Meretas Rasa

Meretas Rasa
Menyewa Jasa Aro


__ADS_3

"Jadi, apa yang bisa ku bantu, Karina?" Tanya ku kemudian, usai memakai baju dan menemui Karina lagi di teras rumah.


"Ini.. sebenarnya akhir-akhir ini aku merasa selalu ada yang mengikuti ku ke mana pun saat aku pergi, Lan. Jadi aku takut untuk keluar rumah selama beberapa hari terakhir ini," ungkap Karina menceritakan permasalahan nya.


"Lalu?" Ku dorong Karina untuk lanjut bercerita.


"Jadi, aku kan sekarang aktif mengajar di sebuah sekolah swasta ya. Dan biasanya Rinai selalu ku ajak juga ke tempat ku mengajar," lanjut Karina.


"Tunggu sebentar. Kamu seorang guru?!" Aku terkejut.


Sangat-sangat terkejut. Tak menyangka kalau wanita yang tadinya adalah ratu di kerajaan Goluth dalam dunia yang lain itu kini memilih profesi sebagai seorang guru. Ini berita yang cukup mengejutkan ku.


"Ya. Aku adalah seorang pengajar bahasa Inggris di sekolah Internasional di kota Ini. Memang nya kenapa?" Tanya balik Karina yang tampak nya sedikit kesal usai mendapati ku terkejut kala mengetahui profesi nya tersebut.


"Oh.. tak apa-apa. Hanya saja.. aku cukup terkejut mendengar nya. Secara, kau kan sebelum nya adalah seorang ratu.." imbuh ku menjelaskan.


"Oh! Begitu.. kupikir tadi nya kau meremehkan profesi guru.." komentar Karina.


Dan aku buru-buru menyanggah tudingan Karina.


"Oh! Bukan! Bukan begitu maksud ku, Ratu!mm.. maksud ku, Karina!" Seru ku membela diri.


"Yah.. bisa dimengerti juga sih kalau kau terkejut. Orang tua ku sendiri pun sebenarnya tak menyukai profesi ku ini. Terutama mendiang Papa.. dulu dia berharap agar aku bisa menjadi pengacara seperti nya," ujar Karina dengan pandangan melamun.


"Papa mu seorang pengacara?" Tanya ku tertarik.


"Ya. Tapi itu cerita dulu. Kita kembali membahas masalah yang sedang ku hadapi saat ini, Lan. Jadi, bisa kah kau membantu ku menyelidiki, ada tidak nya orang yang membuntuti ku beberapa hari terakhir ini?" Mohon Karina tiba-tiba.


"Tentang itu.. maaf. Sekarang aku sudah bekerja di kantor Mark. Jadi aku tak memiliki waktu untuk membantu mu," aku menolak langsung permintaan Karina tadi.


"Mark itu pemilik rumah ini, sekaligus juga adalah anak kandung ku di kehidupan ku yang sebelum nya," jawab ku menjelaskan.


"Ooh.. hmm.." Karina seketika tampak kuyu. Melihatnya seperti itu jadi membuat ku tak enak hati.


Baru juga aku hendak mengatakan kalau aku mungkin bisa membantu nya pada waktu hari libur ku tiba. Namun suara Mark telah mendahului ku.


"Saya akan memberikan masa cuti untuk mu selama dua hari, Bang. Jadi, pergi dan bantulah Karina menyelesaikan masalah nya itu," ucap Mark yabg kini telah berganti baju dengan kaos turtle neck serta celana jins.


Melihat penampilan Mark, aku langsung menahan diri untuk tidak tertawa. Putra ku itu sungguh berusaha tampil maksimal di hadapan Karina.

__ADS_1


Ku lirik Karina, dan aku dibuat tertegun saat mendapati wanita itu tersenyum begitu manis ke arah Mark.


"Terima kasih! Kamu baik sekali! Tapi, apa itu tak apa-apa? Dengan cuti itu, aku tak memberikan masalah kepada mu, kan, Lan?" Tanya Karina tiba-tiba menoleh ke arah ku kembali.


"Tenang saja, Rin. Mark ini CEO di perusahaan tempat ku bekerja. Jadi ucapan nya tadi sudah cukup menjadi penjamin bahwa status pekerja ku di sana akan tetap baik-baik saja," ucap ku menenangkan Karina.


"Ooh.. syukurlah kalau begitu. Terima kasih banyak ya, Mark!" Seru Karina dengan wajah berbinar.


"Sama-sama, Karina," Sahut Mark yang kemudian berdiri bersandar ke daun pintu yang terbuka.


"Oh ya. Tadi ku dengar kamu itu seorang guru ya? Waahh.. hebat sekali. Dulu nya, menjadi guru adalah cita-cita masa kecil ku lho!" Seloroh Mark mulai menceritakan tentang diri nya.


Mendengar cerita Mark, akhirnya aku pun memutuskan untuk masuk ke dalam rumah. Aku akan membiarkan Karina dan Mark mengobrol berdua di sana.


