
Menit berikut nya, aku sudah duduk di dekat Karina dan juga Rinaya.
Setelah satu potong roti telah habis ditandas oleh Rinaya, ternyata gadis kecil ku itu masih meminta sepotong roti lagi kepada Mama nya.
"Nai mau satu lagi, Ma. Boleh?" Pinta Rinaya pada Karina.
"Tentu boleh, Nai. Mau rasa strawberry lagi? Atau selai yang lain?" Ku dengar Karina menawarkan beragam pilihan rasa.
"Mm.. Nai mau rasa kacang, Ma?"
"Siap, Tuan Putri! Mohon tunggu sebentar ya.." canda Karina seolah mereka masih berada di Nevarest saja.
Selama kedua ibu dan anak itu berinteraksi, aku sibuk memandangi lalu lalang di sekitar kami. Meski begitu, pada akhirnya pandangan ku kembali tertuju pada wajah Karina lagi.
Mungkin merasa kalau ia ku perhatikan lama, Karina pun akhirnya menegur ku juga.
"Kenapa sih lihat-lihat? Memang nya di muka ku ada tompel apa?" Tanya Karina dengan ketus.
Aku tak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum. Maka aku pun akhirnya tersenyum kemudian.
Karina terlihat kesal saat melihat ku tersenyum. Sehingga ia langsung menyumpal mulut ku dengan potongan roti yang dicubit nya dari roti di tangan nya sendiri. Aku menerima suapan nya dengan senang hati.
Setelah potongan roti itu masuk ke mulut ku, aku makin tersenyum lebih lebar lagi. Dan Karina kembali menyumpal mulut ku dengan potongan roti berikut nya.
Meski kali ini potongan nya lebih besar, namun aku tetap membuka mulut ku dan mengunyah nya. Tak lupa juga ku sunggingkan senyuman ku lebih lebar dari sebelum nya.
Dan interaksi di antara kami terus berlangsung seperti itu. Karina terus menyumpal mulut ku dengan potongan demi potongan roti. Hingga akhirnya mulut ku penuh oleh suapan roti dari Karina.
Kali ini, aku tertawa lepas. Puas rasanya melihat Karina yang tampak kesal melihat ku terus tersenyum melihat nya.
"Hahahahaha!" Tawa ku pecah begitu saja. Dengan mulut yang masih dipenuhi oleh potongan roti.
"Ihihi..! Paman Baik lucu! Mama! Nai juga mau disuapin kayak Paman Baik! Aaa..!"
__ADS_1
Aku kembali tertawa saat ku dengar Rinaya berucap seperti itu. Apalagi gadis kecil ku itu langsung sigap membuka mulut nya lebar-lebar.
Dan saat ku lihat reaksi Karima. Ia jelas sangat terkejut karena Rinaya malah ingin disuapi seperti ku oleh nya.
"Eh.. jangan, Sayang.. kalau makan, jangan kebanyakan.. habisin dulu yang ada di mulut!" Tolak Karina dengan halus.
"Tapi Paman? Mama suapin Paman banyak-banyak. Nai juga mau makan banyak-banyak kayak Paman, Ma!" Seru Rinaya tetap bersikukuh dengan rasa iri nya atas nasib ku.
'Hahaha! Kena kamu, Rin! Begitu lah kalau kamu berani mengerjai ku. Gadis kecil ku itu pasti akan ikut membela ku!' ucap ku lewat tatapan ku kepada Karina.
Wanita itu sepertinya paham kalau aku menertawakan posisi nya saat ini. Sehingga dengan sengaja ia kemudian menepuk perutku cukup kencang.
Dung!
Kemudian Karina berkata,
"Itu karena Paman baik punya perut yang besar. Mirip seperti balon, Nai. Jadi kalaupun Mama masukkan makanan sebanyak apapun, pasti perut nya akan melar.. mirip balon..jadi Paman gak akan merasa sakit.." Karina menjelaskan kepada putri kecil nya itu.
"Hey!" Aku langsung protes atas ucapan nya itu.
