Meretas Rasa

Meretas Rasa
Kedatangan Karina


__ADS_3

Beberapa hari berikut nya, aku kembali beradaptasi dengan rutinitas bekerja di kantor. Sayang nya aku memiliki sedikit permasalahan di sana.


Ini terkait dengan diangkat nya aku menjadi kepala manajer secara tiba-tiba oleh Mark. Muncul rumor di kantor bahwa aku menggunakan cara belakang hingga aku bisa sampai ke posisi ku saat ini.


"Gue penasaran, selama ini kan Bos Mark paling strict banget soal pemilihan jabatan penting di perusahaan. Semuanya selalu berdasarkan kemampuan. Tapi gue nilai, Kepman (kepala manajer) kita yang baru itu kemampuan nya biasa-biasa aja deh!" Ujar seorang pegawai bawahan ku.


Aku tak sengaja mendengar perbincangan tentang ku itu saat aku hendak ke pantry.


Sedari dulu, saat aku masih hidup sebagai Erlan, aku selalu menyempatkan diri untuk berkeliling di area kantor. Demi bisa melihat dan mendengar langsung situasi yang terjadi di antara pegawai tingkat bawah.


Mengambil istilah yang digunakan oleh presiden terkini, aku melakukan blusukan rutin dua kali setiap minggu nya.


Dan ternyata, dari blusukan ku kali ini, saat aku hendak membuat sendiri kopi untuk ku di pantry, aku malah mendengar perbincangan miring tentang kinerja ku di perusahaan ini.


Tak ingin menghabiskan waktu, aku langsung saja masuk ke dalam pantry. Kemunculan ku yang tiba-tiba ini sontak saja membuat dua pegawai yang berada di dalam terkejut ketakutan saat melihat ku.


"Pp..Pak Aro!?" Cicit salah seorang pegawai di dalam pantry.


Ah. ya. Aku menggunakan identitas Aro saat ini. Tak ada alasan khusus. Hanya menurut ku, mungkin dengan menjadi Aro, aku bisa melalui proses healing ku setelah kepergian Laila dengan lebih baik.


Mendengar nama "Erlan" yang terlalu sering, jadi membuat ku teringat pada kehidupan lama ku sebagai Erlan. Dan mau tak mau, aku jadi teringat kembali pada Cinta ku, Laila.


Kembali ke saat ini. Aku sedikit merasa iba pada dua orang pegawai di hadapan ku itu. Apalagi saat ku sadari betapapucat nya wajah mereka saat melihat ku.


'Ahh.. apa sebaiknya aku kembali saja ya? Kaishan sekali mereka. Yah.. walaupun sebenarnya salah mereka juga sih karena senang sekali menggosipi orang lain!' komentar ku tanpa suara.


Aku menberi anggukan singkat serta senyuman ramah kepada kedua orang pegawai lelaki tersebut. Ku pikir dengan begitu mereka mungkin akan merasa lebih baik.


Aneh nya, terkaan ku meleset. Karena kudapati wajah keduanya malah jadi kian pucat pasi.


"Huh? Kalian kenapa? Kalau sakit, ambil libur saja dulu. Jangan memaksakan diri!" Aku mencoba memberikan perhatian.


Sayang nya, wajah keduanya malah semakin pias. Salah satu dari mereka lalu terbata-bata berkata,


"Kk..kami sehat sekali kok, Pak! Kami akan bekerja super giat! Gak perlu libur juga gak apa-apa, Pak! Tolong jangan pecat kami!!" Ucap salah seorang pegawai dengan ekspresi ketakutan setengah mati.


Sementara itu, pegawai satu nya lagi ikut mengangguk-anggukkan kepala nya berkali-kali. Seolah menjadi pertanda bahwa ia setuju dengan ucapan teman nya itu.

__ADS_1


Gantian aku yang terperangah melihat tingkah keduanya. Tahulah aku kini, apa penyebab keduanya jadi ketalutan seperti itu.


Apalagi saat aku melihat cerminan wajah Aro yang ku inangi tubuh nya ini di kaca yang tergantung di dinding ruangan pantry.


Wajah Aro bisa dibilang cukup rupawan. Hanya saja, bila wajah nya ini tak dihiasi senyuman, maka aku akan terlihat cukup sangar bila dipandang orang.


"Ehemm!" Aku mencoba mengusir kecanggungan yang tercipta tanpa ku sadari.


"Er... Yah.. terserah kalian saja lah! Mm.. kalau begitu, sebaiknya kalian kembali bekerja!" Ucap ku tak sengaja terdengar ketus.


Segera setelah nya, aku menyesalkan nada bicara ku tadi. Apalagi saat kulihat dua pegawai ku tadi kini saling berlomba-lomba agar segera keluar dari ruangan pantry.


