
Berbagai pilihan berbaris di benak ku. Antara menangkap penguntit tersebut sekarang juga, atau mengiringi Karina hingga aman pulang kembali ke rumah nya.
"Tapi itu benar penguntit Karina atau bukan juga masih bisa diperdebatkan. Ah, sebaiknya aku ikut mengiringi Karina saja dulu dari belakang. Seperti nya dia juga hendak pulang," gumam ku pelan seraya melesat berlari.
Tak sampai lima menit kemudian, Karina dan motor yang ia kendarai lalu masuk ke dalam rumah orang tua nya. Dan setelah ku amati, pengendara motor yang tadi menguntit Karina ternyata terus melaju ke ujung komplek.
"Oh.. ternyata aku salah menduga. Sepertinya dia juga warga di komplek ini.." gumam ku pelan.
Aku pun langsung masuk ke dalam rumah Mark dan menemukan nya masih duduk di depan TV.
"Mark, aku sudah pulang. Kita masak sekarang?" Tanya ku menyapa nya.
Mark terkejut dan sempat terlonjak kecil dari tempat duduk nya.
"Heh! Aduh! Bang ngagetin aja! Abang udah pulang? Abang beli indumie nya di mana?" Tanya Mark terheran-heran.
"Di mini market depan. Di pinggir jalan besar itu lho!" Jawab ku sambil melangkah menuju dapur.
"Hah?! Itu kan lumayan jauh, Bang! Naik motor juga perlu waktu dua puluh menitan!"
"Kamu lupa ya sama kemampuan ku tadi?" Aku malah balik bertanya.
Dan Mark pun terperangah di tempat nya kini berada.
"Ayo! Kita masak! Kami juga harus bisa masak menu indumie ala Mama mu ini, Mark!" Seru ku mengajak nya.
Tak lama kemudian Mark mengikuti langkah ku menuju dapur. Namun begitu sampai di sana, sebuah kekacauan telah menunggu kami.
Ku tatap bungkusan belanjaan yang baru saja beli. Aku tadi membeli beberapa bungkus indumie, sosis siap saji, bakso, bumbu balado praktis, saos, kecap, minyak sawit dan juga telor.
Nah, ternyata telor yang kubeli telah pecah hampir seluruh nya. Dari delapan butir telor yang ada dalam satu pak nya, hanya tersisa dua saja yang tak pecah. Hanya retak saja. Sementara keenam telor lain nya telah pecah dan cairan isi nya meluber keluar dari bungkusan pak nya.
Isian telor itu lalu meluber dan membasahi kemasan indumie dan juga sosis yang ada dalam kantong kresek yang ku bawa
"Bang, ini telur kenapa bisa pada pecah begini??" Tanya Mark dengan senyum meledek.
Kugaruk rahang ku yang sebenarnya tak merasa gatal. Dan aku sungguh merasa malu saat aku menatap mata Mark yang jelas menertawai kecerobohan ku itu.
"Hahaha!! Mestilah karena kekuatan lari super nya Bang Erlan deh yang bikin itu telor pada terkocok-kocok sampai pecah berantakan! Kalau udah begini, mau dijadiin apa nih, Bang, telor nya?" Lanjut Mark meledek.
"Yah.. kita gunakan yang masih bisa kita gunakan saja, Mark!" Aku berusaha tetap bersikap santuy. Padahal sebenarnya aku sungguh merasa malu.
Aku lalu meminta Mark untuk mendidihkan air di panci. Sementara aku membersihkan kemasan sosis dan juga mie yang terkena cairan telur tadi, dengan cara membasuh nya dengan air yang mengalir.
__ADS_1
Selanjut nya, ku potong-potong sosis dan juga bakso siap saji menjadi potongan-potongan kecil. Dan Mark menyeduh mie nya terlebih dahulu.
Setelah mie matang, aku meniriskan nya dari air didihan. Kemudian aku menumis bumbu balado praktis dengan monyak secukup nya. Setelah aroma harum nya tercium, ku masukkan potongan sosis dan juga bakso ke dalam wajan, barulah ku masukkan mie yang tadi telah ditiriskan agar tercampur menjadi satu.
Setelah nya, ku aduk-aduk semua bahan tersebut hingga merata semua bumbu nya, ku beri tambahan bumbu indumie nya separuh nya, dan juga sedikit tambahan kecap serta saos.
"Sudah! Jadi deh.. mie goreng ala Laila!" Ucap ku begitu aku selesai mematikan api kompor.
"Hmm.. wangi banget nih, Bang.. auto lapar deh!" Komentar Mark auto menjadi mood buster bagi ku.
"Ayo kita makan sekarang, Mark! Mumpung masih hangat!" Ajak ku kepada Mark.
