
"Hey! Kau kenapa, Tuan? Wajah mu pucat sekali. Maaf kalau aku terlalu emosi tadi. Soal nya.. yah.. kau juga aneh sih! Bagaimana kalau kita ulangi perkenalan kita? Nama ku Nila. Siapa nama mu, Tuan?" Tanya Nila dengan raut sedikit khawatir.
Sementara itu aku masih tergugu saat mendapati satu demi satu fakta yang tertampil tepat di hadapan ku saat ini. Mulai dari kemiripan sang wanita tua dengan Laila ku, nama sang wanita tua yang ternyata juga adalah Laila, serta satu hal terakhir yang sedang tampil tepat di depan ku saat ini.
Yakni wajah Nila yang baru ku sadari adalah copy an dari wajah ku sendiri.
'Ya Allah! Apa sebenar nya yang terjadi? Apa ini berarti aku melompati waktu belasan tahun lama nya setelah aku mati di bumi ini?' gumam ku diam dalam hati.
"Hah. Kau memang cukup aneh, Tuan," ujar Nila yang kini kembali ke tempat duduk nya kembali.
Aku mengerjap beberapa kali. Barulah berani berbicara lagi.
"Nama mu.. Nila bukan?" Tanya ku memastikan.
"Hmm.. akhirnya kau bicara juga. Ku pikir kau tadi itu mendadak demensia dan bisu seketika!" Rutuk Nila terlihat kesal.
"Nama mu Nila?" Tanya ku mengulang dengan suara yang lebih kencang.
"Ya. Ya. Ya. Nama ku memang Nila, Tuan. Fan tunggu, biar ku tebak! Nama mu pasti lah Tuan Aneh! Ya kan?"
Aku tak menggubris dumelan Nila yang aneh nya membuat ku teringat dengan Laila ku yang dulu sering mendumel seperti itu.
Aku pun kembali menanyakan sesuatu kepada Nila. Sebuah dugaan lain yang ingin ku pastikan ya atau tidak nya dugaan ku itu.
"Dan apa kau terlahir kembar..Nak?" Tanya ku lagi.
Aku ingat. Dulu sekali aku pernah menitip pesan kepada Laila untuk memberi nama calon anak kami dengan nama Mark dan juga Nila. Namun bila dua-dua nya perempuan, maka yang satu nya lagi bernama Erla. Itu adalah gabungan inisial dari nama-nama kami.
"Hey! Bukan kah kita seumuran? Apa maksud ucapan mu itu tadi memanggil ku, Nak? Nak untuk Anak? Atau Nak untuk Ternak? Kau pikir aku hewan peliharaan mu apa?!" Omel Nila kepada ku.
"Buahaha!!" Tanpa sadar aku tertawa.
'Bukan main mirip nya Nila dengan Laila ku dulu. Dulu pun Laila sering mengomel dan mengatakan hal yang aneh-aneh!' aku berkomentar dalam hati.
Meski begitu, tawa ku tak berlangsung lama. Karena aku menyadari ironi dalam situasi yang sedang ku hadapi saat ini.
'Jika benar dia adalah Nila, anak kandung ku dengan Laila, maka itu berarti saat ini Laila ku sedang sakit entah apa di dalam sana.. Ya Tuhan!'
__ADS_1
Aku tiba-tiba kembali terdiam. Sementara itu Nila tampak nya semakin kesal karena aku menertawai nya tadi. Gadis itu kini memilih diam dan mengacuhkan ku sambil memainkan ponsel di tangan nya.
Di saat aku sedang menerima fakta ganjil tentang kejadian melintas waktu ini, seorang pria muda tampan datang dan menghampiri Nila.
"Nil! Gimana Mama? Mama kenapa?" Tanya pemuda itu.
Aku terdiam saat memperhatikan setiap inci dari wajah pemuda itu. Dan aku mendapati ada banyak kemiripan pada wajah nya dengan wajah Nila.
Bisa kutebak seketika kalau pemuda itu besar kemungkinan adalah saudara kandung Nila. Ini juga didukung dari pertanyaan nya tadi kepada Nila yang menanyakan kondisi Nyonya Laila dalam ruang UGD.
Pemuda itu tadi memanggil Laila dengan nama Mama.
"Kata nya sih tadi tensi Mama sempat tinggi. Tapi gak tahu juga sih. Masih belum jelas. Dokter mau ngecek MRI dulu kata nya!" Jawab Nila dengan lugas.
"Gimana bisa tensi Mama meninggi?" Tanya Mark begitu khawatir.
"Gak tahu. Tadi itu Mama habis ngelindur sih kayak nya. Dia nyari-nyari .." sekilas, Nila tampak melirik ke arah ku.