"Rin, kamu ngobrol aja dulu sama Mark. Aku mau ke dalam rumah dulu," ucap ku berpamitan.


"Oh.. ya. Baiklah! Kalau begitu. Besok kamu bisa kan menemani ku pergi? Kita tangkap penguntit itu besok ya!" Karina menyampaikan rencana nya.


"Ya. Memang nya besok kamu berangkat jam berapa ke sekolah?" Tanya ku kemudian.


"Jam enam, aku selalu sudah berangkat ke sekolah. Jam mengajar ku dimulai pada jam tujuh," jawab Karina.


"Baik lah. Aku akan datang ke rumah mu sekitar jam enam pagi besok," aku memberikan jawaban atas pernyataan Karina tadi.


Menerima tatapan lembut dari Karina, aku merasa sedikit jengah. Aku oun memalingkan wajah ku ke arah yang lain. Sambil memberinya anggukan singkat.


"Ehemm!!" Mark tiba-tiba saja berdehem.


Aku mengerti dengan kode rahasia yang diberikan nya kepada ku sesaat tadi. Putra ku itu pasti sudah ingin menikmati masa berdua nya dengan Karina.


Maka aku pun kembali melanjutkan langkah ku menuju kamar. Meninggalkan Mark dan juga Karina di teras rumah berdua saja.


***


Aku berada di dalam kamar hingga waktu maghrib tiba. Setelah menunaikan shalat, ku bawa kaki ku menuju ruang tamu. Dan ternyata aku mendapati sudah ada Mark si sana. Ia sedang menyaksikan tayangan berita yang ditayangkan oleh salah satu channel TV.


"Bang!" Sapa Mark saat melihat ku.


Kemudian aku mengambil posisi duduk di bagian sofa yang lain dari yang diduduki oleh Mark.

__ADS_1


"Gimana tadi ngobrol nya sama Karina? Kamu berhasil dapat nomor nya kah?" Tanya ku tiba-tiba.


Entah kenapa aku merasa penasaran untuk mengetahui perjalanan asmara putra ku itu.


"Hh.. boro-boro, Bang! Gak lama setelah Abang masuk ke dalam rumah, Karina nya juga pamit pulang ke rumah nya. Bilang nya sih udah hampir maghrib!" Keluh Mark terdengar lesu.


"Hmm.. alasan yang masuk diakal juga sih. Memang tadi itu sudah mau maghrib kan?" Aku mengajak Mark untuk menerima alasan Karina tadi.


Entah kenapa, mendengar kekuyuan Mark dalam mengejar asmara nya dengan Karina, aku malah jadi merasa lega.


'Hmm.. kenapa aku seperti tak suka ya bila Mark mengejar Karina?' gumam ku kebingungan sendiri dalam hati.


'Oh! Mungkin karena aku berharap Mark bisa mendapatkan wanita yang masih single seperti Lala mungkin? Kalau Karina kan sudah punya anak dari pernikahan sebelum nya. Aku tak yakin dengan kemampuan Mark dalam menjadi ayah sambung secara mendadak,' lanjut ku bergumam dalam hati.


"Yah.. jangan terlalu bersedih. Kau kan bisa memintanya lagi di lain waktu, Mark!" ucap ku menghibur Mark.


"Hh.. gak tahu juga nih, Bang. Rasa-rasa nya Karina selalu enggan berbincang dengan saya lama-lama," keluh Mark lebih lanjut.


"Hey.. jangan patah arang duluan dong, Mark!" Aku menegur nya.


Selama beberapa saat, suasana di ruang TV itu pun menjadi hening seketika.


Sampai kemudian ku dengar Mark kembali bertanya secara riba-tiba.


"Oh ya, Mas. Maaf. Tadi saya gak sengaja dengar perbincangan Abang dan juga Karina," ucap Mark terburu-buru meminta maaf kepada ku.


"Ya. Gak apa-apa, Mark. Santai saja lah!" Ucap ku menenangkan.


"Saya dengar, tadi Karina meminta tolong Abang untuk menangkap orang yang sudah menguntit nya. Benar begitu kan, Bang?" Tanya Mark kemudian.


"Iya. Memang nya kenapa, Mark?" Jawab ku langsung.


"Saya heran saja, Bang. Kenapa Karina gak sewa detektif aja ?" Tanya Karina dengan pandangan bingung.


Dan aku langsung menjawab nya dengan kalimat telak.


"Karena dia sudah tahu kemampuan ku yang sebenar nya, Mark, Kemampuan yang dimiliki oleh tubuh ini saat aku masih berada di Dunia Nevarest sana," jawab ku menjelaskan.


"Ke.. kekuatan?! Kekuatan apa memang nya, Bang?" Tanya Mark terlihat begitu tertarik dengan ucapan ku tadi.

__ADS_1


Dan aku lun bersiap untuk menunjukkan inner power dari tubuh Aro yangs sedang ku inangi saat ini.


***


__ADS_2