua kantung paru-paru, yang bisa berisi cairan.


Gejala umum nya berupa batuk berdahak, demam, menggigil, serta kesulitan bernapas.


"Terus kondisi nya gimana sekarang? udah membaik?" tanya ku cemas.


"alhamdulillah sudah, Lan. demam nya udah turun. tapi dia sekarang masih dipantau di rumah sakit. Aku baru saja mau mandi dan ganti baju, baru pergi ke sana lagi. Agak buru-buru juga sih. Soalnya tadi Rinaya ku titipin sama Bibik di sana," imbuh Karina.


"Kalau gitu, boleh aku ikut kamu ke rumah sakit?" pinta ku kepada nya.


"Boleh.. tapi kamu gak berangkat kerja aja kah?" tanya Karina.


"Kan aku juga sudah ambil cuti untuk dua hari ini, Rin? mau masuk kerja jam segini sih enggak lah! gak enak sama pegawai yang lain!" jawab ku lugas.


"Oh. okay.. kalau gitu, tunggu sebentar deh ya. aku mau mandi dulu!" ujar Karina sebelum bergegas kembali masuk ke area dalam rumah nya.


***

__ADS_1


***


__ADS_2