Meretas Rasa

Meretas Rasa
43. Titah Karina


__ADS_3

"Labib kok lama sekali sih, Kak? Memang nya dia ke mana?" Tanya Nila.


Saat itu hanya ada aku, Nila dan juga Mark di ruang tamu. Di hadapan kami, sudah tersedia sepotong cake cokelat berukuran sedang.


Tadi nya Nila ingin membeli dua cake. Namun Mark melarang nya. Menurut Mark, percuma juga bila Nila membeli dua cake. Toh mereka hanya merayakan nya berempat saja di rumah.


Alhasil Nila pun menuruti apa kata kembaran nya itu.


"Sabar aja, Nil. Sebentar lagi juga Labib datang.." ujar Mark menyabarkan sang adik.


"Hh.. sudah mah Lala juga gak bisa datang kata nya. Padahal aku kangen banget sama dia," keluh Nila sambil menyandarkan tubuh nya di punggung sofa.


"Lala lagi ada rapat awal tahun, Nil. Dia pasti lagi sibuk-sibuk nya sekarang. Maklumi aja!" Tegur Mark kembali mengingatkan.


"Iya sih.. dia juga bilang begitu.."


"Eh, sebentar! Kok Kak Mark tahu sih kalau Lala gak bisa datang karena ada rapat awal tahun?" Tanya Nila tetiba.


"Ya tahu lah.. soal nya kakak juga baru selesai rapat tiga hari lalu. Ya kan, Bang?" Mark melemparkan pembicaraan kepada ku.


"Iya, Lan?" Tanya Nila.


"Iya,"


"Nil. Kamu tuh kenapa manggil Bang Erlan pakai nama langsung sih? Gak sopan tahu!" Tegur Mark lebih lanjut.


"Gak sopan gimana sih? Toh umur kita juga kan gak beda jauh. Ya kan, Lan?" Sergah Nila membela diri.


"Tapi tetap saja kan, Bang Erlan itu lebih tua dua tahunan dari kita. Jadi panggil Abang lah!" Mark menyampaikan argumentasi nya.


"Kakak sih iya asik aja manggil Abang-Abang. Kalo Nila mah malu lah! Kesan nya udah kayak manggil ke husband aja..'Abang Sayang..'" gumam Nila dengan suara yang mengecil.


Sesaat suasana dalam ruangan menjadi canggung.


Tok. Tok. Tok!

__ADS_1


"Nah! Itu pasti si Labib. Nil, bukain pintu nya dong!" Titah Mark menyuruh sang adik.


"Dih! Kenapa mesti Nila coba? Kenapa gak Kak Mark aja sih? Atau Erlan tuh yang paling dekat sama pintu!" Elak Nila.


"Dasar gak sopan! Masa iya kita nyuruh Bang Erlan yang lebih tua untuk buka pintu sih?" Sindir Mark.


Aku terkekeh pelan melihat interaksi di antara kedua putra dan putri ku itu. Sungguh, ramai benar jadi nya rumah ini dengan keberadaan kedua nya saat ini.


"Biar aku yang bukain," aku menawarkan bantuan ku.


"Duh! Maaf ya, Bang. Ini pinggang lagi mager banget nih. Habis jemput seseorang dari tempat yang jauh. Tapi orang nya gak punya pengertian. Minimal mijetin kek.. atau ngebeliin minuman kek.." sindir Mark sambil melirik ke arah Nila.


"Lha ini memang nya apa? Kue ini juga kan lebih dari cukup untuk upahin kamu nyetir. kak.. jangan maruk deh!" Balas Nila tak mau kalah.


Aku tak lagi mendengar perdebatan tak berakhir dari dua saudara kembar itu. Perhatian ku kini tertuju pada sosok yang berada di depan pintu rumah Mark saat ini.


"Kamu beneran jadi datang?" Tanya ku heran.


"Iya! Kan aku udah janji mau bantu nyelesain masalah soal anak mu itu kan?" Sahut Karina.


Rambut Karina terurai bebas sepanjang pinggang. Membuat ku tergelitik untuk menyusuri keikalan rambut nya yang bergelombang itu.


