Meretas Rasa

Meretas Rasa
Bertemu dengan Amir


__ADS_3

Hari demi hari terus berlalu. Tak terasa hari kedatangan Amir akhirnya tiba juga.


Kolonel Amir, begitu yang ku kenal dulu, kini sudah naik pangkat menjadi jendral bintang empat.


Aku ikut menjemput sang jenderal bersama dengan Mark di bandara. Bilasan waktu yang berlalu puluhan tahun lama nya telah banyak merubah fisik adik ipar ku itu.


Tubuh nya terlihat lebih gemuk dengan tinggi badan yang masih tegap dan tinggi. Rambut nya sudah memutih semua, dan hanya menyisakan beberapa kilau kehitaman di kepala nya saja.


Sementara itu jumlah keriput di wajah nya pun sempat membuat ku pangling dengan adik ipar ku itu. Amir jelas tampak lebih menua dibandingkan Laila ku. Mungkin latihan keras dalam kehidupan militer lah yang membuat nya jadi cepat menua dibanding dengan profesi lain nya.


"Mark! Kamu sehat, Nak?" Sapa Amir seraya memeluk sebelah bahu Mark erat.


"Sehat, Paman. Paman juga sehat kan? Lama sekali Mark tak melihat Paman. Sejak Bibi..tiada mungkin," imbuh Mark dengan suara yang memelan di ujung kalimat nya.


Sekilas ku tangkap kesedihan di mata Amir. Kesedihan yang juga ku rasakan, sebagai seornag kakak yang kehilangan adik satu-satu nya.


"Yah. Bagaimana pun juga kita bertemu lagi bukan, sekarang? Di mana Nila? Apa dia masih terlalu sibuk bekerja dan lupa untuk berkencan?" Tanya Amir dengan senyuman berbalut canda.


"Hahaha.. begitu lah Paman. Ah..tapi.. Nila baru saja patah hati, Paman. Jadi sebaik nya bila Paman bertemu dengan nya nanti, jangan tanya soal berkencan dulu ya, Paman. Yang ada nanti ada drama air mata lagi!" Kekeh Mark.


"Oh ya? Separah itu kah patah hati nya? Hmm.. Paman jadi ingin tahu pemuda yang sudah membuat saudari mu itu patsh hati. Berani benar dia membuat princess kita bersedih!" Ujar Amir dengan raut wajah tiba-tiba berubah serius.


Glek..


Tiba-tiba saja aku jadi merasa segan pada adik ipar ku ini. Entah karena sudah lama aku tak bertemu dengan nya. Atau mungkin karena kewibawaan yang terkumpul di wajah nya selama bilangan tahun, sehingga membuat raut Amir saat ini terlihat sedikit menakutkan.


Dan pas sekali Mark langsung melirik ke belakang. Ke arah ku. Sehingga kemudian Amir pun ikut menoleh ke arah ku.


Glek..


Jejak kekesalan terhadap pria yang sudah menyakiti hati Nila itu masih tersisa di wajah Amir saat ia melihat pada ku. Aku hampir ingin berlari menjauh dari veteran yang telah lama malang melintang di dunia kemiliteran tersebut.


Padahal aku sendiri, maksud ku, tubuh Aro yang sedang ku inangi saat ini kan sudah membunuh lebih banyak orang mungkin dibandingkan Amir.

__ADS_1


"Hmm? Siapa dia, Mark? Teman mu kah?" Tanya Amir sambil menoleh pada Mark kembali.


"Dia adalah.."


Ucapan Mark langsung ku potong begitu saja. Sesuatu dalam hati ku membuat ku tiba-tiba terdorong untuk menyapa sendiri adik ipar ku itu secara langsung.


"Amir.. sudah lama kita tak bertemu. Ku pikir, kau cukup tampan juga dengan model rambut mu yang sekarang. Dibanding model ceplak maksud ku, seperti dulu.." sapa ku berusaha santai.


Ku lihat Amir mengerutkan kening nya. Ia menatap ku lekat-lekat. Ku duga ia sedang menggali memori nya itu tentang profil ku saat ini.


Tentu saja aku tahu hasil akhir dari usaha mengingat yang sedang dlakukan oleh Amir saat ini adalah nihil. Jelas ia tak akan mendapati profil Aro dalam memori nya itu.


"Maaf, apa kita pernah bertemu sebelum nya?" Tanya Amir kepada ku.


Aku menyilangkan tangan ku di depan dada. Selanjutnya ku balas pertanyaan nya dengan sindiran ku semasa dulu, saat aku pernah duel dengan nya sebagai Erlan.