'Ah.. sengaja benar dia mempermainkan perut ku sesuka hati nya. Ah. Biarlah. Toh perut ku cukup kenyang juga disuapi oleh nya tadi,' gumam ku dalam hati.
"Kalau Nai makan kebanyakan, yang ada nanti perut Nai bisa sakit perut.. Nai gak mau kan sakit perut..?" Tanya Karina pada akhirnya.
Sebuah senyuman terkembang sempurna pada bibir nya yang merah.
"Ooh.. begitu.. enggak deh. Nai gak mau makan banyak-banyak deh, Ma!" Rinaya akhirnya mengikuti apa kata Mama nya.
Lebih lanjut ia berkata lagi.
"Nai gak mau perut Nai sakit. Kan perut Nai masih kecil ya.."
"Iya, Sayang. Buat Nai, makan secukup nya aja ya, Nai. Sedikit-sedikit, yang penting habis. Oke, Sayang?"
__ADS_1
"Oke, Ma.."
Suasana kembali hening beberapa saat. Aku mengira akhir percakapan tadi akan menjadi akhir damai bagi suasana di antara kami bertiga pada sore hari ini. Namun ternyata, gadis kecil ku itu memecahkan ketenangan di sore ini dengan kalimat nya lagi.
"Berarti Mama juga harus makan banyak-banyak dong ya? Kan perut Mama juga besar!" Seru Rinaya tanpa rasa bersalah.
Tak pelak, aku pun langsung saja tertawa bahak di tempat. Sementara Karina langsung memanyunkan bibir nya, tampak sangat kesal.
"Hahahahahha!!"
'Kena lagi kamu, Rin! Itu lah kalau mengerjai ku. Jadi nya kan ucapan mu kena dirimu aendiri!' begitu kiranya komentar ku dalam hati yang tersampaikan lewat tatapan penuh arti ku pada Karina.
Dan Karina terlihat sangat menggemaskan saat ia akhirnya memakan roti di tangan nya dalam satu kali suapan. Padahal itu adalah potongan yang sangat besar.
Wanita itu lalu memelototi ku dan berujar, "Puas, hah?!"
"Ya..ya.. aku puas sekali, Yang.. perut ku juga ke...nyang.."
Senyuman ku seketika membeku. Begitu juga dengan Karina. Kami sama-sama menyadari apa yang baru saja terjadi. Lebih tepatnya adalah kami sama-sama menyadari apa yang baru saja ku ucapkan secara spontan sesaat tadi.
Buru-buru ku alihkan pandangan ku menjauh dari wajah Karina. Setelah beberapa saat, aku melirik kembali ke arah nya. Dan ku lihat ia malah tersenyum penuh arti menatap ku.
Aku pun mendengus. Mencoba menunjukkan kalau aku tak menyukai makna senyuman nya itu. Tapi Karina tak perduli. Ia malah sengaja mendekatkan posisi duduk nya ke tempat ku duduk. Hingga pundak kami bahkan sampai bersentuhan jadi nya.
Setelah itu, ku dengar bisikan nya menggoda di telinga ku.
"..Yang? Yang apa nih? Yang.. untuk Sayang.. atau Yang untuk.."
Tiba-tiba saja aku berdiri. Sehingga Karina hampir terjengkang karena tadi ia sempat menyenderkan tubuh nya ke pundak ku. Namun wanita itu berhasil menjaga keseimbangan dirinya dengan salah satu tangan nya.
Dan aku pun akhirnya harus menerima tatapan kesal nya lagi.
Sedikit merasa bersalah, aku akhirnya tersenyum kikuk ke arah Karina. Setelah itu, aku berpamitan kepada Rinaya, setelahnya pergi meninggalkan pasangan ibu dan anak itu di taman.
__ADS_1
Lama setelah menjauh dari keduanya, ku sadari, kalau kesedihan ku perihal Nila dan juga Laila saat aku baru tiba di taman tadi, ternyata kini telah raib entah ke mana.
***