
Belum sampai ke gubuk yang hendak ku tuju, aku kembali mendengar suara jeritan Karina yang tertahan oleh sesuatu.
Hati ku pun kian tak tenang. Ku maksimal kan laju lari ku menuju gubuk tersebut. Dan, akhirnya, aku menemukan Karina juga. Meski apa yang kulihat di kejauhan sana, membuat ku merasakan pengalaman terhoror dalam hidup ku.
Ku dapati seorang pria asing dengan kumis dan misai yang lebat dan lagi berantakan sedang menindih Karina dalam gubuk di pertengahan sawah tersebut.
Pria itu berusaha melu cuti celana panjang Karina yang sudah berhasil dilakukan nya separuh hingga menuruni paha. Sementara Karina terus berusaha melawan pria asing tersebut.
"Hhmmm! Hmmm!" Pekik Karina dengan suara seperti tercekat.
Aku pun akhirnya mengetahui penyebab Karina jadi tak bisa bebas bicara. Karena ternyata mulut wanita itu telah disumpal dengan kain atau sesuatu, sehingga Karina tak bisa bergerak bebas.
Sebenarnya aku melihat tangan Karina masih terbebas kedua-dua nya. Namun mungkin karena lelaki asing tersebut begitu gencar melancarkan aksi nya melu cuti celana panjang yang dikenakan oleh Karina.
Jadilah Karina tak mementingkan sumpalan dalam mulut nya itu. Wanita tersebut terlalu sibuk menahan celana panjang nya agar tak tambah merosot karena dilu cuti oleh pria asing tersebut.
Melihat kejadian yang terpampang di hadapan ku itu, sungguh membuat ku geram bukan main.
Jarak ku saat ini hanya tinggal beberapa meter saja lagi jauh nya. Sehingga dalam sepersekian detik berikut nya, aku sudah langsung bisa menarik kerah pria asing tersebut dan melempar tubuh nya ke belakang.
Lelaki asing itu pun terjatuh ke pertengahan sawah, menimpa tanaman padi yang sudah mulai tumbuh meninggi.
Belum puas membuat perhitungan, aku ikut menceburkan diri di area sawah yang kotor itu, kemudian menghadiahi si lelaki asing serangan bogem mentah dari tangan ku.
Bagh. Bugh. Bagh. Bugh!
Darah dan lumpur pun kini menyatu di wajah lelaki yang tertutupi oleh jambang dan juga misai yang lebat itu. Aku tak perduli seberapa kotor nya juga kemeja yang ku kenakan saat ini. Fokus ku kini adalah aku membalaskan dendam Karina kepada lelaki asing tersebut sampai hati ku menjadi puas.
Bagh. Bugh. Bagh. Bugh!
"Erlan! Sudah, Lan! Sudah!!"
Indera pendengaran ku samar-samar menangkap suara Karina menyebut nama ku. Herna nya, tangan ku seolah telah diatur untuk terus melayangkan tinju kepada lelaki bang sat yang hampir saja menyakiti Karina ku..
Tiba-tiba saja tinju ku tertahan di udara.
'A..apa tadi? Apa aku baru saja mengatakan Karina ku?!' aku tertegun oleh jalan pikiran ku sendiri.
__ADS_1
Sesaat kemudian, aku menyadari saat seseorang menarik tangan ku untuk menjauh dari lelaki asing yang sudah babak belur oleh aksi ku tadi.
Begitu ku tolehkan wajah, ternyata Karina lah yang sudah menarik ku hingga ke pinggir sawah. Aku menatap wanita di hadapan ku itu dengan pandangan tertegun.
Sampai kemudian ku dengar suara cicit nya yang seperti ketakutan setengah mati.
"Ss.. sudah, Lan.. ss.. su..sudah..." Lirih suara Akrina terdengar begitu memilukan hati.
Tanpa bisa ku cegah. Tahu-tahu tangan ku sudah langsung membawa tubuh wanita di hadapan ku itu ke dalam pelukan ku yang erat. Aku ciu mi rambut Karina yang terasa seperti wangi bunga yang membuat ku tergoda untuk terus menci umi wangi nya lagi dan lagi.
