
Setelah menegur diriku sendiri, aku pun kembali berkata dengan nada datar.
"Apa itu saja yang ingin kamu bincangkan, Rin? Kalau begitu, aku pergi sekarang ya," ucap ku datar seraya hendak berbalik menuju rumah Mark.
"Tunggu dulu! Kok malah kabur lagi sih? Jadi, gimana dong kelanjutan nya?" Cecar Karina mengejar jawaban dari ku.
"Huh? Kelanjutan apa?" Tanya ku pura-pura tak mengerti.
"Ya kelanjutan hubungan di antara kita lah, Lan! Memang nya kelanjutan sinetron apa! Jangan tiba-tiba tulalit deh!" Rutuk Karina yang kembali kesal.
Aku menahan diri untuk tidak menertawakan tingkah Karina saat ini.
'calm down, Lan.. calm down.. jangan tunjukkan kalau kamu perduli pada nya. Itu hanya akan membuat nya berharap padamu!' lagi-lagi ku ingatkan diri sendiri.
"Kita berteman. Tidak kah itu cukup buat mu, Rin?" Tanya ku datar.
"Hah?!" Karina tampak tak percaya dengan jawaban yang baru saja ku berikan kepada nya.
Wanita itu lalu menatapku lagi lekat-lekat. Hingga membuat ku jengah dan tak enak hati jadi nya.
Ku alihkan pandangan ku ke rambut nya yang mengkilat kemerahan karena biasan cahaya senja di Barat langit. Rambut Karina tampak berkilau indah di penglihatan ku saat ini.
"Teman? Apa kamu sungguh mengatakan itu, Lan? Setelah kita sama-sama menyadari kalau kita aaling suka?" Tanya Karina dengan suara yang mulai meninggi.
Aku kembali menatap mata Karina saat ku berikan jawaban kepada nya lagi.
"Ya dan tidak," jawab ku ambigu.
"Maksud kamu apa sih Lan? Jawaban mu malah bikin bingung tahu!" Gerutu Karina.
Mulut wanita itu tampak mengerucut maju. Dan ini menggelit tangan ku untuk mencubit bibir nya yang sen sual itu.
'Dia sungguh menggemaskan sekali.. ahh.. tidak! Aku tak boleh terlena pada pesona Karina!' lagi dan lagi batin ku mengingatkan diri sendiri.
"Maksud ku, Ya. Kita berteman saja seperti biasa. Dan tidak. Aku tidak menyukai mu, Rin. Apa aku pernah mengatakan nya kepada mu, hm?" Tanya ku berdusta.
Saat mengucapkan dusta tadi. Aku berusaha menahan kontak mata di antara kami. Agar Karina bisa menganggap ucapan ku itu sungguhan benar.
__ADS_1
Selama beberapa detik lama nya Karina menatap ku lekat-lekat dengan tatapan intens nya. Dan aku merasa meriyang dibuat nya.
Setelah beberapa lama, Karina tiba-tiba saja tersenyum tipis. Tipis sekali hingga aku bahkan hampir tak bisa menangkap senyuman nya itu.
"Oke. Jadi, kamu gak suka aku. Itu berarti cuma aku yang suka kamu ya, Lan?" Tanya Karina mengulang untuk memastikan lagi jawaban ku tadi.
Aku pun mengangguk kaku, sebagai jawaban dari pertanyaan nya itu.
"Kalau begitu, apa kamu keberatan kalau aku berdekatan dengan mu?" Tanya Karina dengan nada cuek.
Meksi begitu, aneh nya aku malah merasa hati ku sakit. Terlebih saat aku menangkap ekspresi acuh di wajah nya saat ini.
Dengan keteguhan yang mulai goyah, ku paksakan kembali kepala ku untuk mengangguk kaku. Sebelum akhirnya aku memberikan penjelasan atas jawaban ku itu.
"Ya. Aku keberatan," jelas ku cukup singkat.
Karina mundur selangkah. Sambil melihat ku lekat-lekat.
Kemudian ia mundur kembali dua langkah. Hingga jarak di antara kami kian jauh jadi nya.
