Meretas Rasa

Meretas Rasa
44. Pacar Pura-Pura


__ADS_3

"Hay! Nama ku Karina. Rumah ku tetangga an dengan Mark di sebelah. Kita udah ketemu kan sore tadi?" Sapa Karina pada Nila dengan ceria.


Nila tak bersegera membalas sapaan Karina. Terlebih dulu ia memberi ku tatapan yang seolah ingin mengatakan kepada ku, 'Kenapa wanita itu/Karina ada di sini?!'.


Aku berpura-pura tak mengerti dengan maksud tatapan Nila. Akhirnya demi mencairkan suasana yang terasa canggung, aku pun memberikan sedikit prakata kepada semua orang yang ada di ruang TV saat itu.


"Jadi, Nila. Dia ini Karina. Kami sering saling tolong-menolong. Karena nya malam ini.."


Karina tiba-tiba saja memotong ucapan ku.


"Jadi aku pingin tahu dong, adik nya Mark itu seperti apa. Karena Erlan ku Sayan ku sayang juga sering menceritakan pada ku tentang mu yang sudah dianggapnya sebagai adik bungsu nya," celoteh Karina sesuka hati nya.


Seketika itu pula ruangan TV berubah menjadi hening.


Aku sendiri terperangah pada apa yang baru sja aku dengar dari mulut Karina.


Aku langsung menoleh ke arah nya dan mengerutkan kening. Namun, belum sempat aku mengatakan apa-apa, Mark telah lebih dulu memberikan komentar.


"Kalian seperti nya sangat dekat sekali, Rin.. Bang.. Atau apa saya salah menanggapi hubungan kalian ya?" Tanya Mark meminta penjelasan pada ku.


Aku baru juga hendak menjawab pertanyaan Mark. Namun lagi-lagi Karina telah mendahului ku bicara.


"Yah.. seperti yang kamu lihat, Mark. Kami akhirnya merasa ada kecocokan. Maksud ku, aku sering dibantu oleh Erlan. Dan dnegan kebersamaan yang kami lalui itu, tanpa sadar rasa cinta pun tumbuh di antara kami berdua. Menakjubkan sekali bukan?" Seloroh Karina sambil menyandarkan kepala nya ke bahu ku.


Aku kian terperangah atas ucapan Karina barusan


'Jadi inilah ide sebenar nya Karina? Berpura-pura kalau kami berpacaran? Hh.. menambah masalah saja. Dengan begini, tak hanya Nila saja yang akan terluka. Tetapi juga Mark!' gumam ku sambil menekan kuat-luat tangan Karina yang melingkar di lengan ku.


"Aw!" Karina sempat mengaduh sebentar. Akan tetapi ia buru-buru menutupi aksi mencubit yang ku lakukan pada lengan nya. Baru setelah nya ia melanjutkan omong kosong nya kembali.


"Err.. ku dengar, kamu ulang tahun kan hari ini, Mark, Nila.. selamat ulang tahun ya! Mm tapi aku cuma bisa memberikan barang sederhana saja untuk kalian berdua. Harap kalian bisa menerima niat baik ku ini," tutur Karina dengan sikap santun.


'Pandai berakting benar ternyata Karina. Aku tak menyangka sama sekali,' lanjut ku bergumam tanpa suara.


Ia lalu menyodorkan sebuah kado besar kepada Nila. Akan tetapi Nila tak bergeming. Ia manatap kado yang diulurkan oleh Karina dengan pandangan melamun.

__ADS_1


Akhirnya Mark langsung sigap bangun dari sofa tempat hya bersandar. Lau ia meraih kado pemberian Karina tersebut. Sepanjang itu berlangsung, ku lihat Nila masih juga terdiam.


"**..terima kasih, Karina.. untuk hadiah nya dan juga.. mm.. kehadiran nya malam ini," ucap Mark berbasa-basi.


"Saya gak tahu kalau Abang dan Karina ternyata sudah punya hubungan yang serius. Bang Erlan gak pernah cerita ke saya," keluh Mark terlihat sedikit kecewa.


Aku ingin memberikan penjelasan. Namun tangan Karina memberikan isyarat agar aku tetap diam, sementara ia yang akan menjadi spokes person (juru bicara) ku di malam ini.


"Yah.. kamu tahu sendiri kan, Mark. Abang mu ini memang sedikit pendiam dan juga pemalu.."


Sampai di sini, aku pun langsung emnberi Karina tatapan tak percaya. Bisa-bisa nya dia mengatakan kalau aku pemalu?


Yah.. aku mungkin sedikit pendiam. Tapi pemalu? Jelas tidak. Seperti nya ada persepsi terkait kepribadian ku yang harus ku koreksi lagi di kepala Karina.


"Jadi.."


Kali ini, gantian aku yang memotong ucapan Karina.


