
"Karena dia sudah tahu kemampuan ku yang sebenar nya, Mark, Kemampuan yang dimiliki oleh tubuh ini saat aku masih berada di Dunia Nevarest sana."
Aku menjelaskan kepada Mark, sebab Karina meminta pertolongan kepada ku.
"Ke.. kekuatan?! Kekuatan apa memang nya, Bang?" Tanya Mark terlihat begitu tertarik dengan penjelasan ku tadi.
"Seperti.." ucap ku menggantung.
Sesaat kemudian, aku melesat pergi meninggalkan titik tempat ku duduk sesaat tadi. Dan berpindah cepat menjadi berdiri tepat di belakang Mark.
Aku lalu berbisik sangat dekat di telinga kiri Mark.
"..ini," imbuh ku melanjutkan ucapan ku tadi.
"Aaahhh!!" Mark menjerit kaget dan langsung berdiri menjauhi ku.
Wajah nya pucat pasi dan memandang takut kepada ku.
"Bb.. bagaimana Abang melakukan nya?! Jangan bilang kalau Abang ini sebenar nya hantu?!!" Tuding Mark yang masih terlihat ketakutan saat melihat ku.
Aku menghela napas letih. Sebenar nya aku tak ingin menunjukkan kekuatan ku ini kepada Mark. Namun karena tadi dia bertanya, jadi ku pikir ia siap untuk melihat nya langsung. Tapi ternyata..
"Aku sudah mengatakan kepada mu kan, Mark. Kalau setelah kecelakaan yang menimpa tubuh asli ku, spirit ku tiba-tiba saja terbangun dalam tubuh ini. Nama nya adalah Aro. Aku juga bingung untuk menjelaskan apa yang menyebabkan hal ini bisa terjadi. Tapi satu hal yang bisa kupastikan kepada mu, Mark. Kalau aku sungguh adalah papa mu, Erlan, dan aku bukanlah hantu!" Ucap ku dengan pandangan tegas.
Lebih lanjut, aku menambahkan.
"Well.. tapi mungkin secara teoritis, aku bisa dibilang sebagai spirit yang merasuki tubuh ini. Aku sendiri tak tahu ke mana kiranya spirit asli dari tubuh ini berada. Tapi yang jelas, keberadaan ku di tubuh ini adalah sesuatu hal yang ada di luar kuasa ku. Dan aku juga tak bisa sesuka hati berpindah ke tubuh orang lain. Jika benar itu yang ingin kau tanyakan sekarang," imbuh ku saat melihat Mark seperti hendak menanyakan sesuatu.
Hening.
Mark perlahan kembali duduk. Namun tidak di sofa tempat nya duduk tadi. Seperti nya ia masih cukup takut kepada ku, karena nya ia agak menjaga jarak dari ku.
Aku mencoba untuk mengerti diri nya. Akhirnya aku pun ikutan duduk di sofa lain yang berseberangan jauh dari Mark. Kemudian kami saling bersitatap selama beberapa waktu.
Mark kini sedang menilai ku. Sementara aku menunggunya bisa menerima ku apa ada nya.
Setelah beberapa lama terdiam, Mark akhirnya kembali berkata.
"Tentang kekuatan yang Abang miliki ini... Apa Abang pernah menunjukkan nya pada orang lain? Maksud saya, selain kepada Karina? Eh, tapi, dari mana Karina bisa tahu tentang kekuatan mu, Bang?" Tanya Mark tampak bingung.
__ADS_1
"Hh.. karena Karina juga pernah tinggal di Dunia lain yang menjadi tempat asal Aro, Mark.." aku menjawab singkat.
"Apa?! Maksud Abang, Karina juga berasal dari sana?!" Tanya Mark terperangah.
Aku buru-buru menggeleng.
"Bukan. Karina bukan berasal dari Dunia itu. Dia berasal dari dunia ini. Bumi. Tapi lalu ia diculik oleh lelaki yang kemudian menjadi suami nya. Dan..ada banyak hal yang terjadi. Yah.. seperti yang sudah kau tahu. Suami nya lalu meninggal, dan.."
Mark lalu memotong ucapan ku.
"Maksud Bang Erlan, suami nya yang kriminal itu?" Tanya Mark, mengingat cerita ku dulu.
"Err.. ya. Dan setelah suami nya itu meninggal, barulah akhirnya Karina bisa kembali pulang ke dunia asal nya di sini. Di bumi ini. Kalau kau tak percaya dengan cerita ku, kau bisa bertanya pada keluarga Karina. Kakak Karina, kau mengenal nya bukan? Tanya saja pada nya nanti. Kau pasti akan tahu kalau Karina memang adalah adik nya yang pernah diculik dulu," ujar ku memberi saran.
Suasana kembai hening. Mark tampak tepekur memikirkan cerita ku tadi. Setelah beberapa lama, Mark kembali berkata.
