
Beberapa hari berlalu sejak kejadian pelecehan yang hampir saja akan menimpa Karina.
Setelah menyelamatkan Karina dan membuat pingsan lelaki bang sat yang mencoba melecehkan wanita itu, aku langsung mengajak Karina pulang ke rumah nya.
Itu adalah permintaan Karina kepada ku. Padahal sebenar nya aku ingin membawa nya ke rumah sakit terlebih dahulu. Khawatir bila ia mengalami luka di mana, begitu.
Tapi Karina menolak usulan ku dan tetap bersikukuh ingin pulang. Aku pun segera membopong nya ke jalan raya terdekat. Lalu memesan taksi yang kemudian mengantarkan kami hingga ke depan rumah nya.
Aku harus membayar lebih kepada sopir taksi, karena tadi nya sopir taksi itu keberatan untuk mengangkut kami. Mengingat tubuh dan pakaian kami yang begitu kotor dengan lumpur sawah yang begitu banyak. Tapi tak apa-apa.
Asalkan Karina bisa mendapatkan keinginan nya (yakni pulang ke rumah), aku tak peduli meski harga yang harus ku bayar jadi dua kali lipat nya.
Setelah mengantarkan Karina pulang, aku langsung teringat untuk mengamankan pelaku Pele cehan tadi. Jadi lah akhirnya aku harus kembali ke sawah tadi.
Akan tetapi, begitu aku sudah datang ke sana lagi, lelaki bang sat itu ternyata sudah pergi entah ke mana.
"Sial! Kenapa aku lupa untuk mengikat nya ya, tadi?! Aku terlalu fokus pada Karina sih.." gusar ku kecewa pada diri sendiri.
Aku pun akhirnya memutuskan untuk pulang dulu ke rumah, untuk mandi dan berganti baju. Baju yang ku kenakan adalah baju rumahan. Karena aku memutuskan untuk tidak kembali ke kantor lagi.
Aku sudah sangat letih karena telah menggunakan inner power ku berulang kali saat menolong Karina tadi.
Di dalam kamar, aku menghubungi asisten ku. Ku katakan pada nya bahwa aku ijin pulang terlebih dulu karena sakit.
"Noval, saya ijin pulang lebih dulu ya. Tolong rapihkan file yang belum saya tanda tangani di atas meja. Besok akan saya lanjutkan me review nya," titah ku kepada asisten ku itu.
"Bapak sedang sakit? Bapak masih di dalam kan? Apa mau saya panggilkan taksi untuk mengantar Bapak pulang kah?" Tanya Noval menawarkan bantuan.
"Tak perlu, Nov. Saya sudah berada di rumah kok!" Jawab ku dengan jujur.
"?hah?? Maaf Pak. Bapak bersungguh-sungguh dengan ucapan Bapak? Tapi, saya tak melihat Bapak lewat di depan meja saya.." ku dengar Nouval terheran-heran atas ucapan ku tadi.
'Ah ya.. aku lupa. Tadi kan aku pergi dengan menggunakan inner power ku. Jadi pasti Nouval tak akan menyadari saat aku keluar kantor tadi,' gumam ku dalam hati.
__ADS_1
"Mm.. kamu seperti nya sedang terlalu fokus tadi, Nov. Ya sudah. Itu saja ya. Ingat, tolong rapihkan berkas file yang belum saya tanda tangani ya di atas meja! Besok saya akan me review nya!" Aku mengulang titah ku.
"Bb..Baik, Pak! Nanti akan saya rapihkan semua file nya. Kalau begitu, selamat beristirahat, Pak. Semoga lekas fit kembali!" Ucap Nouval berbaik hati.
"Ya,"
Dan klik.
Panggilan telepon pun terputus sesudah nya.
Selesai menghubungi Noval, aku langsung merebahkan badan ku yang terasa pegal seluruh nya di atas kasur. Aku pun ikut memejamkan kedua mata ku pula. Mencoba merileksasi seluruh tubuh dan pikiran ku dari kejadian yang terjadi pada siang hari tadi.
Akan tetapi, bayangan wajah Karina yang hampir saja ku cium di pematang sawah tadi kembali muncul di pikiran ku.
Ya. Aku hampir saja menci um bibir wanita itu. Jika saja aku merasakan getaran pada ponsel yang ku simpan di saku celana ku.
Karena getaran yang sepertinya berasal dari pesan masuk itulah akhirnya aku tersadar dari kondisi trans yang hampir membuat ku terlena dalam romansa yang tak sepatutnya ada di antara aku dan juga Karina.
Aku memarahi diri ku berulang kali, tiada henti.
