Meretas Rasa

Meretas Rasa
Bertetangga


__ADS_3

Setiba nya di depan rumah, aku berinisiatif untuk turun dan membuka pintu pagar, sehingga mobil Mark bisa langsung masuk ke garasi.


Di saat aku hendak menutup kembali pintu pagar, sebuah suara memanggil di dekat ku.


"Paman Penjaga!" Panggil suara anak perempuan.


Hati ku sudah tahu, identitas pemilik suara itu, bahkan sebelum aku menoleh ke arah nya.


"Putri.. " panggil ku spontan pada Rinaya, anak semata wayang dari Karina.


Detik berikut nya, tubuh mungil Rinaya, gadis berusia tujuh tahun itu menubruk tubuh ku.


Bugh.


"Paman! Paman ke mana saja? Bukan kah Paman berjanji akan menemui Rinai lagi?" Tanya Rinaya bertubi-tubi.


Belum sempat Rinaya menjawab, sebuah suara lain terdengar dari arah samping.


"Rinai! Jangan lari ke jalan! Bahaya..ehh? Aro..ups. maaf. Aku lupa. Maksud ku, Erlan? Kenapa kamu di sini?" Tanya Karina yang terlihat ngos-ngosan.


Ku duga, Rinaya mungkin mendengar suara ku saat berbincang di dekat pagar, jadi ia buru-buru keluar untuk memastikan keberadaan ku.


"Ya, Rat.. emm.. Karina. Kalian sehat?" Tanya ku berbasa-basi. Aku pun hampir kelepasan memanggilnya dengan gelar "ratu" nya lagi.


"Ahh.. ya. Tentu. Alhamdulillah.." sahut Karina masih tampak bingung.


"Paman! Rinaya juga.. tanya Rinai juga, Paman!" Seru Rinaya mencari perhatian ku.


Aku tersenyum. Aku selalu senang bila berbincang dengan Rinaya. Biasanya gadis itu adalah seorang yang pendiam dan pemalu dengan orang asing..dengan ku pun Rinaya seperti itu pada mula nya. Namun setelah beberapa interaksi terjadi di antara kami, Rinaya mulai bersikap lebih terbuka dan cenderung cerewet seperti Mama nya, ku kira.


Aku lalu berjongkok. Sehingga kini pandangan ku setara dengan Rinaya. Ku usap pelan kepala nya beberapa kali, lalu menyapa nya kemudian.


"Rinaya apa kabar? Maaf kan Paman ya karena telat datang!" Ucap ku dengan tulus.


Aku memang sudah berniat untuk menjenguk Rinaya kembali. Namun karena kesibukan ku menemani mendiang Laila beberapa pekan kemarin. Jadi nya aku terlupa dnegan janji ku kepada Rinaya.

__ADS_1


Mungkin dengan letak rumah Mark yang berdampingan dengan tempat tinggal Rinaya ini lah cara Tuhan untuk mengingatkan ku dalam menunaikan janji ku pada gadis kecil itu.


"Baik, Paman! Ternyata, yang semalam Mbak Kunti bilang Paman ganteng itu, Paman ya?" Ucap Rinaya tiba-tiba.


"Rinai!" Tegur Karina di belakang nya.


"Jangan sebut-sebut nama Mbak Kunti dong, Sayang. Mama udah kasih tahu kamu kan, kalau gak semua orang suka dengar nama nya," ujar Karina mengingatkan.


"Iya, Ma. Maaf.." Rinaya menunduk, merasa bersalah.


Ku usap lagi kepala gadis itu beberapa kali. Lalu aku menghibur nya dengan mengalihkan topik.


"Rinay, sekarang kan sudah mau gelap ya? Paman mau mandi dulu ya. Rinai sudah mandi?" Tanya ku pada Rinaya.


"Sudah, Paman! Rinaya sudah wangi!" Jawab Rinaya bersemangat.


"Waah.. pantas saja. Paman tadi mencium wangi bunga yang segar sekali. Ternyata ini wangi Rinai ya?" Goda ku mengajak canda.


"Hihihi. Iya, Paman. Tadi sabun nya memang wangi bunga! Bunga apa, Ma?" Tanya Rinaya menoleh ke belakang. Ke arah Karina.


Aku tersenyum. Tingkah ibu dan anak di hadapan ku ini selalu membuat ku ingin tersenyum.