"Rasa nya sulit untuk mempercayai cerita mu ini, Bang. Tapi.. saya rasa Abang juga tak akan seyakin ini jika memang apa yang Abang katakan itu bukan kebenaran, bukan?" Tanya balik Mark.
Aku mengangguk, mengiyakan kesimpulan Mark tersebut.
"Tapi.." Mark menjeda kalimat nya selama beberapa detik. Dan aku menunggu ucapan berikut nya dengan harap-harap cemas.
"Maafkan saya, Bang. Saya masah belum bisa mempercayai cerita Abang soal identitas Abang yang sebenar nya sebagai almarhum Papa saya. Maksud saya.." Mark kembali memberi jeda pada kalimat nya.
Terhadap konklusi yang dibuat oleh Mark barusan, aku tak bisa berkomentar banyak selain satu kalimat bernada kepasrahan.
"Soal itu, aku pun tak tahu Mark.." jawab ku dengan hati yang kembali digerus oleh rasa sesal.
Dan suasana pun kembali hening. Mark terdiam. Dan aku pun ikut terdiam. Kami sibuk dengan isi pikiran kami masing-masing.
Beberapa saat berikut nya, aku lah yang akhirnya memecahkan keheningan di antara kami.
"Jika aku bisa meminta, aku sungguh ingin kembali ke saat aku bisa lebih lama mendampingi mama mu, Mark. Penyesalan terbesar ku hingga saat ini adalah, karena aku tak bisa menghabiskan waktu untuk membahagiakan Laila lebih lama lagi.."
Dan, ucapan ku pun ikut terjeda. Rasa sesak yang telah ratusan kali ku rasakan pun kini kembali muncul menghimpit dada ini.
Cinta ku.. Laila ku.. betapa aku merindukan nya.. betapa aku ingin kembali menatap wajah ayu nya.. betapa penyesalan ini menyiksa batin dan rasa ku. Hingga aku bahkan tak tahu, apakah kiranya aku bisa terbebas dari rasa sesal ini di sisa hidup ku nanti?
Lalu untuk apa sebenarnya aku kembali ke dunia ini?
__ADS_1
Perjumpaan ku dengan Laila kembali bahkan tak sampai dalam bilangan tahun. Hanya beberapa pekan yang sangat singkat saja.
Laila ku bahkan tak bisa menikmati banyak hal yang ingin kulakukan bersama dengan nya. Ia telah dibawa berlari oleh kerentaan nya. Melayu bersama baya nya yang menua. Hingga akhirnya ia harus menyerah pada kuasa waktu yang menyeret sisa hidup nya hingga ke titik terakhir hidup nya.
Ya Tuhan..! Jika memikirkan tentang hal ini kembali, aku sungguh ingin merutuki takdir!
Tapi.. tidak! Aku tak lagi bisa melakukan hal itu. Karena aku sudah berjanji kepada Laila untuk menjaga kedua buah cinta kami.
Dan.. aku juga mengingat pesan terakhir Laila yang dikhususkan nya untuk ku.
Kalimat itu ia ucapkan beberapa hari sebelum ia menghembuskan napas terakhirnya.
Flashback.
Ku tatap wajah Laila tanpa ada rasa jemu. Sementara Laila ku menatap keindahan matahari yang terbenam di ufuk barat langit sana melalui tembusan di kaca jendela kamar nya.
"Lan..." panggil nya dengan suara lirih yang teramat pelan.
"Ya, Sayang?" Sahut ku segera.
Ku dekatkan wajah ku hingga mendekati wajah Laila. Dan ku dengar suara nya kembali melirih di dekat telinga ku.
"Aku mau kamu bisa hidup bahagia selalu, Lan.." lirih Laila dengan nada letih.
"Tentu saja aku bahagia, Yang.. saat ini pun aku bahagia bersama mu, Yang.." ucap ku dengan bersungguh-sungguh.
Ku lihat Laila ku tersenyum. Begitu manis..
'Ah.. aku selalu jatuh cinta lagi pada nya, setiap kali ia memberiku senyuman semanis itu..' gumam ku melamun.
"Kamu janji ya, Lan.. kamu akan selalu bahagia?" Pinta Laila tampak mengiba.
"Ya, Sayang.. aku akan selalu bahagia bersama mu.." ucap ku mengulangi pernyataan cinta ku.
Dan tiba-tiba aku menangkap kesedihan melintas di mata Laila ku yang indah. Ah.. hati ku serasa patah.
Belum sempat aku menanyakan apa yang membuat Laila ku bersedih. Ketika aku dibuat nya tertegun dengan kalimat berikut nya untuk ku.
"Kamu harus tetap bahagia, Lan.. meski aku sudah tiada nanti.." ucap Laila dengan mata yang menampilkan telaga jiwa.
__ADS_1
Flashback selesai.
***