"Kau tahu, Mir. Jika bukan karena aku kepleset waktu itu, sudah pasti aku lah yang akan menang melawan mu saat kita duel di GOR (Gedung Olah Raga) Lama," ucap ku ambigu.


"Aku heran. Apa yang disukai Lin-Lin dari mu. Selain wajah mu yang masih saja kaku sedari dulu, sekarang kau juga mengidap Alzheimer rupanya, Kolonel Amir!" Ucap ku lagi.


Aku sengaja memanggil nya dengan gelar kolonel. Ku kira itu dapat membantu Amir mengingat ku dengan lebih baik.


Dan usahaku membuahkan hasil. Ku lihat wajah Amir terkejut sesaat, sampai nama ku akhirnya keluar juga dari mulutnya.


"Erlan.. maaf.. siapa sebenar nya Anda?" Tanya Amir pada akhirnya.


Ku balas wajah bingung nya Amir dengan senyuman hangat.


"Tepat sekali, Mir. Aku memang Erlan. Kakak dari istri mu, Arline. Rupa-rupa nya, memori mu itu masih cukup tajam juga ya.." seloroh ku dengan senyuman puas.


Dan Amir pun kini benar-benar terkejut. Keterkejutan yang juga ku dapati tersibak di wajah muda milik Mark, putra sulung ku.


Ahh.. rasa nya, baru kali ini aku merasa sesenang ini sejak Laila tiada. Setidaknya, kini aku memiliki teman untuk berbincang tentang kenangan lama ku sebagai Erlan.

__ADS_1


***


Tak lama setelah memproklamirkan diri sebagai Erlan, aku mengajak Mark dan iuga Amir untuk pulang ke rumah terlebih dahulu.


Amir dan Karina tidak dikaruniai seorang anak pun dalam pernikahan nya. Sehingga Amir sudah menganggap Mark layaknya putra nya sendiri. Karena itu lah ia tak sungkan untuk tinggal di rumah Mark selagi ia dalam masa libur dari tugas nya sebagai pelatih para tentara muda.


Sesampainya di rumah, kepuasan ku usai bertemu dengan Amir sempat tercoreng dengan pemandangan yang ku saksikan di depan pintu pagar rumah Karina.


Dari dalam mobil Mark yang masih melaju, aku mendapati Karina duduk berboncengan dnegan seorang lelaki muda seumuran dnegan wanita itu.


Yang membuat mood ku buruk adalah saat Karina terlihat bercanda dan begitu bebas tertawa bersama lelaki yang memboncenginya itu.


'Siapa lelaki itu? Rasa-rasanya baru kali ini aku melihat nya,' gumam ku dalam hati.


Tak lama kemudian, motor yang dinaiki oleh Karina itu lalu berhenti di depan rumah nya. Karina pun kemudian turun. Saat itulah ia melihat ke arah ku. Tidak. Maksud ku adalah ke arah mobil Mark yang ku tumpangi saat ini.


Entah Karina sudah mengenali mobil Mark atau tidak, tapi kemudian aku melihat saat Karina memegang lengan lelaki itu dan mengajak nya untuk masuk ke dalam rumah. Dengan berdampingan, Karina dan lelaki itu lalu menghilang ke balik pintu pagar rumah Karina.


"Bang? Bang Erlan? Kita turun sekarang, Bang?" Tanya Mark mengejutkan ku yang sempat termenung beberapa saat.


"Huh? Ya. Tentu. Ayo kita turun!"


Ku putuskan untuk menutup pikiran ku lagi dari memikirkan Karina dan lelaki yang terlihat akrab bersama nya tadi. Walaupun sebenarnya aku didera keinginan kuat untuk meremukkan tulang lengan milik lelaki tadi yang sudah disentuh oleh Karina.


Ku tengok Amir yang kini memandang ku dengan pandangan bingung yang sama sejak ia ku beritahukan tentang identitas asli ku.


Aku pun tersadar. Kalau saat ini bukan waktunya bagiku memikirkan romansa ataupun perasaan ku terhadpa Karina.


Aku harus memberikan penjelasan kepada Amir tentang apa saja yang telah ku alami semenjak aku kecelakaan dan terbangun dalam tubuh Aro ini.


Dengan begitu, mungkin saja Mark bisa benar-benae yakin, bahwa memang benar aku lah Papa Erlan nya yang dulu telah tiada, namun kini hidup kembali dalam tubuh yang berbeda.


***

__ADS_1


__ADS_2