
Sesaat kemudian, Nila pun bertanya kepada paman nya itu.
"Paman juga percaya kalau dia ini Papa Nila?!" Tanya Nila tak percaya.
"Ya. Karena Paman sudah membuktikan nya sendiri, Nil. Jadi kamu juga harus percaya kepada nya, oke!" Ujar Amir dengan pandangan teguh.
"Tapi Paman..! Dia ini seumuran sama Nila!" Tukas Nila masih tak percaya.
"Ya. Paman juga awalnya gak percaya. Tapi Paman sudah.."
Aku memotong ucapan Amir itu.
"Sudah lah, Mir. Jangan dipanjangkan lagi. Biarkan Nila dnegan pendapat nya sendiri.. jangan memaksakan kenyataan ini kepada nya.." pinta ku kepada Amir.
"Tapi.." Amir tampak tak setuju dengan permintaan ku.
"Kenyataan? Kenyataan apa sih yang kamu omongin, Lan?! Kenyataan kalau kamu itu sugar baby nya Mama gitu?! Gak aku gak akan percaya sama sekali sama omongan mu!"
"Nila! Jaga ucapan mu! Mana mungkin Kak Laila memiliki sugar baby! Dia ini papa kanding mu, Nil! Paman sudhs membuktikan nya!" Hardik Amir menegur Nila.
"Paman! Jangan mau dibodohi ama ornag jahat ini! Dia itu cuma mau incar harta Mama aja! Dia pasti berharap bisa nikahin Mama sebelum Mama meninggal. Beruntung Mama sudah keburu.."
"Nila! Jaga ucapan mu! Jangan bilang beruntung soal Mama mu yang sudah wafat itu. Apa kamu pikir aku senang dengan kematian nya? Aku kamu pikir aku mengharapkan kematian nya untuk bisa memiliki semua harta nya?!" Giliran ku yang muntab marah saat ini.
Dan Nila terlihat sangat terkejut. Tak menyangka kalau aku yang biasanya pendiam, kini bisa mengamuk marah kepada nya.
"Kak.." panggil Amir berusaha menenangkan ku.
Aku pun tersadar kalau aku telah kelepasan marah. Merasa tak enak hati, aku pun langsung berlalu pergi meninggalkan ruang TV. Sekaligus meninggalkan Amir dan juga Nila yang menatap ku tak bergeming.
Ku tujukan langkah lu keluar rumah. Ku rasa aku butuh waktu untuk menenangkan diri. Begitu berada di teras rumah, ku gunakan inner power ku dan melaju cepat. Dalam beberapa detik setelah nya, aku sudah berada di taman komplek di dekat rumah Mark.
__ADS_1
Aku berdiri menyandar pada sebatang pohon beringin yang sudah tampak tua. Sore itu, ada sedikit orang yang sedang berada di taman. Hanya beberapa anak kecil ditemani oleh ibu dan atau bapak mereka. Serta anak-anak remaja yang sedang duduk berdua memegang gawai nya masing-masing.
Ku pandangi lalu lalang orang di depan ku itu dengan tatapan kosong. Memikirkan tentang kehidupan ku sendiri yang terasa kosong semenjak Laila ku pergi.
Ah.. aneh. Perasaan peras itu mulai tak terlalu sakit lagi ku rasakan. Padahal dulu aku sering merasa sesak dibuat nya, terutama saat ku lalui malam-malam tanpa Laila.
Apa ini pertanda kalau kesedihan ku mulai berangsur pulih? Tapi, aku tetap tak bisa mentolerir perkataan Nila tadi tentang Laila dan aku yang menjadi sugar baby nya.
Dari mana putri ku itu mengenal istilah se vul gar itu? Ku rasa aku sudah banyak melewatkan banyak hal dalam pertumbuhan nya.
"Hh.. La.. bagaimana cara mu menghadapi anak-anak selama ini? Aku bahkan tak bisa menahan emosi ku tadi. Padahal aku seharusnya sadar diri kalau Nila memang masih sulit untuk mempercayai ku sebagai Papa nya.." gumam ku dalam lirihan pelan.
