
"Perempuan tadi sudah menikah ya, Bang??" Mark mencecar ku dengan pertanyaan seputar Karina pada malam hari nya.
Saat itu kami sedang menyantap nasi goreng di ruang TV. Nasi goreng nya kami beli di perjalanan pulang kami dari kantor sore tadi.
Belum selesai makan, Mark tiba-tiba menanyakan perihal status Karina saat ini.
"Iya. Dia sudah menikah. Sudah punya anak juga. Lihat kan anak kecil tadi?" Tanya ku kemudian.
"Iya, Bang. Saya lihat. Itu anak nya dia?" Tanya balik Mark.
Aku mengangguk. Dan Mark pun seketika terlihat lemas.
"Kenapa? Suka ya?" Ku goda Mark.
"Hah.. iya, Bang. Tapi.. enggak lah. Mending cari aman. Saya gak mau jadi pebinor (perebut bini orang)!" Ungkap Mark dengan tatapan teguh.
"Kalau.. dia udah janda? Tertarik?" Ungkap ku kemudian.
"Hah?!! Serius bang, dia udah janda?!" Mark tiba-tiba saja menegakkan posisi duduk nya.
"Hahaha.. serius suka banget ya?" Tanya ku lagi.
Dan Mark langsung menganggukkan kepala nya beberapa kali.
"Terus gimana sama Lala? Nanti dia patah hati lho!" Goda ku kembali.
Pandangan Mark langsung berubah sendu. Ia memandang ke arah yang lain.
"Lala.. cuma kuanggap adik, Bang...ya. dia itu cuma adik ku, Bang!" Ucap Mark berulang-ulang.
"Serius? Tapi yang aku lihat ya kalian lumayan cocok lho. Apalagi kalian juga bukan sebenar nya adik kan?" Ku goda Mark semakin jauh.
Rahang Mark mengeras. Dengan nada yang lebih teguh, ia kembali memberikan jawaban yang sama seperti tadi.
"Saya cuma menganggap nya adik, Bang. Gak lebih!" Ujar Matk.
"Ooh.."
Hening.
"Jangan-jangan, Abang sengaja bikin saya mundur gak dekatin cewek tadi, siapa nama nya? Karina ya?" Tanya Mark tiba-tiba.
"Iya. Karina," jawab ku segera.
"Iya. Jangan-jangan Abang sengaja bikin saya gak dekatin Karina karena Abang sendiri suka ya sama dia?!" Tuding Mark tiba-tiba.
__ADS_1
Gantian aku yang sedikit emosi. Ku toyor bahu Mark cukup kencang.
Bugh!
"Aduh!" Mark mengaduh.
"Kamu lupa ya? Mama kamu itu cinta pertama dan terakhir ku, Mark!" Balas ku sambil memberinya tatapan tajam.
"Serius?" Mark membalas godaan ku pada nya tadi.
"Kamu mau kubuat jadi perkedel ayam atau perkedel hancur, kah, Mark?" Ancam ku sengit.
"Ups.. sorry, Bang. Sorry!" Mark buru-buru meminta maaf.
Hening kembali. Perhatian kami kini fokus pada TV. Sampai tiba-tiba Mark membincangkan tentang Karina lagi.
"Jadi, saya boleh maju nih dekatin Karina, Bang?" Tanya Mark tiba-tiba.
"Mau maju ya maju saja! Kenapa tanya ke aku?! Jangan plin plan deh, Mark!" Aku meledek nya.
"Maksud saya, Abang gak keberatan kan kalau saya dekatin Karina?" Tanya Mark lagi meminta ijin.
Kembali ku toyor bahu Mark. Kali ini sedikit lebih pelan.
"Hahaha.. siap Bang! Dukungan dari mu sungguh berarti!" Mark berkelakar.
Ku berikan senyuman miring ku kepada Mark.
'Dasar bocah!' ledek ku dalam hati.
"Ngomong-ngomong, Karina itu JADIMA atau JADIPER Bang?" Tanya Mark tak jelas.
"Hah? apa itu JADIMA dan JADIPER? pakai bahasa Indonesia yang benar dong, Mark! Jangan bawa bahasa alien mu ke percakapan kita!" Aku meminta penjelasan.
