Meretas Rasa

Meretas Rasa
Melawan Maling


__ADS_3

Selama beberapa hari ke depan nya, aku terus menginap di rumah sakit. Aku selalu menunggu Laila di depan kamar inap nya.


Aku membersihkan diri di toilet rumah sakit. Aku makan roti atau nasi bungkus pemberian Mark yang selalu mendapati ku menunggu di depan kamar inap Mama nya. Dan aku juga sering dimarahi oleh Nila karena kekukuhan ku dalam menunggu Laila ku tersadar kembali.


Syukurlah Tuhan mendengar doa ku. Di hari kedua aku menunggui Laila, Cinta ku itu akhirnya tersadar juga.


Dan aku sangat bersyukur karena Laila langsung mencari keberadaan ku usai ia tersadar dari tidur koma nya. Jadi mau tak mau, Nila pun akhirnya membiarkan ku masuk dan menjenguk Laila.


"La.. aku pulang.." gumam ku pelan, di dekat telinga Laila ku.


Cinta ku itu memberiku senyuman terbaik nya. Dan aku pun bak tersihir dan tak mampu memalingkan pandangan ku lagi dari nya.


Meski kini wajah Laila telah mengeriput layu. Meski ada banyak kerut yang menghiasi wajah nya yang ayu, aku tak perduli.


Bagi ku senyuman milik Cinta ku itu lah yang membuat hati ku terpikat kepada nya. Kepada Laila ku terkasih.


"Maaf, aku pulang sangat-sangat terlambat.." lanjut ku berkata.


Lalu saat aku melihat Laila hendak kembali mennagis, aku pun bergegas mengingatkan nya.


"Please, La.. jangan lagi menangis.. aku gak mau melihat kamu menangis lagi, Sayang. Lagipula, kata Pak Dokter itu gak baik buat kestabilan kesehatan mu. Aku mau kamu ceria terus. Jadi, tolong balik jadi Laila ku yang ceria lagi seperti dulu. Oke?" Pinta ku dengan serius.


"..ya.. Lan.."


Aku merasa bahagia sekaligus juga jerih karena melihat Laila ku kepayahan dalam berkata-kata. Karena itulah, aku pun kembali bicara.


"Sekarang, biar aku kembali perlakuin kamu sebagai ratu oke, Yang? Kamu jangan terlalu capek, biar kita bisa cepat pulang ke rumah. Jadi, biar aku yang melakukan semua yang kamu mau aku lakuin, oke Yang?" Pinta ku berikut nya.


Tak jauh dari kami, Nila memperhatikan interaksi ku dengan Mama nya. Beberapa kali aku mendapati tatapan tak suka dari Nila. Namun aku mengacuhkan nya. Kupikir seiring dengan berjalan nya waktu, bila Laila ku kembali pulih, maka kedua anakku itu pun akan menerima keberadaan ku jua.


Jadi akhirnya selama Laila ku di rumah sakit, aku lah yang sering menyuapi nya, menemani nya dan juga mengajak nya berbincang.


Pada awal nya Nila masih sering 'mengusir' ku pergi. Ia benar-benar tak suka bila aku berdekatan dengan Laila. Namun perlahan, karena ia pun memiliki kesibukan tersendiri di kampus, jadilah akhirnya Nila membiarkan ku menemani Mama nya itu.


Hari terus berganti, hingga akhirnya tiba lah waktu bagi Laila ku untuk keluar dari rumah sakit. Kondisi Laila sebenar nya masih belum dianjurkan oleh dokter untuk pulang ke rumah. Namun karena beberapa kali Laila meminta pulang kepada Nila, akhirnya Nila pun mengusahakan agar sang Mama bisa diijinkan pulang.


Aku tadi nya tak setuju dengan keputusan ini. Berkali-kali aku membujuk Laila ku agar ia masih mau dirawat di rumah sakit. Sayang nya, Laila masih juga meminta pulang kepada Nila.


Dan siapalah aku di mata Nila saat ini? Pendapat ku hanya dianggap nya angin lalu semata.

__ADS_1


Kamis itu, kami akhirnya kembali pulang ke rumah. Bik Tum dan Pak Kus, yang menjadi pegawai di rumah kami itu memberi ku pandangan heran.


Kepada kedua nya Mark menjelaskan kalau aku adalah teman dekat nya.


"Jadi nanti Bang Erlan bakal sering main tuk jenguk Mama, ya, Bi," pesan Mark kepada asisten rumah tangga nya itu.


Nila masih memberi ku pandangan tak suka setiap kali aku datang dan terlibat perbincangan monolog dengan Laila.


Sikap nya mulai berubah karena suatu kejadian.


Jadi, suatu malam, aku sedang bertengger di atas dahan tempat tidur ku selama ini. Ya. Selama ini aku memang tidur berjaga di pohon mangga yang ada di halaman rumah kami. Tak ada yang tahu tempat tinggal ku itu.


Jadi, saat itu mungkin sekitar jam sebelas malam. Aku menyadari ada sebuah mobil jeep berhenti tak jauh dari rumah kami.


Dari dalam mobil jeep itu keluar dua orang lelaki mencurigakan yang mengenakan penutup kepala. Pendengaran super ku lalu menangkap percakapan kedua nya.


"Gue nanti duluan masuk lewat jendela samping. Kalau kondisi oke, nanti Lo susul gue ok?!" Ucap lelaki pertama.


