
Aku akhirnya tahu kalau motor gede ku ternyata telah diberikan oleh Laila kepada Nunik. Untuk penyebab nya, ku duga itu demi menjaga perasaan Kiyano yang tak menyukai keberadaan motor ku itu.
Hh.. ya sudah lah. Ingin mengakui nya sekarang pun rasanya percuma. Meski sebenar nya aku masih sedikit sebal dengan keputusan nya itu, tapi ku pikir itu akan lebih baik bila dibanding motor ku harus dipreteli atau menjadi rongsokan tua.
Di saat aku hendak menutup pintu pagar, sebuah suara memanggil nama ku.
"Erlan? Kamu sudha sembuh?" Sapa Karina.
Ku lihat ia menaiki motor nya, masih dengan seragam kerja nya yang tadi pagi ia kenakan. Aku mengernyit tak suka saat melihat rok yang ia kenakan agak tersingkap ke atas sedikit.
Karina mengikuti arah pandang ku, lalu ia pun segera turun dari atas motor nya lalu menenteng motor nya maju.
"Mm.. aku masuk duluan, ya!" Pamit nya sebelum akhirnya berlalu.
Sesaat kemudian aku tersadar kalau aku belum menjawab pertanyaan nya tadi.
"Hh.. bagaimana dia bisa naik motor. Bila menggunakan rok seperti itu? Tidak kah dia merasa malu atau apa?" Gerutu ku dengan suara pelan.
Aku lalu masuk ke dalam. Menyusul Mark dan juga Labib yang sudah mendahului ku.
Malam itu, kami bertiga makan satai yang dibawakan oleh Labib.
Saat makan bersama itu lah aku akhirnya bisa mengetahui karakter Labib yang sebenar nya. Melalui perbincangan kami yang jauh lebih akrab pada malam itu.
***
Beberapa hari berikut nya, Labib masih tinggal bersama ku dna juga Mark. Rencana nya ia ingin melamar Nila pada acara dinner di perayaan ulang tahun Nila dan juga Mark.
Setelah oerbincangan panjang ku dengan Labib di beberapa kesempatan, aku akhirnya bisa menilai kalau lelaki itu adalah seorang yang baik, humoris, dan juga agamis.
Labib bercerita kalau ia sebenarnya telah beberapa kali meminang Nila untuk menjadi iatri nya. Terhitung sejak ia mulai bekerja sebagai profesor peneliti Lembaga swasta yang meneliti tentang Arkelologi.
Labib tak pernah meminta Nila untuk menjadi pacar nya. Ia langsung melamar Nila untuk menjadi istri nya. Karena ia tahu, dengan meminang Nila maka itu menjadi bentuk penghormatan tertinggi nya kepada putri ku itu.
"Saaya gak mau pacaran, Bang. Saya takut mengajak Nila berbuat dosa dalam hubungan yang tak halal itu. Saya ingin langsung menikahi nya saja. Tapi Nila selalu menolak saya. Sudah dua kali saya melamar nya. Tapi Nila selalu saja menolak saya," cerita Labib kepada ku di depan balkon.
"Kenapa kamu gak menyerah, Bib? Kenapa kamu gak cari wanita yang lain?" Tanyaku meyelidik
"Itu.. karena saya yakin, Bang. Kalau Nila adalah jodoh saya. Saya yakin seribu yakin, kalau kelak, hati nya pasti akan terbuka untuk saya," jawab Labib dengan keyakinan penuh di wajah nya yang sederhana.
"Apa yang membuat mu begitu yakin, Bib?" Tanya ku lagi, merasa penasaran.
"Karena setiap kali saya selesai shalat istikharah, saya selalu saja memimpikan wajah Nila. Dia, dengan kerudung yang ia kenakan. Tersenyum ke saya, Bang.. ahh, mengingat mimpi-minpi itu, saya jadi ingin memimpikan nya lagi, Bang," imbuh Labib gerlihat berharap.
__ADS_1
"Kamu yakin mimpi itu adalah jawaban Tuhan untuk semua doa mu, Bib?" Tanya ku mencoba untuk menggoyahkan keyakinan nya.
Aku ingin tahu, seberapa teguh pria di deoan ku itu dalam memperjuangkan perasaan nya terhadap Nila kami.
"Saya yakin seyakin yakin nya Bang. Jujur saja. Setelah penolakan yang pertama dari Nila, saya sempat menjauhi nya, Bang. Saya sibukkan diri saya dengan kegiatan-kegiatan di lab. Saya benar-benar tak terpikirkan sama sekali soal Nila selama beberapa waktu," cerita Labib.
"Lalu saya sempat mendekati seorang ukhti. Dia seorang yang pendiam. Shalihah, hafizhah. Kami berkenalan dalam proses ta'aruf. Ta'aruf itu seperti berkenalan melalui perantara seorang guru mengaji atau yang seperti itu lah, Bang,"
"Hubungan kami hampir akan menjejak ke jenjang yang lebih serius. Jika saja pada suatu malam saya tidak memimpikan wajah Nila lagi. Selama tiga hari berturut-turut saya memimpikan wajah nya. Padahal saya hampir melupakan perasaan saya pada Nila, Bang.."
"Dari situ lah saya yakin. Kalau Nila adalah jodoh saya kelak, Bang. Saya hanya perlu bersabar dan terus mencoba yang terbaik!" Ujar Labib dengan pandangan teguh yang membuat ku merasa salut pada pemuda itu.
Melihat Labib, aku pun jadi teringat pada diri ku aendiri. Saat dulu aku menyadari perasaan ku terhadap Laila.
