
Inti nya, sejak kejadian maling itu, sikap Nila sedikit membaik terhadap ku. Ia bahkan mempersilahkan ku untuk tinggal di gudang kosong yang sempat ditinggali oleh Pak Kus sebelum penjaga kebun itu menikah.
Sejak menikah, Pak Kus memilih untuk pulang pergi setiap hari. Apalagi jarak rumah nya juga tak terlalu jauh dari rumah Nila. Karena itulah gudang itu menjadi kosong pada akhirnya.
Mark juga sangat mendukung rencana kepindahan ku ke gudang kosong itu.
"Saya sebenar nya ingin menyewa jasa sekuriti juga di rumah Mama, Bang. Tapi Nila menolak nya. Ia kata nya tak nyaman bila ada lelaki asing tinggal di rumah. Sementara saya gak bisa ikut tinggal bersama mereka karena tempat kerjaan ada di luar kota," jelas Mark di akhir pekan berikut nya.
Ternyata Mark tinggal di luar kota ini. Ia meneruskan usaha keluarga ku di bidang traveling. Dan itu membuat nya tak bisa sering-sering mengunjungi Laila dan juga Nila.
Biasanya hanya pada akhir pekan seperti ini saja barulah Mark datang berkunjung.
"Usia mu sudah berapa, Mark?" Tanya ku tiba-tiba.
"Mm.. dua bulan lagi 25 tahun, Bang. Kenapa memang nya, Bang?" Tanya Mark.
"Sudah pantas menikah kamu, Mark!" Aku memberi saran.
"Ah! Abang bisa aja! Yang ada Bang Erlan lah yang lebih pantas menikah duluan dibanding saya!" Sergah Mark.
"Kamu ini ngawur. Gak mungkin lah aku menikah lagi!" Sanggah ku tegas.
"Kenapa enggak, Bang?" Tanya Mark terheran-heran.
"Karena buat Papa, Mama kamu adalah satu-satu nya, Mark!" Jawab ku lantang.
"..."
"..."
Mark berdehem. Kemudian kembali bicara.
"Abang masih serius soal menjadi Papa Mark dan Nila, Bang?" Tanya Mark tiba-tiba.
Ku hela napas letih. Tahu kalau penjelasan ku ini akan sulit untuk diterima oleh akal sehat Mark dan orang lain nya.
"Hhh.. jujur saja, Mark. Sebenar nya aku sendiri masih canggung untuk menyebut diri ku sendiri sebagai Papa bagi mu dan juga Nila. Karena saat itu aku bahkan belum senpat melihat kalian lahir ke dunia," ujar ku berkisah.
"Mm..ya. memang sih. Kata Oma Mutia, Papa Erlan memang meninggal sewaktu kami usia enam atau tujuh bulan dalam kandungan gitu," sahut Mark.
Aku mengangguk, mengiyakan pernyataan Mark.
"Ya. Jadi aku belum bisa menggambarkan diri ku sebagai seorang ayah saat itu. Bahkan juga sampai saat ini. Terlebih dua puluh empat tahun berlalu begitu saja, dan kalian tahu-tahu sudah jadi sebesar ini," lanjut ku bercerita.
__ADS_1
"Tapi Mark, ada satu hal yang gak akan berubah meski sampai kapan pun waktu berlalu," ucap ku menggantung.
"Apa itu, Bang?" Mark tertarik mendengar jawaban ku.
"Perasaan ku pada Mama kalian... Sampai kapan pun juga, Mama kalian akan menjadi cinta satu-satu nya dalam hidup Papa.." jawab ku dengan keyakinan penuh.
"..."
"..."
Keheningan kembali mengisi kekosongan di antara perbincangan ku dan Mark.
Setelah jeda cukup lama, aku kembali berkata.
"Aku gak akan memaksa kamu dan juga Nila untuk mempercayai ucapan ku. Bagaimana pun juga aku merasa tak memiliki hak menjadi seorang papa bagi kalian. Karena aku juga tak menjadi Papa di saat kalian membutuhkan ku dulu," lanjut ku lagi.
"Tapi Mark.. aku hanya meminta satu hal pada mu saja. Tolong biarkan aku untuk tetap di sisi Laila ku.. aku hanya ingin menemani nya hingga akhir. Aku ingin membahagiakan nya di sisa waktu kami yang hanya tinggal sedikit ini. Boleh kan, Nak?"
Ku tatap Mark dengan tatapan dalam penuh permohonan. Entah karena tatapan ku, atau panggilan "Nak" ku kepada nya, sehingga Mark jadi terharu. Perlahan kemudian ku terima restu dari Mark untukku.
Terlebih dulu, Mark memutuskan ikatan mata di antara kami. Dan dengan suara datar, ia pun menjawab.
"Abang bebas untuk mencintai siapa pun. Termasuk juga mencintai Mama saya. Jika memang Abang benar-benar dengan ucapan Abang tadi, maka Mark ingin berterima kasih karena Abang mau memberikan perhatian lebih kepada Mama," jawab Mark panjang lebar.
Setelah perbincangan soal hati itu, kami lalu sibuk membincangkan hal lain nya. Aku bertukar pandang soal pengetahuan ku dalam mengurus perusahaan. Dan Mark tampak nya terkejut dengan pengetahuan ku itu.
