Meretas Rasa

Meretas Rasa
Pesan untuk Nila


__ADS_3

Pada akhirnya Nila mau tak mau mempercayai juga kalau aku adalah Papa nya. Ucapan Amir dan juga Nunik lah yang pada akhirnya membuat putri lu itu terdiam.


Sepulangnya dari bertemu Nunik, Nila terus diam di perjalanan pulang kami menuju rumah. Begitu sampai di depan rumah, ku minta Mark untuk lebih dulu masuk ke dalam. Sementara aku berbincang sebentar dengan Nila.


Hendak dikatakan berbincang pun sebenarnya kurang tepat juga. Karena lebih sering aku lah yang berbicara. Sementara Nila hanya diam mendengarkan saja.


Aku yang duduk di jok tepat di belakang nya lalu sedikit bergeser ke kiri, sehingga aku pun bisa melihat pantulan wajah Nila du kaca spion depan.


Ku lihat wajah nya tampak merenung dalam-dalam.


"Nil.. terima kasih ya sudah mengajak ku bertemu dengan Nunik. Kejadian hari ini menjadi momen baik yang bisa terjadi pada ku sejak aku dihidupkan kembali sebagai Aro," ucap ku ber prakata.


"Dari pertemuan dengan Nunik tadi, aku tak ingin memaksa mu untuk mengakui ku sebagai Papa, Nil. Sungguh bukan itu yang paling ku harapkan saat ini.."


"Alu lebih berharap agar kamu, Mark, Nila, dan juga semua yang ku kenal dulu dan masih hidup hingga saat ini, mau menerima kehadiran ku lagi saat ini, Nil. Aku menyayangi kalian. Sebagai seseorang yang terikat dengan diri ku di kehidupan ku yang sebelum nya.."


"Kamu tak perlu memanggil ku dengan sebutan 'Papa'. Seperti Mark yang terkadang iseng memanggil ku dnegan sebutan 'Papa'.. kamu bisa tetap memanggil ku dengan nama ku langsung, seperti yang biasa kamu ucapkan selama ini.. aku janji tak akan marah karena hal sepele seperti nama panggilan ini, Nil..aku jelas tak sepicik itu.."


"Cukup terima kehadiran ku di kehidupan kalian. Sebagai seseorang yang pernah mencintai Mama kalian dengan sepenuh hati.. Karena memang itulah kenyataan yang terjadi.." ucap ku mengakhiri prakata monolog ku di dalam mobil.


Lu tunggu Nila memberikan yanggapan atas ucapan ki tadi. Dan Nila memang membalas ucapan ku pada akhirnya.


"Pernah.. ya. Oke. Baiklah. Walaupun ini maish sulit untuk ku terima, Lan.. maksud ku.."


"Tak apa-apa, Nil. Panggil aku Erlan pun tak apa-apa. Sungguh!" Ucap ku memotong perkataan Nila.


"Oke. Erlan.."


Jeda sejenak. Sampai kemudian Nila kembali melanjutkan ucapan nya kembali.


"Walaupun sebenar nya ini masih sangat sulit untuk ku terima, secara masuk akal, menurut ku.. Tapi, aku akan memeprcayai penilaian Paman Amir, tante Nunik dan juga..Mama tentang mu, Lan," ucap Nila tepat ke mata ku langsung melalui kaca spion.


Aku mengangguk singkat. Menerima tanggapan nya itu.

__ADS_1


"Ya. Tak apa-apa bila kau membutuhkan waktu untuk menerima semua ini, Nil. Aku akan tetap menunggu mu. Karena bagaimana pun juga aku telah berjanji kepada mendiang Mama kalian.." komentar ku kemudian.


"Janji apa itu, Lan?" Tanya Nila.


Ku ajak kembali mata Nila bertemu di kaca spion depan, sebelum akhirnya menjawab dnegan suara jelas dan juga lantang.


"Janji untuk menjaga kalian sampai kalian menemui kebahagiaan kalian masing-masing," ucap ku dengan lugas nya.


Nila menahan tatapan ku sepersekian detik. Sebelum akhirnya tataoan nya tertunduk.


"Apa maksud nya itu? Kau mau jadi satpam buat ku dan juga Mark kah?" Gumam Nila berkomentar.


"ck.ck.ck.." aku terkekeh lepas.


Begitu mirip nya setiap komentar yang dilontarkan oleh Nila dengan celotehan-celotehan Mama nya dulu. Begitu lucu dan menggemaskan!


