
"Mark, aku adalah Erlan. Papa kandung mu!" Ucap ku dengan pandangan teguh.
Ku lihat Mark langsung terdiam saat mendengar pengakuan ku barusan. Ada jeda sekitar satu menit lama nya sebelum akhirnya Mark kembali menemukan suara nya.
"Ehem! Sebelum nya saya berterima kasih kepada Bang.. maaf. Saya lupa kita belum berkenalan bukan? Saya Mark. Eh, tapi tadi Abang sudah tahu ya nama saya? Hahaha.." Mark tertawa garing.
Sayang nya usaha Mark itu tak bisa menghilangkan kecanggungan di antara kami saat ini.
"Nama ku Erlan, Mark. Dan aku adalah Papa kandung mu. Maksud ku, secara jasmani, tubuh ini memang milik orang lain. Namun spirit yang ada di dalam nya adalah spirit milikku sendiri. Aku adalah Erlan, Mark. Aku bersungguh-sungguh!" Ucap ku lagi dengan keyakinan yang teguh.
Hening kembali mengisi suasana di antara kami. Kupandang Mark lekat-lekat. Dan aku semakin yakin kalau dia benar adalah putra ku bersama Laila.
Mata ku kembali mengembun. Hampir saja tangis ku kembali tumpah, jika saja tak ku ingat kalau aku harus menampilkan citra diri sebagai ayah di hadapan Mark saat ini.
Bukan kah akan sangat memalukan bila kita menangis di depan anak kita sendiri?
Tentang kejadian di dalam ruangan Laila tadi, itu adalah perkecualian. Karena saat itu aku memang benar-benae terfokus pada Laila ku saja. Jadi aku tak mempedulikan keberadaan orang lain nya.
"Ehm! Maaf kan saya bang...Erlan. Tapi coba Abang pikirkan baik-baik. Apakah yang barusan Abang katakan tadi itu hal yang masuk di akal? Spirit? Tubuh? Bukan kah berarti Abang mengatakan kalau saat ini Abang sedang kerasukan?" Tanya Mark mencoba berpikir rasional.
Sudah ku duga Mark tak akan langsung memp3cayai ucapan ku. Tapi aku cukup terkesan dengan cara nya bersikap. Seiya nya, ia tak sebrutal Nila dalam menghakimi ku.
'hh..'
Mengingat perlakuan Nila kepada ku tadi, tak bisa dipungkiri kalau aku jadi merasa sedih.
Maksud ku, ayah mana juga sih yang tak akan sedih bila ia diusir dan ditolak oleh putri kandung nya sendiri? Yah, walaupun saat ini aku belum bisa mencintai kedua nya seperti layak nya cinta seornag ayah kepada anak-anak nya.
Tapi tetap saja kan, mereka berdua adalah anak-anak ku. Anak-anak hasil cinta ku bersama Laila.
"Papa.."
Aku terdiam. Merasa canggung karena menyebut diri ku sendiri dengan panggilan Papa. Terutama saat yang ku hadapi adalah anak ku sendiri yang baru ku junpai saat mereka audah sedewasa Mark saat ini.
Akhirnya aku pun langsung mengoreksi oanggilan ku pada diri aendiri.
"Maksud ku, aku sudah menduga kalau kau mungkin akan kesulitan untuk mempercayai ini. Tapi Mark, percaya lah. Di luar dunia ini, sungguh ada dunia lain yang sulit untuk dijelaskan secara akal. Dan aku sudah pernah singgah ke dunia yang oenuh dengan keajaiban itu," papar ku menjelaskan.
__ADS_1
Mark menggeleng-gelengkan kepala nya berkali-kali. Ku maknai itu sebagai ketidakpercayaan nya atas ucapan ku tadi.
Akhirnya aku pun kembali bicara.
"Aku bisa menjelaskan kepqda mu semua hal tentang Mama mu, Laila. Kapan kami menikah. Kapan kami bertemu. Siapa nama kakek dan nenek mu. Apa kegemaran mereka. Dan juga tentnag Bibi Arline mu. Aku jelas mengetahui nya dengan sangat baik. Bagaimana pun juga dia adalah saudari kembar ku," ucap ku lebih lanjut.
"Kalau begitu, coba beritahu aku, apa yang Abang ketahui!" Pinta Mark kemudian.
Aku mengangguk singkat. Sebelum akhirnya menjelaskan semua hal yang ku tahu tentang Laila, Mama Ilmaya, Papa Gilberth, dan juga Arline.
Di saat aku bercerita tentang Arline, aku jadi teringa dengan suami nya.