Aku sengaja membalas pandangan nya. Hingga Nila lah yang terlebih dulu memalingkan pandangan nya.
"..Mama cari-cari Mendiang Papa, Mark.." jawab Nila dengan suara yang lebih pelan.
Bila dilihat dari depan, aku bisa melihat beberapa bagian milik Laila pada wajah Mark. Yang paling jelas terlihat adalah dua lesung kembar yang samar terlihat pada wajah serius Mark saat ini.
Semantara itu, Nila tak memiliki lesung seperti Mark.
Aku sibuk mengamati wajah kedua oramg di hadapan ku itu secara bergantian. Hingga aku tak sadar kalau Mark juga ternyata sedang mengamati ku lekat-lekat.
Mark lalu menengok ke sekitar, dan kembali lagi memperhatikan ku lekat-lekat. Kami beradu pandang dalam diam selama beberapa waktu. Sampai Mark kemudian menoleh ke Nila dan bertanya kepada nya.
"Kau membawa Mama ke sini sendirian, Nil? Ku kira Pak Kus ikut bersama mu?" Tanya Mark tiba-tiba.
"Berhenti memanggil ku, Nil, Mark. Berapa kali ku bilang untuk meyebut nama ku dengan utuh? Panggilan Nil selalu mengingatkan ku pada kuda nil tahu!" Gerutu Nila dengan suara berbisik.
Sayang sekali Nila tak tahu, kalau aku memiliki pendengaran di atas rata-rata. Bagaimana pun juga aku kini berdiam dalam tubuh Aro, yang adalah seorang agen mata-mata di dunia Nevarest sana.
"Hmph!" Aku membuang wajah ku ke kanan. Sambil berusaha menahan diri untuk tidak tertawa saat itu juga.
__ADS_1
Ucapan Nila barusan membuat ku ingin tergelak seketika. Bisa-bisa nya dia menyamakan nama nya yang indah itu dengan nama hewan kuda nil? Ah.. dia memang benar-benar copy an Laila ku..
Ku sadari Nila langsung menyoroti ku dengan tatapan tajam. Namun karena aku bersikap acuh dan memandnag keluar pintu, gadis itu pun akhirnya menghadap pada Mark kembali.
"Aku gak sendirian kok ke sini nya. Aku ditolongin sama... Dia," tunjuk Nila kepada ku.
Menyadari kalau kini kedua bersaudara itu tengah menatap ku, akhirnya aku pun kembali menghadap ke arah mereka. Ku berikan anggukan singkat kepada Mark. Yang kemudian dibalas nya dengan anggukan pula.
"Terima kasih, Bang! Udah bantuin adik dan Mama saya," ujar Mark kepada ku.
"Sama-sama. Saya kebetulan lewat, kok!" Ucap ku berdusta.
Kemudian aku dihadiahi Mark dengan senyuman tipis. Dan keberadaan lesung kembar nya itu pun semakin jelas terlihat kini.
'Dia bilang adik.. berarti Mark adalah kakak nya Nila..? Hhh.. La, apa benar mereka adalah anak kita?' tanya ku tanpa suara.
Tak lama kemudian Mark kembali berkata kepada Nila. Dan aku pun kembali membuang wajah ku ke arah luar. Sementara pendengaran ku menguping pembicaraan kedua nya.
"Padahal Papa udah dua tahun yang lalu pergi. Tapi kenapa Mama tiba-tiba jadi nyari-nyari gini sih?" Tanya Mark kembali.
"Huh? Maksud aku tuh bukan Papa Kiyano, Mark! Tapi Papa Erlan.. Mama tuh tadi nyebut-nyebut nama Papa Erlan.." Nila mengoreksi persangkaan Mark.
"Hah?!"
"Hah?!"
Mark dan aku sama-sama terkejut.
Mark sempat memandang ke arah ku. Mungkin tak mengerti kenapa juga aku ikut terkejut seperti nya.
Jika saja pemuda itu tahu kalau mereka baru saja menyebut nama ku dalam perbincangan mereka, entah bagaimana reaksi keduanya nanti?
Meski begitu, bukan nama ku lah yang membuat ku terkejut setengah mati saat ini. Melainkan nama lelaki lain yang kuingat benar adalah rival terberat ku dulu dalam mendapatkan cinta nya Laila.
Kiyano. Dan Nila memanggil nama rival ku itu dengan panggilan "Papa" pula.
'Sebenar nya, apa yang telah ku lewatkan selama kepergian ku ini? Atau, apa aku telah salah mengenali keluarga ku sendiri?!' hati ku pun gundah gulana akhir nya.
__ADS_1
***