
Aku dan Nila segera membawa mama nya yang pingsan ke rumah sakit.
"Tolong! Tolong wanita ini sekarang juga, Dok!" Aku berteriak marah pada lelaki ber seragam putih yang ku temui di depan lobi.
Lelaki itu tampak terkejut dengan bentakan ku. Namun perhatian nya sigap terfokus pada wanita yang masih ku gendong ala bridal style ini.
"Suster! Bawa ibu ini ke UGD. Apa yang terjadi dengan ibu Anda, Tuan?" Tanya sang dokter kepada ku, sambil membantu seorang suster mendorong kasur dorong yang membawa sang wanita tua menuju UGD.
Aku sempat blank saat mendengar ucapan dokter lelaki tersebut. Dia mengira aku adalah anak dari wanita tadi. Pandangan ku reflek menoleh ke arah Nila. Dan akhirnya, ia lah yang menjawab pertanyaan sang dokter.
"Gak tahu, Dok! Mama tiba-tiba aja pingsan!" Jawab nya genting.
"Baik lah. Mohon tunggu sebentar. Kami akan menangani ibu kalian sekarang juga," sahut sang dokter yang mencoba untuk menenangkan.
Sayang nya usaha dokter lelaki itu berdampak nol di telinga ku. Karena hati ku masih juga kalang kabut saat ini.
Sang dokter lalu masuk ke ruang bertuliskan UGD. Sementara Nila pergi untuk mengurus administrasi.
Kini perhatian ku fokus pada pintu UGD yang tertutup rapat. Berharap wanita tua itu akan baik-baik saja.
Tak lama kemudian Nila muncul kembali. Wanita itu lalu duduk di bangku yang ada di sebrang ku. Ia menatap ku dengan pandangan menilai.
Ku acuhkan Nila. Dan tetap melihat ke pintu UGD yang masih juga tertutup rapat.
Tak lama kemudian aku mendengar suara Nila bertanya.
"Siapa kamu? Kenapa kamu bisa tiba-tiba masuk ke dalam rumah ku? Apa jangan-jangan kamu adalah orang yang tadi dilihat oleh Mama ku?" Tanya Nila bertubi-tubi.
Aku memilih diam. Aku sendiri masih terlalu bingung dengan apa yang terjadi saat ini.
"Hey! Bicara lah! Atau aku akan mengira kau telah melakukan Tress passing di rumah ku. Dan aku akan melaporkan mu ke polisi nanti?" Ancam Nila menakuti ku.
Aku tak takut dengan ancaman nya. Yang paling ku takutkan saat ini adalah apa yang akan terjadi pada wanita tua yang tadi ku bopong masuk ke dalam ruang UGD sana.
Kemudian, tak sengaja aku melihat kalender yang ada di dekat meja resepsionis. Di sana tertulis angka 2047.
Mata ku seketika membulat lebar. Tanpa sadar, mulut ku mengeluarkan pertanyaan yang bercokol di benak ku saat ini.
"Tahun berapa sekarang?!" Tanya ku kepada entah.
"Hah? Kau sungguh aneh sekali, Tuan. Aku bertanya siapa diri mu, tapi kau malah balik bertanya ini tahun berapa? Apa kau ini penderita demensia?"
Demensia adalah kondisi di mana seseorang mengalami penurunan dua fungsi otak. Yakni kemampuan untuk mengingat dan juga kemampuan untuk menilai sesuatu hal atau kondisi.
__ADS_1
"Tahun berapa sekarang ini? Apa kalender itu dicetak dengan benar?" Tanya ku lagi sambil masih memandang nanar pada kalender tersebut.
"Nah. Sudah fiks. Kau memang lelaki yang aneh, Tuan!" Umpat Nila yang kesal kepada ku.
"Jawab saja! Ini benar tahun 2047?!" Tanya ku sedikit menghardik.
Dan nada bicara ku yang meninggi itu pun lalu di copy pula oleh Nila.
Wanita muda tersebut langsung berdiri dan mendekati ku. Begitu ia sudah berdiri cukup dekat dengan ku, Nila langsung saja menudingkan telunjuk nya ke arah ku.
"Hey, Tuan! Asal kau tahu ya! Jangan bersikap seenak nya dan memarahi orang lain sesuka hati mu! Lagi pula, untuk apa kau ada di sini?! Di dalam itu adalah Mama ku. Jadi, apa urusan mu berada di sini, hah?!" Bentak Nila dengan sikap berani.
Seketika aku menjadi gagu usai didamprat oleh Nila. Aku pun kehilangan kata-kata dan hanya bisa membalas pandangan Nila dengan ekspresi bingung.