Ku tahu tujuan mereka keluar dari pantry saat ini adalah sama. Bahwa keduanya ingin menjauhi ku, Bos yang terlihat sangar dalam pandangan mereka.


"Hhh..sepertinya aku harus mulai berlatih tersenyum. Wajah ini cukup menyulitkan ku juga di dunia ini," gumam ku bermonolog.


Setelah membuat kopi ku sendiri, aku pun kembali ke ruang kerja ku lagi. Selama sisa hari itu, aku tak lagi mendengar bisik-bisik tentang cara ku masuk ke perusahaan ini, dari mulut karyawan ku yang lain.


Meski begitu aku tahu, dengan kejadian di ruang pantry tadi, besar kemungkinan rumor baru akan terbentuk di antara pegawai bawahan ku.


Pendapat bahwa aku adalah seorang KepMan yang sangar dan otoriter. Ku pikir begitu kiranya anggapan pegawai di perusahaan ini terhadap ku.


***


Sepanjang perjalanan, kami membincangkan tentang beberapa permasalahan yang sedang dihadapi oleh perusahaan.


Aku memberi masukan di beberapa bagian, dan Mark puas dengan masukan ku itu.


Begitu sampai di depan rumah, gantian Mark yang berinisiatif untuk membukakan pintu pagar. Begitu aku selesai memasukkan mobil Mark ke dalam garasi, kami pun berpisah dan kembali ke masing-masing kamar kami.


Aku langsung membersihkan diri dengan mandi. Selesai mandi, waktu sudah menunjukkan pukul lima lewat. Baru juga aku hendak memakai baju, saat ku dengar suara bel rumah berdering berulang-ulang.


"Huh? Siapa tamu yang datang jam segini? Apa itu teman nya Mark?" Gumam ku bertanya.


Aku pun bergegas memakai bathrobe lalu keluar kamar untuk membukakan pintu depan.


Begitu pintu terbuka, pandangan ku langsung bersitatap debgan mata cantik milik Karina. Wanita itu tampak tertegun selama beberapa saat. Dan setelah kuikuti arah pandang nya, tahulah aku penyebab Karina tiba-tiba saja menjadi salah tingkah.

__ADS_1


Ternyata aku tak memakai bathrobe ku dengan benar. Sehingga bagian depan bathrobe yang ku kenakan sedikit terbuka dan menampilkan dada ku yang sixpack.


"Err.."


Merasa canggung sekaligus malu, aku pun bergegas merapihkan bagian depan bathrobe ku sehingga dada sixpack ku tertutup rapih kini.


Sejujurnya, aku merasa tersanjung karena ternyata penampilan ku telah memukau perhatian wanita secantik Karina. Tapi setelah kupikirkan lagi, aku malah menjadi malu. Karena aku baru ingat, kalau tubuh yang sedang ku diami saat ini bukanlah tubuh ku yang sebenar nya. Melainkan tubuh Aro. Seorang bodyguard dari Dunia Nevarest.


"Mm... Maaf. Aku mengganggu mu ya? Ku lihat kau sepertinya baru selesai mandi," gumam Karina sambil menundukkan pandangan nya.


"Err. Tak apa-apa. Ada apa Ratu? Maaf. Maksud ku, Karina? Ada apa?" Tanya ku ikutan gugup.


"Mm.. "


"Siapa, Bang?"


Suara Mark tiba-tiba terdengar dari belakang. Dan membuat perhatian ku pada Karina menjadi terusik. Aku pun lalu menoleh.


Dan tampil lah di belakang ku, Mark yang baru selesai mandi. Ku lihat ia hanya mengenakan celana kolor pendek serta kaos singlet saja. Saat itu ia sedang mengelap rambut nya yang masih basah dengan handuk.


"Karina, Mark!" jawab ku lugas.


"?!!!"


Mark tampak sangat terkejut. Namun kemudian ia melihat ke tubuh nya yang minim otot, serta penampilan nya yang minim kain. Mark pun langsung melesat ke lantai atas. Menuju kamar nya lagi.


"ck.ck.ck.." Aku menggelengkan kepala ku, saat melihat tingkah konyol Mark itu.


Sesaat kemudian, suara Karina kembali terdengar.


"Mm.. Mungkin sebaik nya kau memakai baju dulu? Biar aku akan menunggu mu di luar saja deh ya!" Ucap Karina terburu-buru.


Ia lalu buru-buru duduk di kursi yang ada di teras rumah Mark. Dan aku pun telat menyahuti ucapan nya tadi.


"Err.. baiklah. Tolong tunggu sebentar. Aku akan segera kembali!" Pamit ku kemudian.


Selanjutnya, aku pun bergegas masuk kembali ke kamar ku untuk memakai baju. Entah apa tujuan Karina datang menemui ku. Tapi ku tebak, alasan nya adalah sesuatu yang cukup penting.

__ADS_1


***


__ADS_2