
"Tapi kan, Papa Kiyano udah nitipin Kakak untuk jaga Lala kan?!" Tanya Nila kembali.
Mendengar nama Kiyano disebut, perhatian ku atas perbincangan mereka pun semakin tinggi.
'Kiyano? Apa hubungan nya dia dengan Lala dan juga anak-anak?!' tanya ku dalam hati.
"Ya Kakak akan penuhi janji Kakak pada almarhum Papa. Kakak akan menjaga Lala, sebagai seorang kakak, sampai Lala menemukan lelaki yang pantas dan bisa mencintai nya setulus hati," jawab Mark diplomatis.
"Kakak tega!" Kecam Nila sambil memberi pandangan sengit.
"Lebih tega lagi kalau Kakak terima perasaan dia, tapi Kakak gak bisa balas perasaan nya. Yang ada nanti dia berharap banyak ke Kakak, Nil. Mengerti lah!" Ujar Mark tak mau kalah.
"Tapi kan.." Nila masih tak sependapat dengan Mark terkait Nila.
"Nil. Udah lah. Tolong jangan dibahas lagi soal ini. Kakak udah kasih jawaban ke Lala. Dan itu adalah keputusan final Kakak. Kamu gak bisa ikut campur soal ini, Nil!" Ujar Mark mengingatkan.
"Huuuh! Kakak payah!" Ledek Nila.
"Iya, Kakak memang payah. Gak semahir kamu yang suka mainin perasaan cowok!" Balas Mark meledek Nila.
"Hey! Jangan fitnah deh!" Kecam Nila sambil melirik malu ke arah ku.
Padahal dalam hati ku pun aku sebenarnya ingin sekali tertawa. Jika benar ucapan Mark itu, maka Nila pun mirip sekali dengan Laila semasa muda nya. Laila ku pun gemar sekali mempermainkan perasan ku dan juga beberapa lelaki yang menyukai nya.
Ku lirik Laila ku yang sedang menatap ku bingung. Dengan menahan untuk tak tertawa, ku dekatkan mulut ku ke telinga Laila. Selanjutnya, aku berbisik pelan hanya untuk nya.
"Kamu juga dulu sering mainin perasaan ku, Yang. Kamu ingat kan waktu kita liburan ke pantai bareng teman-teman staff OB?" Bisik ku mengingatkan.
Flashback.
Malam itu, aku dan teman staff OB lainnya jalan-jalan ke pantai Pelangi.
Di suatu kesempatan, wajah ku dan wajah Laila hanya berjarak sepuluh senti saja. Ku amati wajah nya yang ayu dalam penerangan api unggun di tengah lingkaran kawan-kawan ku. Dan aku terpesona. Tak lagi mampu mengalihkan pandangan ku pada hal lain nya.
Secara naluri, aku mendekatkan wajah ku ke Laila. Dan kulihat ia bergeming tak menjauhi pendekatan yang ku lakukan.
Aku semakin berani untuk mendekatkan wajah ku lagi.
Deg. Deg. Badump. Badump.
Jantung ku semakin berdentum kencang tak terkendali.
Di saat aku hampir mengira kalau ciu man pertama ku dengan Laila akan terjadi, tiba-tiba saja Laila menguap lebar tepat di depan wajah ku.
__ADS_1
"Huaaaaahhhmmm..." Laila menguap selebar-lebar nya. Ia benar-benar menguap lebar di depan wajah ku yang masih terpesona dengan keayuan wajah nya.
Seketika suasana roman yang sempat tercipta pun jadi ambyar. Dan aku pun langsung mengeluh kepada Laila.
"Ya ampun, La. Kamu di rumah sempat makan jengkol ya? Kok bau jengkol sih?" Keluh ku sambil mengusap wajah ku berkali-kali. Aku berusaha menutupi rasa malu ku karena tadi Laila telah menolak halus pedekate yang ku lakukan.
Sementara itu Laila ku lihat masih dalam posisi yang sama. Menopangkan kepala nya di atas lutut yang terangkat sambil menoleh ke arah ku.
"Iya. Tadi siang emak bikin gorengan bakwan jengkol. Enak lho, Lan!" Sahut Laila sambil menyengir tak bersalah.
"Kamu tuh ya. Jadi cewek jangan kelewat bar bar napa? Kalau menguap tuh mulut nya ditutup. Jangan malah mangap lebar kayak kuda nil," gerutu ku lagi bercanda.
Laila kembali menyengir kuda. Meski begitu, aku menangkap rasa bersalah di antara binar mata nya yang indah.
"Woy, Laila Majnun! Giliran Lo nih sekarang! Jangan asik asikan aja sama Erlan napa? Kita masih ada nih di sini!" Ku dengar suara Bagas yang memanggil Laila.
