Meretas Rasa

Meretas Rasa
Laila Sadar


__ADS_3

Cklek.


Ku dorong pintu ruang inap Laila berada hingga terbuka. Dan aku pun masuk ke dalam nya segera.


Begitu masuk, Mark dan Nila yang sedang berdiri di samping kasur tempat Laila ku terbaring seketika menoleh ke arah ku.


Aku mengacuhkan kedua nya. Meski aku pun merindukan kedua anak ku yang telah beranjak dewasa itu, namun prioritas ku saat ini adalah Laila.


"Ada apa lagi ya, Bang..?" Tanya Mark kepada ku.


Langkah ku sempat tersendat usai menerima pertanyaan itu.


'Benar juga. Apa yang seharusnyabku katakan kepada mereka? Mereka sama sekali tak mengenali ku. Jadi percuma juga bila kujelaskan tentang identitas ku yang sebenar nya. Aku harus bertemu dengan orang yang sama-sama kami kenal. Mungkin Papa dan Mama? Itu pun jika mereka masih ada..' batin ku kusut berkecamuk.


'Ah! Ya! Arline! Arline akan bisa menjelaskan kepada mereka kalau aku adalah Erlan. Jadi aku harus menemui Arline sesegera mungkin.'


"Di mana Arline?" Tanya ku langsung.


Seketika ruangan pun menjadi hening. Aku pun lalu tersadar kalau cara ku bertanya telah salah. Akhir nya aku pun kembali mengulang pertanyaan ku.


"Maksud ku adalah.. ee.. bibi! Ya. Di mana Bibi kalian? Bibi Arline?" Tanya ku berkali-kali.


Kabut duka menyelimuti wajah Mark dan Nila seketika.


Entah kenapa aku merasa tak akan menyukai jawaban yang akan kudengar dari mulut mereka. Dan benar saja. Mark lah yang kemudian menyampaikan berita pahit itu kepada ku.


"Bibi Arline meninggal karena kecelakaan, Bang. Setengah tahun yang lalu," jawab Mark dengan lugas.


Aku terperanjak kaget.


'Ya Tuhan! Arline! Jangan kau juga!' pekik ku tertahan di dalam dada.


"Ba..bagaimana dengan kakek dan nenek kalian? Maksud ku orang tua dari Papa kalian?" Tanya lagi.


Mark kembali menghela napas sedih. Belum apa-apa, aku pun sudah merasa ikutan jerih.


"Maksud nya mungkin Oma dan Opa? Mereka juga sudah lama meninggal, Bang. Kejadian nya waktu kami masih SMP. Oma terlebih dulu, baru menyusul Opa satu bulan berikut nya," papar Mark menjelaskan.


Aku langsung terhuyung mundur selangkah dari tempat awal ku berpijak sesaat tadi.


Kabar buruk demi kabar buruk yang ku dengar itu sungguh telah menguras daya semangat ku hingga separuh nya.

__ADS_1


'Itu berarti hanya tinggal aku seorang di antara keluarga ku. Itu pun karena aku meminjam tubuh Aro ini,' aku menyimpulkan dalam hati.


"Maaf, sepertinya Abang mengenal Oma, Opa dan juga Bibi Arline. Apa Abang adalah sepupu jauh nya Bibi Arline?" Tanya Mark berasumsi.


"Aku.."


Aku menahan ucapan ku. Tahu kalau penjelasan ku kini tak memiliki saksi yang bisa membuktikan kebenaran nya.


Orang-orang yang kukenal dan ku harapkan bisa melegalisasikan identitasku aebagai Erlan nyatanya telah pergi dari dunia ini semua nya.


Menyisakan Laila ku seorang, yang, sayang nya juga sedang dalam kondisi tak sadarkan diri saat ini.


Kuusap wajah ku sekali dengan usapan tangan. Aku tak menjawab pertanyaan Mark tadi. Dan memilih untuk mendekati kasur tempat Laila ku terbaring kini.


Begitu sampai di dekat Laila, aku spontan mengusap wajah istri ku itu dengan penuh kasih. Sambil mengusap, aku sengaja menekuk sedikit cuping telinga nya yang bagian bawah. Dan di sana. Di belakang daun telinga itu kulihat sebuah tanda lahir lehitaman sebesar pupil mata berada.


'Dia benar adalah Laila..!'


