
Tanah merah basah. Hujan rintik terus mengguyur kota di pagi yang teduh itu.
Ku tunggui sebuah gundukan bertabur bunga warna-warni. Tempat di mana jasad Cinta ku terbaring abadi kini.
Laila.. Cinta.. begitu cepat kau meninggalkan ku pergi?
Kau bawa dunia ku bersama mu. Hingga ku rasakan sesak menghimpit dada ini kini.
Kau putuskan tali takdir bersama ku, di saat aku berharap bisa membersamai mu selalu hingga aku menua nanti.
Cinta.. aku sungguh menyesalkan kepergian mu yang tanpa kata ini. Kuingat benar, kau hanya memberi ku pandangan maaf, di balik masker oksigen yang menutupi separuh wajah ayu mu yang melayu.
Cinta.. ingin nya aku ikut larut dalam angin yang telah membawa sukma mu pergi menjauh. Agar aku selalu bisa membersamai mu ke mana pun kau berada kini.
Cinta.. kularungkan luka di hati ku ini, bersama tetesan hujan yang bercampur dengan air mata ku yang meluruh tak terhenti.
Tak ku pedulikan dunia di sekitar ku. Karena tempat peristirahatan mu sajalah yang kini memenuhi layar pandang ku. Meski pandangan ku kini terbatas oleh tirai air mata kesedihan yang ku rasakan.
Cinta.. ingin ku meraungkan sedih ku, namun aku tahu. Jika raungan ku justru akan memperberat langkah mu menuju dunia mu yang baru.
Sebab itulah, aku menahan luka sedih dan kesepian ku hanya pada air mata yang mengalir diam pada pagi yang hening ini.
Tak ingin ku perberat langkah mu, Cinta. Meksi aku tak tahu, sampai kapan kira nya luka menganga di hati ini akan kembali menutup sembuh.
Cinta.. Yamg bisa ku janjikan padamu adalah, bahwa aku akan belajar untuk mengikhlaskan kepergian mu ini, Cinta.. Dan akan ku penuhi keinginan terakhir mu yang tak sempat kau sampaikan dalam kalimat utuh di perbincangan terakhir kita dulu di teras rumah.
Kau titipkan dua nama yang kau kasihi untuk ku jaga nanti.
Mark.. Nila..
Mereka adalah buah cinta kita yang begitu kau pikirkan hingga akhir hayat mu itu, Cinta.
Dan ku ingat, bahwa aku sempat dibuat cemburu pada rasa cinta yang kau tujukan kepada mereka. Kuduga kau lebih mencintai mereka, bukan, Cinta?
__ADS_1
Yah.. aku tahu mungkin aku kekanakan karena telah memperebutkan cinta mu dengan anak-anak kita, Cinta. Dan perlahan aku mengerti. Cinta mu kepada mereka, dan cinta yang kita miliki bersama adalah dua hal yang berbeda.
Sama seperti cinta ku pada mu. Juga rasa kasih yang perlahan ku tumbuhkan terhadap Mark dan juga Nila, adalah dua hal yang berbeda pula.
Masing-masing cinta itu akan selalu utuh. Karena memang tak ada pembagian yang pasti bila itu berkenaan dengan cinta, Ya, Cinta.
Aku menyadari hal itu kini. Di saat kau telah pergi meninggalkan ku sendiri bersama sepi dan hujan ini.
Untuk itulah, Cinta.. biarkan aku melarungkan sedih ku bersama tetesan hujan untuk saat ini saja ya? Jangan melarang ku pula untuk melakukan ini, Cinta. Karena sedih ku ini pun adalah bentuk cinta ku kepada mu, bukan?
Tapi aku berjanji, Cinta.. kalau aku akan menjaga dua nama yang kau titipkan kepada ku dengan sebaik dan semampu ku. Bahkan bila itu harus ku bayar dengan nyawa dan sisa waktu yang ku punya di dunia ini.
