Meretas Rasa

Meretas Rasa
Ruh nya Melihat Segala


__ADS_3

Saat itu, aku kembali mengunjungi Karina sepulang dari bekerja.


Sejak Karina dirawat di rumah sakit, aku sering kali mengunjungi nya di waktu jam istirahat ku tiba. Atau sepulang nya aku dari bekerja.


Aku bahkan sudah lama tak melihat batang hidung Mark. Karena aku menghabiskan malam ku di rumah sakit, untuk menunggui Karina.


Meski begitu kami tetap saling mengirim kabar via ponsel. Dan Mark tak lagi khawatir setelah ku katakan padanya kalau aku menemani Karina di rumah sakit.


Sore itu, aku baru saja keluar dari lift, tempat di mana lantai ruang inap Karina berada. Saat kaki ku baru menjejak keluar dari lift, pendengaran super ku menangkap percakapan dari dalam ruang inap Karina.


"Kamu harus makan yang banyak, Rin.. ini.. bubur.. makan lah!" Suara Idham terdengar membujuk.


Aku pun tersentak kaget oleh rasa gembira.


"Karina sudah sadar!?" Gumam ku dengan suara yang teramat pelan.


Ku tajamkan lagi indera ku untuk menangkap suara Karina. Dan, ya, aku pun mendengar suara wanita itu yang hampir serupa bisikan teramat pelan.


"Ha..us.." lirih Karina.


Aku menduga kalau Karina baru saja tersadar. Sayang sekali, Idham lah yang menjumpai wanita ku itu terbangun terlebih dahulu. Padahal aku sangat berharap, kalau aku lah yang akan dilihat Karina untuk pertama kali seusia ia tersadar nanti. Nyatanya, harapan ku dibuat kecele oleh takdir.


Meski begitu, aku tak berkecil hati. Dengan langkah cepat, tahu-tahu aku sudah berdiri di depan pintu ruang inap Karina. Lalu membuka pintu nya begitu saja.


Benak ku sudah langsung ingin bertukar pandangan dengan wanita yang telah dua Minggu lebih ini membuat ku merasa khawatir.


Aku lupa, kalau selama ini, aku selalu datang dan bersembunyi di balik bayang. Sementara saat ini, Karina tak sedang sendirian. Ada Idham, yang ku lihat sedang berdiri di samping Karina dan sedang menyuapi nya dengan bubur.


Lelaki itu langsung menoleh ke arah ku yang terpaku di depan pintu. Dan ku lihat rahang dan pandangan nya mengeras seketika.


Aku tak menghiraukan reaksi Idham atas kemunculan ku. Karena yang menjadi fokus perhatian ku saat ini adalah sosok wanita yang secara perlahan juga menolehkan wajah nya ke arah ku.


Dan.. zap..


Kedua mata kami pun akhirnya bersitatap.


Satu detik. Dua detik..


Tanpa bisa ku cegah, alam bawah sadar ku mengajak langkah ku untuk mendekati Karina. Saat itu kedua netra ku masih terpancang kukuh pada sepasang netra indah milik Karina.


Aku tak bisa membaca apa yang ada di pikiran wanita itu melalui mata nya. Karena pandangan Karina nampak masih terlihat begitu sayu di mata ku. Ia sungguh baru tersadar beberapa saat yang lalu sehingga masih terlihat jelas kebingungan yang bisa ku tangkap di kedua netra nya.


"Kari.."


Belum selesai aku menyebut nama Karina, suara Idham kembali menyentak ku pada kesadaran atas keberadaan nya di ruangan ini.

__ADS_1


"Dasar kau baji ngan! Untuk apa kau datang kemari?! Karina sudah lama berada di rumah sakit. Sementara baru sekali ini kau datang tanpa diundang, hah?!" Hardik Idham yang melangkah mendekati ku.


Aku hampir telat menghindari serangan tinju yang dilayangkan oleh Idham. Dan secara refleks, aku melesat menjauhi lelaki itu dengan kekuatan inner power ku.


Wuusszz!!


Aku pun berpindah dan kini berada di samping bankar tempat Karina terbaring.


Wanita itu sedikit melebarkan kedua bola mata nya. Mungkin ia terkejut dengan aksi cepat ku sesaat tadi.


Memang.m, sudah cukup lama juga sejak terakhir kali aku menunjukkan kekuatan ku di hadapan nya. Terakhir kali adalah sejak kejadian aksi pele cehan se ksual yang hampir dialami oleh Karina di pematang sawah dulu.


Pandangan ku kembali terkunci dengan kedua netra Karina. Aku baru hendak menjulurkan tangan ku ke arah nya, saat ku dengar teriakan Idham kembali bergema di ruangan itu.


"Kau?!! Bagaimana kau bisa berada di sana secepat itu?!" Tuding Idham yang masih terlihat mengamuk.


Lelaki itu kembali menghampiri ku. Namun, lagi-lagi aku melesat cepat dan menjauhi nya. Kini, Idham menatap ku dnegan pandangan heran bercampur sedikit takut.


