
Dua pekan berlalu sudah sejak kepindahan ku dari tidur di atas pohon hingga kini tidur di gudang samping rumah Laila.
Secara perlahan, hubungan ku dengan Nila pun kian membaik. Ia mulai jarang nyinyir terhadap ku. Bahkan ku nilai, akhir-akhir ini aku sering mendapati nya bersikap malu-malu.
Biasanya itu terjadi bila aku selesai menolong nya membawa barang-bsrang dari bagasi setiap kali dia pulang dari kampus. Atau membantu nya mengangkat benda-benda lain yang terlihat berat.
Secara perlahan kasih sayang ku sebagai seorang Papa bagi Nila pun mulai mengisi sanubari ku. Ku sadari benar ada bagian ku pada diri Nila setelah interaksi kami selama beberapa pekan terakhir ini.
Seperti misal nya, Nila selalu mengusap tengkuk nya setiap kali ia hendak menyembunyikan sesuatu atau juga sedang merasa malu. Seperti yang ku dapati dilakukan nya pada suatu rabu sore yang gerimis itu.
Hari itu, hujan deras turun hampir seharian di kota kami. Laila ku saja selalu terbaring di atas kasur nya.
Akhir-akhir ini Laila enggan untuk keluar dari kamar nya. Ku pikir mungkin karena cuaca hujan yang juga terlalu dingin. Jadi bawaan nya memang agak berat juga untuk berpisah dari kasur. Seperti kebiasaan nya sewaktu muda dulu. Hahaha.
Selesai mengucapkan selamat malam kepada Laila ku, aku hendak kembali ke kamar gudang. Namun mata ku menangkap sosok Nila yang berlari-lari kecil menerabas hujan saat ia baru keluar dari mobil nya.
"Kenapa baru pulang sekarang? Malam banget pulang nya, Nil?" Tegur ku mengkhawatirkan nya.
Aku bergegas mengambil handuk di dalam rumah, untuk kemudian ku lap kan ke kepala nya yang telah basah sempurna.
Saat itu, waktu menunjukkan pukul setengah sepuluh malam.
"Tadi ngerangkum nilai dulu. Kan baru selesai ujian minggu kemarin," jawab Nila yang menggigil kedinginan.
Dengan lembut, ku lap kan handuk itu ke kepala dan wajah Nila berkali-kali. Masih sambil tetap menggerutu kepada nya.
"Kan bisa dikerjakan di rumah. Biar kamu bisa pulang cepat. Kalau sudah kemalaman gini kan, repot juga. Memang nya kamu mau mandi malam-malam begini?" Tanya ku lagi perhatian.
Aku tahu benar jawaban yang akan dilontarkan oleh Nila kemudian.
"Enggak mau lah! Mandi malam-malam nanti bikin rematik lagi!" Seloroh Nila, dengan jawaban yang sama seperti biasa nya.
Ini memang bukan pertama kali nya Nila pulang malam-malam kehujanan. Dan ia memang selalu memberiku jawaban itu, lagi dan lagi.
Jawaban nya itu mirip seperti jawaban Laila ku dulu, yang juga paling malas kalau disuruh mandi usai kehujanan.
'kamu mau aku rematik, Yang? Gak perlu lah mandi malam-malam! Cukup minum vitamin aja!' jawab Laila ku dulu
"Hh.. ya sudah. Terserah kamu deh. Tapi ingat tuk minum.."
Ucapan ku disambung segera oleh Nila.
__ADS_1
"Vitamin! Iya. Iya. Erlan ku yang cerewet..!"
"?!! Erlan.. ku?"
Saat itu, aku sedang mengusap wajah Nila dengan handuk yang ku pegang. Jadi saat aku mendengar nama ku disebut Nila dengan embel-embel "ku" seperti tadi. Aku pun langsung memberi Nila pandangan aneh.
Menyadari kalau ia telah salah ucap, waja Nila langsung merah padam. Seperti nya ia merasa malu. Sehingga sedetik kemudian, Nila langsung menjambret handuk yang ku pegang, lalu berlari masuk ke dalam rumah tanpa mengatakan apa-apa lagi.
"Huh? Nila kenapa ya? Apa jangan-jangan dia demam?" Aku sibuk menerka sendiri.
Setelah itu, aku pun kembali ke kamar gudang ku. Dan kejadian malam itu tak lagi kubahas keesokan hari nya saat aku bertemu lagi dengan Nila.
***
Beberapa hari berikut nya, hujan yang sama terus mengguyur kota kami. Aku mulai tak suka dengan hujan ini. Karena Laila ku jadi semakin mengendapkan diri nya di dalam kamar.
Bahkan kebiasaan di kamar ini juga turut mempengaruhi nafsu makan Cinta ku. Laila mulai enggan untuk makan. Kata nya sih, mulut nya terasa pahit.
