Meretas Rasa

Meretas Rasa
Kakak atau.. Pacar?!


__ADS_3

Saat aku sudah berbalik dan berjalan menjauhi Nila, tiba-tiba ku dengar ia kembali berkata.


"Terus sekarang kamu mau ke mana? Balik ke atas pohon mangga ku lagi, huh?!"


Langkah ku tiba-tiba tersendat.


'Nila sudah tahu..' gumam ku tanpa suara.


Saat aku masih terdiam di tempat ku berdiri, ku dengar suara langkah kaki Nila mendekati.


"Kalau aku mau, aku bisa aja laporin kamu sekalian ke Pak Polisi itu!" Ancam Nila tiba-tiba.


"..atas dasar apa?" Tanya ku pelan.


"Tress passing lah! Kamu seenak nya tinggal di pohon milik orang tanpa minta ijin ke yang empunya pohon!" Ancam Nila terdengar menggelikan.


Mau tak mau aku berbalik menghadap nya dan memberi nya senyuman meledek.


'Bukan main putri kita ini, La.. dia benar-benar mirip sekali dengan mu..' lanjut hati ku berkomentar.


"Memang nya, tidur di atas pohon milik orang lain bisa dikenakan pasal ya?" Tanya ku meledek.


"Ya bisa lah! Aku bisa aja bilang kalau kamu mau nyuri buah mangga ku!" Tuding Nila terdengar meyakinkan.


"Bbuahahahaa!! Nila.. Nila.. memang nya sekarang ini pohon mu lagi berbuah ya?" Tanya ku balik.


Dan aku langsung ingin kembali menertawakan putri ku itu, saat ia langsung celinguk ke arah pohon mangga nya.


Aku sih tak perlu melakukan nya. Karena setiap malam nya kan aku aelalu tidur di aana. Jadi aku tahu benar kalau saat pohon mangga nya itu belum berbuah!


'Hahaha!' tawa ku dalam hati.


"Mm... Kalau gitu, aku tinggal bilang kalau kamu juga mau ikutan maling ke dalam rumah ku!" Tuding Nila lebih lanjut.


"Ck.ck.ck.. Nila.. Nila. Kamu lupa ya? Bukan nya tadi kamu ngaku ke pak polisi kalau aku ini teman mu ya? Terus sekarang kamu mau laporin aku juga sebagai maling? Apa gak ngasih laporan palsu itu nama nya? Pikir baik-baik deh, Nil. Jangan gegabah main laporin orang sembarangan! Salah-salah nanti malah kamu yang kena getah nya," aku menasihati Nila.


Nila tampak berang mendengar nasihat ku. Dengan gerakan cepat, Nila langsung meninju perut ku cukup keras..


"Aduh!" Aku mengaduh kesakitan. Karena tinju Nila tepat mengenai luka sayatan di perut ku.


"Rasain kamu!" Dumel Nila.


"Ada apa ini, Mbak, Mas? Kenapa belum ke rumah sakit?" Tanya Pak Polisi yang tadi hampir akan menangkap ku.


Aku dan Nila langsung menengok ke Pak Polisi. Tak jauh di belakang nya, dua maling tadi berhasil diborgol dan kini dalam tawanan dua polisi lain nya. Sementara itu, satu polisi lain bergegas menuju mobil patroli untuk membukakan pintu mobil.

__ADS_1


"Eh, gak apa-apa, Pak!" Sahut ku singkat.


"Ini, Pak! Teman saya ngotot gak mau pergi ke rumah sakit!" Nila mengadu.


Aku melongo tak percaya. Jadilah akhirnya aku langsung diam dan memberi Nila tatapan sengit.


"Wah. Jangan gitu, Mas. Lebih baik Mas nya nurut kata si Mbak. Cepat pergi ke rumah sakit. Nanti besok pagi tolong ke kantor poliai untuk ngasih keterangan," ujar Pak Polisi itu.


Merasa tak enak hati untuk berdebat dengan petugas keamanan itu pun akhirnya aku mengangguk dengan gerakan kaku.


"Baik, Pak!" Jawab ku mengiyakan.


Setelah nya, Nila kembali menarik tangan ku menuju mobil nya. Kali ini aku mengikuti nya tanpa perlawanan lagi.


...


Di perjalanan menuju rumah sakit, Nila menginterogasi ku macam-macam.


"Sejak kapan kamu ada di atas pohon mangga ku? Apa jangan-jangan sejak Mama keluar dari rumah sakit kamu suka nginap di sana? Memang nya kamu gak punya rumah apa?" Tanya Nila bertubi-tubi.


