Meretas Rasa

Meretas Rasa
Melihat Penguntit


__ADS_3

"Bang..? Bang Erlan?"


Aku tersadar tiba-tiba dari lamunan ku tentang Laila.


Entah sejak kapan terjadi, tapi aku terkejut ketika ku sadari kalau wajah ku telah basah kini.


"Ee.."


Aku hendak bicara, namun tenggorokan ku serasa tercekat. Gumpalan yang menyesakkan dada ku saat ini membuat ku kesulitan untuk berkata-kata.


Ku pandangi Mark yang kini menatap khawatir dari tempat duduk nya di seberang ku.


"Abang gak apa-apa?" Tanya Mark bernada khawatir.


Aku menganggukkan kepala ku sekali. Berusaha menenangkan Mark dari mengkhawatirkan ku.


"Ehem!" Aku sengaja berdehem untuk melegakan tenggorokan ku yang tercekat. Baru setelah nya aku bisa kembali bicara.


"Aku.. oke. Maaf. Tadi aku teringat pada Mama mu, Mark. Laila..Ehem!"


Lagi-lagi aku berdehem. Menyebut nama Laila ku saja sudah langsung mengembalikan gumpalan yang sama dan kini kembali menghimpit kerongkongan ku.


"Dia.. yah.. kau tahu, Mark? Dia itu wanita istimewa lagi luar biasa yang pernah ku kenal sepanjang umur ku ini.." ucap ku terjeda.


Setelah nya, aku buru-buru menambahkan.


"Maksud ku, saat aku masih menjadi Erlan yang sebenar nya ya. Sebelum kecelakaan itu maksud ku.. haha!" Aku tertawa hambar.


Dan Mark pun sama seperti ku yang tak bisa menangkap komedi pada apa yang ku ucapkan barusan.


Akhirnya, suasana di ruang TV itu pun kembali menjadi canggung.


Aku menggaruk leher ku yang tak gatal. Tak berani menatap Mark lagi selama beberapa waktu.


Lalu..

__ADS_1


"Kuruyuukk...."


Suara unik terdengar meraung kencang dalam ruang TV yang saat itu sedang hening. Asal nya adalah dari perut Mark di hadapan ku.


Pandangan ku pun seketika terangkat. Hingga akhirnya mata kami kembali beradu. Dan tak lama kemudian..


"Buaha hahhaahhaaa!!" Aku dan Mark sama-sama tertawa bahak.


Selama beberapa waktu, kami menghabiskan sisa tawa kami.


"Maaf ya, Bang. Perut saya ini memang sering gak bisa diajak kompromi. Kalau sudah waktu nya makan ya kayak tadi tuh. Langsung bunyiin terompet nya sekencang-kencang nya. Kadang saya jadi malu sendiri kalau ada meeting dan perut saya tahu-tahu bunyi nyaring," ungkap Mark berkisah.


"Hmmpph...!!" Aku menahan diri untuk tidak menertawakan Mark lagi.


Tapi, mendengar suara kuruyuk nya Mark, aku lagi-lagi diingatkan pada kebiasaan Laila yang juga memiliki kebiasaan serupa.


Dulu pun, Laila ku sering menegur ku bila waktu makan sudah tiba. Sering nya kan aku lalai tak bergegas makan. Dan Laila yang menunggu ku makan pun akhirnya mengomel panjang lebar setelah perutnya berbunyi nyaring menahan lapar.


Akhirnya sejak ku tahu tentang bel di oerur Laila ku itu, aku tak pernah lagi membiarkan Laila ku kelaparan.


'Ahh.. La.. lagi-lagi selalu saja ada yang bisa membuat ku rindu pada mu. Dan lonceng di perut Mark itu La.. hahahaha.. dia sungguh copyan dirimu, Yang..' gumam ku tertegun.


Aku tergeragap kaget dan kembali dibuat malu karena telah ketahuan melamun kan Laila untuk kesekian kali nya.