Aku sudah pasrah bila ia juga akan menganggap ku sebagai hantu dengan aksi jujur ku dalam menampakkan kekuatan supra ku ini.


"K..kau?!! Apa kau itu hantu?!!" Tuding Idham dengan ekspresi yang seperti tak percaya dengan ucapan nya sendiri.


'Tuh kan! Dianggap hantu lagi. Ck.ck.ck..' keluh ku dalam hati.


"Tolong.. jangan ributkan soal itu dulu saat ini. Beri waktu Karina untuk beristirahat. Bukankah dia baru saja tersadar dari koma nya," pinta ku kemudian kepada Idham.


Ku lihat mata lelaki itu terpicing tajam.


"Seharusnya aku yang mengatakan itu pada mu dasar, ba ji ngan! Atau lebih tepatnya lagi, lebih baik kau pergi sekarnag juga! Cepat sana keluar!" Usir Idham begitu lantang.


Aku baru akan membalas ucapan Idham tadi, namun terurung saat ku dengar suara Karina berucap pelan.


"Kak Idham.." panggil Karina pada kakak angkat nya itu.


Seketika, baik Idham maupun aku langsung menoleh ke arah Karina. Aku sedikit kecewa karena bukan nama ku lah yang keluar dari mulut wanita ku itu.


"Ya, Rin-rin, Sayang..?" Sahut Idham segera mendekati sisi pembaringan Karina.


Mendengar panggilan lelaki itu pada Karina ku, aku langsung dibakar oleh api cemburu. Sayang nya tak ada yang bisa ku lakukan. Jadilah akhirnya aku hanya bisa menatap Karina dengan pandangan nelangsa.


Dan kemudian Karina balas menatap ku. Cukup lama ia melihatku dengan tatapan yang.. entah lah. Sulit untuk mengartikan tatapan nya itu. Namun detik berikut nya aku dibuat terkejut setengah mati oleh apa yang diucapkan Karina kepada Idham.


"Kak.. siapa ..dia?" Lirih Karina bertanya.


JDARRR!!

__ADS_1


Aku terkejut sangat. Begitu pun dengan Idham. Di saat aku masih diam terpaku menatap Karina dengan pandangan yang jauh lebih nelangsa dari sebelum nya, Ku lihat Idham malah kesenangan dengan ucapan Karina sesaat tadi.


Aku begitu kesal. Ingin sekali ku layangkan bogem mentah ku di wajah pas-pasan lelaki itu!


Terlebih lagi saat ku lihat Idham berseru senang.


"Dia bukan siapa-sia.."


Ucapan Idham terpotong oleh bisikan Karina kembali.


"Sorry. Barusan.. aku bercanda. Aku ingat kok..siapa kamu," tutur Karina tiba-tiba.


Gantian Idham yang terdiam terpaku di tempat nya berdiri. Senyuman sumringah nya perlahan meluntur dan berganti dengan mulut yang merengut kesal.


"Karina! Selera bercanda mu itu sungguhan..!"


Idham tak menyelesaikan kalimat nya. Terutama saat Karina kembali menatap nya dan berkata, "tolong tinggalkan kami sebentar ya, Kak..?" Pinta Karina dnegan suara yang masih lemah.


Cukup lama Idham menatap adik angkat nya itu. Dan sepanjang mereka bertatapan, jantung ku mulai berdetak kelewat cepat tak menentu.


Sesaat kemudian, tanpa berkata apa-apa lagi, Idham langsung keluar begitu saja dari ruang inap Karina. Meninggalkan aku di sana berdua dengan adik nya itu.


Dengan perlahan, aku melangkah kembali mendekati Karina.


"Kamu sudah sadar, Rin.." ucap ku berbasa-basi.


Karina mengangguk lemah.


"Ya.. terima kasih sudah menemani ku selama di rumah sakit ini, Lan.." lirih nya pelan.


Aku tertegun. Mencoba untuk mencerna ucapan wanita di depan ku itu. Ucapan nya itu terdengar begitu yakin bahwa aku telah berada di sini sejak lama. Tak seperti tudingan yang dilayangkan oleh Idham kepada ku di awal mula kedatangan ku tadi.


"Dari mana kamu bisa tahu kalau aku.." ucapan ku disambung oleh Karina.


"Aki tahu, kalau kamu sudah menemani ku di rumah sakit ini sejak hari pertama ku dirawat, Lan.."


Jeda sejenak. Dan Karina mengatur kembali napas nya yang sedikit terengah.


Dan aku menunggu kelanjutan kalimat nya dengan sabar.


"Karena aku melihat mu dengan mata kepala ku sendiri, Lan..ah.. tidak. Bukan aku sih. Maksud ku adalah.. ruh ku, Lan.." ungkap Karina dengan jujur.


"??!!!" Jawaban nya itu sontak saja membuat bulu kuduk ku meremang seketika.


***

__ADS_1


__ADS_2