"Oke lah!" Jawab lelaki kedua.


Pada awal nya aku mengacuhkan keberadaan kedua lelaki itu. Namun kemudian mereka tahu-tahu menaiki tembok dengan tangga lipat yang dibawa nya.


Aku pun bergegas melompat turun dari atas pohon dan mendarat di luar pagar. Dengan laju lari yang sangat cepat, ku hentikan usaha kedua lelaki terduga maling itu tanpa mengeluarkan satu pun kata.


Jadi meski pun kemampuan bela diri ku (Aro) terbilang mumpuni, karena keberadaan dua senjata tajam yang kini mengancam ku itu pun akhir nya membuat ku terdesak pula.


Beberapa luka sabetan berhasil bersarang dan merobek satu-satu nya baju yang ku miliki dan juga ku kenakan. Namun aku mengacuhkan rasa sakit itu dan tetap bertarung melawan kedua nya sebisaku.


Tak akan ku biarkan mereka berhasil melewati pagar dan mengancam keselamatan Laila ku di dalam rumah. Apalagi saat ini Laila ku hanya ditemani oleh Bik Tum saja. Lantaran Nila yang belum juga pulang ke rumah.


Sat. Set. Sat. Set.


Luka sayatan di tubuh ku semakin bertambah. Rasa perih itu semakin kuat menunjukkan eksistensi nya. Syukurlah, kemudian aku mendengar suara sirine polisi di kejauhan.


Dan aku semakin merasa lega saat sirine polisi itu kian mendekat ke rumah kami. Kedua maling itu telat menyadari kedatangan para polisi.


Jadi ketika empat orang petugas poliai turun dari mobil patroli nya dan menodongkan pistol ke arah tempat ku dan kedua maling berada, kedua maling itu langsung berusaha melarikan diri dari tempat itu.


Aku sih tak lari seperti mereka. Namun seorang polisi datang mendekat dan hendak menangkap ku pula. Beruntung nya sebuah suara menghentikan polisi itu.

__ADS_1


"Dia gak salah, Pak! Dia itu Teman saya! Dia yang tadi coba ngelawan dua maling yang kabur, Pak!" Pekik Nila yang berlari mendekati ku.


"Oh! Bwgitu! Maaf ya, Mas. Kalau gitu, nanti saya minta keterangan nya di kantor polisi ya, Mas. Sebaik nya sekarang Mbak ajak teman nya ke rumah sakit dulu," usul Pak Polisi berkumis tipis.


Nila mengangguk dan langsung menarik tangan kanan ku.


Ternyata Nila sudah pulang entah sejak kapan. Karena mobil yang ia bawa terparkir tak jauh di belakang mobil jeep para maling tadi.


Nila menyuruh ku untuk masuk ke dalam mobil nya.


"Cepat masuk!" Titah nya singkat.


"Aku gak mau!" Tolak ku seketika dan langsung berbalik jalan ke arah ku datang.


Akan tetapi Nila kembali menahan tangan ku.


"Masuk sekarang juga! Kamu gak ngerasa sakit apa, dengan semua luka itu?!" Ucap Nila dengan nada sengit yang begitu ku kenal.


Aku langsung menunduk untuk melihat penampilan ku yang memang sekilas terlihat cukup mengenaskan.


Baju ku telah robek karena sabetan pedang samurai milik maling yang tadi. Dan tak sedikit luka-luka sayatan nya terlihat mengeluarkan darah segar yang tampak mengerikan.


Saat itulah aku jadi teringat kembali dengan rasa lerih di sekujur tubuh dan juga lengan ku. Namun setelah berpikir singkat, aku tetap bersikukuh menolak ajakan Nila.


"Gak apa-apa. Nanti juga sembuh sendiri," ucap ku bersikap cuek.


"Jangan gila deh! Jelas-jelas semua luka itu kelihatan parah! Lagian, udah tahu sendirian tapi malah nekat ngelawan maling yang bawa sajam! Untung aku pulang tepat waktu dan ngelihat pas kamu ngelawan mereka!" Omel Nila kepada ku.


Aku terdiam mendengar omelan nya. Aku hendak kembali membalikkan badan dan meninggalkan Nila, namun tangan putri ku itu lagi-lagi menahan ku.


"Ngeyel banget sih dibilangin nya! Ayo cepat masuk ke mobil! Aku bawa kamu ke rumah sakit sekarang juga tuk obatin semua luka itu! Mumpung aku masih berbaik hati nih!" Omel Nila berlanjut.


Aku menepis pegangan Nila dengan gerakan lembut.


"Gak perlu, Nil. Aku gak perlu pergi ke rumah sakit. Lebih baik kamu pulang dan temani Mama mu, ya? Aku takut kalai-kalau maling lain datang dan nyoba masuk ke rumah mu lagi. Jaga Lail...maksud ku, jaga Mama mu aja. Oke?" ucap ku membujuk.


Nila tampak tertegun usai mendengar penuturan ku. Entah apa yang ada di pikiran nya saat ini. Aku tak ingin memusingkan nya.


Satu-satu nya yang ku perlukan saat ini adalah kembali ke pohon mangga tempat ku bertengger. Lalu mengistirahatkan diri ku lagi.

__ADS_1


Semua luka di tubuh ku ini mulai sedikit mengganggu ku.


***


__ADS_2