'Bagaimana aku menjelaskan pada wanita ini? Kalau aku sendiri bingung untuk menjelaskan tentang diri ku sendiri...' batin ku jadi dilema sendiri.
Kemudian ku lihat Nila hendak kembali mendamprat ku. Namun dering ponsel di tas bahu yang ia bawa menghentikan aksi nya. Nila pun menjauh dari ku untuk mengangkat panggilan di ponsel nya.
Sesaat kemudian, ku dengar percakapan nya dengan seseorang di seberang telepon.
"Hallo..? Maaf Pak. Mama saya tiba-tiba masuk ke UGD.."
"...."
".."
"Baik, Pak. Baik."
"..."
"Terima kasih, Pak!"
Klik.
Panggilan telepon pun kemudian terputus.
Selanjut nya aku mendengar saat Nila melakukan panggilan kembali,
"Halo..? Ram? Please banget tolong gue ya? Lo beneran harus tolongin gue nih!" Mohon Nila begitu memaksa seseorang di seberang telepon.
"..."
"Mama gue sakit. Sekarang gue masih di rumah sakit temanin Mama. Sementara ada seminar pendidikan yang nungguin gue tuk jadi MC nya. Lo mau ya gantiin gue? Please, Ram.." mohon Nila mengiba-iba.
__ADS_1
"..."
"Yes! Makasih ya, Ram! You saved me, a lot! So thank you so much!"
"..."
"Oke. Oke. Nanti gue langsung kirimin rangkuman pertanyaan nya ya. Makasih ya, Ram! Makasiiih banget!"
"..."
"Aamiin.. oke. Bye!"
Klik. Panggilan kedua kembali terputus jua.
Selanjut nya Nila tampak serius mengetikkan sesuatu di ponsel nya. Aku hanya sekilas saja melihat pada wanita itu. Selebih nya, fokus ku adalah pada pintu ruang UGD yang masih juga tertutup rapat.
Selanjut nya aku tak menghiraukan lagi apa yang terjadi di sekitar ku. Sampai setengah jam kemudian, dokter yang tadi sempat ku bentak lalu keluar.
Aku langsung berdiri dan menghampiri dokter lelaki tersebut.
"Jadi gimana, Dok? Dia baik-baik saja kan?" Tanya ku genting.
"Iya, Dok. Mama saya baik-baik ajankan, Dok?" Nila tahu-tahu ikut nimbrung di dekat ku.
"Jadi begini, Tuan dan Nona. Setelah pengecekan, ternyata tensi ibu kalian sangat tinggi saat ini. Kami sudah mengupayakan untuk menurunkan tensi nya. Namun beliau masih juga tak sadarkan diri. Saya menduga ada terjadi pendarahan dalam otak nya, bila dilihat dari gejala-gejala nya. Untuk itulah, sebaik nya Nyonya Laila dirawat terlebih dahulu untuk kami pantau kondisi nya. Bila Anda berdua mengijinkan, sebaik nya kita juga segera melakukan pengecekan MRI," papar sang dokter panjang kali lebar.
Di samping ku, Nila langsung menyahut.
"Baik, Dok! Lakukan apapun itu. Yang penting Mama saya bisa kembali pulih!" Pinta Nila pada sang dokter.
Dokter itu pun kemudian berlalu. Meninggalkan Nila dan juga aku yang masih terguncang sejak ku dengar sang dokter menyebut nama wanita tua yang saat ini terbsring di ruang UGD sana.
'Dokter tadi bilang nama nya, Laila? Nyonya Laila?! Ya Tuhan.. ada apa sebenar nya ini? Apa aku benar-benar telah melompat ke masa depan sekarang ini? Jika itu benar, berarti semua orang yang ku kenal mestilah sudah bertambah tua kini? Termasuk juga dengan Laila?! Laila ku..'
Aku terhuyung mundur. Hingga aku pun akhirnya duduk kembali pada kursi yang tadi ku tempati. Mata ku nanar memandang ke depan. Tak mengerti dengan apa yang seharusnya ku lakukan saat ini.
"Hey! Kau kenapa, Tuan? Wajah mu pucat sekali. Maaf kalau aku terlalu emosi tadi. Soal nya.. yah.. kau juga aneh sih! Bagaimana kalau kita ulangi perkenalan kita? Nama ku Nila. Siapa nama mu, Tuan?" Tanya Nila dengan ekspresi yang lebih ramah.
Ku pandangi wajah Nila lekat-lekat. Dan aku pun akhirnya menyadari kefamiliaran yang awal nya sempat ku rasakan saat melihat wajah Nila.
Ku pikir Nila begitu mirip dengan kembaran ku, Arline. Padahal yang lebih tepat adalah, Nila adalah hasil copy an wajah ku dalam versi perempuan!
***
__ADS_1