Sejujurnya. Hati ku merasa sakit saat ku dapati sikap Karina yang mulai membuat jarak dengan ku itu. Tapi lagi dan lagi ku ingatkan diri ini. Bahwa inilah yang seharusnya terjadi. Aku dan Karina jelas tak bisa menjalin hubungan lebih dari sekedar pertemanan.
"Kalau begitu.." ku dengar kembali suara Karina berkata.
Aku pun memfokuskan pandangan ku lagi ke dalam mata nya. Sepasang nata cokelat yang tak lagi ku dapati kehangatan di dalam nya.
Entah ke mana hilang nya kehangatan itu. Padahal selama ini aku sudah terbiasa menangkap kehangatan dalam pandangan nya kepada ku.
"..kalau begitu.. lebih baik kita tak usah berteman sekalian saja!" Tegas Karina dengan suara lantang.
JDARR!
Aku terkejut bukan main.
"A..apa katamu tadi, Rin?" Tanya ku sedikit terbata-bata.
"Ya. Kita tak usah berteman sekalian saja, Lan," imbuh Karina dengan keteguhan yang tak bisa ku jamah lagi.
__ADS_1
"Kenapa begitu?" Ku dengar sendiri suara ku bertanya pada wanita di hadapan ku itu.
"Karena aku tak bisa berteman biasa dengan lelaki yang aku suka, Lan. Dalam kamus hidup ku, hanya ada jawaban ya dan tidak. Tak ada tapi-tapi atau setengah-setengah. Jika memang cinta, maka aku akan mencintai dengan sepenuh nya. Dan jika pasangan ku tak bisa membalas perasaan ku.."
Karina menggantung ucapan nya lagi.
"..maka akan lebih baik jika aku tak usah mengenal nya sama sekali.. ya. Ku pikir sebaik nya, kita seperti itu saja. Bukan kah ini yang kau mau, Lan?" Tanya Karina, kali ini dengan pandangan sedih.
Aku menangkap luka dalam manik kembar milik nya. Dan itu membuat hati ku nyeri. Detik itu juga aku menyesali ucapan ku tadi. Bila benar luka di mata Karina itu disebabkan oleh keteguhan prinsip ku untuk mencintai masa lalu (Laila).
"Ka.."
Baru juga aku ingin berkata-kata, ucapan Karina berikut nya telah membuat ku mematung di tempat dan tak mampu melanjutkan ucapan ku lagi.
Terlebih dulu Karina mengangkat telapak tangan nya kepada ku. Pertanda agar aku menghentikan ucapan ku.
Aku pun langsung patuh danberhenti bicara. Sampai ku dengar kata-kata menyakitkan itu keluar dari mulut nya.
"Aku benci mengatakan ini pada mu. Tapi.. tak ku sangka kau akan sepengecut ini, Lan! Kau mengecewakan ku!" Ujar Karina, sebelum berbalik dan berlari menjauhi ku.
Tinggal lah aku sendirian di tempat ku berpijak saat ini.
Kehilangan kata-kata. Kehilangan rasa. Bahkan kini, aku juga harus kehilangan wanita yang mulai membuat ku kembali merasakan jatuh cinta.
Benar lah kata pujangga lama. Bahwa mencintai itu bukan hal yang mudah. Namun melepaskan nya jauh lebih tidak mudah.
Seperti rasa cinta yang perlahan ku tujukan pada Karina tanpa disadari oleh hati ku sendiri.. Hingga akhirnya aku tersadar dan memutuskan untuk mengakhiri nya sedari dini.
Ini sungguh tak mudah untuk ku lakukan. Sungguh sungguh tidak lah mudah.
Ku pikir aku tak akan merasakan patah hati lagi. Setelah dulu aku pernah merasakan nya sekali, kala melihat Laila memadu kaish dengan Kiyano sebelum kami menjalin hubungan.
Tapi ternyata, aku kembali dibuat patah hati yang kedua kali nya, oleh ucapan terakhir Karina kepada ku tadi.
Bahwa aku telah mengecewakan Karina. Aku dianggap sebagai seorang pengecut di mata wanita itu. Dan sepertinya, ia juga sudah mulai membenci ku saat ini.
"Ya Tuhan.. kenapa semuanya harus seperti ini?" Sesal ku mengadu pada Sang Pemilik Hati.
__ADS_1
***