Merasa sebal dengan mulut kompor nya itu, Laila langsung melempar sebuah ranting kecil ke arah Bagas. Sayang sekali, Bagas berhasil menangkap nya.
"Kok udah bagian aku aja sih?" Laila mengajukan protes.
"Maka nya, dari tadi lihatin dong tuh botol. Mulut nya kan ngarah ke Lo, La. Ya jadi sekarang giliran Lo lah!" Oceh Bagas.
Aku menengok ke arah botol di pertengahan lingkaran ini. Dan ternyata benar. Mulut botol itu memang mengarah pada Laila.
"Hmm.. truth aja deh. Gak berani lah dare. Soalnya ide dare di kepala kamu tuh rada ekstrim," komentar Laila atas tantangan dare yang tadi dilemparkan oleh Bagas kepada Theo. Di mana Bagas menantang Theo untuk mencium pacar nya di depan kami.
"Oke. Siap-siap ya, Non!" Ucap Bagas sambil mengusap-usapkan kedua telapak tangan nya. Ku lihat wajah Laila terlihat was was pada apa yang akan ditanyakan oleh pemuda tengil itu.
"Kapan ciuman pertama Lo terjadi?" Tanya Bagas sambil menyengir lebar.
Aku langsung menoleh ke Laila. Tertarik untuk mendengar jawaban nya.
"Belum pernah," jawab Laila langsung.
Dan aku tersenyum senang.
'Jadi dia belum pernah ciu man? Berarti dia belum pernah pacaran dong ya?' gumam batin ku kesenangan.
"Hah? Lo belum pernah ciuman? Berarti Lo belum pernah pacaran dong ya? Masa iya?!" Tanya Bagas tak percaya.
Ku lempari Bagas dengan ranting di dekat ku. Sebal karena ia seolah menuding Laila ku sudah sering berci uman dengan lelaki lain.
"Itu pertanyaan ke dua. Aturan nya kan cuma satu pertanyaan atau satu tantangan aja di game ini. Jadi, aku no komen untuk pertanyaan ke dua kamu ya, Gas," jawab Laila dengan nada santai.
__ADS_1
Dan aku langsung memberikan Laila dua tanda jempol milik ku.
"Sial. Oke. Lo bener!" Bagas mengaku kalah.
Dan Bagas pun kembali memutar botol nya. Sayang nya, mulut botol kembali mengarah kepada Laila. Membuat Bagas seketika kembali menyengir kuda. Sementara Laila langsung cemberut macam burung perkutut.
'Hahaha! Manis benar Laila..' aku mengomentari nasib malang nya Laila.
"Hahaha! Lo lagi ya, La! Hmm.. siapa cowok yang lagi dekat sama Lo sekarang ini?" Tanya Bagas kembali.
Laila terdiam sejenak beberapa waktu. Hingga mendadak perhatian semua orang jadi terarah kepada nya.
"Ya, Erlan lah!" Jawab nya lantang.
Aku tersentak kaget.
Deg. Deg.
Badump. Badump.
Mendadak suasana terasa lengang. Tapi tidak dengan suara jantung ku yang terdengar berdentum kencang.
'Laila menganggap ku sebagai lelaki terdekat nya? Apa itu berarti.. kesempatan ku untuk menembak nya saat ini adalah wakti yang terbaik?' gumam ku dibalut oleh dilema.
Sayang nya, gegap gempita dalam hati ku itu harus mengempis seketika, manakala ku dengar ucapan Laila berikut nya.
"Kamu gak lihat apa si Erlan jelas banget duduk paling dekat sama aku, Gas. Mata mu mulai ngantuk ya!" Ucap Laila.
Laila memang duduk diapit oleh ku dan juga Mbak Arum. Jadi jawaban mya tadi cukup masuk akal juga. Karena Memang aku lah lelaki yang sedang dekat dengan nya saat ini.
Aku terperangah. Dan juga sedikit agak...merasa kecewa.
'Ahh.. lagi-lagi dia hanya bercanda.. pandai benar Laila memainkan perasaan ku..' keluh ku dalam hati.
Serta merta gelak tawa pun pecah membahana. Dan Laila menyengir lebar karena berhasil mengerjai Bagas.
Merasa kesal pada Laila, ku acak-acak saja rambut nya yang tergerai indah. Ingin rasa nya aku membalas nya dengan perlakuan yang sama. Namun sayang, niatan ku itu harus melebur tatkala Laila memberi ku senyuman termanis milik nya.
'Hhh.. Laila.. aku sungguh sudah terlalu dalam jatuh dalam perangkap mu, La..' keluh ku dalam hati yang dipenuhi oleh perasaan cinta.
Flashback selesai.
***
__ADS_1