Meretas Rasa

Meretas Rasa
33. Paman Idham


__ADS_3

"Permisi, maaf Tuan, Nyonya!"


Aku tersentak kaget dan langsung menarik Karina untuk ke pinggir. Seorang perawat mendorong bankar yang mana di atas nya terbaring seorang pasien.


Setelah perawat itu pergi, aku lalu tersadar kalau aku kini sedang memeluk Karina erat.


Deg. Deg.


Ba dump. Ba dump.


Aku bisa mendengar suara detak jantung ku sendiri yang berdentum lebih kencang dari biasanya. Untuk sesaat, aku terdiam dan hanya menatap fokus wajah Karina dari atas.


Tak lama kemudian Karina menengadah, hingga kedua mata kami pun bertemu.


Deg. deg.


Ba dump. Ba dump.


Aku mengernyit. Merasa tak asing dengan kejadian yang ku alami saat ini. Seperti aku pernah mengalaminya di suatu waktu dan tempat yang telah lama sekali berlalu.


Kemudian, tiba-tiba saja Karina mendorong ku cukup keras. Hingga punggung ku menubruk dinding di belakang ku.


Bugh!


"Ah! Maaf! Aku gak sengaja mendorong mu terlalu kencang!" Ujar Karina dengan gelagat aneh.


"Ehh? It's okay. Gak apa-apa kok.."


Suasana di antara kami tiba-tiba menjadi canggung. Karina lalu terlihat serius memandang ke lantai. Aku mengikuti arah pandang nya, dan tak mendapati apapun di sana.


Aku merasa bingung. Rasanya ada yang salah dengan ku atau Karina saat ini. Sehingga selama beberapa waktu kami hanya berdiam diri saja di sana, memandang titik yang sama di lantai.


Setelah cukup lama kami melakukan itu, akhirnya aku pun bertanya pada Karina.


"Apa yang kau lihat, Rin? Apa ada sesuatu di lantai yang menarik perhatian mu?" Tanya ku spontan.


Karina tersentak kaget. Wajah nya memerah seolah malu karena tertangkap basah telah melamun beberapa menit terakhir.


Karina kemudian langsung berbalik tanpa menjawab pertanyaan ku tadi. Meski begitu, aku jelas mendengar nya mengumpat dalam bisikan yang sangat pelan.


"Dasar bodoh!" Umpat Karina di depan ku.


Aku yang merasa bingung memutuskan untuk mengikuti langkah nya pelan-pelan. Entah kenapa aku merasa yakin kalau sesaat tadi wanita itu baru saja mengumpat ku.


'Aku? Bodoh? Hmm.. mungkin maksud nya soal mengendarai motor itu ya? Yah.. aku memang seharusnya belajar lagi nanti!' aku pun mengazamkan tekad untuk kembali berlatih mengendarai motor.


***


Kami akhirnya tiba di kamar inap Rinaya. Begitu sampai di kamar nya, aku langsung mendekati bankar tempat Rinaya terbaring.

__ADS_1


"Rinaya belum bangun, Bi?" Ku dengar Karina bertanya pada seorang wanita tua yang ku duga adalah asisten rumah tangga di rumah orang tua nya.


"Belum, Non.."


"O ya sudah, biar sekarang Karina yang jaga Rinaya ya, Bi. Bibi pulang aja. Tadi Mama baru aja tidur," ujar Karina lebih lanjut.


"Baik, Non!" Sahut Bibi.


Kemudian bibi itu pun keluar ruangan. Tinggallah aku dan Karina saja yang menunggui Rinaya yang masih tak sadarkan diri.


Karina duduk di dekat bankar Rinaya. Sementara aku berdiri di dekat jendela sambil menghadap ke pasangan ibu dan anak tersebut.


Melihat keduanya, aku jadi terpikirkan, apakah ketika Mark dan Nila masih kecil dulu, keduanya pernah dirawat di rumah sakit? Jika ya, mungkin Laila juga akan seperti Karina saat ini. Mencemaskan kedua anak kami seorang diri.


Menurut Mark, Oma Mutia dan Papa Ulum juga telah tiada sejak mereka masih SMA. Oma Mutia terlebih dulu, baru menyusul Papa Ulum beberapa bulan setelah istri nya wafat.


Itu berarti Laila hanya memiliki Darman saja. Darman, yang adalah adik tiri Laila, kini sudah menetap di Ohio. Mengikuti alamat istri nya yang seorang warga negara Amerika. Hanya saat idul fitri saja Darman pulang. Begitu menurut cerita Mark.


"Lan? Erlan?"


Aku tersadar dari lamunan ku tentang orang-orang di kehidupan lalu ku saat Karina memegang lengan kanan ku erat.


Pandangan ku seketika tertuju ke tangan Karina yang masih memegang lengan ku, sebelum akhirnya kedua mata kami kembali beradu.


Deg. Deg.


Ba dump. Ba dump.


'Tunggu dulu! Bukan kah biasanya jika ada makhluk halus, hawa menjadi dingin tak wajar? Jadi, kenapa aku justru merasa udara menjadi lebih panas?' aku sibuk berpikir dalam hati.