"Sayang sekali Arline sudah pergi dari dunia ini. Jadi dia tak bisa meyakinkan mu tentang identitas ku yang sebenar nya. Tapi mungkin Paman kalian, kapten Amir bisa mengenali ku. Dia masih hidup, kah?" Tanya ku penuh harap.
"Ada. Tapi sudah lama kami lost contact dengan Paman," jawab Mark dengan wajah menyesal.
Harap ku pun menyusut.
"Kenapa begitu?" Tanya ku tak percaya.
"Tugas? Memang nya dia belum dinonaktifkan? Bukan kah usia nya sudah cukup lanjut?" Aku bertanya lagi.
Seingat ku, usia Amir jauh lebih tua dari ku dan juga Arline. Sekitar hampir sepuluh tahun di atas usia kami.
"Belum. Mungkin tugas yang diambil Paman adalah tugas office atau menjadi pelatih. Yang saya dengar sih begitu," jawab Mark lagi.
"..."
"..."
Pupus sudah harapan ku untuk mendapatkan seseorang yang bisa mengenali ku sebagai Erlan. Pada akhir nya, satu-satu nya orang yang bisa kuharapkan saat ini hanya Laila ku saja. Dan dia juga satu-satu nya alasan ku untuk menjadi diri ku yang lama.
"Mm.. mungkin sebaik nya Bang Erlan pulang saja dulu. Maksud saya, beristirahat, gitu. Siapa tahu nanti pikiran nya bisa kembali jernih," ujar Mark dengan senyuman tak enak hati di wajah nya.
'Hhh.. Mark sungguh tak mempercayai ucapan ku..' keluh ku dalam hati.
"Ah ya! Mau saya antar pulang ke rumah, Bang? Rumah Bang Erlan di mana?" Tanya Mark tiba-tiba.
__ADS_1
"Rumah..?"
'Tentu saja rumah ku adalah di mana Laila tinggal dan berada selama ini!' tukas ku tanpa suara.
Aku ingin memberikan Mark jawaban seperti itu. Namun jelas di situasi seperti aekarnag ini, penjelasan ku itu tak akan disetujui apalagi dipercaya oleh Mark.
Lagi-lagi aku menyesalkan adanya kejadian kecelakaan itu. Apalagi itu terjadi saat sinkembar masih dalam kandungan Mama mereka. Jadilah aku tak memiliki satu kenangan pun yang bisa kuceritakan kepada Mark dan juga Nila.
"Aku tak tahu.." jawab ku sekena nya.
Ku biarkan saja Mark berpikir bebas tentang ku. Satu yang ku pikirkan saat ini hanyalah kesembuhan Laila ku lagi.
Aku tak masalah bila harus tidur di atas pohon sekalipun. Toh tubuh Aro yang ku pinjam ini pun telah cukup sering melakukan nya. Tidur di dahan pohon.
"Tak tahu..? Apa maksud Bang Er.."
Buru-buru ku potong ucapan Mark.
"Pulang lah, Mark. Aku akan tetap di sini. Bukankah Nila menitipkan pesan untuk mu, tadi?" Ucap ku mengingatkan.
"Ah! Abang benar! Kalau begitu, aku pulang duluan ya, Bang. Sekali lagi terima kasih untuk bantuan Bang Erlan hari ini. Saya gak akan melupakan jasa Abang!" Ujar Mark sambil memberi ku anggukan kepala tanda menghormati.
Ku balas segera anggukan kepala Mark tadi. Dan ku dengar Mark kembali menambahkan.
"Kalau Bang Erlan perlu bantuan, jangan sungkan untuk hubungi saya ya, Bang! Ini kartu nama saya. Abang bisa hubungi nomor saya yang tertera di situ," imbuh Mark menutup kalimat nya.
Ku terima kartu nama yang diberikan oleh Mark kepada ku. Entah aku akan memerlukan nya atau tidak, yang jelas aku tetap menyimpan kartu itu dalam saku baju ku.
Mark lalu pamit berdiri untuk segera pergi. Namun, saat langkah nya sudah menjejak di langkah yang ke empat, tiba-tiba saja putra ku itu kembali berbalik, mendekat kepada ku lagi, baru kemudian bicara.
"Mm.. maaf, Bang. Soal cewek kenalan Bang Erlan tadi itu.. nama nya siapa ya?" Tanya Mark sambil tersenyum salah tingkah.
Dan aku mau tak mau jadi kesulitan untun menahan diri dari menggoda putra ku itu lagi.
"Nama nya Karina. Kenapa? Mau ku kenalkan?" Tanya ku sambil tersenyum sedikit menggoda.
***
__ADS_1