Meski Laila saat itu sedang berhubungan dekat dengan bos kami, Kiyano. Tapi aku tak pernah goyah. Aku memang sempat menghindari Laila. Tapi takdir pada akhirnya kembali mempertemukan kami. Hingga akhirnya kami menikah. Dan hampir memiliki buah hati.
Jika saja kecelakaan itu tak terjadi, mungkin saat ini aku masih..
'Astaghfirullah..'
Buru-buru ku alihkan pikiran ku tentang penyesalan terdalam yang ku rasakan sepanjang hidup ku ini. Kenyataan tentang kecelakaan itu memang masih menyisakan bekas yang sulit untuk ku terima. Bahkan hingga saat ini.
***
Acara dinner ulang tahun si kembar rencana nya akan dirayakan sederhana di rumah Mark. Dan Nila akan menginap juga semalam di sini. Barulah pulang keesokan hari nya.
"Bang Erlan mau ikut jemput Nila?" Mark bertanya kepada ku sepulang kami dari bekerja.
"Mm.. maaf Mark. Aku sudah janji ke Rinaya untuk menjemput nya juga sore ini. Dia pulang dari rumah sakit hari ini juga," jawab ku menolak ajakan nya.
"Ohh.. ya sudah, gak apa-apa. Tapi nanti malam abang ikut acara dinner nya ya. Nila ngeharusin Abang untuk ikut soal nya," Mark mengingatkan ku.
Aku mengangguk dan memberikan janji ku.
"Iya, Mark. Acara nya di rumah kan? Selesai jemput Rinaya, aku gak akan ke mana-mana lagi kok!"
Setelah itu, Mark mengantarkan ku sampai pintu pagar, sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan nya menjemput Nila.
Saat itu hari masih cukup siang. Sekitar jam setengah tiga. Mark memang mengambil ijin pulang lebih cepat. Begitu juga dengan ku.
Aku segera membersihkan diri dan berganti baju. Dan selepas waktu ashar, aku pun bertandang ke rumah di samping rumah Mark.
"Lan, maaf ya, bikin repot kamu lagi. Soal nya Rinaya ngotot banget sih oingin dijemput sama kamu.." sapa Karina begitu ia membukakan pintu rumah nya untuk ku.
__ADS_1
"Iya. Gak apa-apa Rin. Aku juga kan sudah berjanji ke Rinaya. Kita berangkat sekarang?"
Ku cek arloji di tangan kiri ku. Jarum jam menunjukkan pukul empat kurang seperempat.
"Iya. Tapi, kamu beneran bisa bawa mobil gak nih? Kalau enggak, kota minta Pak Adi anterin kita dulu deh.." ujar Karina terlihat cemas.
Ya. Aku menawarkan Karina untuk menjadi sopir nya saat menjemput Rinaya. Tak mungkin juga kan kami menjemput Rinaya yang baru sembuh, dengan motor matic nya?
"Tennag, Rin. Kalau mobil aku sudah cukup sering bawa mobil Mark kok. Jadi jangan takut kalau aku akan menabrak tiang lagi," seloroh ku sedikit mengajak canda.
Karina tertawa lepas.
"Hahaha! Awas saja kalau ucapan mu itu meleset lagi ya, Lan. Aku bakal minta pertanggung jawaban sama kamu!" Ancam Karina sambil memberiku senyuman cerah nya.
Aku ikut tersenyum membalas senyuman nya.
'Dia memang cantik. Pantas saja Mark selalu terpesona setiap kali bertemu dengan nya..' gumam ku tanpa suara.
'Ah! Apa yang ku pikirkan?' ku tegur diri ku sendiri karena melantur berpikiran tentang Mark dan keterpukauan nya pada Karina.
Meskipun saat memikirkan hal itu, aku sedikit merasa tak nyaman. Entah lah. Mungkin.. aku sedikit tak setuju bila Mark memilih Karina yang sudah memiliki anak?
Hmm..
'Akan lebih pas bila Mark memilih Lala. Dia seperti nya gadis yang baik.. Kalau Karina sih pantas nya dengan...' lanjut ku melantur.
Namun lamunan ku itu terpotong oleh teguran dari Karina yang menepuk bahu ku dengan cukup kencang.
"Lan?! Kok malah bengong sih? Ini kunci mobil nya. Kamu yakin kan, bisa bawa mobil? Atau kita naik grab aja deh.. gimana?" Tanya Karina lagi merasa tak yakin pada kemampuan ku dalam mengendarai mobil.
Ku ambil kunci yang sempat akan disembunyikan Karina lagi dari ku. Dan aku pun buru-buru berjalan menuju garasi nya.
Rolling door nya telah terbuka. Tanpa berkata apa-apa lagi, aku pun masuk ke dalam mobil, menghidupkan mesin nya, lalu memarkirkan nya ke luar pagar dengan sempurna.
Begitu mobil sudah terparkir rapih di depan pintu pagar rumah nya, ku buka jendela mobil di sebelah kiri, dan aku pun menyapa Karina yang sedari tadi memperhatikan ku dalam mengendarai mobil nya.
"Gimana? Lancar kan?" Tanya ku sambil tersenyum simpul.
Ku lihat Karina perlahan mengangkat salah satu tangan nya. Lalu ia memberikan jari jempol nya untuk ku.
"Yah.. lumayan lah.." jawab nya dengan senyuman tipis nan menggoda.
Hmm.. dan aku menyukai senyuman nya itu.
__ADS_1
***