Sekilas, pandangan kami bertubrukan. Dan aku langaung melengoskan pandangan ku ke samping. Aku tak menjawab pertanyaan nya itu. Namun Nila seolah bisa tahu jawaban dari pertanyaan nya itu dari sikap acuh ku tadi.


"Hei! Jangan bilang kalau kamu beneran gak punya rumah?!" Tanya Nila berulang.


"Ya ampun! Kamu beneran aneh ya! Tinggal di atas pohon?! Bisa-bisa nya.. " gumam Nila dengan suara sangat pelan.


Setelah jeda hening beberapa lama, Nila pun kembali bicara.


"Siapa sebenar nya kamu, hey? Tiba-tiba kamu muncul di rumah ku. Dan kamu sepertinya tahu banyak juga soal keluarga ku. Kamu juga perhatian banget sama Mama ku. Jangan bilang kalau kamu itu.."


Jantung ku berdegup kencang saat menanti kelanjutan ucapan Nila.


"Jangan bilang kalau kamu itu... Gi golo nya Mama?!" Tebak Nila dengan asal.


Gubrak!


Kepala ku sungguh terantuk jendela samping mobil dengan cukup kencang.


Aku tak habis pikir, bagaimana pemikiran seperti itu bisa melintas di kepala putri ku?!


Ku berikan Nila pandangan kesal.


"Iya?! Kamu beneran gi golo nya Mama?!" Tebak Nila mengulang.


"Bukan! Jangan ngomong sembarangan soal Mama mu, Nil! Dia mana ada punya gi golo! Laila itu istri yang setia. Jadi dia gak mungkin lah kepikiran untuk punya gi golo!" Omel ku merasa kesal.

__ADS_1


Sayang nya aku maaih melihat tatapan tak percaya di wajah Nila.


"Terus kamu siapa nya Mama, dong? Jangan bilang kalau kamu..."


Lagi-lagi Nila hendak menyampaikan terkaan nya perihal hubungan ku dengan Laila. Mau tak mau aku jadi kembali disergap oleh perasaan gugup. Khawatir bila ia benar menebak kali ini. Dan apakah ia akan mempercayai tebakan nya itu.


'Apa Nila akan sama tak percaya juga seperti Mark, bila ku katakan pada nya kalau aku adalah Erlan, Papa kandung nya?' benak ku bertanya sendiri.


"Jangan bilang kalau kamu itu... Anak Mama di luar pernikahan pertama nya!" Tebak Nila meleset lagi.


Gubrak!


Lagi-lagi kepala ku terantuk jendela samping mobil.


'Bukan main, La.. Nila ini beneran copy an kamu banget sih?! Cara dia berpikir tuh out of the box banget kayak kamu, Yang!' benak ku berkomentar dalam diam.


"Aku bukan anak Mama kamu, Nil! Memang nya Mark gak ngasih tahu kamu soal siapa aku apa?" Tanya ku balik dengan raut kesal.


Bisa-bisa nya Nila berpikir kalau aku adalah anak Laila. Tidakkah dia melihat interaksi ku dan Mama nya selama beberapa hari ini? Yah, walaupun secara kasat mata, memang penampilan muda ku ini bisa juga sih dianggap seumuran dengan nya (Nila).


"Oh.. soal kamu adalah Papa Erlan ku ya?" Sahut Nila dengan alia mengkerut.


Deg. Deg.


Jantung ku kembali berdentum kencang.


'Ternyata Mark sudah memberi tahu Nial tentang ku!' gimam batin ku.


"..ya.." sahut ku singkat.


Aku menanti ucapan Nila berikut nya dengan perasaan penuh harap-harap cemas.


"Hmm.. apa sebaik nya aku bawa kamu ke psikolog juga ya? Seperti nya otak kamu perlu diobati juga," komentar Nila tiba-tiba.


"?!!" Aku diam tergugu.


Tatapan sengit pun kembali ku sarangkan ke wanita di samping ku itu.


"Kamu? papa kandung ku? Duh, gak mungkin lah! Anak kecil aja bisa lihat kalau kita seumuran! Yang ada, kamu sih masih mungkin tuk dibilang sebagai kakak ku atau pacar..ku.." cicit Nila di ujung kalimat nya.


Seketika, suasana dalam mobil pun menjadi canggung.


Entah kenapa aku tak merasa nyaman dengan arah perbincangan kami saat ini.


***

__ADS_1


__ADS_2