"Arghh! Sial! Sial! Sial! Kenapa wajah nya tak mau hilang dari benak ku?! Apa sebenarnya yang sudah ia lakukan?!" Aku kembali merutuk kesal seorang diri di dalam kamar.
Setelah beberapa kalimat merutuk lagi. Aku pun akhirnya sampai pada satu keputusan.
"Aku harus menjauhi Karina! Ya. Sebisa mungkin aku tak boleh bertemu dengan wanita itu lagi! Jika tidak, aku bisa jadi akan benar-benar jatuh cinta kepada nya.. tidak! Ini tak boleh dibiarkan!" Gumam ku bersungguh-sungguh.
Setelah membuat keputusan itu, pikiran ku akhirnya kembali tenang. Aku bahkan sempat tertidur pada waktu ashar tersebut.
Sayang hya begitu bangun dari tidur singkat yang hanya setengah jam saja lama nya itu, aku malah bangun dalam kondisi linglung.
Benar lah kata artikel yang pernah ku baca. Bahwa tidur di waktu ashar menang tidak dianjurkan. Karena itu bisa membuat mu linglung dan cenderung memiliki penyakit jiwa.
Dih. Amit-amit. Semoga aku tak sampai harus sakit gila karena tidur setelah ashar tadi ya.
__ADS_1
***
Keesokan pagi nya. Aku kembali berangkat kerja bersama Mark. Sementara ku dengar dari Mark kalau Labib telah kembali ke Singapore lagi. Katanya kondisi Nunik kembali kritis.
Mendengar berita tentang Nunik, garapan ku untuk bisa membuktikan identitas ku sebagai Erlan pun kian menipis. Ingin rasa nya aku mengajak Mark dan juga Nila eprgi ke Singapor untuk menemui sahabat nya Laila itu.
Aku yakin, Nunik bisa menguatkan argumen ku tentang identitas ku yang sebenar nya. Karena aku memiliki beberapa memori yang hanya aku dan Nunik saja yang mengetahui nya.
Sayang sekali, aku belum bisa melakukan itu saat ini.
Alaan nya, selain karena aku belum memiliki biaya yang cukup utnuk mengajak Mark dan juga Nila pergi ke Singapore (aku tak ingin Mark ataupun Nila yang menanggung biaya transportasi ke sana). Aku juga belum bisa menemui Nila sat ini. Karena peristiwa di malam perayaan ulang tahun nya kemarin ku rasa masih membekas cukup dalam di hati putri ku itu.
Menjelang siang, Karina mengirimi ku sebuah pesan.
Dari Karina: Lan, makasih ya soal kemarin.. tanpa kamu, aku mungkin sudah.. anyway, aku mau ngundang kanu maakan malam di rumah ku. Bukan cuma kamu dan aku aja kok. Rinaya juga. Soal nya Rinaya yang pingin makan malam sama kamu sih sebenarnya.. jadi, kapan kamu ada waktu luang?
Aku membaca pesan dari Karina itu berulang kali. Ku resapi setiap kata yang tertampil di layar ponsel ku itu.
Setelah berpikir cukup lama, lebih tepat nya adalah setelah berjam-jam kemudian berlalu, aku baru membalas pesan dari Karina.
Dari Erlan: maaf, Rin. Untuk saat ini, aku belum bisa terima undangan makan nya. Soalnya lagi ad abanyak kerjaan sih di kantor.
Dan pesan ku itu langsung menerima balasan lagi dari Karina.
Dari Karina: bagaimana kalau minggu depan?
Aku tertegun. Bingung harus menjawab apa. Saat ini aku masih menghindari Karina. Karena aku belum siap untuk menahan gempuran perasaan cintanyang secara perlahan mulai merayap di hati ku ini. Dan semua rasa baru ini tertuju paa wanita itu, Karina.
Aku baru membalas pesan dari Karina lagi pada malam hari nya. Tepat sbelum aku merebahkan rubuh ku di atas kasur.
Dari Erllan: maaf.. sepertinya minggu depan juga aku akan sangat sibuk!
Sudah. Ku nonaktifkan segera ponsel kum tak ingin kembali menerima pesan dari Karina. Ku harap, Karina bisa menangkap sinyal yang menunjukkan usaha ku dalam menghindari nya. Jika ia tak bisa menangkap nya, mungkin aku harus mempersiapkan diri ku untuk mengatakan kepada nya secara langsung. Bahwa aku tak menyukai keberadaan nya di dekat ku.
__ADS_1
Sungguh. Itu akan menjadi dusta paling jahat yang pernah ku pikirkan di sepanjang hidup ku yang singkat ini.
***