"Hehehe.. JADIMA itu Janda ditinggal mati.. kalau JADIPER itu Janda ditinggal pergi, Bang.. bahasa gaul..." Jawab Mark menjelaskan.
"Ooh.. mm.. JADIMA berarti."
"YES!!" Seru Mark kegirangan.
Dan kembali, ku geleng-gelengkan kepala ku saat melihat tingkah nya itu.
"Eh, ngomong-ngomong, suami nya mati kenapa, Bang?" Tanya Mark penasaran.
"Kamu tuh mau incar cewek nya, tapi kok yang ditanya malah tentang suami nya yang udah mati sih, Mark? Jadi sebenarnya kamu mau incar siapa? Katina atau mendiang suami nya?" Tanya ku terheran-heran.
__ADS_1
Mark menggaruk kepala nya salah tingkah.
"Hee.. ya Karina lah, Bang! Tapi kan gak ada salah nya juga kalau aku tahu track record suami dia sebelum nya. Kenapa suami nya mati? Sekalian juga tanya. Itu suami nya yang ke berapa?" Jawab Mark beralasan.
"Apa guna nya memang semua informasi itu? Gak berfaedah sekali sih menurut ku!"
"Ya ada guna nya lah, Bang! Siapa tahu kan dia udah nikah ke sekian kali nya. Dan ternyata semua suami nya mati gak jelas. Nah, itu patut dicurigai tuh Bang! Apalagi dia punya kecantikan yang aduhai banget, Bang! Kan mesti hati-hati kita sebagai lelaki!"
Dan aku pun terperangah mendengar ulasan Mark tadi. Mendengar nya berkata seperti itu, tiba-tiba saja aku teringat pada sifat Laila yang juga senang mencari tahu tentang sesuatu hingga sedetail mungkin.
'La.. ternyata Mark juga copy sifat kepo kamu itu, Yang..' gumam ku dalam hati.
"Bang! Bang Erlan!" Mark menepuk lengan atas ku cukup kencang, hingga aku tersadar dari lamunan singkat ku tentang Laila.
"Jadi gimana? Suami nya mati kenapa, Bang? Dan dia udah nikah berapa kali?" Mark mencecar ku dengan pertanyaan-pertanyaan.
"Karina itu.."
Aku terdiam selama beberapa detik. Bingung antara harus menjelaskan perkenalan ku dengan Karina di Nevarest secara mendetail atau tidak. Pada akhirnya aku hanya menceritakan garis besar nya saja.
"Suami nya itu bisa dibilang orang jahat. Jadi dia dihukum mati. Dan..yah. Begitu lah.." jawab ku menggantung.
"Ooh.. suami nya kriminal? Kasihan banget.. kok bisa ya? Hmm.. eh, dia tinggal di rumah sebelah kan ya, Bang tadi?" Tanya Mark tiba-tiba.
"Iya. Kenapa memang nya?"
"Berarti dia tinggal sama Bang Idham dong! Apa dia itu sepupu nya Bang Idham ya? Seingat saya, Bang Idham cuma punya satu adik aja deh. Tapi beberapa tahun lalu kata nya adik nya diculik," Mark bergumam sendiri.
"..."
"Oh! Apa jangan-jangan Karina itu adik Bang Idham yang diculik ya, Bang?! Soal nya rasa-rasa pernah lihat muka nya di mana gitu. Iya! Kayak nya memang Karina itu adik nya Bang Idham deh! Muka nya mirip kayak foto adik nya Bang Idham yang dulu pernah saya lihat di meja kantor nya!" Lanjut Mark bergumam sendiri.
Aku langsung berdiri dan menuju dapur. Ku taruh piring bekas makan kami tadi ke atas wastafel, lalu mencuci nya.
Setelah selesai, kulihat Mark masih bergumam sendiri di ruang TV. Ku gelengkan kepala ku berkali-kali melihat gelagat Mark itu.
"Mark! Aku tidur duluan ya!" Pamit ku kepada Mark.
"Ya, Bang! Eh, sebentar, Bang! Abang punya nomor kontak nya Karina gak?" Tanya Mark tiba-tiba.
Aku menggeleng pelan.
"Minta saja langsung ke orang nya, Mark!" Jawab ku asal, sebelum akhirnya berlalu pergi meninggalkan Mark terpaku di ruang TV.
***
__ADS_1