"Jadi Abang mau makan apa malam ini?" Tanya Mark kemudian.


Ia sudah siap memegang gawai nya untuk memesan makanan kembali via online.


"Mm.. bagaimana kalau malam ini kita makan..indumie saja?" Aku mengusul kan menu favorit nya Laila dulu.


"Huh? Indumie? Yakin, Bang? Memang nya itu bakal bikin kenyang perut kah, Bang?" Tanya Mark terlihat sangsi atas menu yang ku sarankan itu.


"Yah.. sesekali tak apa-apa juga kan bila kita makan indumie buatan sendiri. Soal mengenyangkan, jangan khawatir. Aku tahu cara membuat indumie yang mengeyangkan perut!" Ujar ku percaya diri.


"Oh.. Bang Erlan bisa masak?" Tanya Mark terperangah.

__ADS_1


"Yah.. kalau cuma menyeduh indumie sih aku bisa, Mark. Tapi menu indumie yang akan kubuat nanti ini adalah menu spesial yang dulu diajarkan Laila kepada ku," aku mengungkapkan rahasia ku tentang Laila kepada Mark.


"Maksud Bang Erlan, Mama yang ajarin Bang Erlan masak indumie?" Tanya Mark kembali terperangah.


Dan hati ku seketika menghangat. Ucapan Mark tadi sedikit menunjukkan kalau ia percaya bahwa Laila yang sedang ku bincangkan adalah Mama kandung nya sendiri.


"Ya. Menu indumie spesial ini adalah resep yang diajarkan oleh Mama mu kepada ku dulu. Apa kau mau coba membuat nya sendiri?" Aku mengundang Mark untuk pergi ke dapur bersama ku.


"Mm.." Mark terlihat ragu untuk sesaat. Namun kemudian..


"Boleh deh, Bang. Tapi, saya gak punya stok indomie. Saya beli ke market di depan dulu ya sebentar?!" Mark menawarkan diri untuk membantu.


"Mm.. sebaiknya, untuk menghemat waktu, mungkin biar aku saja yang pergi belanja. Maksud ku, aku bisa menggunakan kekuatan ku kan, Mark? Jadi tak sampai sepuluh menit, aku mungkin sudah akan kembali lagi. Kira-kira.." ucap ku menjelaskan.


Mark terdiam lagi sambil memberi ku tagapan yang sulit untuk diartikan.


"Nah. Sepertinya itu memang ide yang bagus. Abang jelas lebih pro soal lari cepat ya, Bang? Hahaha!"


Mark tertawa lebar. Sementara aku ikut tersenyum saja.


"Kalau begitu, aku pergi sebentar, Ya, Mark!" Pamit ku kemudian.


"Iya, Bang. Hati.."


Aku tak sempat mendengar kelanjutan ucapan Mark berikut nya. Karena saat ia mengatakan itu, aku sudah melesat jauh di jalan besar komplek perumahan tersebut.


Aku lalu pergi belanja ke minimarket terdekat dan membeli bahan-bahan makanan yang akan ku masak. Setelah itu aku bergeas kembali ke rumah Mark.


Sayang nya, di perjalanan ku menuju pulang, aku mendapati sesuatu hal yang mencurigakan.


Tak jauh di depan ku, ku lihat Karina sedang mengendarai motor tanpa menggunakan helm.


Meski aku tak melihat wajah nya, aku yakin benar kalau wanita di depan ku itu adalah Karina. Karena selama enam bulan di Nevarest aku bertugas untuk menjadi bodyguard nya.


Yang membuat ku khawatir adalah adanya sebuah motor lain yang berkendara tak jauh di belakang Karina. Dan terlihat jelas kalau pengendara motor tersebut sedang membuntuti Karina.

__ADS_1


"Apa itu adalah orang yang dikatakan Karina sering membuntuti nya akhir-akhir ini?" Tanya ku sambil melesatkan lari.


***


__ADS_2