Kami berdua lalu membawa piring berisi gundukan mie goreng ala Laila ke ruang TV. Di sana, kami pun langsung fokus menandaskan makan malam kami tersebut tanpa berkata apa-apa lagi.
Setelah selesai makan...
"Wahh. bang.. asli ini sih enak banget!" Seru Mark memuji hasil masakan ku.
"Padahal bumbu nya praktis kan? Sebenarnya kalau ada tambahan sayur dan jamur juga bakal lebih enak lho, Mark! Rasa-rasa makan spagethie ala restoran jadi nya!" Seloroh ku berkata.
"Duh Bang! Jangan bikin ngiler lagi dong! Ini perut udah kepenuhan banget nih! Eeeegg!" Mark bersendawa keras.
Dan aku tersenyum menyaksikan keriangan di wajah putra ku itu.
"Apa Abang gak berminat untuk jadi chef, kah? Masakan Bag Erlan lumayan enak lho!" Puji Mark tiba-tiba.
Aku menaikkan sebelah alis ku sambil menatap Mark tajam.
"Jangan bilang kalau kamu minta aku untuk jadi chef mu, Mark?" Tuding ku tajam.
Mark lalu menyengir malu karena niat nya ketahuan. Dan aku pun akhirnya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala ku saja.
"Gak bisa lah, Mark!" Jawab ku seketika menolak usulan nya tersebut.
"Memang nya kenapa gak bisa, Bang?" Protes Mark terlihat kecewa.
"Eerrgg!!" Gantian aku yang bersendawa kini.
Setelah melepaskan sisa angin yang terperangkap dalam perut ku tadi, aku pun menjawab pertanyaan Mark barusan.
"Memang nya kamu mau makan mie goreng setiap malam, apa hah?" Ucap ku dengan nada meledek.
"Hah? Maksud nya apa, Bang?" Tanya Mark tak mengerti.
__ADS_1
"Aku cuma bisa masak mie goreng ini aja, Mark. Kebetulan waktu itu Mama kalian maiah hamil muda, dan pingin banget dimasakin mie goreng ini sama aku. Dia mengidam gitu deh!" Ucap ku menjawab rasa penasaran Mark tadi.
"??!"
Ku pandangi Mark yang hanya menatap ku diam saja. Lalu melanjutkan ucapan ku lagi..
"Jadi aku ngebut belajar bikin mie goreng spesial ini deh buat Laila. Dan yah.. aku bisa kan?"
Mengingat Laila, aku jadi merindukan cinta ku itu lagi.
'Hh.. Yang.. aku sudah ngajarin Mark, resep mie spesial mu itu ya! Tapi.. sayang banget karena kamu gak bisa ikut nyicipin mie goreng buatan ku lagi..' gumam ku bersedih dalam hati.
Tersadar kalau aku hampir akan larut dalam kesedihan ku lagi, aku pun buru-buru bertanya kepada Mark.
"Memang nya Laila, maksud ku Mama kamu gak pernah ngajarin kalian (Mark dan Nila) buat mie goreng ini?" Tanya ku heran.
Mark pun menggelengkan kepala nya sekali.
"Gak pernah, Bang. Mama biasanya selalu masakin kita masakan sehat ala Mama. Jarang banget masak yang goreng-goreng dan junk food kayak gini " jawab Mark memberi tahu.
Aku pun mengernyit keheranan.
"Maksud kamu, Mama kamu itu gak pernah masakin mie goreng ini, Mark?" tanya ku lagi.
"Iya. Gak pernah walau sekali pun. Mie seduh biasa pun juga gak pernah, Bang," jawab Mark kembali.
Aku pun terperangah. Padahal seingat ku dulu Laila sering kali berkata kalau ia ingin sering makan mie goreng spesial ini bersama ku dan juga anak-anak kami nanti nya.
"Oh! Baru ingat! Seperti nya Mama pernah ngomong tentang Mie goreng spesial deh. Jangan-jangan maksud nya mie spesial ini ya?" Gumam Mark ragu-ragu.
Perhatian ku langsung tertarik pada Mark kembali.
"Apa yang Mama mu ucapkan, Mark?" Tanya ku penasaran.
"Waktu itu Nila pernah bawa pulang mie ayam ke rumah buat kita makan bareng-bareng. Waktu itu masih ada Papa Kiyano juga sih.." ujar Mark bercerita.
Seketika mood ku langsung memburuk begitu mendengar nama Kiyano disebut. Namun, ucapan Mark berikut nya membuat hati ku jadi jungkir balik.
"Tapi terus Mama komentar, kalau mie goreng buatan Papa Erlan, jauh lebih enak!"
Deg. Deg.
***
__ADS_1