"Hh.. La.. aku tak masalah jika Nila tak mengakui ku sebagai Papa nya. Tapi aku hanya berharap dia memiliki sedikit respect saja kepada ku. Apa itu terlalu berlebihan..?" Lanjut ku bergumam.
Di saat ku rasa dunia ku sepi sendiri tanpa ada siapa pun yang akan mengusik. Tiba-tiba saja aku dikejutkan oleh sebuah suara yang sangat ku kenal baik.
"Paman Baik! Rinai kira siapa..! Ternyata Paman dari tadi ada di sini! Kemari, Paman! Rinai juga sedang piknik!" Seru Rinaya bersemangat dari arah belakang ku.
Aku terkejut bukan main.
Sebuah tikar berukuran 1,5 m X 1,5 M pun menjadi alas tempat Rinaya dan Karina duduk santai berdua tepat di belakang pohon yang sedang ku senderi sedari tadi.
Seketika itu juga aku tertegun. Seingat ku, saat aku datang ke pohon ini, tak ada siapa pun di belakang ku. Karena itu lah saat ini aku sangat terkejut dengan keberadaan dua wanita yang ku kenal cukup baik itu.
Ku amati wajah Karina lekat-lekat. Dan ia maaih saja mengacuhkan ku. Meski begitu, aku menangkap reaksi nya saat menggigit bibir bagian bawah nya. Seoalh-olah ia sedang menahan diri untuk tidak mengatakan sesuatu.
Aku pun berpikir selama sepersekian detik. Dan tahu lah aku. Kalau besar kemungkinan Karina telah mencuri dengar monolog ku sesaat tadi.
'Aargh! Sial sekali!'
Dalam hati ku rutuki diriku sendiri yang begitu abai akan suara di sekitar sini. Sampai-sampai aku bahkan tak menyadari kedatangan Karina dan juga Rinaya ke taman itu.
__ADS_1
'Tunggu dulu! Jangan-jangan dia sengaja duduk di belakang pohon ini untuk mengikuti ku?!'
Sebuah dugaan pun tercipta di benak ku.
Selanjutnya aku menghampiri keduanya, lebih tepat nya menghampiri Rinaya yang sudah berdiri dan hendak menghampiri ku.
Begitu berada di hadapan gadis kecil itu, aku langsung saja bertanya.
"Rinaya sudah lama ada di sini? Dari tadi?" Tanya ku dengan mata melirik ke arah Karina.
Ku lihat ia tadi melirik pula ke arah ku. Namun ia buru-buru mengalihkan pandangan nya lagi.
'Hah! Aku menangkap basah tingkah mu itu, Rin!' ujar ku puas dalam hati.
"Mmm. Sudah, Paman. Sudah lamaaa banget. Ini kami sudah mau pulang.. tapi Nai lapar, jadi Nai mau makan roti dulu satu. Paman mau?" Rinaya menawarkan roti kepada ku.
Alu tertegun bingung.
"Sudah mau pulang?" Aku keheranan.
'Jika mereka sudah mau pulang, itu berarti mereka memang sudah lama berada di sini. Atau apa aku yang tak sadar ya waktu berlalu cepat?' gumam ku dalam hati.
Ku lirik jam di pergelangan tangan. Waktu baru berlalu setengah jam sejak aku tiba di taman ini.
Kemudian, ku dengar kembali Rinaya berceloteh.
"Tadi itu Nai habis jalan-jalan sama Mama, Paman. Terus kita main jungkat-jungkit yang itu tuh!" Tunjuk Rinaya pada permainan yang berbentuk seperti timbangan di kejauhan sana.
'Oh! Apa itu berarti mereka memang telah datang lebih dulu daripada aku. Tapi karena mereka lalu bermain ke area sana. Jadi saat aku datang, aku tak melihat keberadaan mereka? Kalau begitu, aku sudah salah menuduh Karina..'
Benak ku tiba-tiba dihinggapi oleh rasa bersalah terhadap Karina.
__ADS_1
"Oh.. begitu.." gumam ku pelan, diiringi oleh perasaan malu.
***