"Maaf! Mm.. tadi aku tanya, kamu udah sarapan belum? Kalau belum, mau sekalian ku beliin sarapan gak di kantin?" Ujar Karina kemudian.


Wanita di depan ku itu lalu kembali mundur dan memberi jarak dengan ku. Dan aku merasa tak suka dengan sikap nya itu.


'Kenapa dia tiba-tiba menjauh? Apa aku bau?' aku kembali sibuk menebak-nebak.


Tanpa sadar aku malah mengendus ketiak ku secara bergantian.


'mm.. aku wangi kok! Jadi, kenapa Karina menjauhi ku sih?' batin ku kembali sibuk menerka-nerka.


"Err.. Lan? Hello.. kamu ngapain?" Suara Karina kembali menyadarkan ku pada keberadaan ku saat ini.


Jadilah akhirnya aku malu sendiri, karena tingkah ku tadi tentu terlihat konyol di mata Karina.


Demi menghalau rasa malu yang mulai menjalar ke seluruh alam pikiran ku, aku pun berdehem dan menjawab pertanyaan Karina segera.


"Ehem! Gak. Gak usah. Aku sudah sarapan tadi!" Jawab ku sambil berpaling melihat wajah Rinaya.


"...Oke..kalau gitu, aku titip Rinai sebentar ya?" Mohon Karina.

__ADS_1


"Ya. Pergi lah. Aku akan menunggui nya," jawab ku, masih tanpa melihat ke arah Karina.


Tak lama kemudian, ku dengar langkah Karina keluar dari ruang inap Rinaya. Meninggalkan ku sibuk dengan alam pikiran ku sendiri.


***


Menjelang zuhur, Rinaya akhirnya terbangun.


"Mama..?" Suara Rinaya terdengar lirih di telinga ku.


Saat itu aku sedang berdiri di dekat jendela. Sementara Karina tertidur di samping Rinaya.


Begitu ku dengar suara gadis kecil itu, aku pun spontan melesat ke samping bankar nya. Sementara Karina masih terlelap tidur.


"Rinaya? Kamu sudah bangun?" Aku menyapa gadis kecil ku itu.


"Paman? Paman di sini?" Rinaya tampak terkejut dan senang melihat ku. Dan itu membuat ku entah kenapa ikut bahagia juga seperti anak itu.


"Ya, Nai. Paman di sini. Bukan kah Paman sudah berjanji untuk menemui mu lagi? Tapi paman tak suka kalau kita bermain di rumah sakit," aku mengajak gadis kecil ku berbincang.


"Kita di rumah sakit, Paman?" Tanya Rinaya dengan mata polos nya.


"Ya, Nai. Kamu demam. Jadi Mama mu membawa mu ke rumah sakit. Apa kamu merasa sakit di tubuh mu, Nai?" Aku bertanya.


"Mmm. Tidak, Paman. Rinai tidak sakit. Hanya.. sedikit pusing saja. Dan juga.. haus.." jawab Rinaya dengan jujur.


"Oh. Rinai haus? Mau minum?" Tanya ku lagi.


Rinaya lalu mengangguk.


"Mau, Paman.." jawab nya lagi dengan suara yang masih terdengar lemah.


Aku pun lalu menyodorkan segelas air putih yang ada di atas nakas samping bankar Rinaya ke mulut gadis kecil ku itu. Rinaya meminum sepertiga isi nya. Setelah itu, ku letakkan kembali gelas tersebut di tempat nya tadi.


"Paman ke sini mau ajak Nai bermain?" Tanya Rinaya kemudian.


"Tadi nya begitu. Tapi karena Nai masih sakit, jadi kita gak bisa main dulu. Maka nya, Rinai cepat sembuh dulu ya.. baru nanti Paman ajak Nai main. Setuju?"


Rinaya lalu mengangguk. Dan aku pun mengusap kepala mya pelan.


Kemudian ku dengar suara pintu kamar di belakang ku terbuka. Aku pun menoleh dan mendapati seorang pria muda berwajah tampan dan ramah. Lelaki itu lalu masuk dan mendekati ku. Atau lebih tepat nya mungkin mendekati bankar tempat Rinaya terbaring.


"Paman Idham?" Sapa Rinaya pada lelaki yang baru saja datang itu.


"Hay baby bunny.. kamu sudah lebih baik, Sayang?" Sapa balik lelaki tersebut.


"Baik, Paman.." jawab Rinaya sambil tersenyum kecil.


Lelaki itu lalu berhenti tepat di samping ku. Ia lalu melihat sekilas ke arah Karina yang masih juga pulas tertidur. Sebelum akhirnya pandangan nya beralih menatap ku. Saat itu, sekilas aku menangkap tatapan tak suka dari pemuda itu.

__ADS_1


"Dan.. maaf. Anda siapa ya?" Tanya lelaki yang dipanggil "Paman Idham" oleh Rinaya, sesaat tadi.


***


__ADS_2