Aku akan menjaga mereka, Cinta.. aku akan menjaga buah cinta kita bersama.
Mark.. dan juga Nila..
***
"Bang.. ayo kita pulang, Bang? Hujan nya semakin deras," ajak Mark di dekat ku.
"Yang.. aku pulang ya.. kamu juga, selamat pulang ke rumah mu yang.. baru!" Pamit ku dengan suara tercekat.
Ku usap wajah ku yang telah basah. Baru lah kemudian aku berbalik pergi mengikuti jejak Mark yang berjalan di depan ku.
Langkah ku terasa gontai. Daya yang kupunya untuk melangkah serasa tiada lagi. Karena aku tahu, di setiap langkah yang kuambil dalam menjauhi makam Laila, maka itu akan mendekatkan Cinta ku itu pada kehidupan setelah nya.
'La.. aku pasti akan kangen berat ke kamu, Yang..' lirih batin ku mengeluhkan rindu.
Aku masuk ke dalam mobil yang dikemudikan oleh Mark. Aku sengaja mengambil posisi duduk di samping Mark. Sementara di jok belakang, Nila pun tertunduk sedih.
Tiba-tiba saja aku teringat pada momen ketika Laila dinyatakan meninggal oleh dokter Shara.
Flashback.
__ADS_1
"Mama!" Pekik Nila menjeritkan panggilan nya kepada Laila.
Putri ku itu memeluk erat tubuh Laila yang kini telah terbujur kaku. Aku sendiri, masih terduduk lemas di samping tubuh Laila.
Wajah ku langsung mengalirkan air mata dalam diam begitu ku tahu kalau Laila ku telah tiada.
aku sempat mengecup kening Laila ku untuk yang terakhir kali. Dan aku masih bisa merasakan jejak kehangatan yang masih tersisa pada tubuh Laila ku itu.
Kehangatan yang ku tahu pasti akan segera menghilang dari raga wanita yang paling kucintai di dunia ini. Dan kenyataan ini, bagai belati tajam yang menghunus jantung ku sebegitu kuat nya. Sebegitu perih nya. Sebegitu sakit nya.
'Laila.. Cinta.. kenapa kau meninggalkan ku begitu saja?!' jerit ku dalam hati. Maaih belum menerima kepergian Cinta ku ini.
"Mamaa!!" Di hadapan ku Nila masih memeluk erat jasad Mama nya yang baru saja tiada. Nila menangis sejadi-jadi nya. Sehingga akhirnya aku lah yang sadar diri untuk segera mengabarkan berita ini kepada Mark.
Saat itu, Mark yang sedang berada di luar kota pun bergegas kembali pulang untuk mengiringi pemakaman Laila.
Sebuah pemakaman yang singkat, dan tak banyak diiringi oleh kerumunan orang.
Mark dan Nila memang hanya satu-stau nya keluarga yang dimiliki oleh Laila. Selain juga beberapa teman Laila, Mark dan juga Nila yang mengenal baik Cinta ku semasa hidup nya dulu.
"Mama!!" Kembali tangis Nila ku dengar pecah membisingi ruangan inap yang baru ditempati oleh Laila ku siang kemarin.
Siapa yang bisa menduga, kalau ternyata kami akan berpisah untuk selama nya di kamar inap ini?
"Mama...hiks!"
Setelah mengabari Mark tentang Laila. Aku pun menghampiri Nila yang sudah berhenti menangis.
Kubawa Nila ke dalam pelukan ku. Berharap dengan pelukan ku itu Nila bisa terhibur. Bahwasanya ia pun tahu kalau aku juga sama sedih nya dengan nya. Bahwa aku juga sama kehilangan Laila seperti nya.
Beda nya hanya, Nila kehilangan muara tempat nya belajar tentang kasih. Sementara aku kehilangan muara cinta ku mengalirkan kasih.
Flashback selesai.
__ADS_1
***