"Kenapa tertawa? Kau meledek ku ya?!" Amuk Nila dengan mata menyipit.


"Ups.. sorry. Maaf. Bukan begitu maksud ku.. ehem!"


"Maksud dari janji ku itu adalah sampai kamu dan juga Mark menemukan pasangan terbaik yang bisa mencintai dan membuat kalian bahagia lah akhirnya janji ku itu akan bisa impas pada akhirnya," papar ku menerangkan.


Pandangan Nila tiba-tiba berubah sendu. Dan aku tahu sumber kesedihan nya itu datang dari mana.


"Aku jelas hanya akan selalu menganggap mu dan juga Mark sebagai anak ku, Nil.. melihat kalian, akan selalu mengingatkan ku pada Laila, Mama kalian.."


"Jadi, carilah seseorang yang baik dan mencintai mu dengan sederhana. Dia yang bisa mencintai mu dalam kondisi apapun dirimu nantinya.. juga tetap mencintai mu dalam suka maupun duka," ucap ku menasihati Nila.


"Maksud mu, sepert cinta mu kepada Mama?" Tanya Nila dengan perlahan.


Seketika aku pun menunduk malu.


"Yah.. bisa lah seperti itu. Eemm.. tapi, sebenarnya ku lihat kau tak perlu sibuk mencari lagi sih, Nil.. aku mengenal baik seorang lelaki yang seprtinya tulus mencintai mu," ucap ku tiba-riba.

__ADS_1


Nila mengangkat satu alis nya. Pertanda menanyakan siapa lelaki yang ku maksud itu.


Dan ku jawab langsung saat itu juga.


"Labib? Kenapa kamu tak mempertimbangkan perasaan nya, Nil? Menurut ku, bagi seorang wnaita, akan lebih baik bila ia hidup bersama dengan orang yang mencintai nya, dibanding hidup dengan orang yang ia cintai namun tidak mencintai nya.."


"Kenapa begitu?" Tanya Nila terlihat penasaran.


"Karena mencintai itu hal yang melelahkan, Nil. Kamu harus berharap tanpa tahu akan dibalas dengan perasaan yang sama atau tidak. Kamu harus melakukan apapun untuk membuat dia yang kamu cintai bahagia. Itu merepotkan sekali," komentar ku dengan jujur.


"Dan sebagai Papa mu, aku tak mau kau harus repot-repot seperti itu. Biarkan saja Labib yang terus berletih-letih dalam mencintai mu, Nil," pesan ku berikut nya kepada Nila.


Mendengar pesan ku itu, Nila malah memberiku sebuah senyuman.


"Hihihi.. jangan bilang, kamu juga mengalami nya saat mencintai Mama kah, Lan?" Ledek Nila mengajak bergurau.


Aku mengedikkan bahu sambil mengangguk kecil.


Dan seperti itulah kiranya hubungan ku dengan Nila kembali dimulai.


Meski kami tak bisa menjalin hubungan selayaknya antara anak dan orang tua. Namun menurut ku, pertemanan yang terjalin di antara kami ini pun sudah yang paling terbaik yang bisa terjadi.


Aku bisa diterima di kehidupan anak-anak ku saat ini saja adalah anugerah terbesar yang bisa terjadi di kehidupan ke dua ku ini. Dengan begini, aku tak terlalu merasa ditinggalkan oleh mereka yang ku sayangi.


Sore itu juga Nila langsung ke rumah nya lagi. Saat ku tawari ia untuk menginap, ia malah berkomentar seperti ini,


"Gak mau lah! Masih malu untuk ketemu calon Mama tiri. Nanti aja kalau hati ku udah lebih siap ya, Pa!" seloroh nya dengan nada canda.


Pada mulanya, aku tak mengerti siapa yang dimaksud oleh Nila dengan calon Mama tiri itu. Namun kemudian Nila sendiri lah yang menjelaskan kepada ku.


"Kamu juga, Lan. Jangan sibuk mikirin kebahagiaan ku dan juga Mark ya. Pikirkan juga kebahagiaan mu sendiri. Kalau memang wanita itu bisa membahagiakan mu, aku rela deh kamu jalin hubungan serius sama dia," ucap Nila dengan senyum tabah.


Aku tercenung mendengarkan ucapan nya itu. Sebentuk wajah tiba-tiba saja muncul di benak ku selesai ku lihat mobil yang menbawa Nila telah lama berlalu.

__ADS_1


Karina.. Ku rasa, dia lah wanita yang dimaksud oleh Nila tadi.


***


__ADS_2