Tadi nya, aku hendak menolak ide itu. Fokus ku saat ini adalah menemani Laila ku selalu. Namun setelah ku pikir-pikir lagi. Aku tak mungkin juga hidup mengandalkan belas kasihan Mark dan juga Nila di rumah ini.
Aku pun memikirkan solusi pertengahan untuk kegalauan ku ini. Dan akhirnya aku sampai pada satu kesimpulan.
"Begini saja. Bagaimana kalau aku menjadi konsultan pribadi mua saja, Mark? Bila kau menemui masalah atau hal yang perlu dibincangkan, hubungi saja aku. Ah.. tapi aku tak punya nomor juga ya untuk dihubungi," gumam ku baru menyadari satu fakta tentang kemiskinan ku saat ini.
"Abang gak punya ponsel?" Tanya Mark terheran-heran.
"Di Nevarest, tersedia telepon umum gratis di sepanjang jalan. Jadi ponsel pribadi hanya dimiliki oleh beberapa orang pejabat tertentu dan keluarga kerajaan saja," jawab ku menjelaskan.
Mark kembali terdiam. Dan kediaman nya itu ku anggap sebagai tanda ketidakpercayaan nya atas ucapan ku tadi.
Haha. Jangankan Mark. Aku sendiri pun bila mendengar cerita tentang keberadaan dunia lain selain bumi pun akan kesulitan untuk mempercayai nya!
"Ehem! Jadi, Abang gak punya ponsel. Kalau begitu, untuk sementara saya akan menghubungi lewat telepon rumah saja ya, Bang. Nanti saya akan menyempatkan untuk membelikan ponsel buat abang. Tapi soal menjadi konsultan, itu ide yang sangat bagus, Bang. Saya gak nyangka, kalau Abang ternyata punya ide-ide sebrilian tadi!"
Dan Mark pun kembali lanjut membahas tentang kondisi permasalahan yang sedang dihadapi perusahaan nya saat ini. Sesekali aku memberikan saran tertentu. Dan Mark langsung mencatat nya dalam aplikasi catatan di ponsel nya.
__ADS_1
Sampai kemudian, Nila tiba-tiba muncul dari dalam rumah sambil mendorong Laila di atas kursi roda nya.
Melihat Laila, aku langsung sigap berdiri dan menyambut Laila ku. Kami saling beradu pandang dan melempar senyum.
Bagi ku, dunia ku terlihat sempurna setiap kali aku melihat Laila ku tersenyum seperti itu kepada ku.
Sejak pulang dari rumah sakit, Laila semakin sering tertidur. Ia juga mulai tak banyak bicara. Dalam sehari, bisa dihitung berapa kali ia berbicara. Biasa nya Laila hanya mengangguk atau menggelengkan kepala saja.
Nila dan Mark sudah tahu dengan interaksi ku dan juga Laila. Dan mereka seperti nya sudah mulai terbiasa.
"Kamu mau makan siang, Yang?" Tanya ku kepada Laila.
Cinta ku lalu mengangguk.
"Kalau begitu, sebentar aku ambilkan makan dulu ya, Yang?" Ucap ku lagi.
"Tunggu aja, Lan. Bentar lagi juga Bik Tum bawain. Tadi Nila udah minta tolong ambilin ke Bik Tum, soal nya," sergah Nila buru-buru.
"Oh.. oke.." aku menurut. Dan kembali duduk di samping Laila ku.
Di saat aku asik bertukar pandang dengan Laila, ku dengar Mark dan Nila berbincang.
"Udah sebulan ini Lala gak main, Kak. Pesan Nila juga jarang dia balas. Kira-kira kenapa ya?" Tanya Nila kepada Mark.
'Lala? Siapa itu? Ah.. mungkin itu kenalan nya anak-anak,' pikir ku menebak identitas Lala.
"Itu.. kakak nolak dia, Nil," jawab Mark dengan suara pelan.
"HAH?! Kapan kejadian nya? Dan memang nya, Lala nembak kakak gitu?!" Tanya Nila terkaget-kaget.
Mendengar kebisingan yang dibuat oleh dua orang anak ku itu, aku pun mau tak mau jadi menoleh ke arah mereka.
"Kamu habis nolak cewek, Mark?" Tanya ku sedikit menggoda.
"Err.. iya, Bang," jawab Mark terlihat malu.
"Tapi kenapa, Kak? Kan kasihan Lala.. dia udah lama lho suka sama Abang.." ujar Nila yang terlihat kecewa.
"Berapa kali Kakak harus bilang ke kamu, Nil. Kakak itu cuma anggap Lala seperti adik aja. Gak lebih!" Jawab Mark sedikit tak sabar.
"Tapi kan, Papa Kiyano udah nitipin Kakak untuk jaga Lala kan?!" Tanya Nila kembali.
Mendengar nama Kiyano disebut, perhatian ku atas perbincangan mereka pun tiba-tiba meningkat.
__ADS_1
'Kiyano? Apa hubungan nya dia dengan Lala dan juga anak-anak?!' tanya ku dalam hati.
***