"Kalau begitu, makan jeruk dulu ya bia rmulut nya gak pahit, Yang?" Aku menawarkan jeruk pada Laila.
Sayang nya, lagi-lagi Laila menggeleng. Setelah menolak jeruk yang ku sodorkan pada nya, Laila malah kembali tidur. Aku mencoba membangunkan nya untuk makan siang, karena saat itu memang sudah lewat dari jam makan nya.
"La.. Sayang.. makan dulu ya? Biar cepat sembuh.." bujuk ku merayu.
"Hhh.."
"Mama mulai malas makan ya, Lan?" Tanya suara di belakang ku.
Aku menoleh dan menatap langsung sepasang mata yang menyerupai mata milik tubuh ku yang dulu. Dan mata itu kini di copy dalam tubuh putri ku, Nila.
Aku sudah tak ambil pusing dengan panggilan "Lan" yang selalu keluar dari mulut Nila. Bagi ku yang terpenting adalah aku sudah mendapat ijin dari Nila untuk menemani Laila ku selalu.
Jadi urusan Nila memanggil ku dengan nama langsung juga tak terlalu ku pusing kan.
"Iya. Apa perlu minta vitamin penambah nafsu makan ya dari dokter?" Gumam ku sambil kembali memandang wajah Laila.
"Besok nanti aku beli deh ke dokter Shara," sahut Nila.
Dokter Shara adalah dokter yang menangani Laila di rumah sakit kemarin.
"Ya," jawab ku tak bersemangat.
__ADS_1
Aku sedang dikhawatirkan dengan kondisi Laila ku saat ini. Jadi aku abai dengan keberadaan Nila di dekat pintu.
Tadi nya kupikir Nila sudah kembali ke kamar nya, karena aku tak lagi mendengar suara di belakang ku.
Setelah memastikan kalau Laila ku telah pulas tertidur. Aku pun bergegas menaikkan selimut hingga menutupi tubuh nya. Tak lupa pula kecupan sayang ku sematkan pada kening Laila.
"Have a sweet dream, Yang.." bisik pengantar tidur dari ku untuk Laila.
Saat aku berbalik, aku terkejut. Karena ternyata Nila masih berdiri menyandar ke dinding di dalam kamar. Ia menatap ku cukup intens. Sehingga aku sampai berpikir kalau aku telah melakukan sebuah kesalahan pada nya.
"Kamu kenapa, Nil? Jangan berisik ya. Mama mu baru saja tidur," aku mengingatkan Nila.
Cukup lama Nila tak menjawab. Namun kalimat yang keluar dari mulut nya kemudian, membuat ku terkejut setengah mati.
"Hey, Lan! Seperti nya aku mulai kenyukai mu. Jadi, bisa kah kau menyukai ku juga?" Tanya Nila dengan pandangan berani.
Sontak aaja, aku pun langsung memelototi nya saat itu juga.
'apa kata Nila tadi? Dia me.. menyukai ku?! Oh.. mungkin maksud nya, dia mulai menyukai ku sebagai orang baik ya??' benak ku mencoba menenangkan diri.
Aku pun berusaha memastikan arah ucapan Nila tadi. Aku berharap maksud ucapan nya itu sejalan dengan perkiraan ku. Ku harap Nila menyukai ku bukan dalam konteks rasa suka dalam hubungan romansa.
"Maksud kamu, kamu suka aku karena aku baik kan, Nil? Ah! Ucapan mu itu membuat ku kaget sekali, Nil. Ya. Ya. Aku juga menyukai mu. Tentu saja!"
'Karena kamu kan, putri ku bersama Laila..wanita yang paling kucintai di dunia ini!' lanjut batin ku bicara.
Ku berikan Nila senyuman ku yang paling cemerlang. Namun Nila tak membalas senyuman ku. Ia malah memalingkan wajah nya ke arah yang lain. Dan ku kira perhatian nya kini adalah pada sosok Laila yang terbaring diam di atas kasur.
"Bukan begitu, Lan... Maksud ku.. aku tuh suka kamu, seperti kamu yang menyukai.. Mama ku. Begitu maksud ku.." ucap Nila dengan suara lirih.
"Hah?!!"
Aku terkejut setengah mati. Benar-benar terkejut dengan pernyataan Nila tadi.
"Su..suka.. cinta, maksud kamu, Nil?!" Tanya ku lagi memastikan.
Dan jawaban itu pun kembali ku dapat, dalam bisikan pelan yang Nila lirihkan. Dan aku pun akhirnya mendapati kebenaran atas ucapan nya itu, dalam dua kristal indah milik Nila yang kini kembali menatap ku intens.
Ya. Nila mengatakan, kalau ia mungkin mulai mencintai ku sebagai lelaki.
'Ya Tuhan!'
__ADS_1
***