"Ya sudah, Paman! Paman mandi dulu ya! Nanti kalau sudah wangi, Paman ke rumah Rinaya ya, Paman! Sekarang Rinai punya Oma lho, Paman! Nenek baru sembuh dari sakit!" Celoteh Rinaya panjang kali lebar.


"Mm.." aku bingung untuk menjawab.


Ku lirik ke barat langit. Di sana warna kemerahan mulai mewarnai keseluruhan langit. Menandakan pergantian hari dari siang menjadi malam.


Aku tak mungkin juga menjanjikan untuk berkunjung ke rumah Rinaya. Rasa-rasa nya kurang pas juga bila kunjungan pertama ku ke rumah nya terjadi pada waktu malam.


Karina seperti nya paham dengan kondisi ku. Sehingga ia pun kemudian memberikan pengertian kepada putri nya.


"Rinai. Sekarang kan sudah mau malam. Waktu nya Paman untuk beristirahat. Rinaya dan Mama dan semua juga kan perlu istirahat. Jadi, Paman main nya nanti lagi saja ya, Nak. Kalau Paman sedang libur bekerja?" Ujar Karina meminta pengertian Rinaya.


"Ooh.. iya ya. Hhh.. Tapi Paman janji ya, nanti main ke rumah Rinaya lagi?" Rinaya menagih ku untuk kembali berjanji.

__ADS_1


Aku lalu mengangguk. Dan gadis itu langsung memberiku senyuman ceria nya.


"Sekarang.."


"Abang ngapain di lu.. ehh? Abang lagi ngobrol sama anak siapa ini? Dan juga Mbak...nya?!!" Mark tiba-tiba muncul dari dalam rumah.


Ku duga ia baru selesai mandi. Bila dilihat dari rambut nya yang masih basah, serta kaos baru yang dikenakan nya saat ini. Menggantikan kemeja kerja putih yang ia kenakan tadi pagi untuk belerja.


Pandangan Mark langsung terpaku lama menatap wajah Karina. Tahu lah aku kalau seperti nya pesona kecantikan ratu kerajaan Goluth itu berhasil kembali memakan korban. Kali ini adalah Mark yang seperti nya telah terpesona pada wanita di depan ku itu.


"Hay! Kamu.. mm.. saudara nya Erlan kan?" Sapa Karina mencoba menyadarkan Mark dari keterpukauan nya.


Mark pun tersadar. Dan wajah nya seketika memerah karena malu. Sebab ia lagi-lagi tertangkap basah memandang lama wajah Karina.


"Err.. iya! Ehh... Bukan!.. itu.. saya.. anu.."


Kasihan pada Mark, aku pun buru-buru menyudahi perbincangan yang ku rasa hanya akan membuat putra ku itu tampil menyedihkan di hadapan Karina dan juga Rinaya.


"Karina, Rinaya, Paman masuk ke dalam dulu ya! Dan oh ya! Sekarang Paman tinggal di rumah ini. Jadi nanti kita bisa saling mengunjungi. Oke, Rinai?" Tanyaku menyadarkan semua ornag.


"Iya, Paman! Asiikk! Mama! Rumah Paman ternyata di samping rumah Oma, Ma! Dekat sekali kan ya?!" Seru Rinaya bersemangat.


"Iya.. iya.. kalau begitu, kita juga ke dalam yuk, Nai? Sudah mau maghrib lho.. youk, Lan! Dan.. teman nya Erlan! Mari!" Pamit Karina sambil menggandeng tangan Rinaya.


Aku lalu menutup pagar rumah. Di saat aku hendak masuk ke dalam rumah, aku tersadar kalau Mark masih juga berdiri di tempat nya tadi. Memandang ke titik di mana Karina berdiri sesaat tadi.


"Mark? Ngapain lagi kamu di situ? Ayo masuk!" Ajak ku menyadarkan Mark dari kondisi trans nya.


Mark tiba-tiba menoleh dan bertanya kepada ku.


"Mama? Wanita tadi, adalah mama dari anak kecil tadi, Bang?!" Tanya Mark, terlihat sangat syok.


"Hh.." aku menghela napas panjang.


Dalam hati aku merasa kasihan pada Mark. Seperti nya ia akan membabat habis bibit rasa yang baru saja ditumbuhkan nya terhadap Karina, usai mengetahui status wanita itu yang sebenarnya.

__ADS_1


***


__ADS_2