"Maaf, sebentar ya, Mark, Nil. Aku mau ngomong sebentar sama Karina.." imbuh ku menyela ucapan wanita di samping ku itu.


Tanpa menunggu jawaban dari Mark atau pun Nila, aku langsung menarik lengan Karina menuju keluar rumah.


"Apa maksud ucapan mu tadi itu, Rin? Sejak kapan kamu mulai memanggil ku dengan sebutan 'Sayang'? Dan sejak kapan aku menjadi seorang yang pemalu di mata mu?" Tanya ku beruntun.


"Syuut.. jangan keras-keras ngomong nya, Lan. Kalau Nila dengar ucapan mu itu, semua usaha ku tadi bakal berakhir gagal!" Tegur Karina memperingatkan.


"Terserah lah! Aku sungguh tak menyangka kalau kamu pandai berakting juga ya? Tapi kenapa kamu harus bawa-bawa aku sih, Rin? Kamu malah bikin masalah ku bertambah tahu!" Protes ku dengan berani.


"Nambah masalah gimana sih, Lan? Jangan ngadi-ngadi deh!" Sahut Karina, mencoba membela diri.


"Ya itu tadi, apa gak nambah masalah nya? Ucapan mu tadi itu jelas bikin Mark jadi salah paham ke aku, Rin. Pikir dia, kita itu pacaran. Padahal kan sebenar nya.."


"Kenapa? Aku memang sengaja juga kok susun rencana seperti tadi," gumam Karina dengan suara yang teramat pelan.


"Maksud kamu..?" Tanya ku tak percaya.

__ADS_1


"Ya aku sengaja aja. Dengan kita berpura-pura jadian, bukan nya Mark dan Nila jadi bisa move on dari kita ya?" Karina meminta pendapat ku.


"...Jadi, kanu juga sudah tahu soal perasaan Mark ke kamu ya?" Tanya ku memastikan dugaan.


Karina mengangguk mantap.


"Iya. Jelas banget kan gelagat nya?"Tanya balik Karina.


"Lagian, Lan. Aku tuh gak ada perasaan apa-apa ke Mark. Jadi, kenapa kita gak kerja sama aja sekalian?" Ajak Karina dengan ekspresi menantang.


Kami saling berpandangan selama beberapa waktu. Dan aku menangkap kejujuran dalam kedua mata di hadapan ku itu.


Karina bersungguh-sungguh dengan ucapan nya tadi. Dia benar-benar ingin membuat Mark move on juga dari nya.


Kalau begini sih, jelas niat kedatangan nya malam ini bukan hanya untuk membantu ku. Melainkan juga untuk menunaikan misi nya sendiri.


"Hh.. aku gak mau ikut-ikutan deh, Rin. Mungkin akan lebih baik kalau kamu pulang saja. Biar nanti aku yang akan jelasin yang sebenar nya ke Mark dan juga Nila," Ucap ku kemudian.


Tanpa menunggu jawaban dari Karina, aku langsung berbalik dan hendak masuk kembali ke dalam rumah. Akan tetapi ucapan Karina berikut nya berhasil menghentikan langkah ku, lagi.


"Lalu apa, Lan? Kamu mau Nila terus-terusan mgegantungi perasaan nya cuma untuk kamu? Di saat seharusnya dia bertemu dengan jodoh terbaik nya, dia ternyata belum siap. Karena masih menyukai kamu. Papa nya sendiri. Kamu mau seperti itu, Lan?!" Tanya Karina masih dengan suara berupa lirihan.


Mencermati apa yang dipikirkan oleh Karina, pada akhirnya aku kembali harus melewati fase gamang dalam mengambil keputusan ke depan nya.


Setelah berpikir beberapa lama, akhirnya aku pun kembali berbalik menghadap tepat ke wakah Karina.


"Baik lah. Aku akan setuju dengan hcapan mu tadi, Rin. Tapi, apa kamu bisa menjamin kalau rencana konyol mu ini bisa berhasil, Rin?" Tanya ku mendesak nya.


"Iya. Tenang saja, Lan. Akan ku buat Nila berpaling dari mu. Hanya saja ini membutuhkan waktu dan juga usaha yang maksimal," seru Karina bersemangat.


"Yah.. kamu atur saja deh, Rin!" Aahut ku asal.


Pada akhirnya aku dan Karina pun kembali masuk ke dalam rumah. Aneh nya, kali ini aku tak lagi mendengar perbincangan Mark dan juga Nila di sana.


Tadi nya ku pikir si kembar sedang kembali ke kamar nya masing-masing. Namun ternyata keduanya sedang saling berdiam diri sambil menatap kue cokelat yang dibeli oleh Nila.

__ADS_1


Nila dan Mark kemudian menoleh ke arah ku dan juga Karina. Pandangan Nila terlihat sangat sengit kala menatap ku tajam.


***


__ADS_2