Seketika aku pun ambruk terduduk di atas lantai. Tak kupedulikan keberadaan Mark dan Nila yang masih ada di ruangan itu bersama ku. Sementara aku menjeritkan kesedihan ku tanpa suara.


"Bang..? Abang kenapa? Abang sakit kah?" Tanya Mark peduli.


Aku tak mendengar suara Nila bicara. Kuduga ia mungkin mengira kalau aku benar-benar adalah orang gila.


"Dia pastilah gila, Kak! Dari awal dia memang sudah bersikap aneh!" Bisik Nila begitu halus.


Aku ingin tertawa sekaligus juga sedih di waktu yang bersamaan.


'La.. begitu mirip nya Nila dengan mu! Dia sama konyol nya seperti mu, La! Maaf, karena aku pulang sangat terlambat.. tapi tolong, beri aku kesempatan untuk membuat mu bahagia lagi.. bangun, Yang.. tolong lah bangun..' mohon ku kepada Laila.


Dan seolah mendengar permohonan ku, tiba-tiba saja aku merasakan pergerakan pada jemari Laila yang masih ku genggam.


Seketika aku pun mengangkat wajah ku. Dan ku lihat perlahan Laila membuka kedua mata nya.


Aku pun kembali bangkit dari atas lantai. Berusaha untuk menunjukkan wajah ku di depan Laila hingga ia menyadari keberadaan ku saat ini.


Mark dan Nila pun menyadari kalau Mama mereka mulai sadarkan diri.


"Syukurlah Mama bangun! Nil, kamu tunggu di sini ya! Kakak panggil dokter dulu! Pamit Mark sebelum menghilang keluar ruangan.


Kini Nila berdiri berhadapan dengan ku. Aku menyadari kalau ia sedang memandang ku dengan tatapan bingung.

__ADS_1


Mungkin pikir nya, kenapa aku begitu peduli dengan kondisi Mama nya. Siapa lah aku bagi Laila?


Hahaha. Aku ingin tertawa dan menangis juga jadi nya. Bila Nila tahu siapa aku yang sebenar nya, ia mungkin akan menganggap ku sebagai hantu yang bangkit dari kubur nya.


Tapi aku mengabaikan keberadaan Nila. Fokus ku saat ini hanyalah Laila semata.


Ku re mas jemari ringkih yang telah mengeriput dalam genggaman ku itu. Mencoba mengalirkan kekuatan yang ku miliki untuk kekasih hati ku yang tengah terbaring lemah saat ini.


"La.. ini aku.." ucap ku lembut selembut kapas yang diterbangkan oleh angin malam.


'..Erlan..' sambung ku dalam hati.


Aku tak kuasa untuk menyebut nama ku sendiri, dalam kondisi masih ada Nila saat ini. Aku khawatir bila Nila benar menganggap ku gila sungguhan. Kemudian ia melarang ku dari bertemu dengan cinta ku, Laila..


Karena nya, untuk sementara waktu, biarlah identitas ku sebagai Erlan akan tetap menjadi rahasia ku sendiri.


Kemudian, Laila menyadari keberadaan ku. Ia menoleh ke arah ku. Dan kami pun bertukar pandang kemudian.


Deg. Deg.


Badump. Badump.


Jantung ku kembali berdentum kencang.


Dentuman yang ku sadari hanya bisa diciptakan oleh tatapan dari sepasang manik milik wanita di hadapan ku kini.


Dentuman yang berdetak sejak pertama kali aku melihat nya dulu di ruang base camp OB. Tempat ku bekerja dulu..


Deg. Deg.


Ba dump. Ba dump.


Jantung ku berdentum terlalu kencang. Hingga perlahan aku merasakan nyeri menyerang sesuatu dalam dada ku. Terutama saat ku lihat Laila yang tampak kepayahan untuk mengeluarkan suara.


Cinta ku mencoba untuk mengatakan sesuatu kepada ku dengan bisikan yang terputus-putus.


"Er...lan.." panggil nya dengan susah payah.


Tes.. tes.. aku menangis di hadapan cinta ku. Ingin ku balas panggilan Laila kepada ku dengan panggila sayang ku kepada nya. Namun tiba-tiba mulutku menjadi gagu. Apalagi tenggorokan ku jadi tercekat setelah nya.


Aku baru bisa balas menyapa nya lagi setelah beberapa waktu lama nya.

__ADS_1


"La .. aku pulang.." jawab ku dengan pandangan yang mengabur oleh air mata nan penuh cinta.


***


__ADS_2