"Lan? Jadi, aku boleh masuk kan?" Tanya Karina meminta ijin.


"Boleh. Asalkan kamu jangan ngelakuin hal yang aneh-aneh ya! Bagaimana oun juga hari ini adalah perayaaan ulang tahun kedua anak ku," aku memeringatkan sang mantan ratu Goluth tersebut.


"Ok.. fine. Tapi aku juga minta kamu untuk berkooperasi sama semua yang aku ucapin ya, Lan. Karena aku tahu banget, hal apa yang bisa bikin seorang cewek mundur dari mendekati cowok. After all, aku kan cewek. Paham?" Gantian Karina yang mengajukan negosiasi nya.


Ku kedikkan bahu ku asal.


"Terserah Anda, Ratu!" Ucap ku setuju sambil mengajak Karina bercanda.


"Hahaha.. jangan ingatkan lagi tentang gelar ratu itu, Lan. Kau tahu sendiri bukan, aku menjadi ratu di Goluth itu hanyalah hiasan semata. Padahal sebenar nya aku dan Rinaya hanya menjadi tahanan penjahat itu di istana nya," ungkap Karina sambil tersenyum sedih.


"Hey.. maaf. Kalau candaan ku membuat mu jadi teringat gal yang tak mengenakkan, Rin.." aku meminta maaf.

__ADS_1


Syukurlah, Karina tak lama kemudian bisa kembali tersenyum cerha. Ia tetiba saja menggamit lengan ku. Dan aku buru-buru hendak menolak sentuhan nya itu.


"Rin! Ngapain kamu gandeng aku sih?!" Protes ku menolak gandengan tangan nya.


Karina langsung memelototi ku. Dan aku sedikit gentar saat ia melihat ku dengan tatapan garang nya itu.


"Diam dan ikuti saja semua aksi ku, Lan. Kamu mau putri mu itu menyerah atas perasaan abnormal nya ke kamu kan?" Karina mengingatkan tujuan kedatangan nya malam ini ke rumah Mark.


"Well.. surely yes (ya.. tentu saja)!" Jawab ku mantap.


"Kalau begitu, kamu malam ini adalah milik ku, Lan. Jadi ikuti semua kata-kata ku ya!"


"Ta.."


"No but (Gak ada tapi-tapian)! Just say yes to everything i said, okay (cukup iyakan semua ucapan ku, oke)?!" Karina mendesak ku terus.


"O.oke.. terserah kamu lah.." aku lun akhirnya menyerah.


Dan Karina seketika menyengir lebar setelah nya.


"Nah! That's my boy (nah! Itu baru cowok ku)!" Respon Karina dengan kalimat asal.


"Aku pun hanya bisa tersenyum tipis sambil menggeleng-gelengkan kepala ku. Terkadang, mantan ratu Goluth tersebut sering menunjukkan keangkuhan bak seorang penguasa.


Jadi mau tak mau, orang yang dituntut nya pun akan mengikuti semua yang ia minta. Termasuk seperti ku contoh nya.


Ku ajak Karina masuk ke dalam rumah. Untuk kemudian ku pertemukan dengan kedua anak ku, Mark dan Nila, yang hingga detik ketika aku masuk ke sana, keduanya maish juga memperdebatkan sesuatu.


"Kakak gak usah ikut campur soal perasaan Nila deh! Nila tahu kok sama apa yang Nila mau! Nila yakin, Nila bisa dapatin yang Nila mau!" Suara Nila terdengar bersikukuh.


Aku tak tahu apa yang sedang diperbincangkan oleh kedua anak ku tersebut. Namun setelah mereka melihat ku masuk ke ruang TV, keduanya langsung berhenti berkata-kata lagi.


Sesaat kemudian, ku lihat pandangan Nila terarah pada wanita yang sedang ku gandeng. Dan aku menangkap ketidak sukaan pada binar mata nya.


'Yah.. Ku harap Karina tahu apa yang akan dilakukan nya ini,' harap ku dalam hati.

__ADS_1


***


__ADS_2