"Tenang, Rin.. kamu sudah aman.. kamu sudah aman.." aku sibuk merapalkan mantra.
Aku sengaja merapalkan mantra ini setelah ku sadari tubuh Karina yang bergetar ketakutan dalam pelukan ku.
"Hiks.. Lan.. aku takut banget..!" Isak Karina masih dalam pelukan erat ku.
"Iya.. iya.. aku tahu, Yang.. aku tahu.. kamu aman sekarang, Yang.. kamu sudah aman bersama ku.." rapal mantra ku berikut nya.
Beberapa detik selanjutnya, aku tak lagi mendengar isak tangis Karina yang tertahan. Meski begitu, aku dibuat terkejut saat tiba-tiba saja Karina mengangkat wajah nya hingga menatap ke dalam mata ku lekat-lekat.
"Yy..yang..? Kamu barusan panggil aku, Yang, Lan?" Tanya Karina dengan terbata-bata.
'A..apa yang ku pikirkan tadi?! Apa aku baru saja memanggil Yang pada Karina?! Arggh! Aku pasti sudah gila!!' gumam ku begitu kalut.
"L..lan..?"
Dna aku kembali disadarkan oleh Karina dengan panggilan nya tadi.
Aku pun fokus menatap ke dalam dua manik mata Karina lagi. Penampilan Karina saat ini terlihat cukup kacau.
Rambut nya yang ikal panjang kini terurai bebas dengan beberapa lumpur dan juga potongan batang padi yang menempel di rambut, baju dan juga pipi Karina.
Maskara Karina pun terlihat luntur pada salah satu ujung mata kiri nya. Membuat penampilan nya tampak seperti hantu yang mengerikan, jika saja tak ku lihat jejak air mata di kedua pipi nya yang putih itu.
"L..lan.."
Kembali ku dengar suara cicitan Karina yang begitu membuat hati ku terenyuh kala mendengar nya. Tanpa bisa ku cegah, tubuh ku tahu-tahu bergerak sendiri.
__ADS_1
Ku dekatkan wajah ku ke wajah Karina. Dan seolah tersihir, Karina pun tak merasa aneh dengan pendekatan yang ku lakukan saat ini.
Pikiran ku terasa buntu. Namun hati ku begitu yakin kalau apa yang akan ku lakukan berikut nya nanti adalah sesuatu yang benar.
Dan akhirnya, aku pun menci um kening Karina sekali dengan cukup lama.
Bersamaan dengan ci uman itu, ku bisikkan kata-kata penghiburan ku untuk nya.
"Aku ada di sini, Rin.. Tenang lah.." bisik ku dalam suara lirih.
Selanjutnya, kedua mata kami kembali bertemu. Dan.. kali ini, tak hanya aku saja yang melakukan upaya. Karena secara perlahan, Karina pun mendekatkan wajah nya ke wajah ku.
Deg. Deg.
Ba dump. Ba dump.
Deg. Deg.
Ba dump. Ba dump.
Jantung ku bertalu-talu dengan begitu kencang nya.
Deg. Deg.
Ba dump. Ba dump.
Di area persawahan yang sepi ini, dengan riak sepoi angin yang mengusap lembut tengkuk dan juga rambut ku yang berkeringat usai berlari sepanjang jalan untuk menemukan Karina.. aku akhir nya menyadari sebab semua rasa tak nyaman yang ku rasakan setiap kali aku berjumpa dengan wanita di hadapan ku itu.
Aku akhirnya tahu, penyebab aku tak lagi sering mengingat Laila, Cinta pertama ku yang kini telah tiada.
Dan aku akhirnya tahu, untuk sebab apa aku merasakan gelisah yang tak menentu setiap kali ku lihat Karina dan Mark berbincang akrab berdua.
Aku tahu. Dan aku sungguh terkejut dibuat nya.
Karena ternyata, entah sejak kapan, aku mulai jatuh cinta kepada Karina.
Sang Ratu yng kini telah mangkat dari tahta nya. Namun mulai menjejakkan tahta nya yang baru di atas singgasana dalam hati ini.
__ADS_1
***